Desember 30, 2008

Kehilangan tuk Memiliki

Terkadang sebagai manusia, kita tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang membuat hidup kita berarti hingga kita kehilangan seseorang. Namun, sedikit orang yang menyadari kesalahan apa yang sudah diperbuatnya. Kebanyakan mengangkat dagu dan berkata ''Itu bukan salahku''

Keangkuhan, manusia itu angkuh. Entah dari mana datangnya rasa angkuh dan rasa bahwa dirinya selalu benar. Entah dari mana datangnya prasangka buruk, tanpa memandang apa dibalik semuanya.

Canda berubah menjadi bencana, Gurauan berubah menjadi hinaan. Tanpa disadari, ucapan menyakiti perasaan, kawan, sahabat, kekasih, istri dan juga suami. Begitu kita kehilangan bagian terpenting itu. Semuanya sudah terlambat.

Tak ada yang bisa digapai, tak ada yang bisa diingat, kecuali penyesalan dan penyesalan yang tiada henti. . . . . Kenapa . . . . . Kenapa . . . dan Kenapa . . . Itu lah yang kerap terjadi dalam kehidupan manusia.

Dipergantian tahun ini, marilah kita meraih sesuatu menjadi lebih baik. Tinggal menghitung satu hari. Sudahkah kita memaknai makna pergantian tahun. Yang ada dibenak hanyalah fun. . . fun. . . dan just for fun. . .

Pergantian tahun hanya diwarnai hura-hura, namun sedikit sekali orang yang menyadari arti pentingnya pergantian tahun untuk merenung, merasa, mengecap rasa yang sudah berlalu. Apakah tahun depan akan sama seperti tahun sebelumnya atau lebih baik atau malah lebih buruk dari tahun sebelumnya?

Mana ada yang tahu, baik kamu maupun aku. . . . Kalau sudah bisa melihat masa depan, kematian dan segala sesuatu diluar perkiraan di masa datang. Tentu dunia akan menjadi lebih baik atau malah menjadi lebih buruk?

Em... Sound Nice

Novel ku sudah banyak perubahan. Semua itu karena masukan dari berbagai kalangan. Thanks ya. . . Atas sumbangsih saran dari kawan-kawan dan bos juga. Karena dengan kritikan dan saran akan membuat novel pertama ku menjadi lebih bermakna dan hidup.

Ada beberapa tambahan alur cerita agar lebih mendalam dan hidup. Em. . . mudahan ASAP segera bisa diluncurkan kalau tidak ada halangan. . . . Ya, mencoba menulis dan mengekspresikan apa yang ingin ku sampaikan kepada pembaca.

HIV merupakan momok bagi Kepri khususnya dan Indonesia umumnya. Apalagi Kepri merupakan urutan pertama penyebaran virus tersebut setelah Bali. Em. . . Dengan bentuk tulisan novel ini aku berharap dapat menyampaikan informasi kepada pembaca mengenai HIV dan ODHA.

Karena kebanyakan masyarakat hingga saat ini menanggap remeh ODHA dan merasa 'jijik' bila berada di dekatnya. Apalagi kalau merasa takut tertular, walaupun sudah ditegaskan tidak akan tertular. Tetap saja, takut. . . . dan was-was. Itu bisa dimaklumin.

Namun, mereka --ODHA-- berhak untuk hidup normal layaknya orang lain.

Desember 28, 2008

Sudah Menemukan Judul Novel Q

Aku merasa senang, kenapa tidak. Ada banyak hal yang terjadi sebelum pergantian tahun yang terhitung dengan jari. Tidak sampai sepuluh, ku rasa dan yakin --hehehe-- sekarang aja sudah tanggal 28 . . . . Em, mengenai novel ku, aku sudah menemukan judul. ''Simpul Terujung'' ku rasa tepat untuk gambaran novel ku yang mengisahkan tentang kakak dan adik.

Dimana sang adik tertular HIV. Ya memang aku mau mengangkat mengenai HIV. Aku ingin memberikan masukan dan pendapat bahwa ODHA juga manusia dan mereka juga berhak hidup normal layaknya yang lain.

Judul itu atas saran dari bang Kohar --penulis dan kolomis yang tinggal di Prancis-- Tentunya setelah dia membaca sinopsis dari tulisan yang sudah aku posting sebelumnya. Sebagai penulis pemula -- ya begitulah-- harus banyak meminta masukan dari penulis-penulis yang sudah melalang buana di dunia tulis menulis. Salah satunya pak Rida K Liamsi.

Siapa yang tidak mengenal sosok pria sastrawan asal Tanjungpinang yang sudah menerbitkan beberapa karya buku --hebat-- Bulang Cahaya dan puisi-puisi yang dalam. Aku minta pendapat dan komentarnya.

Walaupun aku tahu, pastinya beliau sangat sibuk sekali. Pasalnya, mau akhir tahun ditambahkan lagi pekerjaannya sebagai CEO Riau Pos Grup, termasuk tempat aku bekerja --sekarang ini-- dibawah naungan kekuasaannya.

Namun untuk maju, kita harus menerima dan meminta saran dari orang-orang yang memang berkat dalam bidang itu dan yang sudah berpengalaman. Sedangkan aku dalam hal penulisan novel ini baru pertama kali.

Tentunya dibutuhkan 'guru' untuk memberikan masukan yang bermanfaat agar tulisanku menjadi bermakna dan dapat diingat sepanjang waktu. Tidak hanya dibaca sekilas tetapi memasuki sanubari pembaca dan tentunya layak menjadi salah satu koleksi buku kesayangan di rak-rak buku pembaca.

Pertama pak Rida menyukai tema yang ku ambil. Mengenai HIV, namun namanya juga masih belajar. Ya, masih banyak kekurangannya. Itu aku akui dan aku terimakasih atas kritikan dan saran yang diberikan 'guru' besar dalam kesibukannya masih menyempatkan membaca karya yang masih awam. --Thanks banget--

Novel ini masih dalam perbaikan terus menerus untuk menjadi novel yang kalau bisa tidak hanya sekali dibaca, terus dilupakan. Tetapi terus diingat sampai kapanpun. --Itu kan semua harapan penulis--

Saat ini aku masih bersabar menunggu komentar dari bang Kohar dan Pak Marganas Naingolan serta bang Rizal (Pimpred Batam News), bang Ramon Damora (Pimpred Posmetro), mba Lisa Anggraini juga menjadi editor ku. Serta kawan-kawan yang lain.... mba Ani, bunda blogger Batam.


Makasih atas kesediannya membaca dan memberikan komentar mengenai tulisan yang tak seberapa itu. --Kan harus rendah hati, tidak boleh tinggi hati hehe-- Em... aku masukan sedikit komentar 'bos' besar setelah membaca novel yang 99 halaman komputer dengan dua spasi

OK CITRA, APAPUN, KAU SUDAH MELAKUKAN SESUATU DAN MENURUT AKU BAIK. AKU MINTA MAAF KALAU CATATAN INI AGAK KASAR DAN MEMBUAT KAU KECEWA.
TAPI KARENA NOVEL INI MENARIK, DAN BAGUS, AKUN INGIN IKUT NYUMBANG PIKIRAN BAGAIMANA MENURUT AKU ( YA SALAH KAMU KENAPA MINTA AKU BERIKAN KOMEN ) AGAR NOVEL INI MENJADI SEBUAH KARYA YG DIINGAT, DAN TAHAN WAKTU, DAN LAAYAK MENGHUNI RAK-RAK BUKU PARA PEMBACA MU.
TQ YA. JANGAN MUNDUR. MENYERAH ITU DOSA, DAN GAK BAKAL BIKIN ORANG MAJU.
SALAM,


RIDA K LIAMSI
Nah citra tunggu komen-komen dari yang lain ya.... harga karya ku memang layak menjadi bagian dari koleksi penggembar buku. Karena aku tahu masih banyak penulis berbakat di luar sana. Never give up adalah kata-kata yang selalu aku utarakan untuk diri ku dan kawanku yang saat ini juga sedang membuat novel.... Ayo jeng, do the best and never give up. Kita sama-sama berjuang menghasilkan inspirasi karya yang layak dibaca pembaca. Sesuatu yang berbeda, namun memiliki arti tersendiri

Desember 25, 2008

Hargai Kehidupan

Memiliki hidup adalah hal yang indah
Berkesempatan Hidup adalah yang utama
Diberi anugrah kesehatan yang terindah
Namun masih banyak orang yang tak menghargai

Masih banyak orang yang berusaha merusak
Hidup... Merupakan anugrah bisa terlahir
Bisa menikmati setiap keindahan yang ada di dalamnya
Kesulitan dan kesukaran bagian dari menghargai hidup

Karena hidup sangat indah....
Baik di kesulitan maupun di bagian kesenangan
Karena itu membuat hidup semakin hidup
Hargailah kehidupan mu.........

Dengan begitu kamu akan menyadari bahwa hidupmu berarti
Karena tiap tarikan nafasmu sangat berarti bagi kehidupanmu

Desember 24, 2008

Mother day

Hari ibu yang ke 80. . . Seharusnya pas tanggal 22 Desember aku posting. Namun karena sibuk dan nggak sempat. Akhirnya baru bisa sekarang. . . Ibu merupakan bagian yang terpenting di dalam dunia ini. Karena telapak kaki ibu adalah surga --menurut pepatah yang sejak dulu kita dengar--

Namun belakangan ini perayaan hari ibu hanya sebagai serimonial belaka. Karena semuanya hanya sebatas upacara. Seluruh Indonesia mengadakan upacara tersebut, termasuk Kepulauan Riau tidak mau ketinggalan.

Apalagi sudah ada pidato yang harus disampaikan dari Menteri Pemberdayaan Perempuan. Kalau kita lihat pada kenyataannya, masih banyak diskriminasi gender antara perempuan dan pria. Hal ini juga berlaku di kalangan pejabat wanita di pemerintahan.

Sebut saja bu D, dia mengaku suaminya paling malas diajak pertemuan or acara serimonial yang harus dihadiri istrinya yang memang pejabat. Pasalnya, dalam kegiatan tersebut tidak ada tempat bagi suami istri pejabat.

Sedangkan sebaliknya istri pejabat selalu mendapat tempat duduk. Nah, berarti kemampuan wanita masih belum diakui secara sepenuhnya, benarkan?

Marry X-Mas


Gambar diambil klik aja langsung ke gambar, pasti ketahuan hehe...

Anyway Met Natal ya... Semoga Natal tahun ini membawa kehangatan, dikala perekonomian Indonesia semakin terpuruk. Namun, bagi yang merayakannya.... Natal tetap membawa kebagaian tersendiri

Desember 23, 2008

Dasar Apes

Em. . . Kasihan deh gue.. Belum apa-apa sudah dua kali terjatuh dari motor. Tadi pagi, iseng-iseng mau mencoba naik motor keliling komplek.... Eh, malah motornya bablas ke rumah dan nabrak deh.

Sempat terjatuh, mama bukannya nolongin malah takut kalau bunga kesayangannya rusak. --hehe-- apes banget. Ye, kata kaka gue, namanya juga belajar. Ya harus benyok dulu deh...

Ganti Template


Setelah sibuk mencari template dan mempertimbangkan berbagai hal. Sempat mikir-mikir ganti nggak ganti nggak. Eh dah diganti, nggak cocok. Ulang lagi dari awal memasukan rumusan HTML. Nah, akhirnya menemukan juga template yang sederhana.

Bye template lama... Diri mu sudah menemaniku selama hampir satu tahun... Tuk menggenang mu. Ku selipkan tampilan lama --hehe gaya betul--

Desember 22, 2008

Mencoba tuk Berbuat Baik

Anne tersenyum saat melihat dua keponakannya bermain di halaman rumah kecilnya. Menjelang Natal, dua orang keponakannya hendak menghabiskan liburannya di Batam. Hari ini merupakan hari kedua, kedatangan mereka.

''Mama Anne,'' ujar Aldo memanggil Anne, sambil menendang bola.

''Yup,'' jawab Anne sambil menangkap bola yang dilempar kearahnya. ''Ada apa, Do?''

''Bosan neh, dua hari di rumah saja. Besok kita kemana tante,'' tanya Aldo sambil diiyakan Peter.

Anne berpikir sejak, lalu tersenyum. ''Bagaimana kalau ke Mall,'' sarannya.

Aldo dan Peter saling berpandangan dan menggeleng. ''Bosan,'' serunya serentak.

''Kalau sama mama Anne tidak bosan, dijamin,'' kataku sambil melempar bola kepada Aldo.

''Masa seh, tante,'' ujar Peter sambil mendatangiku.

''Ada apa Peter, dah kangen mau pulang ke rumah ya,'' gurauku.

Peter semakin mengeratkan pelukannya, Aldo pun datang mengampiri kami dan ikut memelukku. ''What's up men,'' kataku sambil tertawa lucu melihat tingkah laku keponakanku.


''Lapar,'' kata Peter sambil tertawa.

''Yuk, kita buat cemilan. Jam makan malam masih dua jam lagi. Jadi tanggung kalau makan nasi,'' sahutku sambil melirik arloji berwarna emas di pergelangan tangan kananku.

''Ayo,'' seru Aldo sambil berlari ke dalam rumah, diikuti Peter dan tentunya juga aku.

''Mau buat apa?'' tanya Aldo penasaran, saat berada di dapur. Mata Peter pun melihat dapur yang tertata rapi.

Anne tertawa melihat tingkah laku keponakannya, biasanya di rumah selalu sepi. Karena Anne tinggal seorang diri. Kehadiran dua keponakan yang tak pernah diduganya membawa suasana baru. ''Sebenarnya tante sudah punya cemilan, ice cream dan puding. Bagaimana kalau kita membuatnya menjadi lebih menarik. Lalu, kita saling tukar karya masing-masing,'' ujarku mengusulkan.

Tanpa menunggu jawaban dari mereka, mereka pun langsung segera menuju lemari es dan mengeluarkan beberapa makanan yang ada di sana. ''Mama Anne keluar dulu sana, nanti kami berikan ice cream yang terenak,'' ujar Aldo mengusirku keluar dari dapur.

