Oktober 31, 2008

Jodoh Tak kan Kemana

Anne masih asyik membalik-balik buku yang baru dipinjamnya dari kawannya. Buku yang menarik untuk dibaca. Bila kamu masih merasa jomblo. Meskipun sudah memiliki pacar. Anne masih berasa sendiri. Jarak jauh membuatnya merasa masih memegang status single. Meskipun terkadang sang kekasih sering menelpon maupun bertandang ke rumahnya.

Buku membuat pria jatuh cinta membuatnya tersenyum saat membaca baris demi baris karangan Trancy Cabot. Review dibelakang buku itu, saat Anne ingin meminjamnya berisikan mengenai bagaimana menemukan cinta dalam hidup Anda; Menemukan cinta sesuai keinginan; Memenuhi kebutuhan cinta lahiriah dan batiniah; Membangun kepercayaan dan hubungan baik dalam sekejap; Melabuhkan kebahagian dengan sentuhan ajaib; Membuat kekasih mengatakan 'Ya' tanpa disadari, dan tanpa dipaksa; Mempertahankan cinta agar abadi.

Anne benar-benaran penasaran dengan isi buku tersebut. Karena Anne merasa yain bahwa menemukan cinta yang benar-benar sejati sangat susah. Apalagi menemukan cinta sesuai dengan keinginan, itu sama saja mencari jarum diantara hamparan pasir, yang pada kenyataan imposible --mustahil--. Ditambah membangun kepercayaan dan hubungan baik dalam sekejab. Itu tidak akan mungkin bisa. Karena Anne sangat tahu, banyak hubungan rumah tangga hancur. Lantaran tidak ada lagi saling percaya dalam hubungan tersebut.

Saat Anne sedang membaca lembar demi lembar buku yang bersampul berwarna pink itu. Telepon rumah Anne berdering. Anne enggan meninggalkan bangku empuk di ruang tamunya yang ditata seapik mungkin. Anne pun menyeretkan langkahnya.

''Hallo,'' ujar Anne pada orang disebrang sana.

suara isak tangis terdengar, ''Anne, lo lagi sibuk ya,'' tanya suara dari sebrang sana, dan Anne baru menyadari itu adalah Ratih --sabahat kawannya--

''Tidak jawab,'' jawab Anne. ''Aku hanya bersantai sambil membaca buku. ''Ada masalah,'' tanya Anne cemas.

''Aku bingung harus mengadu pada siapa. Boleh aku ke rumah mu sekarang. Semua kawan ku pada sibuk,'' pintanya.

''Tentu saja,'' jawab ku cepat. ''Aku tunggu ya,''

***

''Memangnya ada apa,'' tanya ku, saat Ratih sudah datang ke rumah. ''Sebentar ya, aku buatkan minum, sama cake. Kemarin, aku belajar masak kue.

Ratih hanya menggangguk pelan dan tersenyum hambar. Seperti sedang tidak berada di rumah Anne. Anne pun segera kembali membawa dua cangkir coklat panas dan dua potong cake, serta snack dalam toples yang berwana ungu. senada dengan gelas dan lepek yang dibawanya.

''Kalau kamu mau cerita, cerita aja. Sapa tahu aku bisa membantu kesusahan mu,'' ujar Anne sambil meletakan gelas dengan motif gambar anggrek di depan Ratih.

''Aku bingung,'' tuturnya lirih. ''Kamu tahu, usia ku sudah lebih dari tiga puluh tahun dan orangtua ku meminta aku segera menikah. Tetapi, sampai saat ini, aku belum bisa menemukan pria yang cocok dan mengerti keadaan ku.

Anne hanya mendengarkan prihatin, tanpa mau memotong pembicaraan Ratih yang sejujurnya lebih ditunjukan pada dirinya sendiri. Teman-teman ku,' lanjut Ratih, sudah pada menikah dan aku sendiri masih belum. Hubungan ku dengan mantan-mantan pacar ku, selalu putus sambung. Karena perbedaan prinsip dalam hidup.