''Wow,'' seruku sambil keluar dari dapur. ''Jangan buat berantakan dapur mama Ann ya,''

''Beres,'' kata mereka serempak.

Selang dua puluh menit mereka bereksperimen di dapur dan keluar membawa tiga gelas berisi ice cream dengan berbagai hiasan dan campuran yang lain. Bentunya lucu, kalau soal rasa sudah pasti sama. Saat itu, kami duduk sambil memandangi teras rumah yang sudah mulai gelap.

Pada saat aku hendak menyuapkan sesendok kecil ice cream, ada anak kecil berdiri di depan pagar, memandang kami, tepatnya ice cream yang ada ditanganku. Berkali-kali, dia menelan ludah. Ku suruh kedua keponakanku melihat mereka. ''Menurut kalian, apa yang sebaiknya kita lakukan pada anak itu,'' tanyaku sambil menyuruh mereka melihat anak itu.

''Biarin aja,'' kata Peter, Aldo pun menyetujuinya.

''Kenapa? Alasannya,''

''Kitakan nggak kenal dia mama,'' ujar Aldo mengingatkan.

''Terus?'' desakku.

''Ya, tidak boleh. Siapa tahu dia berniat jahat,'' kata Peter dengan nada dibuat serius.

''Mau mendengar cerita tak,'' tanya ku sambil memandang satu per satu keponakanku.

''Ya,'' seru mereka berdua cepat

***

Ada seorang anak, sebut saja namanya Markus. Dia anak seorang petani, saat itu kondisi di daerahnya sedang kemarau. Tidak ada yang bisa diberbuat para petani itu untuk menyelamatkan hasil panennya. Markus pun jadi bersedih, karena melihat ayahnya pulang dengan raut wajah lelah dan putus asa.

Karena Markus anak yang baik dan usianya juga sudah sepuluh tahun, ia berusaha membantu ayahnya. Namun ayahnya melarang. Karena kata ayahnya percuma. Hasil kebun tak bisa diselamatkan, mata air sudah sedikit. Jadi, tidak mungkin untuk mengaliri tanaman. Air itu hanya cukup untuk persedian di rumah, buat minum dan keperluan lain.

Untunglah ayah Markus merupakan petani yang rajin menabung, sehingga tidak terlalu merasa kuatir untuk membiayai keperluan di rumah. Namun, kalau kemarau terus menerus melanda desa mereka, bisa dipastikan uang tabungannya bisa habis dan keluarganya bisa menderita.

Keesokan harinya, Markus berjalan menelusuri jalan setapak. Berniat menangkap ikan, memang sungai dengan tempat tinggalnya cukup jauh. Markus berjalan sepuluh kilometer, rasa lelah dan haus menderanya. Ia pun segera meminum air yang tadi dibawanya, beserta ember hitam yang rencananya mau digunakan untuk tempat ikan dan air.

Air sungai masih mengalir, namun tidak sebanyak dulu. Dibukanya bajunya dan bersusah payah, akhirnya Markus berhasil menangkap ikan, tiga ekor ikan dengan ukuran dua kecil dan satu besar. Saat berjalan pulang, Markus berpapasan dengan seorang kakek. Kakek itu sedang murung, karena cucunya marah-marah minta dimasakin ikan. Padahal, saat itu kakek sedang tidak punya uang.

Markus merasa kasihan, lalu diberinya satu ekor yang paling besar. Sedangkan Markus hanya membawa dua ekor ikan yang masih kecil. Markus berniat memberikan yang terbaik yang dia punya. Padahal, Markus pun lebih membutuhkan ikan itu untuk dijadikan lauk di rumah agar mengurangi biaya untuk membeli lauk di rumah.
***

''Tahu nggak maksud poin yang mama An ceritakan,'' tanyaku.


Aldo dan Peter hanya saling berpandangan. Aldo langsung menyahut, ''Kenapa harus begitu Ma,''

''Karena, kalau kita memberikan sesuatu kepada orang harus yang terbaik. Bukan berdasarkan apa yang tidak kita butuhkan. Di alkitabkan juga ada,'' kataku mengingatkan.

''Jadi .... Kita harus beri ice cream kita, sepertinya dia sangat menginginkan,'' kata Peter lirih.

Aku hanya mengangkat bahu, ''Menurut mu sayang''

''Harus,'' kata Peter ragu-ragu.

''Jadi?'' kataku sambil memandang Peter dan Aldo bergantian.

''Kami berikan ice cream ini ya tante, nanti aku dan Peter bagi berdua,'' ujar Aldo sambil berlari membawa cangkir ice creamnya.

''Ini,'' kata Aldo menyerahkan gelas ice creamnya.

Anak itu memandang ragu, lalu memandang ke arahku was-was. Belum sempat aku menyehut, Peter berujar ''Tidak apa-apa, ambil saja. Ice cream kami, kami iklas koq. Nanti ice cream kami yang satu lagi, kami bagi berdua,''

''Makasih,'' sahut anak itu sambil mengambil ice cream dan berlari secepat mungkin.

Aldo dan Peter saling berpandangan tak mengerti. Lalu, kembali mengampiriku bangku teras. ''Bagaimana,'' tanyaku.

''Sudah kami serahkan, tapi aneh,'' kata Aldo. ''Iya ma, aneh,'' ujar Peter membenarkan.

''Aneh, kenapa,'' sahutku.

''Dia malah berlari dan pergi membawa gelas tante,'' kata Peter dengan nada takut.

''Ya sudah tidak apa-apa. Neh ice cream tante, kalian aja yang makan,'' ujarku sambil menyerahkan ice cream.

Aldo dan Peter mengelengkan kepala. ''Nggak, kami mau makan ice cream dengan berbagi,''

''Kenapa?''

''Karena seru,'' teriaknya.

Sore itu kami habiskan waktu bercanda dan tertawa. Tidak lama kemudian anak itu datang dengan mengandeng adiknya dan satu tangannya membawa cangkir bekas ice cream yang tadi diserahkan Aldo dan Peter.

Anak itu berdiri di depan pagar dan menatap kami, Aldo langsung mengampiri.

''Makasih,'' lanjut anak itu, ''Tadi aku harus cepat-cepat pergi menemui adikku. Karena dia ingin makan ice cream. Aku takut ice creamnya akan segera mencair. Ice creamnya enak.''

Aldo tersenyum sambil mengambil cangkir yang disodorkannya. Sementara itu, Peter saat melihat anak itu datang bersama adiknya masuk ke dalam dan membuat dua cangkir ice cream di cangkir plastik.

''Ma, cangkir plastik ini boleh mereka bawa pulang nggak,'' tanya Peter.

''Tentu saja boleh, mama kan punya banyak gelas di dapur,'' kataku dengan nada senang.

Peter menyerahkan ice cream itu kepada anak itu. Lalu, kami masuk ke dalam.

Desember 21, 2008

Pengarang Fav

Kalau ditanya pengarang novel siapa yang menjadi favorite ku, pasti ku katakan Barbara Cartland. Karena semasa hidupnya dia berhasil berkarya sebanyak 723 buku. Wow, hebat. Karena aku pasti, tidak bisa seperti itu. Mencari inspirasi dalam menulis sangatlah tidak mudah, tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Pasti ada rasa tidak percaya diri dengan hasil karya yang sudah dibuat. Jadi, disimpan saja dalam komputer, ataupun dalam buku yang kian tahun kian usang dimakan waktu. Kekagumanku pada wanita yang pernah mendapatkan gelar ''Dame of the Order of St. John of Jerusalem'' dari erajaan Inggris. Karena usahanya dalam bidang amal.

Berbagai kegiatan dilakukan wanita yang tutup usia 99 tahun itu. Dalam setiap karyanya dia selalu ''DOA''. Karena menurutnya dengan berdoa inspirasi itu selalu ada. Kekuatan doa yang terus menerus membuatnya berkarya hingga menghasilkan ratusan buku. Ceritanya pun sangat ringan dibaca, walaupun kebanyakan ceritanya diseputar kerajaan inggris, seperti mengenai Duke, princess, atau kebangsaan lain.

Karya yang paling suka ku baca, pilih pintar atau cantik? Briliant or Smart? Em. . . . . Sejak dulu wanita selalu diidentikkan dengan kecantikan saja, bukan kepintaran. Gaya bahasa yang ringan dan alur yang selalu mudah ditebak, tetap saja karya Barbara Cartland ada beberapa di rak buku di rumah.

Selain pengarang wanita asal luar negeri itu, bukan berarti pengarang Indonesia tidak ada yang bagus, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu dan masih banyak lainnya. Mereka memiliki beragam perbedaan dalam penulisan. Namun, hasil karya tulisannya sangat enak dibaca. Aku suka salah satu karya Ayu Utami yang berjudul Larung. Sedangkan untuk karya Djenar Maesa Ayu, aku suka cerpen karyanya mereka bilang aku monyet dan suda difilmkan.

Dengan menulis bisa melupakan penderitaan dan kesusahan, dengan menulis membuat kita berimaginasi dan menemukan inspirasi yang menarik untuk ditulis. Seperti kata Gerald Brenan, ''Awali setiap subuhmu dengan menulis atau mencatat karena dengan begitu membuatmu menjadi penulis''

Menulis seperti meluapkan perasaan yang tersimpan di dalam hati, dengan menulis membuka dunia imaginasi dan berkembang dalam bentuk tulisan yang tidak disadari jadi berupa cerpen, cerbung atau novel. Hanya butuh keberanian untuk melakukan itu bukan. Apa susahnya menulis? Karena sejak kecil pun kita diajarkan menulis dan mengenal huruf?

Sahabat setia yang tak pernah meninggalkan kita adalah tulisan. Karena dengan menulis uneg-uneg dihati, perasaan yang tadinya berat menjadi sedikit ringan. Menulis, menulis, menulislah. Jadikan tulisan menjadi bagian dari hidupmu. Apalagi sarana untuk mengembangkan tulisan bisa dimana saja.

Desember 19, 2008

Belum Menemukan Judul yg Bagus tuk Novel

Sudah selesai novelnya, namun sayang aku masih belum menemukan judul yang tepat mengenai novel ku. Ini sekilas gambaran mengenai novel yang sudah 89 persen siap. Masih bingung juga mau membuat sinopsisnya seperti apa.... Please bantuin donk mencari gambaran judul yang bagus --hehe--

Hidup Ellen cukup lumayan, dia punya pekerjaan sebagai Public Relationship, punya teman yang perhatian dan kekasih yang tampan, Jack. Bahkan seminggu lagi dia akan menikah dengan pujaan hatinya.

Namun rencana pernikahannya berantakan, setelah Audrey, adiknya menyatakan dirinya hamil dengan Jack. Seketika itu juga hidupnya jadi tidak menentu arah.

Dia membenci adiknya yang sejak kecil selalu menyusahkan hidupnya, dia membenci Jack, karena mengkhianatinya. Padahal hubungan mereka telah terjalin empat tahun, bukan waktu yang sebentar bukan untuk mengenal karakter pasangan?

Rasa malu terhadap rekan kerja dan juga koleganya membuatnya keluar dari pekerjaan. Karena tidak sanggup menjalani kehidupannya yang seharusnya sempurna.

Dia lebih menyukai kesendiriannya. Namun, dia bangkit dari keterpurukannya. Mencoba memulai hidup baru, bahkan dia memutuskan hubungan sepihak dengan adiknya, setelah pernikahan itu berlangsung.

Pindah dari Jakarta ke Batam untuk memulai pekerjaan dan hidup baru. Karena di Batam, tidak ada orang yang mengenalnya dan mengetahui masa lalunya. Namun, dia mendengar kabar buruk. Adiknya terkena virus HIV dan kanker.

Perasaannya berkecambuk, apakah dia harus menemui adiknya dan memaafkan kesalahannya atau benar-benar memutuskan hubungan tali darah hanya karena seorang pria?

Desember 17, 2008

Why always Seks?

Belakangan ini, kembali lagi nomor ponsel yang tak dikenal nyasar di ponsel ku. Awalnya, tak ku ladeni. Habiz, kurang kerjaan aja kalau nomor-nomor yang nyasar terus diladeni. Namun, beberapa waktu lalu berbeda. Ya, mungkin dikarenakan aku tidak terlalu sibuk. Sebab, lagi cuti, jadi kerjaan tidak terlalu banyak menyita waktu.

Em . . . . Kebanyakan nomor yang nyasar tuh notabennya pria. Kalau sibuk seh ngak diladeni, namun, karena lagi suntuk habiz cari informasi mengenai HIV/AIDS dari data lama sudah banyak yang hilang. Ya, sudah lah tak papa, iseng-iseng aja.

Aku heran, kenapa seh mayoritas kaum pria senang banget membahas mengenai seks. Memang topik seks nggak akan pernah habis-habisnya dibahas. Namun, ya, kalau mau jujur pasti itu-itu saja.

Banyak topik menarik yang bisa dibahas mengenai pemerintah, politik ataupun mengenai hal-hal yang ringan, buku kek, or persoalan lain kek. Tuhkan lebih bermanfaat, daripada seks melulu. Inilah kenapa mata rantai ODHA tidak pernah terputus. Karena terlalu banyak orang yang melakukan free seks baik atas dasar suka sama suka ataupun membeli seks.

Ya, seperti makanan membeli. Pekerja seks komersil juga bukan hanya wanita saja. Melainkan juga ada pria, kalau perempuan biasanya disebut PSK kalau laki-laki gigolo. Nah, sekali lagi. Persoalan ini memang ribet dan tak kan pernah selesai. Selama moral itu masih tetap terpatri dalam pemikiran dan gaya hidup yang salah.

Why always seks? Karena pemikirannya hanya sebatas itu saja. Itu kesimpulan ku. Sebab, orang yang memiliki segudang aktivitas dan berbagai hal yang positif dilakukan. Tidak akan pernah membahas mengenai itu. Ya, pembahasannya pasti yang berkelas. . .