''Kenapa masalah ini membuat kamu sebegitu merana,'' tanya ku.

Wajah Ratih semakin murung mendengar perkataan Anne. Katanya, kamu tidak tahu. Bagaimana orang-orang memandang ku. Bahkan orangtua ku mencoba menjodohkan aku dengan A, B, C. Padahal, mereka tahu. Aku masih ingin menikmati hidup ku.

''Aku juga ingin memiliki anak, tetapi tidak saat ini,'' kata Ratih lagi.

Anne tersenyum dan berujar, ''Aku juga ingin punya anak, suami, tetapi tidak saat ini. ''Sabar aja ya, mencari pria yang cocok dengan keinginan kita memang sulit. Tetapi, kamu tidak perlu mendengarkan apa tanggapan orang,'' ujar ku. ''Kita hidup untuk diri kita sendiri. Bukan untuk orang lain,'' kata ku bijak.

Ratih diam saja, ia hanya memainkan potongan cake tape yang ku berikan padanya. Mau mendengar cerita tak?'' tanya ku padanya.

Ratih memandang wajah ku lama dan dalam. Kemudian, wanita berambut panjang itu pun menganggukkan kepala. ''Cerita tentang apa?,'' tanyanya.

''Tentang kawan ku,'' jawab ku santai.
***

Anne bercerita mengenai kawannya yang baru menikah diusia 33 tahun keatas. Tidak sedikit kawannya yang menikah diusia kepala tiga. Kali ini kkisahnya mengenai, sebut saja namanya Evelyn --baca ivelin-- Evelyn berusia tiga puluh lebih. Bekerja disebuah penerbitan surat kabar lokal di kota XXX. Dia memiliki wajah yang menarik dan postur tubuh yang kecil.

Banyak pria yang menyukainya. Meskipun Evelyn tidak menyukainya, tetapi ia selalu bersikap ramah padanya. Pada pria yang menyukainya. Sehingga kaum pria selalu salah mengartikannya, hingga suatu ketika terjadi lah hal yang tidak diinginkan.

Waktu itu, Evelyn sedang berjalan dengan Sylvia --baca Silvia-- Memang sudah malam, jam menunjukan pukul 22.00 WIB setempat. Evelyn baru selesai mengerjakan pekerjaannya. Mereka berencana untuk karoke bersama. Disaat lelah dan suntuk dengan rutinitas sehari-hari, sylvia dan Evelyn selalu meluangkan waktu untuk berkaroke di salah satu KTV yang nyaman dan murah ataupun sekedar makan siang bareng or nonton bareng.

Persahabatan itu terbina tanpa disadarinya, mereka sama-sama merantau ke daerah entah brantah dan saling cocok satu dengan yang lain. Karena sifat mereka tidak suka membicarakan orang lain. Mereka lebih senang membicarakan diri mereka sendiri yang segudang dan tak pernah habis. Daripada bergosip. Apalagi, mereka berdua memang tidak pelit dan senang hunting berbagai makanan fastfood terutam pizza.. Em.. lezat tentunya. Sambil ngerumpi tentang pengalaman yang sudah dilalui, sambil bercanda gurau dan cuci mata, melihat pria-pria tampan dari kejauhan.

Nah, pada saat Evelyn dengan Sylvia hendak masuk ke dalam mobil sedan berwarna merah. Tangan Evelyn ditarik pria dengan kasar yang notabenya adalah rekan kerjanya. Tentu saja Evelyn marah. ''Kamu janji jalan sama aku malam ini,'' ujar pria itu kasar.

''Kapan?,'' tanya Evelyn ketus.

''Beberapa hari yang lalu,'' ujarnya masih tetap menarik tangan Evelyn.
Evelyn yang memang merasa tidak ada buat janji dengan itu pria jelas-jelas menunjukan penolakannya dan memasang wajah jutek dan marah. ''Aku sudah janji ma kawan ku untuk tidur di rumahnya dan kami mau makan malam bareng,'' tolak Evelyn.