Bagaimana dengan kamu. Karena aku bukan hakim, aku hanyalah manusia biasa yang bosan ditanya mengenai seks oleh orang asing maupun orang yang tak kukenal.

Susahnya Mencari Template

Pengennya seh mengganti template. Apalagi sudah setahun aku menggunakan template yang ini. Bukannya sudah bosan, aku suka pemandangan sunsetnya..... Namun, pengen ada perubahan seh. Cari sana, cari sini ngak ketemu juga yang sesuai dengan keinginan ku.

Bukannya tidak ada yang bagus, banyak yang bagus hanya saja, kebanyakan lebih dari tiga kolom. Wah, terlalu ramai. Ngak simple... Aku lagi mau mencari template yang standar tiga kolom dengan background tetap hitam.

Karena dengan warna hitam, kesannya misterius... Ngak juga seh. Enak aja dengan warna hitam. Walaupun sebenarnya, warna favorite ku warna ungu. Kata orang warna janda. Namun, bagi ku nggak bener.

Masa janda disamakan dengan warna ungu, ya nggak logis aja. Entah darimana informasi tersebut bermula. . . . Ok, ada yang bisa bantu nggak ya memberikan informasi mengenai template yang menarik. Aku tunggu infonya ya....

Desember 16, 2008

Tak Terasa sudah Semingu

Waktu memang cepat berlalu, tidak terasa cuti ku sudah berjalan seminggu. Seharusnya, aku ke Balikpapan, hanya saja di menit terakhir aku memutuskan untuk mengejar impian ku, membuat novel. Memang tidak mudah, awalnya sering banget terhenti ditengah jalan.

Namun, setiap aku menyerah. Aku selalu kembali dihadapkan pada realita. Begitu susahnya menulis apa yang ada didalam imaginasi kita. Namun, aku mempunyai niat. Tapi, itu saja tidak cukup.

Aku berusaha mencari informasi yang kubutuhkan tuk tulisan ku. Selain itu aku berdoa, agar aku diberikan imaginasi yang bisa menyelesaikan tulisan ku. Apalagi tulisan ku ini berhubungan dengan ODHA. Ya, aku hanya ingin memberikan informasi mengenai ODHA dalam bentuk lain.

Tak terasa seminggu waktu yang ku butuhkan untuk mengarap proyek ku sudah terlewat. Masih ada seminggu lagi untuk menyelesaikan keseluruhan tulisan sebelum dipublikasikan. Aku pun tak tahu, apakah layak atau tidak.

Namun, tidak ada salahnya mencoba. Ya, kita harus berani mengambil resiko untuk maju. Kenapa tidak?

Tak Mau Disalahkan

Minggu ini pelajaran sekolah sabat mengenai Penebusan di Salib. Beberapa pembahasan dalam sepekan ini membuat ku berpikir dan merenung. Wow, selama ini aku sudah menyia-nyiakan kesempatan untuk lebih mendekatkan diri dengan Bapa. Padahal, dia sudah mengorbankan anaknya yang tunggal untuk menebus umat manusia dari dosa.

Aku tertarik dengan pembahasan di hari Sabtu. Dalam tulisan pelajaran sekolah sabat, seseorang menuntut sebuah perusahaan cepat saji, karena membuatnya menjadi obsesitas. Sebab, akibat dari sering makan di maanan cepat saji dalam seminggu bisa empat sampai lima kali. Dia mempersalahkan perusahaan itu atas persoalan yang dialaminya.

Ya, itulah manusia yang cendrung mempersalahkan orang lain untuk tingkah laku kita yang salah. Tetapi Allah tidak pernah menerima alasan-alasan kita. Dia menganggap masing-masing kita harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan yang telah kita lakukan. Bertanggung jawab atas dosa yang kita buat.

Namun, karena kasih Allah. Disinilah keindahan itu terlihat. Rahasia perdamaian yang mulai tampil dalam keindahannya. Bilamana kita bertanggung jawab atas dosa kita dan memiliki iman yang benar dalam Yesus. Allah rela mengampuni dosa kita itu. Apabila kita mengakui tanggung jawab kita dan kita akan dibebaskan dari hukuman atas pemberontakan kita. Apa yang terjadi pada hukuman itu? Allah tidak mengabaikannya. Melainkan mengirimkan anakNya yang tunggal untuk menebus dosa umat manusia yang berdosa.

Dosa yang diperbuat manusia, dijatuhkannya pada AnakNya. ''Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam kerajaan Anak-Nya dan kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebus kita, yaitu pengampunan dosa,'' (Kolose 1:13)

Pernikahan

Kenapa topik pernikahan selalu membuat aku tak nyaman. . . . . . Tahun 2010, kakak ku berencana menikah dengan pacarnya. Alhasil, di rumah pembahasannya itu melulu. Karena kaka ku harus menyelesaikan kontak kerja di Magdid sebagai Assisten Manager.

Bukannya aku anti ma pria, hanya saja belum. Gara-gara pembicaraan mengenai pria. Eh, aku keceplosan berbicara. Beberapa teman pria ku yang ku kenal, mau melamar aku tolak.

Terus terang, bukan karena aku tak butuh pria. Namun, aku masih belum siap mengubah dunia ku. Dan aku juga menyadari nobody perfect. Beberapa kawan lama, mengajak menjalin kasih secara serius --otomatis buntutnya ke wedding-- Ya, lagi-lagi ku tepis.

Sebagian dari mereka mengetahui sifat ku, terkadang childish, manja, dewasa, egois, entah sifat buruk or baik lainnya. Aku sendiri heran, napa bisa mengerti diri ku. Padahal, kadang aja aku merasa bingung dengan sifat ku yang bisa berubah dengan dratis tanpa ku sadari.

Kadang bisa bete tanpa sebab, suntuk tanpa alasan. Namun, beberapa kawan malah bilang, ''Hidup ku koq ngak pernah susah, selalu senyum dan bahagia,'' --Wow-- makasih deh.

Itu kan pandangan dan opini. Sedangkan aku merasa beban hidup ku itu berat. Namun, aku berusaha membuat hidup ku itu easy going. Balik ke wedding, em . . . . Beberapa sahabat pria yang berniat serius dengan ku, sering melontarkan pertanyaan. Kalau kamu jadi istri ku, kamu mau ngak ninggalin pekerjaan mu.

Terus terang, aku bilang sama mereka. Aku belum siap meninggalkan pekerjaan ku dan aku tidak mau menjadi 'ibu rumah tangga' biasa. Aku rasa, aku ngak bisa. . . Aku masih belum siap menjadi ibu rumah tangga yang hanya mengandalkan gaji suami. Aku masih ingin terus berkarya.

Kenapa seh, pernikahan harus selalu membayangi orang untuk melangkah. Memang penting untuk menjalin pernikahan. Karena Tuhan menciptakan manusia itu berpasang-pasangan hanya saja tidak sekarang. Aku masih ingin menikmati kebebasanku dalam berkarya.

Masa Lalu


Jangan pernah menghindar dari bayang masa lalu
Jangan pernah melupakan tiap kisah yang ada
Dari waktu ke waktu hidup terus berjalan
Jangan sampai ada penyesalan di setiap waktu
Akan masa lalu yang pilu dan sedih

Semua waktu yang terlewati hanya suatu kenangan
Yang bisa dilupakan atau diingat kembali . . .
Namun, jangan bersedih akan masa lalu itu
Jika ada yang salah, lakukan perbaikan di masa kan datang

Hidup lah dari waktu ke waktu tuk lebih baik
Bukan untuk meratapi waktu yang t'lah berlalu
Karena waktu tak kan bisa diputar kembali
Penyesalan boleh saja, asal jangan terlalu

Sebab hidup itu indah karena waktu yang diberikan
Ingatlah kemarin adalah sejarah yang tergores dalam hidup mu
Sedangkan hari ini adalah hadiah dan anugrah tiap waktu kan terlewati
Esok hari adalah suatu misteri yang tak kan pernah kamu duga

Karena itu nikmatilah waktu dalam hidup mu
Tuk berbuat kebaikan, kebajikan akan waktu mu
Waktu bisa membawa suatu perubahan baik maupun buruk
Tergantung kamu dalam mengelola waktu

Tiap tarik nafas mu adalah waktu
Tiap detak jantung mu berdetak itu adalah waktu
Tiap kamu bekerja itu adalah waktu
Tiap kamu melamun itu adalah waktu

Semua yang dikerjakan tiap detik, menit dan jam adalah waktu
Menanti pergantian tahun merupakan melewati tiap waktu yang tersisa
Sudah kah melakukan yang terbaik di tahun ini?
Karena waktu tidak akan menunggu mu . . .

Lakukan yang ingin kamu lakukan
Jangan sampai ada penyesalan karena waktu
Waktu yang bakal akan terlewatkan. . . .
Jangan meratapi waktu yang t'lah berlalu
Namun songsonglah masa depan menjadi lebih baik

Lebih baik dari tahun ini, lebih baik dari tahun sebelumnya
Karena waktu tak kenal kompromi . . .
Hidup mu adalah waktu mu
Pergunakanlah waktu hidup mu sebaik mungkin
Karena kita tak kan tahu apa yang terjadi hari esok

Desember 11, 2008

Akhirnya selesai Juga

Utak atik di net melelahkan juga. Apalagi di beri tanggungjawab tuk membuat blog komunitas blogger yang ada di Tanjungpinang. Akhirnya selesai juga. Setelah mencoba belasan template dari kemarin. Akhirnya dapat juga. Walaupun kurang sempurna. Karena fotonya masih belum diganti, kota Tanjungpinang. Namun tugas dan tanggungjawab ku dah kelar....

Mudah-mudahan apa yang sudah diprogram dan dicanangkan akhirnya selesai juga. . . . Ya, bersama dengan satu tujuan dan keinginan untuk berbagi pastinya tak ada salahnya. Mari, galakan program IT semakin lebih menarik. Bagaimana pun caranya, yang penting tujuannya sama. Benarkan ?

Pertemuan di Cafe Bola

Kawan-kawan serius untuk membahas komunitas blogger yang ada di Tanjungpinang. Ya, secara gitu, pada sibuk semua dan jam deadline hingga jam 9 malam. Alhasil, kembali pertemuan diadakan. Kali ini pada siang dan malam hari.

Siang di cafe Ratna yang dekat dengan kantor STV yang sekaligus dijadikan tempat mangkalnya teman-teman kalau tak ada kerjaan. Disitu hadir, Henky, Ipul, Cipi. Sebelumnya yang lain juga datang. Berhubung yang ditunggu --gue-- kagak nongol-nongol, akhirnya bubar satu per satu karena jam deadline sudah menanti.

Nah, setelah aku datang dan menyerahkkan konsep proposal dari jeng Ina. Kami membahas sebentar, lalu ditunda hingga jam 21.00 WIB di cafe Tiansi yang berlokasi di batu 9.

Hadir pada kesempatan itu, Deni Mariwowo , gw , syaindra (syaindra.gmail.com), Syaifullah, Yudi, Andre, Niko, andi, baiqdesi, humala.

Memang sedikit dibanding pertemuan semalam. Di sana selain pada mempercantik blog sendiri, tentunya juga membahas mengenai komunitas. Disepakati nama TBC diganti menjadi Bintanisland Blogger Community. Pasalnya, mengingat wilayah Tanjungpinang yang berada di pulau Bintan. Alhasil, keputusan itu diubah dengan pertimbangan segala macam tuh. Plus, juga hasil pertemuan Ansar Ahmad, Bupati Bintan, yang berniat memberikan dana untuk membantu menjalankan blogger goes to school. Begitu juga dengan Pemko Tanjungpinang.

Alhasil, nama pulau tidak akan memihak salah satu dua pemerintahan. Apalagi program yang akan dibuat tim komplotan Tanjungpinang ini untuk pendidikan. Tentunya, didukung dengan sarana dan prasarana agar semua dapat berjalan.

Hasil pertemuan, membuat proposal untuk diajukan ke pemerintah. Dana tersebut untuk membantu jalannya perkenalan blog dari sekolah ke sekolah. Karena kesibukan pekerja, untuk langkah awal perkenalan internet, khususnya membuat blog. Kami memutuskan mengundang perwakilan sekolah untuk datang ke pertemuan yang rencananya diselenggarakan tanggal 3 Januari 2009, hari Sabtu, siang, dengan segala pertimbangan yang masuk akal.

Rencananya kami akan mengundang lima perwakilan sekolah yang untuk langkah awal dari sekolah tingkat SLTA yang ada di Tanjungpinang yang terdiri dari SMUN I - SMUN VI dan SMK I-III, sedangkan untuk sekolah swasta yakni SMU Indrasakti, SMA Pelita Nusantara, SMU Muhamdiah, SMU Mardasyah, SMU Pembangunan, SMU Pariwisata dan SMU Maritim.

Hari ini, kawan-kawan sudah berbagi tugas dimana masing-masing akan menyerahkan proposal dan aku sendiri untuk membuat bahan untuk tutor. Sebenarnya sudah ada, mas nunk mw kasih, hanya saja ngak sempat di kirim ke mail.

Ok, let's do it. . . .

Masak

Gara-gara sering baca blognya jeng Ina mengenai masak memasak. Aku jadi ingat pengalaman yang sebenarnya sudah hampir ku lupakan. Pada waktu itu, kalau tidak salah, aku masih duduk dibangku kelas II SMP.

Entah kenapa, tiba-tiba perut ku sakit. Kata orang lapar, mungkin saja, karena aku tadi pagi ngak sempat sarapan --ngak pernah sarapan seh meman-- Siangnya, pas jam istirahat, juga ngak sempat jajan. Pasalnya, banyak tugas dan membuat ku dan beberapa kawan tak sempat ke kantin. Waktu, istirahat kedua, makanannya dah pada habis. Ya sudah deh, kelaparan deh aku.

Di sekolah ku, ada yang mengajar saudara papa, pasalnya marganya sama-sama Pandiangan. Kalau dikelas aku panggil ibu, kalau di rumah, aku panggil kakak. Berhubung, ka Lasiani tinggal didekat sekolah. Jadinya, aku minta makan deh ma ka Lasiani. Habizzz... dah ngak tahan, laparnya itu.