''Tidak bisa,'' tutur pria itu bersikukuh. Pergelangan tangan Evelyn pun semakin sakit dipegang dan ditariknya. Everlypun hampir terjungkal. Sedangkan Sylvia hanya bisa memandang bingung harus berbuat apa. ''Dia kan ceweq, tidak mungkin kan dia ku biarkan pulang sendiri, apalagi jalanan sepi begini,'' tegas Evelyn. ''Kalau, kamu macam-macam lagi, aku teriak neh,'' ancam Evelyn.

Membuat nyali pria bertubuh besar dan gelap itu pun menciut. ''Siapa seh dia,'' tanya Sylvia, begitu pria itu langsung menyalakan motornya dan meninggalkan kami. Sylvia melihat Evelyn memegangin pergelangan tangannya yang masih sakit.

''Jadi kemana neh kita? Nonton or karoke,'' tanya Sylvia lagi pada Evelyn.

''Sepertinya enakkan karoke deh. Biar aku bisa teriak-teriak,'' ujar Evelyn.

Syvia pun menjalankan mobilnya dan berhenti di tempat yang sudah familiar bagi mereka berdua. Setelah memesan minuman dan kamar karoke pun, kedua sahabat itu pun langsung ke atas. Bernyanyi bergantian dan teriak-teriak mengusir bete dan suntuk, serta kekesalan sampai suara habis. Setelah itu pun mereka pulang.

''Dia sering memaksa aku untuk jalan dan dia ngajak aku untuk menikah. Tentu saja aku tolak,'' tutur Evelyn saat dalam perjalanan ke rumah ku.

Kata Evelyn, usia ku memang sudah tua, tetapi bukan berarti aku harus menikah dengan pria asal comot. Dia suka ma aku, aku langsung nikah ma dia.

''Inikan kehidupan yang panjang, jangka waktu panjang. Tidak bisa sembarangan. Biar saja, orangtua ku terus mendesak agar aku segera menikah. Tetap saja, aku pada pendirian ku,'' tegas Evelyn.

***

Sejak kejadian malam itu, gosip di kantornya pun beredar bahwa Evelyn lesbian dengan Sylvia. Hal tersebut tidak digubris Evelyn. Karena dia tahun dan yakin yang membuat gosip itu adalah rekan kerja yang meja kerjanya tidak jauh dari meja kerjanya.

Setiap orang tanya dengan santainya wanita berambut sebahu itu pun menjawab, kalau memang bener kenapa?

Ternyata gosip itu pun semakin kencang ditambah kondisi kantor yang sudah tidak kondusif membuat Evelyn mengambil keputusan meninggalkan kota XXX menuju kota YYY. Begitu, Evelyn meninggalkan kota XXX untuk kembali ke kota dimana ia dibesarkan dan keluarganya berada. Ia pun menemukan jodohnya.

''Sylvia,'' sapa Evelyn saat Sylvia mengangkat telepon.

''Evelyn ya, pa kabar. Kemana aja kamu. Mentang-mentang dah pindah lupa ma kawan,'' cerocos Sylvia.

''Aku mau kasih tau neh, bulan depan aku akan menikah kalau tak ada halangan,'' ujar Evelyn dengan nada suara riang.

''Serius, selamat ya. Sama siapa, jangan bilang sama pria itu,'' tutur ku turut senang.

''Ya, nggak sama kawan lama. Kami ngak sengaja temu dan tahu sendiri lah. Bagaimana jadinya,'' tuturnya bersemangat.

''Ditunggu undangannya ya,'' ujar Sylvia.

''Pasti, aku benar-benar bahagia. Terutama orangtua ku. Jadi, ngak perlu bingung bukan dalam menentukan pria idaman, mereka akan datang tanpa disadari. Asalkan berdoa dan berusaha,'' Everlyn memutuskan pembicaraan.