Em... Ternyata, memang aku lagi apezz, ka Lasiani ngak ada masak hari itu. Jadinya, aku disuruh buat indomie aja.. Ya, dari pada ngak makan. Ya sudah, aku terima tawarannya. Sebelum, ka Lasiani menyerahkan kunci rumahnya, dia nanya, aku bisa masak ngak. Dengan PeDenya, aku jawab bisa donk.

Alhasil, di rumah ka Lasiani, kalau ngak salah, aku ma Dewi deh, sepupu ku. Kami satu sekolah sejak SD sampe SMP. SMA-nya kami berbeda. Pasalnya, dia tetap mau masuk sekolah Advent. Sedangkan aku, aku pengen yang berbeda.

Nah, kembali ke masa lalu, disitu tersedia mie rebus dan mie goreng. Kami memilih mie goreng. Dengan membaca cara memasak dari belakang bungkus. Setelah mie direbus, di goreng. Karena pinternya --hehe-- minyak gorengnya ku kasih setengah wajan. Lalu, mie dimasukan. Jadi deh. . . Waktu mau dimakan, rasanya minyak banget. Ngak bisa dimakan. Mie yang dua bungkus kami masak itu, akhirnya masuk ke dalam tong sampah.

Masih dengan perut kelaparan, kami pun kembali ke kelas dengan tertawa-tawa geli. . . Gara-gara itu, sebulan aku menghindari mie goreng. Karena perasaan kalau makan mie itu rasanya berminyak banget. Kapok deh, masak mie sendiri. . . .

Kalau sekarang? Tentu donk bisa masak mie.. Mau mie apa aja bisa, kan dah belajar dari pengalaman sendiri. Masa, kasih minyak goreng ngak kira-kira . . . . Tapi itu, menjadi rahasia sendiri. Entah, ka Lasiani menyadari tidak ya, kalau minyaknya kami habisi karena tuk memasak mie dua bungkus doank. . .

Kuasa Doa


Tanpa disadari terkadang kita berbicara
Berbicara pada Tuhan . . . .
Dalam doa yang tak berkesudahan
Dimana keluh dan kesah didengar

Beribu doa diucapkan tiada henti
Beribu harapan agar doa yang dipanjatkan terkabul
Beribu impian dimana akan ada keselamatan
Baik di bumi maupun di surga

Kuasa doa . . . .
Kuasa doa sungguh ajaib
Perasaan penat dalam sekejab bisa menghilang
Perasaan sedih beranggsur-anggsur lenyap

Doa . . .
Tak ada satu pun manusia yang tak berdoa
Berharap dan meminta untuk lebih baik
Dengan berdoa, hidup jadi seimbang

Harapan bisa terkabul suatu saat
Berdoa, layaknya anak berbicara pada Bapa
Pikulan beban yang sebelumnya terasa berat
Menjadi lebih ringan karena kuasa doa

Desember 10, 2008

Do Nothing

Tak terasa cuti ku memasuki hari ke tiga.... Waktu cepat berlalu, sedangkan proyek ku baru berjalan 30 persen. Bukannya do nothing seh. Hanya saja, lagi ke asyikan baca novel sambil nonton film yang di sewa di Odiva tiap malam....

Em, nikmat juga hidup. Walaupun terkadang ada rasa bosan. Biasanya sibuk terus. Tapi, sekali-kali boleh donk kita menikmati waktu seharian tanpa melakukan kegiatan yang menonton tiap hari.

Desember 09, 2008

Warrior Angels

Elizabeth berjuang melawan maut, saat tertusuk pada saat perang salib. Ia berusaha agar tetap hidup untuk memenuhi janjinya pada seseorang, yakni anaknya, Peter. Dimana perjuangannya pun akhirnya berakhir pas satu tahun.

Pada saat kembali ke kampung halamannya, didapati anak tunggalnya sudah tidak ada di tempat. Rasa sedih dan marah menyelimuti Elizabeth. Padahal, ia sudah berjuang untuk tetap hidup selama perang berlansung untuk memenuhi janjinya pada anaknya.

Namun, saat kembali yang didapati anaknya telah dibawa Grekkor. Waktu minta pertolongan sama orang di desanya. Tak ada satu pun yang berani melawan kekejaman Grekkor. Akhirnya, Elisabeth pergi seorang diri untuk membawa kembali anak yang di kasihinya.

Pada saat perjalannya menuju tempat Grekkor, bangsawan yang kejam dan keji itu, ia diserang kawanan perampok, bahkan nyaris diperkosa lima banding satu, tentunya Elizabeth kalah. Walaupun, ia sudah berusaha untuk melawan dengan sekuat tenaga.

Untunglah, hunter --wanita pemburu-- datang menyelamatkannya. Mereka pun pergi kediaman Hunter yang berada tak jauh dari lokasi. Saat di tempat kediaman Hunter, Elssibath mengajak Hunter tuk membantunya menyelamatkan anaknya dari kekejian Grekkor. Hunter pun senang menerima tawaran Elizabeth.

Karena Hunter pernah menawarkan diri untuk membantu di perang salib yang sedang melanda di negaranya Inggris, namun diketawain pendeta. Karena dia adalah wanita. Elizabeth bersama Hunter pun memulai perjalanan untuk menemukan Grakkor. Menemukannya berarti menemukan anaknya.

Pada saat memulai perjalanan menuju desa yang lain, Elizabeth bersama Hunter bertemu seorang wanita yang bernama Eve dan membawanya turut serta ke desa Kenshira tersebut. Di desa itu, lagi-lagi Grekkor membuat ulah dan membunuh pendeta itu dan menggantung mayatnya agar masyarakat di desa itu takut akan kegandasan Grekkor.

Tiba di desa yang sudah diporak-porandakan, Elizabeth mencari sosok Grekkor dengan cara mendatangi bar kecil. Di sana Elizabeth mempertanyakan keberadaan Grekkor dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama melawan Grekkor. Namun, mereka tak memiliki keberanian.

Di dalam bar itu juga ada beberapa anak buah Grekkor, mendengar hal itu, ia pun menjadi berang dan marah. Lalu, terjadi perlawanan antara anak buah Grekkor dengan Elizabeth dan Hunter. Disitu, anak buah Grekkor kalah. Namun, masyarakat desa itu sudah ketakutan dan menyuruh mereka pergi.

Dari desa itu, mereka mendapat satu lagi kawan yakni wanita gipsi yang bisa menciptakan ramuan-ramuan. Dari situlah mereka berempat memulai perjalanan untuk mencari anak Elizabeth dan melawan Grekkor yang menyebabkan beberapa kekacauan.

Oh ya, wanita berambut pirang itu pekerjaannya adalah menggoda dan mencuri uang pria-pria yang ada disekelilingnya. Namun, mereka tidak mempersoalkan hal tersebut. Jadilah empat wanita mencari dan melawan bangsawan Inggris yang mencari kesempatan pada saat negaranya sedang berperang salib.

Sementara itu, di tempat Grekkor, Peter dianggap sebagai anak kandung Grekkor. Disana Peter diperlakukan bagaikan raja dan diajarkan berpedang oleh Luke, yang dianggap sebagai pemenang saat melawan salah satu anak buah Grekkor.

Pada kesempatan itu juga, pasukan Grekkor menyerang desa Khensira dan membunuh pendeta setempat karena mengatakan Grekkor sebagai seorang pembunuh dan pemerkosa. Mendengar itu, Grekkor pun marah dan membunuh pendeta, lalu mengantungnya di depan gereja agar masyarakat disana takut. Elizabeth bersama dua kawannya tiba di desa itu malam harinya dan sepi.

Keempat wanita tersebut bergabung dalam melawan kekejaman Grekkor. Namun, pada pertempuran pertama. Walaupun sempat memporak porandakan markas Grekkor. Akhirnya tiga dari empat wanita itu ketangkap dan dipejarakan. Pada kesempatan yang sama, masyarakat di desa Kenshira bangkit melawan Grekkor. Sehingga tiga wanita yang hendak diperkosa satu per satu untuk berbicara siapa yang menyuruhnya itu menyerah dan mengungkapkan kebenarannya.

Kesempatan itu tak disia-siakan Eve. Eve berusaha membebaskan kawannya dan dibantu dua wanita yang juga dijadikan budak nafsu anak buah Grekkor dan Grekkor sendiri. Mereka bebas dan menyusun rencana. Rencananya Grekkor akan dibawa ke Kastil, desa Elizabeth. Karena di sana, strategi perangnya akan berhasil. Untuk memancing Grekkor ke sana, Luke yang mengutarakannya.

Luke baru menyadari bahwa Grekkor lah yang membunuh orang yang menjadi tanggungjawabnya untuk dilindungi. Perang pun dimulai, Grekkor kalah telak oleh Elizabeth. Walaupun, pada perang tersebut, Eve meninggalkan mereka. Karena berusaha melindingi gadis gipsi tersebut. Namun, perdamaian terjadi di semua desa. Karena kematian Grekkor, anak buah Grekkor pun langsung meninggalkan desa itu dengan secepatnya.

Wanita di Puji dan di Benci

Wanita itu lemah, Wanita itu tegar Wanita itu kuat, Wanita itu . . . . .
Berbagai tanggapan mengenai wanita... Namun, paling banyak adalah wanita itu penggoda? Benar kah? Wanita bekerja sebagai penghibur di cafe, karoke, atau sales yang menggunakan pakaian seksi. Bahkan ada beberapa wanita memilih bekerja sebagai pelampiasan nafsu . . . Itu lah wanita . . .

Wanita yang selalu dipersalahkan dalam setiap persoalan. Pemberantasan penjaja seks, itu karena wanita? Benarkan sepenuhnya itu salah wanita? Tak memiliki keturunan dalam membangun rumah tangga. Benar kah itu karena kesalahan wanita. Kenapa semua persoalan selalu dilimpahkan pada wanita seorang diri?

Karena memang begitulah keadaannya. Karena wanita paling gampang menerima caci maki. Karena wanita terlalu lemah melawan semua penindasan. Penindasan moral, penindasan harga diri, penindasan dalam arti yang sesungguhnya dalam kehidupan ini . . .

Wanita selalu dipuja dan dibenci, bukan? Terkadang sebagai wanita pun, aku bingung. Kenapa bisa? Beragam kejadian tahun ini pun sangat banyak. Perdagangan manusia, yang notabennya adalah wanita --trafficking-- Dijadikan pelacur --bahasa kasarnya seh, kalau bahasa halusnya-- pelampiasan nafsu. Semua itu diterimanya, entah dengan perasaan iklas atau terpaksa. . . Karena aku tidak tahu arti dari senyuman atau tangisan itu.

Kalau tidak ada pria hidung belang, tentunya ini tak perlu terjadi bukan? Namun, sayangnya masih banyak pria-pria yang masih suka 'jajan'. Sehingga masih ada kesempatan bagi oknum yang tak bertanggungjawab mengambil kesempatan ini. Kalau saja, semua berjalan lurus. Namun, hidup bukanlah hitam putih. Yang mana ketahuan mana yang jahat dan baik. Hidup itu memiliki warna. . . Warna kepalsuan dalam hidup.

Dalam rumah tangga yang terbina bertahun-tahun, namun belum memiliki anak. Wanita lah yang dipersalahkan. Kenapa tidak bisa memberikan keturunan. Padahal, sepenuhnya itu bukan salah wanita. Tetapi, wanita lah yang selalu dijadikan objek kesalahan dalam pernikahan tersebut. Sehingga si pria memilih menikah lagi. Padahal, pada kenyataan, kemungkinan besar, pria itu lah yang interfilitas.

Ya, wanita memang nasib mu dipuja dan dibenci. Bahkan oleh kaum mu sendiri. Kamu, hai para wanita yang bekerja sebagai pelampiasan nafsu, dipandang hina oleh sesama mu. Dicemoohkan, dihinda dan dicaci maki. Namun, kamu para wanita pekerja sebagai pelampiasan nafsu, dipuja, dipuji oleh kaum pria. Walaupun sesaat. Tetap saja, kamu dipuja. . .

Wanita, kenapa semuanya ditunjukan pada mu yang tidak baik. Karir wanita yang notabennya sudah menjadi istri lebih meningkat dibanding suaminya, membuat rumah tangganya hancur. Karena pria --suaminya-- tidak mau ditandingi keberhasilan istrinya. . . Lagi-lagi dipersalahkan.

Rumah tangga yang mapan, suaminya yang bekerja. Rumah tangga hancur, lagi-lagi wanita yang dipersalahkan. Kenapa tidak menyambut suami pulang dengan wajah yang riang, cantik, padahal suami sudah bekerja dengan keras. . .

Wanita itu seharusnya bagaimana, bekerja di rumah? Bekerja di luar? atau wanita hanyalah boneka yang bisa dipermainkan nasib? Nasib garis kehidupannya. Tidak, wanita mempunyai power, wanita mempunyai ketegaran, wanita juga memiliki perasaan. . .

Tau kah kamu --karena aku juga tak tahu-- terkadang hidup ini tidak adil. Namun, aku bersyukur atas semua kesempatan di tahun ini yang bisa ku lihat dari pekerjaan dan jadi orang yang dipercaya untuk mengungkapkan perasaannya. Karena, aku juga adalah wanita. Wanita yang memiliki rasa, rasa kasih, rasa sedih, rasa cemburu, rasa emosional, rasa iba, seribu rasa. . . . Karena wanita memang perasa.

Hidup mu adalah milik mu, hidup ku adalah milik ku. Kalau memang itu adalah garis hidup yang memang kamu pilih. Itu adalah persoalan mu, namun aku sebagai wanita berharap, semoga semuanya baik-baik saja. Untuk masa yang kan datang. . . Sebab, kita tidak hanya hidup untuk di dunia fana ini saja, melainkan juga hidup di dunia yang tak ada lagi sandiwara. Namun, untuk menuju ke sana penuh lika-liku. Sanggup kah mempertahankan martabat, moral, kebaikan hati, ketulusan dalam bertindak? Karena untuk ke sana harus melewati beragam pencobaan dan yang tetap bertahan dalam jalan yang benar, dia lah pemegang kunci surga.