***

Masih banyak lagi kisah cinta bukan hanya kisah cinta Everlyn. Jadi tunggu kisahnya ya....

--cerita ini hanya fiktif lho--

By Citra Pandiangan

Atas Nama Cinta

Kehidupan pergaulan remaja memang saat ini, memang sudah berbeda dari masa-masa dahulu. Pergaulan bebas, kebebasan dalam bertindak tanpa ada pantauan orang tua. Dikarenakan orangtua sibuk mencari uang sendiri tanpa memandang perkembangan anak. Sehingga dunia menjadi terbalik. Pergaulan remaja yang diidentikan dengan minuman keras (miras), narkoba hingga kebebasan seks yang sudah tidak memandang norma-norma lagi.

Sewaktu baca dikoran, wow, siswi SMP pesta seks. Sepertinya seks dilingkungan pelajar sudah tidak tabu lagi. Apakah mereka benar-benar mengetahui arti dan makna seks. Aku sempat dikejutkan dengan perkataan adik ku. Saat itu, kami lagi melintas di tepi laut. Disana, seperti diketahui merupakan tempat gelap dan banyak remaja maupun dewasa suka mojok disana.

Secara tidak sengaja, aku bertanya, ''Ngapain ya mereka disana?, Pasti mau ngeseks!!! Adik ku yang notabennya berjenis kelamin pria menjawab, ''Ya iyalah. Namanya juga mojok di tempat gelap. Mau ngapain juga kalau bukan untuk itu.

''Ditempat seperti itu?,'' tanya ku lagi.

''Ya, tapi ngak nyampe ngeseks, paling seks wilda --wilayah dada-- aja,'' ujarnya sambil tetap fokus pada kendaraan yang dibawanya.

Wow, seks wilda tentunya sudah ngak asing lagi pada kaum pelajar yang masih berstatus pelajar SMA. Mungkin juga pelajar SMP. Entah, apa yang mereka pikirkan. Yang jelas, aku tidak bertanya lebih jauh pada adik ku dan juga beberapa pelajar lain yang pernah aku temui dan aku lihat sendiri semasa aku juga masih duduk dibangku SMA. Semua terpulang pada prinsip dan pribadi masing-masing.

Aku jadi teringat sebulan lalu, seorang wanita eh bukan perempuan yang notabennya masih ABG --Anak Baru Gede-- dijadikan pemuas nafsu pria hidung belang. Waktu itu, posisi pekerjaan ku memang harus menanyakan prihal, alasan kenapa dia mau melakukan pekerjaan itu dan hebatnya, dalam sehari bisa sampai 5 hingga 8 pria hidung belang yang dilayaninya.

Dengan malu-malu, sebut saja namanya Mawar menceritakan prihal tersebut. Mami --untuk sebutan germo-- memang tidak memaksanya untuk melayani pria-pria yang datang mengampiri kupu-kupu malam. Tetapi, semakin lama tinggal disitu, tentunya utangnya akan semakin banyak. Sehingga mau tidak mau ya harus melakukan itu.

''Aduh ka, awal pertama melakukannya sakit. Apalagi punya mereka besar-besar dan minta berbagai gaya,'' ujarnya lirih.

Sebelum dia terdampar di tempat yang merupakan tempat dunia hitam itu. Ia mengaku pernah melakukannya dengan pacarnya, sewaktu duduk dibangku kelas II SMA di salah satu sekolah Jakarta. ''Waktu bekerja di tempat mami, saya sudah tidak perawan. Saya pernah melakukan HS --Having Seks-- dengan pacar ku,'' jelasnya.

Aku lebih senang menyebutnya HS --Having Seks-- bukan ML --Making Love-- Karena tidak ada salahnya dengan ML bila dilakukan suami-istri. Sedangkan pasangan yang notabennya belum menikah dan melakukan itu lebih enak disebut HS.