Belajar Jujur


Tadi pagi saya membaca buku, mengenai belajar berdoa dalam keluarga. . . Di dalam buku itu ada kisah mengenai keluarga yang memiliki dua anak laki-laki. Salah satu dari mereka berbuat salah. Namun, mereka berdua tidak mau mengaku.

Begitu ayah pulang dan si ibu menceritakan prihal itu. Lalu, ayah mengampiri kedua anaknya yang sedang duduk di ruang keluarga, tanpa berbicara satu kata pun. Si ayah, duduk dibawah. Sedangkan dua anaknya duduk diatas. Dengan lemah lembut, ayah menanyakan siapa yang melakukan itu. Keduanya sama-sama tidak mengaku, baik kakak maupun adik.

Terpaksa si ayah memilih salah satu diantara mereka untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Lalu, dipilihlah si adik untuk bertanggungjawab menerima hukuman dipukul dan berdiam diri di dalam kamar. Pasalnya, karena dia masih kecil, pikir si ayah, kemungkinan besar, si adik yang berbuat ulah.

Keesokan harinya, pada saat sarapan, seperti biasa berdoa. Kali ini si adik mendapat giliran berdoa. Dalam doanya si adik memohon pengampunan pada ayahnya. ''Yesus ku, terimakasih. . . Karena Engkau menolong ku mengampuni ayah karena telah memukul ku tadi malam. Padahal, aku tidak melakukannya,''

Mendengar doa anak yang lebih muda, si ayah lalu memeluk si adik dan menyesal. Saat itu, si kakak merasa kesulitan. Karena telah berbohong dan membiarkan si adik menerima hukuman atas perbuatannya. Lalu si ibu datang dan memeluk kaka dan berdoa untuknya.

Menyadari kesalahannya, si kaka minta maaf kepada ibu, ayah dan adiknya. Karena perbuatannya berbohong.

Terkadang sebagai manusia, kita hidup dalam kepura-puran --walaupun menyebalkan, terpaksa dilakukan-- Dalam berbuat jujur ada harga yang harus dibayar, namun itu merupakan suatu permulaan yang lebih baik, bukan? Bila kita bersikap jujur itu akan meringankan beban kehidupan kan?

Desember 06, 2008

Blogger Goes to School

Teman-teman di Tanjungpinang pada ngumpul, ampe dua puteran. Soalnya, waktu ngumpulnya ngak sama. Ronde pertama, Ipul, Jeng Ina, Aji, Basor dan Robby. . . . Sebenarnya, rencananya yang direncanakan jeng Ina, jam 1-an. Namun, entah napa tiga sijoli neh dah datang duluan. Alhasil, gue ngak bisa ikut nongkrong di ronde pertama. Coz, aku ke gereja dulu donk. . . .

Setelah pulang dari gereja, aku pun pulang ke rumah tuk ganti baju. Ngak mungkin donk, aku kesana dengan menggunakan rok hehe. . . Moyoritas gitu kawan-kawan pada preman --pria semua maksudnya--

Disana sudah menunggu jeng Desi, jeng Ina tetap setia, gitu juga ipul, lalu juga ada Cipi, Charles, bg Nico, Bagas, Hengky and laennya. . . Sorry ya bisa d sebutkan satu-satu. Lalu, di cafe mbah marijan, terbentuklah komplotan blogger Tanjungpinang yang diberi nama TBC (Tanjungpinang Blogger Communitas)..

Untuk agenda pertama BBC yang kawan-kawan memilih tanpa membentuk ketua, kecuali ada event. Nah, event pertama yang bakal d gelar yakni blogger goes to school... Nah, dalam event yang di rancang di cafe mbah marijan itu. . . .

Terbentuklah pengurusnya,

Ketua Panitia : Syaiful or Ipoel
Wakil Ketua : Andre
Seketaris : Citra
Bendahara : Jeng Ina
Dokumentasi : Cipi en Haris
Konsumsi : Jeng Desi
Seksi Perlengkapan : Basar plus Hengky
Seksi Umum : Bagas, Aji plus Robby
Anggota Panitia : Semua blogger yang ada di Tanjungpinang tuk membantu berjalannya blogger goes to school

Em . . . rencananya kalo tak ada halangan program akan dilaksanakan pada akhir tahun or awal tahun. . . Kebetulan pengurusnya pada bergerak di bidang kuli hehe... kuli tinta dan kuli elektronik. Nah, yang punya blog di Tanjungpinang mau gabung, boleh aja di tunggu ya

Desember 05, 2008

Senyum


Suntuk, kesal, bete, tentunya susah untuk menarik seulas simpul senyum pada wajah. Aku ingat banget dimana pada saat itu, aku jalan bersama kawan ku. Lalu, ada seorang ibu sedang duduk dan memandang kami. Karena posisi ku berhadapan pada ibu. Sedangkan kawan ku membelakangi posisi ibu tersebut. Memang jarak antara kami berjarak sekitar tiga meter.

Pada saat itu, aku dan kawan ku sedang asyik berbincang-bincang. Saat itu penat, cuaca panas dan gerah. Apalagi rasanya perut ku sakit --bukan karena kelaparan lho-- Kami sudah makan di kantin dekat kantor Wali Kota Tanjungpinang. Yang letaknya sangat jauh di Senggarang.

Terang saja, pada saat itu aku malas tersenyum. Tidak mendukung suasana hati. Namun, tanpa disadari dan dikomando, wajah ku pun tersenyum pada ibu yang sedang menimang anaknya. Secara otomatis, wajah ibu itu pun tersenyum.

Sebuah senyuman yang tulus bisa membuat perubahan yang luar biasa, tanpa disadari. Padahal untuk menarik garis simpul pada bibir agar berbentuk senyuman tak lah susah. Namun, terkadang melaksanakannya terasa berat.

Tak heran, banyak orang dewasa pada saat melihat senyuman bayi yang lucu atau anak-anak tanpa disadari akan tersenyum. Perasaan dengan senyuman hidup lebih baik dan bisa membawa suatu perubahaan. Banyak buku yang mengulas tentang senyuman maupun yang lainnya.

Buku cerita anak-anak hingga dewasa banyak membahas makna senyuman. Seberapa sering kah kamu tersenyum? Tersenyum bukan hanya pada orang yang dikenal baik, orang berpapasan maupun musuh atau kawan yang tak kamu suka. Tidak ada salahnya kan?

Desember 04, 2008

Ndutnya Plus Itemnya Gw

Sejak di pindah ke Tanjungpinang sejak empat bulan lalu. . . . . Beginilah jadinya diri ku, ndut, jelek, makin item. . . . . Bukan gw banget neh. . . --macam betul, aja-- Ya, namanya juga mencari segenggam berlian langka. Ya, harus penuh perjuangan dan pengorbanan kan?





















































Berbagi Tugas, Suka dan Duka

Teman-teman Anne di Jakarta sudah sibuk meminta Anne berkunjung ke sana. Pasalnya, salah satu diantara tiga sahabat baiknya semasa masih kuliah dulu mau melangsungkan pernikahan. Berhubung, hanya Anne yang paling jauh memisahkan diri diantara mereka. Maka Anne harus bertandang ke sana.

Pernikahan memang masih akan berlangsung dua minggu ke depan. Namun, akhir pekan ini, Anne memutuskan untuk mengunjungi sahabat-sahabatnya di Jakarta. Setelah memastikan pekerjaan di Batam beres. Anne pun meninggalkan kota industri tersebut.

Perjalanan dengan pesawat memang tidak terasa. Tak berselang lama, Anne pun menginjakan kaki di ibukota metropolitan yang super padat. Karena datang diam-diam, tanpa woro-woro ma ketiga kawannya itu. Anne pun memilih menggunakan taxi dan langsung meluncur ke salah satu hotel yang biasa digunakannya untuk menginap bila bertandang ke Jakarta.

Sebenarnya, teman-temannya sering marah. Pasalnya, Anne tak pernah mau menginap di rumah mereka. Padahal, banyak kamar yang tersedia. Anne selalu menolak dengan halus. Alasannya, sapa tahu ketemu arjuna --pria tampan dan berwibawa dan baik hati-- Kalau sudah begitu, sahabat-sahabatnya hanya tertawa saja.

Sebelum menyamperi sahabat-sahabatnya yang hingga saat ini masih belum tahu keberadaan Anne di Jakarta. Anne pun menelpon mereka dan menanyakan keberadaannya. Untung lah ketiga sohibnya itu lagi nongkrong di salah satu cafe di salah satu mall di Jakarta.

''Hai,'' sapa Anne, saat melihat ketiga sahabatnya itu sedang asyik duduk ngerumpi. Setelah memborong sejumlah barang di butik-butik yang ada di Mall. Hal itu terlihat karena banyaknya kantong belanjaan di bawah meja mereka.

''Anne,'' teriak mereka serempak dan langsung menyamperi dan cupika-cupiki pun terjadi.

''Sialan lo, datang kemari, ngak kabar-kabari kita,'' sehut Lara sambil mencubit tangan ku.

''Aduh, sakit Ra,'' ujar ku sambil tertawa. ''Namanya aja mau bikin kejutan. Masa kasih tau seh. Kawan mau menikah, masa aku ngak turut ambil bagian dalam huru-hara ini,'' kata ku sambil melirik Ema.

Ema pun langsung menyikut lengan. ''Ya, wajib tuh,''

''Paling juga mau ambil bagian dalam hal mencicipi wedding cakenya,'' timpal Inne.

''Tahu aja lo,'' jawab ku, sambil diselingin tawa diantara kami. ''As far as, everything OK?, tanya ku pada Ema.

''I guest. Apalagi ada kamu di sini, pasti makin OK,'' jawab Ema.

''Eh, Anne. Kamu kapan nyusul,'' tanya Lara dan otomatis kedua sahabatnya yang lain mengalihkan pandangan ke aku.

''Wow, wow nyusul apaan neh?,'' tanya ku balik.

Mereka pun tertawa dan berujar, ''Pura-pura ngak tahu lagi''

''Aku masih lama friends. Soalnya, arjuna ku masih di paket dan paketnya belum sampai-sampai neh. Lagi pula, kita disini kan untuk membantu Ema. Jadi urusan ku di nomor sekian kan dulu ya,'' pinta ku dengan memberikan mimik mengiba.

''Ngak juga,'' sehut Ema cepat. ''Apa seh yang kamu tunggu. Pacar baik hati koq di putus,''

''Bukan diputus. Kami hanya pisah sementara. Anyway busway, ngak penting deh dibahas. Kita ke salon yuk. Mau crembath neh, capek barusan turun dari pesawat. Penat neh leher,'' ujar ku mengalihkan perhatian.

''Boleh aja,'' jawab mereka serempak.

****

Setelah creambath, kami pun berpisah. Sebenarnya seh tidak benar-benar berpisah. Yang masih tinggal di mall itu, aku dan Inne. ''In, do you have problem?,'' tanya ku, akhirnya.

Inne memandang ku lama, ''Nope. Why you ask like that?

Tangan Inne ku tarik untuk memasuki cafe yang classic dan tidak terlalu ramai. Kami pun memilih duduk di sudut, tetapi cukup strategis untuk memandang ke luar. ''Kita kan sudah kenal lama. Masa aku tidak tahu, kalau kamu lagi punya masalah. Memang, kamu berpura-pura untuk turut tertawa. Tapi, tahu ngak. Tawa yang kamu keluarkan tidak lepas. Kawan kita mungkin lagi terlalu sibuk dan bahagia, sehingga tidak memperhatikan hal itu,'' ungkap ku sambil memegang jemari sahabat ku satu ini.

Inne tertawa renyah --tawa khasnya-- ''Kamu memang tak berubah. Selalu aja, mau jadi pendengar yang baik. Pantesan, ku lihat kolom mu makin banyak yang baca. Kawan-kawan ku di kantor, suka baca kolom yang kami isi,'' kata Inne.

Sejauh ini, kata Inne, aku tak pernah merasa punya masalah. Tapi, tanpa disadari, hubungan rumah tangga ku tak lagi nyaman.

Seingat ku, pernikahan Inne baru berjalan sekitar enam bulan. Jadi, persoalan dalam rumah tangga mereka pasti ada. ''Maksud mu, In. Tidak nyaman yang seperti apa?,'' tanya ku.

''Ya, tidak nyaman aja. Tidak nyaman karena aku terlalu capek untuk mengurus kerjaan dan rumah tangga. Sebelum menikah, kami sudah sepakat, bahwa aku akan tetap kerja. Karena, aku menyukai pekerjaan ku,'' ujarnya lirih.

Inne melanjutkan, semua pekerjaan rumah aku yang kerjakan. Sedangkan Didi selalu membuat rumah berantakan dengan barang-barangnya yang berserak. Awalnya seh, aku tak masalah. Tapi lama kelamaan, setiap kali dibilangin, dia marah-marah.

Inne menarik nafasnya. ''Pernikahan tidak seperti yang ku bayangkan. Happy ending,'' keluhnya.

''Ngak juga ko. Memang menyatukan dua kepribadian itu tidak gampang. Banyak kawan-kawan kita yang sukses dengan pernikahannya bukan?,'' tanya ku. ''Itu tergantung bagaimana kita menyikapi permasalahan. Pernah, kamu membicarakan ketidak sukaan mu pada Didi dalam kondisi yang sedang bersantai dan tidak dalam keadaan sama-sama saling capek,''

Inne mengelengkan kepala. ''Ya, mana bisa. Kita sama-sama bekerja dan sibuk. Kadang, aku masih tidur. Didi sudah pergi kantor. Begitu juga sebaliknya.

''Tapi kan tidak setiap saat,'' tanya ku lagi.

''Iya seh Anne, cuma aku malas aja membicarakan itu lagi dengannya,'' ujar Inne sambil menyuapkan potongan blackforest.

''Coba resep ini, kalau kamu mau. Kamu pulang, mandi dan ajak Didi pergi makan malam ke tempat romantis dan bilang keluh kesah mu. Jangan dipendam lama-lama, bahaya. Bicarakan dari hati ke hati,'' saran ku.

''Ach, malas,'' tolak Inne acuh tak acuh.

''Ye, coba dulu deh. Karena kamu sahabat ku. Masa ku biarkan kamu memikul beban itu seorang diri. Kalau ngak mempan, baru kita hajar dia rame-rame,'' ujar ku sambil tertawa.

Inne pun tertawa, ''Jangan donk. Biar bagaimana pun dia suami ku. Tapi, kalau menghajarnya, suruh dia masak boleh juga,''

****

Jam sudah menunjukan pukul 20.00 WIB, saat aku tiba di hotel. Badan terasa lelah dan pegel. Merendamkan tubuh di bath tub dengan aroma lavender, rasanya nyaman dan bisa tidur dengan cepat. Untunglah, aku tak pernah melupakan peralatan tersebut dari tas kosmetik ku.

Ku tuangkan aroma lavender ke bath tub yang sudah berisikan air hangat. Ku rendam tubuh ku dalam air yang berbusa dengan aroma lavender. Ku biarkan diri ku hanyut dalam aroma wewangian. Tanpa disadari, aku memikirkan Inne. Bagaimana pertemuannya dengan suaminya, Didi.

Memang dalam pernikahan tidak ada yang mudah. Bukan karena itu, aku memilih masih sendiri. Karena menyatukan dua kepribadian tidak gampang. Mengubah kebiasaan hidup single lah yang masih belum bisa ku lakukan.

Jauh dari kamar mandi hotel, Inne yang sudah berdandan cantik dan menunggu suaminya datang ke restauran X, tempat biasa mereka merayakan sesuatu special ketika masih pacaran. Saat Didi tiba di restauran X. Kaget melihat penampilan Inne yang berbeda dan duduk di bangku yang biasa mereka dudukin bersama.

Begitu melihat Didi, Inne pun melambaikan tangan dan tersenyum. Didi pun membalas lambaian tangan dan membalas senyum Inne. ''Memangnya, ada yang ku lewatkan honey?,'' tanya Didi, saat menarik bangku disebelah istrinya.

''Tidak ada, aku hanya ingin suasana yang berbeda aja. Aku sudah pesankan makanan kesukaan mu kalau ke sini. Bagaimana kerjaan mu,'' tanya Inne pada suaminya.

''Baik. Ada apa neh. Apa ada yang special, tetapi aku lupa,'' tanya Didi masih dengan mimik bingung.

''Memangnya harus ada yang spesial ya, baru kita ngumpul. Ngak juga kan?'' tanya Inne balik.

''Ngak juga seh. Tapi aku senang aja. Sudah lama ya, kita ngak pergi berdua seperti ini. Tahu gitu, aku mandi dulu,'' kata Didi sambil tertawa.

''Tidak apa-apa ko. Walaupun kamu bau, tetapi tetap ganteng,'' goda Inne. Spontan mereka tertawa kecil.

''Aku minta maaf ya. Selama ini membuat mu kesal. Sebenarnya, aku tidak bermaksud demikian,'' ujar Didi, membuat Inne tersentak kaget.

''Maksudnya?,'' tanya Inne dengan mimik bingung.

''Sebenarnya, persoalan seperti itu tidak perlu dipertengkarkan. Hanya saja, kebiasaan ku susah untuk diubah. Aku akan berusaha deh,'' ungkap Didi.

''Wow, aku kan belum bilang apa-apa,'' kata Inne lagi.

''Tahu ngak, selama ini aku juga sudah berusaha agar tidak ada pertengkaran. Tapi belakangan ini sikap mu berubah dingin dan mendiamkan aku. Aku jadi takut kalau salah-salah berbicara akan ada pertengkaran lagi,'' urainya sambil mengenggam lembut jemari istrinya.

''Kamu tahu dari mana,?'' tanya Inne penasaran.

''Setelah pertengkaran kita pada waktu itu. Aku berusaha berubah, tapi tetap aja sulit mengubah kebiasaan sewaktu masih single. Untuk tetap membuat rumah tangga kita nyaman. Aku membaca buku-buku dan majalah tentang pernikahan,'' ungkapnya. ''Disitulah aku baru tahu. Bahwa ada beberapa hal yang harus dibicarakan dari hati ke hati. Bukan pada saat hati sama-sama panas dan ada berberapa hal yang tidak perlu diucapkan, tetapi saling memahami,''

''Makasih, karena kamu sudah mau berusaha untuk mengubah menjadi suami yang lebih baik. Aku pun juga akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi istri yang baik,'' tutur Inne akhirnya.

''Harus tuh,'' kata Didi sambil menarik hidung istrinya.

''Apaan seh. Kan, aku sudah bilang. Ngak suka hidung ku ditarik. Tapi sekali-kali ngak papa,'' ucap Inne sambil tertawa.

''Biar mancung,'' bisik Didi sambil terawa renyah.

''Jadi idung ku, ngak mancung neh,'' ujar Inne sambil pura-pura cemberut. ''Aku mau ke toilet sebentar ya say,'' pamit Inne.
Begitu tiba di kamar mandi wanita. Inne pun segera menekan nomor telepon Anne. ''Lama banget seh,'' ujar Inne waktu mendengar jawaban Hallo dari sebrang.

''Gue ketiduran di bath tub neh. Sampai airnya dingin. Ada apa, ngak sukses ya?,'' tanya Anne bertubi-tubi.

''Aku cuma mau bilang, makasih. Dah ya, suami ku nunggu. Kami mau dinner dulu,'' ujar Inne menutup sambungan telp.


Tak lama Inne menutup sambungan telepon. Suara ponsel Anne pun berdering. Layar LCD ponsel bertulisan Didi. Belum sempat Anne mengeluarkan suara. ''Ternyata article lo tokcer juga. Cepatan nikah tuh. Thanks ya, atas article yang kamu tulis sebulan lalu,'' ujar Didi dan langsung mematikan ponselnya.

Gantian Anne di kamar hotel hanya berbalutan handuk yang kebingungan. Begitu memahami, ia pun tersenyum. ''Syukur deh,'' ujar Anne.
Kembali ke restauran X tempat Didi dan Inne berada. ''Habis nelpon siapa,'' tanya Inne, saat melihat suaminya memutus sambungan ponselnya.


''Habis nelp orang spesial agar segera menikah,'' jawab Didi, membuat Inne bingung. ''Aku habis nelp Anne, bilang makasih. Karena sebulan lalu, aku baca articlenya tentang saling memahami karakter suami-istri dan ternyata mantap,'' tuturnya sambil tersenyum.

Spontan aja Inne pun tertawa geli. ''Kenapa,'' tanya Didi bingung.

''Aku juga tadi nelp Anne. Bilang makasih atas sarannya,'' ujar Inne menekankan suaranya agar tidak tertawa lepas.

***

Dalam menjalani batera kehidupan dalam rumah tangga. Pasang surut kehidupan dan persoalan kerap terjadi. Namun dalam menghadapi persoalan, tidak ada salahnya saling memahami antara satu dan yang lain. Tugas, suka dan duka dalam rumah tangga harus saling dibagi, tanpa perlu ucapan dengan kata yang penuh emosi atau marah.

--Kisah ini hanya fiktif ya--

Target tahun Depan

Tak terasa sebentar lagi pergantian tahun. Otomatis usia bertambah dan tanggung jawab juga bertambah. Masih banyak hal yang ingin ku laksanakan di tahun 2008 masih belum terlaksana. Masih ada empat item. Salah satunya menerbitkan buku.

Ini salah satu keinginan terbesar ku pada tahun 2008 yang memang sudah dicanangkan sejak aku masih kuliah. Namun, hingga saat ini target tersebut masih belum terlaksana. Kurangnya waktu, kurangnya kesempatan untuk mengejarnya.

Berhubung aku cuti --dipercepat, seharusnya tanggal 10 Des menjadi tanggal 8 des-- aku akan mengerjakan bahan yang sudah ada. Tinggal diluangkan menjadi tulisan. Baru 30 persen siap. Mudahan dalam empat belas hari, waktu yang ku punya untuk mengumpulkan sebagian data bisa terlaksana.

Ya, manusia boleh berencana bukan? Tuhan yang menjadikan itu mungkin tercapai atau tidak. Aku percaya, seperti ayat Alkitab yang ku suka Matius 7:7 Mintalah maka akan diberikan pada mu, carilah maka kamu akan mendapatkan, ketuk lah maka pintu akan dibukakan bagi mu.

Rencananya ingin pulkam ke Balikpapan, sebelumnya mampir ke Jakarta terlebih dahulu. Sekalian mengunjungi beberapa sahabat dan kawan di sana. Namun, mempertimbangkan segala macam. Akhirnya, aku lebih memillih untuk tetap di sini, mengerjakan proyek ku.

Apalagi mengajukan cuti mesti berdebat dulu. Habiz bagaimana tidak. Hak cuti ku masa tak boleh kembali ku gunakan. Bukannya aku tak menyukai pekerjaan ku, tetapi aku kan juga butuh kesegaran. Selain itu juga mau dalam perawatan badan --hehe-- dah dekil neh, makin item dan tak terurus sejak pindah ke Tanjungpinang.

Selain mengerjakan proyek itu, aku juga banyak kegiatan yang harus ku ikutin dan yang sudah ku rencanakan beberapa waktu lalu dengan kawan saat nongkrong di Redz Cafe. Ya, untuk melaksanakan semuanya dibutuhkan fokus dan perencanaan yang matang.

Aku berharap semua dapat berjalan rencana. Lagipula, aku juga sudah tak sabar menanti bulan Maret 2009, ada hal yang ku harapkan disitu menjadi kenyataan. Kado dari kakak ku. Kira-kira jadi ngak ya dia mengabulkan keinginan ku? So, pasti iya --padahal so artinya pasti, tapi dah kebiasaan menggunakan kata seperti ini, norak deh--

Ya, aku juga harus merubah planning ku ke depan. Tetapi yang pasti, yang ingin ku ubah dalam diri ku adalah aku mau lebih mendekatkan diri ku pada perkumpulan rohani. Aku ingin lebih mendekatkan diri ku pada Tuhan, dengan cara mengikuti persekutuan doa yang ada di gereja. Karena lebih baik mencari dahulu kerajaan surga, maka semua kebutuhan mu akan terpenuhi.

Aku yakin dan percaya, otomatis. Kenapa, selama lulus dari kuliah dan bekerja. Tanpa ku sadari aku menduakan Tuhan ku dengan pekerjaan. Karena itu, mulai detik ini aku berusaha untuk lebih mendekatkan diri lagi. Aku tahu pasti sulit dan susah. Menurut ade ku, jalan orang lurus berliku dan sempit. Sedangkan jalan menuju kebinasaan luas dan lapang.

Nah, aku harus memilih jalan yang mana untuk kehidupan ku. Tentunya semua orang ingin dua-duanya dapat. Namun, itu tak mungkin kan. Aku ingin iman ku lebih kuat dari waktu ke waktu. Menjadi terang, dimana terang itu akan tetap terang menerangi ruangan.

Aku akan berusaha mengikuti setiap ajaranNya. Walaupun susah, yang paling susah mengasihi musuh mu dan memafaakan musuh mu. --Mank aku punya musuh?-- Ngak seh. Cuma, terkadang ada orang yang ngeselin di samping kita dan membuat suasana jadi tak nyaman. Namun, aku akan memulai hal yang bisa dan tak bisa ku lakukan perlahan-lahan.

Menjadi pengikutNya tentunya susah. Karena manusia lebih banyak diselimuti keinginan daging. Namun, berkat bantuan rohani dan keiginan kuat. Semua itu tak kan sulit bukan? --Salah-- Semua pasti sulit, namun dibalik kesulitan pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Aku sudah tak sabar menanti pergantian tahun, yang dulu paling ku takuti.

Desember 03, 2008

Wanita Tercipta tuk Menolong Pria

Banyak wanita tidak mengetahui kenapa dirinya diciptakan. Bahkan tidak mengetahui tanggungjawabnya. Walaupun ada beberapa wanita yang mengetahui tanggungjawabnya. Namun enggan melaksanakannya. Wanita diciptakan berbeda dengan pria. Dari segi tubuh, kulit lebih halus, lebih perasa dari pada kaum pria.

Wanita dijadikan Tuhan dengan mengambil sebilah tulang rusuk Adam. Maka terciptalah Hawa di taman Eden. Wanita dihadirkan di dunia ini untuk menjadi penolong, penghibur. Dikarenakan perbedaan, memungkinkan wanita dan pria saling jatuh cinta. Sayang satu sama lain dan saling membutuhkan.

Menolong Suami

Tuhan menciptakan Hawa sebagai wanita pertama untuk dijadikan penolong Adam. Pada saat Adam menamai nama-nama bintang, Adam melihat binatang-binatang itu berpasangan. Karena itu, Tuhan menciptakan Hawa untuk membantu Adam.

Menolong suami adalah salah satu kewajiban seorang istri. Serta menolong suami dalam mencapai sukses. Karena dibalik kesuksesan pria, pasti ada wanita yang hebat. Ngak percaya? Kisah Clementine dengan suaminya Winston Churchill. Winston Churchill menuturkan perjuangan yang paling berperan dalam hidupnya. Setelah ia berhasil menikahi Clementine Hozier pada tahun 1908. Sejak menikah itu, Winston merasakan bantuan yang luar biasa dari istrinya.

Winston Churchill merupakan manusia terbesar pada masa itu, abad ke 20. Jack Fisman menuliskan Wiston tidak akan ada, jika tidak ada inspirasi dan pertolongan istrinya yang penuh dedikasi. Clemenite menjadi Wiston sebagai manusia yan stabil, berjiwa besar, dan tidak gampang kecewa. Jika menalami suatu malapetaka yang hebat pun.

Selain menolong suami dalam mencapai kesuksesan.Wanita yang juga berperan sebagai istri juga patut menolong suami supaya tetap sehat baik secara badani maupun rohani.