Diakui mawar, dia melakukan itu atas nama cinta. Lagi-lagi cinta dijual. Sebenarnya bisa kah orang membedakan cinta dan nafsu. Kalau menurut ku --opini ku-- itu bukan cinta melainkan nafsu. Karena orang yang mencintai kekasihnya tidak akan melakukan itu. Apalagi di dasari atas nama CINTA. Itu adalah orang yang bodoh.

Cinta memang butuh pengorbanan, tetapi pengorbanan yang seperti apa? Bukan mengorbankan keperawanan atau orang awam menyebutkan virgin. Ya, terserah kalau orang beranggapan aku kolot dan kuno. It's me, whatever I think and said. I am an ordinary woman with all of my opinion and my think about something in this world who I never know that.

Cinta. . . cinta. . . kekuatan seperti apa cinta itu hingga bisa merobohkan dinding-dinding moral. Kenapa aku berkata seperti itu, itu karena aku hidup di dunia yang bawasanya adalah budaya timur. Mungkin lain halnya bila aku dilahirkan di budaya barat, seperti, Eropa tempat kawan ku tinggal dan asli sana. Dia paling senang membicarakan seks dengan ku dan merasa heran hingga saat ini aku masih belum pernah HS. Wow, katanya. Seks itu sangat dibutuhkan dalam hidup. Kamu harus melakukan dan mempelajarinya sebelum menikah.

Ya, tentu, kalau aku tinggal di sana dan merupakan warga kelahiran sana. Tetapi, bedanya aku adalah warga Indonesia yang mempunyai budaya timur. Serta, agama ku --semua agama-- melarangnya. Apakah tabu membicarakan seks saat ini antara orangtua dan anak? Masih banyak orang awam merasa tabu membicarakan seks dengan putra-putrinya. Sehingga mereka mendapat informasi mengenai seks jadi simpang siur. Setidaknya saat ini sudah berbeda zaman seperti tahun 80-an yang tabu untuk membicarakan porno ataupun tentang seks. Anehnya, pada masa itu banyak artis 80-an yang menjadi simbol seks, tetapi masyarakatnya tabu membicarakan seks tetapi tidak tabu untuk menonton dan menyaksikannya.

Ditahun 70-an, pacaran pun juga sudah mengenal kissing koq. Apalagi di tahun melenium atau tahun 2000-an yang pastinya tidak sekedar kissing lagi tetapi HS. Bagaimana nanti di tahun 3000-an ya? Tidak bisa ku bayangkan apa yang akan terjadi.

Bahkan kasus-kasus pemerkosaan tidak hanya terjadi pada orang dewasa tetapi juga remaja bahkan anak kecil pun sudah bisa memperkosa. Mengerikan bukan? Bagaimana nanti kalau aku menikah dan memiliki anak, hidup di dunia bagaimana anak ku nanti.

Penjajahan yang terjadi di Indonesia bukan dikarenakan kemerdekaan tetapi moralitas yang merosot. Sekarang dengan mudahnya gambar dan film-film blue beredar di pasaran dan dijual per keeping berkisar Rp5.000. Sangat murah bukan untuk dapat melihat tubuh wanita tanpa helai baju. Bahkan, beberapa pejabat di Indonesia pun sepertinya juga tidak mau kalah bersaing. Mereka berlomba-lomba untuk melakukan itu. Buktinya, sudah banyak beredar foto-foto syur pejabat dengan kekasih gelapnya. Tidak hanya sekedar foto malahan tetapi juga video porno.

Please.... yuk, sebagai bangsa Indonesia dan masih mencintai Indonesia dan jangan sampai sejarah Indonesia di masa tahun-tahun silam terulang lagi. Dimana pemuda-pemudi Indonesia berjuang untuk meraih kemerdekaan. Saat ini perjuangan Indonesia sangat berat, penjajah masuk bukan dalam bentuk perang atau pun lainnya, tetapi masuk dengan memerosotkan moral dan kepribadian pemuda dengan narkoba dan juga pornografi.