Meneruskan Keturunan

Melalui perkawinan Adam dan Hawa, manusia pertama yang diciptakan untuk berkembang biak atau membuat keturunan dengan cara perkawinan tentunya. Dimana keturunan manusia tersebut mengerti cinta Allah serta sanggup membalas kasih tersebut.

Merawat dan Mendidik Anak

Merawat serta mendidik anak merupakan kewajiban penting seorang istri. Malah kewajiban ini lebih penting dari menolong suami. Karena bila wanita yang disebut ibu berhasil mendidik anak maka situasi dunia akan lain.

Tahu tidak, bahwa dunia kagum akan karir Abram Lincoln. Ia merupakan presiden yang terkenal. Karena ia yang berhasil menyelamatkan Amerika dari perperangan saudara. Dibalik kesuksesan Abram Lincoln, dunia harus melihat pemain dibalik tirai itu. Apa lagi kalau bukan peran dari seorang ibu. Karena segenap waktu diberikan untuk mendidik Abram Lincoln. Untuk mempersiapkan anaknya sebagai manusia raksasa.

Dengan penderitaan kemiskinan ibunya tetap tabah, serta terus menerus membentuk pribadi raksasa Lincoln. Karena jasa ibunya, Lincoln tak pernah lupa. Lincoln selalu menuturkan, setiap segala sesuatu yang ada pada ku dan yang kelak akan ku capai, aku berhutang budi pada ibu ku yang luar biasa itu. Abram menyebut ibunya Angel mother.

Peranan ibu untuk menciptakan suatu perubahan sangat besar. Dunia ini tak akan bertambah murung dan berduka karena kemorosotan ahklak, jika semua ibu-ibu berhasil membentuk karakter yang luhur terhadap anak-anaknya.

Menolong Masyarakat

Tugas wanita atau seorang istri selain menolong suami, mendidik anak, juga menolong masyarakat dengan jalan mensupport kepemimpinan suami, dan mendidik anak. Banyak juga wanita yang langsung menolong masyarakat dunia. Wanita bekerja lebih luas daripada lingkaran keluarga. Wanita juga turut berpartisipasi dalam bidang sosial, politik dan sebagainya.

Golda Mabovitz telah dilahirkan di Russia pada tahun 1898. Keluarganya pindah ke Palestina di 1921. Pada tahun 1969, ia terpilih sebagai perdana menteri Republik Israel. Dimana pada akhirnya Golda terkenal sebagai Nyonya Meir. Ia sudah berusaha menolong negara dan masyarakat. Itu dilakukan sebagai tambahan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu.

Indira Gandi juga terkenal sebagai seorang wanita yang banyak menolong masyarakat di India. Bahkan ia merupakan wanita pertama yang menjadi perdana menteri di India. Justru pada saat gawatnya situasi di negera tersebut.

Memang wanita dalam mewujudkan suatu negara dapat diikut sertakan. Asalkan tidak merusak rencana semula menolong suami dan mendidik anak.

Bahkan di Indonesia juga ada wanita yang hebat seperti Ibu Kartini. Selain mengurus keluarga, Raden Ajeng Kartini juga membaktikan sebagian tenaganya untuk membangun kaum wanita supaya turut berpartisipasi dalam membina rumah tangga ideal dan membangun negara yang adil dan makmur.

@dari berbagai sumber

Kuasa Doa

Tanpa disadari terkadang kita berbicara
Berbicara pada Tuhan . . . .
Dalam doa yang tak berkesudahan
Dimana keluh dan kesah didengar

Beribu doa diucapkan tiada henti
Beribu harapan agar doa yang dipanjatkan terkabul
Beribu impian dimana akan ada keselamatan
Baik di bumi maupun di surga

Kuasa doa . . . .
Kuasa doa sungguh ajaib
Perasaan penat dalam sekejab bisa menghilang
Perasaan sedih beranggsur-anggsur lenyap

Doa . . .
Tak ada satu pun manusia yang tak berdoa
Berharap dan meminta untuk lebih baik
Dengan berdoa, hidup jadi seimbang

Harapan bisa terkabul suatu saat
Berdoa, layaknya anak berbicara pada Bapa
Pikulan beban yang sebelumnya terasa berat
Menjadi lebih ringan karena kuasa doa

Desember 02, 2008

Budi Pekerti Kaum Wanita

Tidak dapat disangkal bukan bahwa kaum wanita dengan pria terdapat perbedaan. Perbedaan yang dimaksud adalah menyangkut kejiwaan, termasuk cara menganalisa persoalan. Cara mengungkapkan pendapat dan cara beraksi terhadap suatu aksi.

Sifat wanita lebih pemalu

Pada umumnya, wanita lebih banyak perasaan malu daripada pria. Sehingga kaum wanita itu lebih tertutup dari kaum pria. Itu disebabkan karena rasa malu. Walaupun seorang wanita sangat mencintai seorang pria, tetapi ia tidak mau menjadi yang pertama mendekatinya. Ini karena mempertahankan kewibawan wanitanya. Sebab, kaum wanita sangat sukar untuk mengungkapkan perasaannya terhadap seorang pria. Tak sekalipun istri merasa segan untuk membuka isi hatinya pada suaminya.

Menurut kisah, sebut saja Ratih, ia menyukai teman kuliahnya. Namun, ia segan untuk mengutarakannya. Merasa malu, bila dirinya yang mengutarakan terlebih dahulu terhadap pria yang disukainya itu. Namun, ia sering sembunyi-sembunyi memperhatikan pria idamannya itu. Memberikan isyarat tidak langsung agar pria itu mengetahuinya. Berbeda dengan pria yang langsung mudah mengungkapkan perasaannya.

Tidak Suka Berkonfrontasi

Perempuan kurang senang berterus terang. Jikalau ada urusan yang lebih sulit, ia lebih suka didekati secara tidak langsung. Berkonfrontasi dalam menyelesaikan persoalan kurang cocok bagi wanita. Bagi seorang wanita lebih cocok untuk menyelesaikannya secara halus agar tidak mempermalukan siapapun.

Lelaki yang tidak tahu watak wanita ini, bisa mengalami perlawanan yang hebat. Ia akan terkena amukan wanita ini yang bagi kaum lelaki tersebut kurang adil. Nah, dalam menyelesaikan persoalan, wanita harus dihubungkan dengan bijaksana. Sehingga wanita dapat merasakan bahwa dirinya yang salah. Wanita ingin dalam menyelesaikan persoalan dengan cara yang halus

Menghargai Kesopanan

Sudah pasti bagi wanita menghargai kesopanan. Sebab, wanita sangat mudah dipengaruhi dengan kata-kata manis dan bujukan-bujukan yang sopan. Karena kaum hawa menghargai kata-kata yang lemah lembut dan manis. Tanpa memperhatikan kalau-kalau orang yang merayu itu tidak dapat dipercaya.

Tidak mustahil bila wanita mencintai penjahat atau penipu. Karena manis budi dan kesopanannya.

Berjiwa Lemah

Pada dasarnya, wanita tidak kuat menahan ketegangan dalam pikiran. Untuk melepas kalut dan ketegangan jiwa, wanita sering menangis maupun marah-marah. Sebab menangis bagi wanita dapat melegakan perasaan. Karena terlepas dari ketegangan tersebut. Walaupun hanya sesaat saja.

Ketegangan jiwa yang dirasakan wanita bisa saja timbul karena pertengkaran, kedudukan, dan sebagai persoalan lainnya. Wanita tidak seperti pria yang kuat dalam menghadapi problem yang besar.


Suka Meniru

Manusia suka meniru. Begitu juga wanita. Wanita suka meniru cara berpakaian, membuat barang dagangan. Keinginan untuk meniru itu lebih besar bagi kaum wanita. Sehingga tidak heran mode pakaian selalu cepat berganti di kalangan wanita baik di kota maupun di desa.

Tidak hanya mode pakaian saja, tetapi dalam desain rumah, isi perabotan rumah, wanita pada umumnya suka meniru. . .

Dikuasai Perasaan

Wanita pada umumnya hidup dalam perasaan. Sedangkan pria hidup dengan rasio. Itu sebabnya wanita lebih gemilang dalam pelajaran yang berhubungan dengan perasaan, seperti sastra.

Wanita dalam memdang kehidupan lebih menggunakan perasaan. Sedangkan pria lebih memandang dengan akal. Karena itu, wanita lebih banyak memaafkan, walaupun sering mengorbankan keadilan.

Karena itu kaum ibu lebih banyak mengasihi dan memaafkan dari pada kaum pria. Wanita tidak dapat berbuat kejam. Karena wanita lebih suka mengalah dan berkorban.

Iri Hati

Manusia pada umumnya ingin lebih unggul daripada yang lain. Namun, wanita lebih besar keinginannya untuk melebihi sesamanya. Dibanding pria. Keinginan untuk unggul pada wanita dibarengi dengan iri hati. Keinginan itu bisa timbul di lingkungan rumahnya, apalagi jika setiap hari ketemu.

Mudah Memaafkan

Wanita itu lebih mudah memaafkan kesalahan orang lain, daripada pria. Bahkan kesalahan besar pun dapat dimaafkan kaum wanita. Sebab, wanita pada umumnya tidak mendendam, seperti kaum pria.

Hati wanita itu menjadi lembut, ketika orang menyatakan penyesalannya. Sayangnya, banyak kaum pria yang menyalahkan gunakan atau memanfaatkan karakter wanita yang satu ini.

Menyerah pada Nasib

Wanita pada umumnya lekas menerima nasib. Hal itu dapat diketahui dalam pergaulan dan rumah tangga. Perawat di rumah sakit dapat memperhatikan, penderita atau pasien wanita lebih menerima atau tidak secerewet kaum pria. Karena mereka lebih mudah di urus. Sebab, wanita lebih tahan menderita dibanding pria.


@Diambil dari buku Wanita Teladan

Tak Pernah Merasa Cukup

Hidup tak kan pernah cukup bagi orang yang tidak bersyukur pada kehidupan. Ia akan terus merasa kekurangan dengan apa yang ada di dirinya. Itu lah yang Anne pikirkan, saat membaca kembali beberapa surat yang diterimanya. Isi surat yang diterimanya beberapa waktu lalu mengenai tidak ada biaya untuk mengikuti gaya hidup jetset --kelas atas--

Kalau mengikuti keinginan diri sendiri, tentunya Anne juga ingin mempunyai rumah megah bahkan yang ada kolam renang sendiri, pembantu yang mengurusi semua keperluan di rumah, mulai dari yang mengurus kebun, rumahtangga, memasak, kalau bisa lebih dari dua orang pembantu. Memiliki berbagai cabang bisnis di Indonesia, keliling dunia setiap sebulan sekali. Bulan ini ke Paris, bulan depan ke Amerika.

Anne menyadari itu tidak akan mungkin, tetapi ia bersyukur apa yang ia punya. Pekerjaan freelance yang tak memakan waktu, hobi menulisnya disalurkan dan usaha bisnis kecantikan plus butiknya meskipun pasang surut tetapi mencukupi biaya kebutuhannya sehari-hari dan juga jalan-jalan setahun atau bahkan enam bulan sekali ke luarnegeri. Untuk mencari trend yang terbaru, untuk mengisi butik dan salonnya agar selalu up to date.

Namun, sedikit orang yang merasa bersyukur atas semua yang sudah menjadi miliknya dan dirasakannya. Manusia ingin lebih dan lebih. Tanpa pernah memandang ke bawah. Seperti istilah diatas langit masih ada langit. Manusia lebih senang memandang keatas dan berharap bisa menjadi si A atau si B.

Seharian ini, Anne mencoba membuat resep baru. Stawberry Shartcake. Bahan yang dibutuhkan 1/4 mangkuk tepung terigu, 1/4 tepung maizena, 1 1/4 sendok teh bakpuder, 4 kuning telur, 3 sendok makan air dingin, 3/4 mangkuk gula, 4 putih telur dan 1/4 sendok teh vanili. Seta 1/2 kilo arbei segar.

Dicobanya beberapa bahan tersebut untuk diolah menjadi adonan. Sedikit ribet dibanding buat kue bolu, tetapi Anne yang notabennya senang makan cemilan ini pun berusaha mencoba resep baru dari buku menu sehat. Ngemil boleh saja, tetapi ada baiknya ngemil makanan yang sehat bukan?

Beberapa jam berkutat di dapur, mempersiapkan bahan dan mengolah. Serta mengoven. Belum lagi harus membereskan dapur yang sudah dibuat berantakan. Kebetulan, hari ini bi Inah --yang membantu bersih-bersih rumah dari pagi hingga sore-- sedang tidak masuk. Izin, karena disekolah anaknya ada acara bersama orangtua. Terpaksa Anne mengerjakan urusan beres-beres. Mencuci bekas adonan kue --pekerjaan yang paling tidak disukainya-- Benar-benar menguras tenaganya.

Namun harum semerbak Stawberry Shartcake memenuhi ruangan dapur membuatnya puas. Setelah dirasa cukup matang. Stawberry Shartcake pun diangkat dan ditaruh diatas piring yang sudah disiapkan. Dihias dikit dengan cream yang diberi pewarna rasa Stawberry dan diatasnya diberi hiasan potongan buah Stawberry yang masih segar.

Em, sedap pikir Anne. Anne melirik jam dinding disudut ruang makannya. Jam menunjukan pukul 17.20 WIB. Anne pun bergegas mandi dan memotong kue tersebut lima iris dan ditaruhnya dalam taperware. Mau diberikan pada orang yang bekerja di salonnya. Setiap Anne membuat resep baru, pertama kali yang merasakan empat karyawati di salon dan butiknya.

***

Anne bersiap-siap untuk tidur. Setelah menyelesaikan membaca buku air penyembuh ajaib. Saat itu, jam di ponsel sudah menunjukan pukul 1 dini hari. Jelas saja, Anne sudah merasa mengantuk. Apalagi seharian berada di dapur, membereskan pekerjaan rumah dan membantu karyawatinya mengitung stok barang. Serta membalas beberapa surat yang masuk lewat email maupun lewat pos.

Ponselnya berdering, dengan mata yang hampir terpejam. Karena menahan kantuk, Anne menjawab telepon. Hallo, ujar Anne, setengah tertidur. Terdengar suara disebrang musik disco yang nyaring hingga membuat Anne berada di diskotik juga.

Anne langsung melihat layar ponsel, Stella. ''Stella, kamu dimana? Kamu di Batam kah?'' tanya Anne cemas.

''Iya lo kesini lah. Ditempat biasa ya. Ditempat biasa gue nongkrong,'' seru Stella berteriak untuk mengalahkan musik disko tersebut.

''Ya, sudah tunggu disitu. Jangan kemana-mana. Kamu pasti mabuk lagi,'' keluh Anne sambil menutup telepon dan bergegas mengambil baju yang ada didalam lemari.

''Kenapa lagi tuh anak,'' pikir Anne saat mengendari mobil menembus gelapnya malam menuju arah Jodoh.

***

Anne tiba di tempat biasa Stella nongkrong kalau berkunjung ke Batam. Menghabiskan malam dengan mabuk-mabukan kalau lagi punya masalah. Anne mengenal Stella, berawal dari Stella suka membeli baju dibutiknya dan pelanggan salon tetap. Disitulah mereka akrab. Anne yang mudah bergaul, gampang mendapatkan kawan dan orang yang jauh bisa menjadi dekat dengannya. Karena, Anne memiliki pribadi yang menyenangkan. Walaupun kadang ngeselin. Namanya juga manusia, tidak ada yang sempurna bukan?


Diremangnya lampu diskotik, musik yang berdentang keras. Anne mencari sosok kawannya itu. Anne melihat tubuh seksi berbalut baju putih tong top, sedang duduk di bar. Menengak beberapa minuman keras, layaknya air putih. Anne langsung mengampiri dan sedikit berteriak. ''Stel, pulang yuk. Lo, sudah minum banyak neh,'' teriak ku pas ditelinganya.

Stella yang sudah mabuk itu pun segera membalikkan badannya dan melihat pada ku. ''An, akhirnya kamu datang juga,'' ujarnya dengan mulut yang bau akhohol bercampur rokok. ''Nanti dulu lah, beberapa gelas lagi ya,'' pintanya.

Aku menggelengkan kepala dan menanyakan pada bartender berapa bill yang harus dibayarkan. Bartender itu menuturkan sudah dibayarkan langsung oleh Stella. Aku tarik tangan Stella, tubuh tinggi semampai itu semponyongan --yang jelas bukan karena tarikan Anne--

''Mas, tolong bantu antarkan ke mobil,'' pinta ku pada bartender agar menyuruh karyawan situ membantu ku membopong tubuh Stella yang sudah setengah tidak sadar.

''Ada apa dengan mu, Stella,'' tanya ku saat sudah berada di parkiran. Dibantu sekuriti setempat. ''Makasih ya pak,'' ujar ku sambil menyerahkan beberapa lembar uang.

''Jangan muntah dimobil ku ya,'' kata ku lebih pada angin malam. Karena Stella sudah tak sadarkan diri. Seperti sedang berada didunianya yang lain.

***

''Aduh'' rintih Stella dari balik kamar tamu.

''Makanya non, jangan suka minum akholol terlalu over. Neh, coklat panas diminum. Sama ada aspirin tuh di kotak obat,'' ujar ku mengantarkan minuman. ''Ada apa sebenarnya. Datang ke Batam ga bilang-bilang. Nelp diriku dalam keadaan mabuk,''

Stella menerima cangkir yang berisi coklat panas dan menegaknya. Matanya masih nanar. Dikarenakan sakit kapala yang --mungkin-- tak terhingga. Akibat dari pengaruh akholol yang diminumnya semalam. ''Makasih ya,'' ujarnya akhirnya. ''Kirain aku sudah mati,''

''Memangnya kamu mau bunuh diri,'' kata ku.

''Ngak juga seh,''

''Lalu. Ngapain lo minum sampai segitu banyaknya. Ada masalah apa seh,'' tanya ku akhirnya dengan tak sabaran.

''Aku . . . Aku tak tahu harus mulai dari mana,'' katanya akhirnya.

''Aku tahu kamu harus mulai darimana. Dari mandi dulu sana, badan mu dari tadi sudah bau, berbagai macam tahu baunya,'' ujar ku sambil melemparkan handuk bersih padanya. ''Aku tunggu di luar ya. Aku siapkan sarapan dulu,''

Stella beranjak dari kasur dan berjalan dengan sedikit sempoyongan menuju kamar mandi tamu. Anne pun bergegas keluar dan menyiapkan sarapan sereal dan roti bakar. Serta telur rebus setengah matang.

Stella keluar dari kamar dengan wajah yang agak segaran. Meskipun matanya masih sayu dan kepalanya masih sedikit nyeri akibat akholol tersebut. ''Wangi banget, aku jadi lapar,'' ujarnya sambil menarik kursi dan duduk didepan ku.

Anne berusaha menahan pertanyaan yang ada didalam benaknya. Anne berusaha menikmati sarapannya tanpa berkata-kata. Berusaha menekan rasa penasaran yang bisa membunuhnya. setelah sarapan, mereka memilih duduk bersantai di teras. Memandang jalan yang hanya dilalui beberapa orang saja. Taman yang kecil tetapi ditata begitu apik menambah pemandangan yang menarik.

Anne menghela nafas, mencoba menenangkan diri dari berbagai pertanyaan yang ingin diajukan pada sahbat dan sekaligus pelanggan salonnya. Dibukanya lembar demi lembar majalah, namun ia tak bisa konsen. Karena, tidak pernah ia melihat Stella begitu rapuh malam itu. Selama ia mengenalnya, Stella adalah sosok yang kuat dan tegar. Bahkan mandiri.

Sementara Anne masih berkutat pada pemikirannya, Stella sendiri merasa bingung, Apakah kejadian semalam patut diberi penjelasan, pikir Stella dalam hati. Mencoba membaca baris buku yang dipilihnya. Namun, ia sendiri berpikir dan bertentangan dengan kata hatinya untuk mengungkapkan apa yang sebaiknya diceritakan. Malu mengenai kejadian seharusnya tak perlu terjadi.

''Aku . . .,'' kata Anne dan Stella berbarengan dan tersenyum. Anne, ''Kamu duluan deh yang bicara''

''Sebenarnya aku gak perlu mabuk-mabukan seperti itu. Selama aku pindah ke Jakarta, aku bergaul dikalangan. . . Ya, kamu tahu sendiri. . Tiap malam kami clubbing dari satu cafe ke cafe lain. Tidak hanya di Jakarta, Bandung, Bali dan beberapa tempat menarik lainnya,'' ungkap Stella.

''Tidak hanya lokal, bahkan kami juga jalan-jalan ke Singapur, Malaysia, Thailand, Hongkong dan beberapa tempat lainnya hanya untuk menghambur-hamburkan uang untuk menikmati gaya hidup kelas atas. Bohong, kalau aku bilang tak menikmatinya dan aku mulai menyukai dunia ini. Dunia dimana, kami selalu bebas melakukan apa pun,''

Anne hanya tersenyum. ''Lalu, apa yang terjadi pada gaya hidup mu yang baru. Suami mu bagaimana?

''Awal mulanya, suami ku mendukung. Ia memberikan uang yang ku minta. Bahkan kadang kami pergi clubbing bareng bersama kelompok ku yang sudah ku kenal enam bulan,''

Suara Stella mulai bergetar dan menangis. Anne tak tahu harus bagaimana. Karena bingung apa yang sedang disesalinya dan mengapa dia menangis. Sebagai sahabat yang baik, Anne mengenggam erat tangan Stella. ''Sekarang persoalannya dimana,'' tanya Anne akhirnya, membunuh kebisuan yang terjadi diantara mereka.

Masih dengan mata sembab, Stella menceritakan, gaya hidupnya yang berubah drastis membuat keuangan keluarganya kacau balau. Bahkan terbilang bangkrut. Padahal, seharusnya ia dan bersama kelompoknya terbang ke negara fashion untuk menikmati hidup disana. Shopping, dugem dan berbagai hal yang menarik lainnya.

''Hidup ini tidak adil ya,'' katanya.

''Siapa bilang,'' tanya ku.

''Lihat saja aku, aku merasa hidup ini tidak adil. Apa yang ku impikan dan ku inginkan tak menjadi kenyataan. Keliling dunia, shopping barang-barang branded di Paris, Roma, Italia tak lagi bisa dilakukan,'' keluhnya.

Aku mencerna tiap perkatannya. Stella, wanita yang sukses, menikah juga dengan pria yang sukses. Sehingga sangat tidak mungkin, kebutuhannya tidak terpenuhi. ''Bukannya itu sering kamu lakukan,'' tanya ku akhirnya.

Ku lihat, Stella memainkan cincin nikahnya di jari manisnya. ''Sejak aku mengenal clubber ini. Keuangan suami ku mulai menipis. Hampir tiap malam, tidak hanya satu cafe yang kami datangi, hari ini ke Bandung, Jakarta, Surabaya. Tiap hari berbeda club kami datangi. Awalnya, suami tak melarang. Karena ia sanggup membiayai kehidupan ku,'' cerita Stella.

Stella berusaha agar air matanya tak jatuh keluar. Katanya, usaha suaminya hampir bangkrut, karena uangnya selalu dihabiskannya. Padahal, minggu depan, clubbernya hendak menghabiskan waktu di Paris dan Italia untuk dugem dan juga shopping.

''Masa aku ngak ikut, masa dia ga bisa memberikan keiginan ku itu,'' keluh Stella.

--Wow-- Aku hanya tersenyum. ''Stella, apa kamu menikmati hidup dugem mu. Apa kamu merasa enjoy dan sehat'' tanya ku

Stella terdiam dan merenung. Ia pun menjawab, ''Ya, aku enjoy dengan kehidupan dan teman ku sekarang. Walaupun, terkadang kalau bangun. Kepala ku suka sakit, itu biasa. Karena habis kebanyakan minum.

''Aku tak bisa memvonis kamu bersalah atau aku kasihan sama suami mu. Itu adalah urusan keluarga mu. Hanya saja, apakah itu memang yang terbaik bagi mu?'' tanya ku lagi.

''Bukannya aku mau menasehati mu, kadang kita selalu memandang keatas langit. Di langit masih ada langit, tapi bagaimana dengan di bawah langit. Tentunya, jarang diperhatikan. Hidup mu beruntung. Memiliki semua yang kamu inginkan, hingga akhirnya apa yang kamu inginkan lebih tak kesampaian lagi. Tapi, kamu pernah merasakannya,'' ungkap Anne.

Anne menuturkan, sekali-kali lihatlah ke bawah, bagaimana orang berjuang untuk mengumpulkan lembaran rupiah yang tak seberapa bagi mu, tapi sangat berharga baginya.

''Terus aku harus bagaimana?,'' tanya Stella. ''Tidak mungkin, aku tidak pergi dengan kawan-kawan ku.

''Kawan yang mana? Seharusnya, kamu lebih pandai dalam memilih kawan. Mana yang baik dan tidak baik. Itu bukan kawan namanya. Coba, kamu buktikan, telepon kawan mu dan minta dia membantu mu, apakah bersedia meminjamkan uang untuk dugem bersama mereka ke Paris,'' kata ku.

Stella diam saja dan tak bergeming dari tempat duduknya dan dalam hitungan menit. Air matanya meledek. Suara samar terdengar dari bibir tipisnya, ''pernah ada teman kami yang posisinya sama seperti ku. Hampir bangkrut, mereka menghindarinya dan seakan-akan tidak pernah mengenalnya,''

''See, mereka bukan teman yang baik. Teman yang baik itu siap disaat susah dan senang. Seharusnya, kamu juga bisa menjadi teman dan istri yang baik bagi suami mu,'' kata ku.

Stella memandangi ku kesal. ''Dia yang tak bisa mengelola uang dengan baik. Sehingga aku tak bisa bersenang-senang'' ujar Stella mempersalahkan suaminya.

''Lalu, uang darimana yang kamu dapat untuk menikmati hidup glamor mu. Aku dengar usaha mu pun sudah tak diurus dengan baik. Karena kehidupan malam mu. Suami mu kan yang membiayai semua kartu kredit dan hidup glamor mu,'' ujar ku dengan nada pelan.

Wajah Stella makin murung. ''Stel, bukan aku mau mempersalahkan kamu. Dalam kehidupan itu selalu ada yang namanya pasang surut, jadi biasa kali. Disaat seperti ini, kamu harus memandang kehidupan untuk memperbaiki kesalahan, bukan pelarian,'' ujar ku menambahkan.

''Aku tahu,'' katanya, akhirnya setelah diam membisu.

''Sebagai kawan, aku harap kamu melihat ke bawah. Jangan keatas terus, pasti leher mu sakit. Memandang ke bawah, maka kamu akan mensyukuri semua rahmat yang telah kamu terima,'' harap ku.

''Makasih, apa suami ku masih mau menerima aku. Sebelum aku ke Batam, kami bertengkar hebat,'' ujar Stella.

''Coba kamu hubungi, pasti dia masih memaafkan kamu dan kamu bisa memulai kehidupan baru dengan pemikiran baru,'' saran ku.

***

Seorang istri merupakan tonggak kesuksesan suami. Karena peran istri sangat penting dalam membantu peran suami untuk mensukseskan. Dibalik kesuksesan pria, pasti ada istri yang mendampingi. Namun, terkadang istri juga bisa menghancurkan kesuksesan suami. Semua itu harus seimbang untuk dijalani.

Semua orang merasa tak puas dengan apa yang sudah didapatkan dan ingin lebih dan lebih. Namun, hanya untuk mencari kesenangan dunia. Maka itu tak kan abadi. Namun, mencari dahulu kerajaan surga, semua akan dipenuhi, segala kebutuhan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Kota Cinta | Kita Bahagia | diary Citra