Apalagi Indonesia yang jumlah penduduknya sangat banyak menjadi pasar empuk pengusaha film blue dan menjadi konsumen yang aktif. Yuk, hentikan sebelum ada penyesalan di kemudian hari. Seperti kata, Arfed, salah seorang pelajar di SMA Tanjungpinang, kebanyakan sekarang pemuda salah bergaul dan tidak mengerti makna arti sumpah pemuda.

Hindari pergaulan yang negatif dengan mengisi kegiatan yang bermanfaat dan positif. Sehingga pikiran negatif itu pun bisa hilang. Bawasannya, kebanyakan penyimpangan seksual itu terjadi karena pemikiran yang kotor dan nafsu yang tidak bisa disalurkan.

Aku jadi ingat semasa kuliah, ada radio yang sering membahas mengenai seks dan pergaulan di lingkungan pelajar. Dengan banyak melakukan aktifitas, khususnya pelajar pria seperti berolahraga akan mengurangi mimpi basah. Sehingga pikiran negatif itu pun dengan sendirinya hilang. Yuk, lakukan kegiataan yang positif dan bermanfaat untuk masa depan mu sendiri. Jangan mau melakukan seks atas dasar cinta. Boleh saja, tapi kalau sudah menikah. Tapi --lagi-- jangan menikah dini ya.....

Oktober 30, 2008

...Miss U....

Aku kangen ma dia, tetapi aku terlalu gengsi untuk mengakuinya. Setelah perpisahan yang memang seharusnya terjadi, membuat hari ku terasa sepi. Biasanya, kalau lagi suntuk. Pasti aku SMS or telpon-telponan dengannya. Bahkan, ia tak pernah lupa untuk menanyakan apa aku sudah makan or belum.... Disaat masalah melanda ku dengan sabar ia mendengarkan keluh kesah ku. Kenapa, aku harus merasa kehilangan ya. Cepat atau lambat, pasti perpisahan itu juga akan terjadi.

Setidaknya perpisahan semakin cepat akan semakin baik. Mungkin saat ini diri ku sedang merasa tak nyaman dan butuh perhatian darinya. Karena dia selalu ada setiap aku membutuhkannya. Meskipun dia tak sepenuhnya berada disamping ku. Karena jarak yang memisahkan, tetap aja dia teman, sabahat yang terbaik baik disaat hati ku sedang bersih. Dia kekasih yang baik disaat aku membutuhkan kehadirannya.

Walaupun hanya sebatas nelpon, sampai kuping panas. Tetap saja, dia menjadi pendengar setia. Akan kah, aku mendapatkan penganti yang lebih baik? Seorang sabahat sekaligus kekasih.... Sentuhannya, candanya selalu membuat ku riang.

Aku hanya bisa berharap, aku akan segera melupakannya dan kami juga sudah sepakat. Tinggal waktu yang akan menghilangkannya kenangan bersamanya. Biar angin membawa semuanya menghilang dari bayang dan pikiran ku.

Karena disaat sendiri, aku selalu ingat padanya. I just wish its will be over and I can forget everything about him, the memories and his name from my bottom of my heart.

Perceraian... Perceraian

Melihat kasus perceraian yang marak, membuat ku terus berpikir. Susahkah menjalin hubungan antara suami dan istri? Hal-hal tersebut selalu menari-nari dalam benak ku. Ini bukan karena banyaknya artis kawin-cerai. Itu dilakukan mereka untuk mencari sensasi --mungkin--.

Yang sedang ku pikirkan adalah orang yang dekat dengan ku. Bukan keluarga ku, karena papa dan mama ku, untungnya masih lengkap dan hubungannya masih harmonis. Meskipun terkadang ada riak, tetapi tidak semakin besar. Ya, sebatas bumbu dalam kehidupan, kata orang.

Kondisi ini semakin membuat ku berpikir dua kali, tidak seribu kali dalam menjalin hubungan yang lebih serius. Sesungguhnya, aku takut dalam berkomitmen. Aku lebih senang menjalin hubungan TTM --teman tapi mesra-- dibanding benar-benar serius untuk ke jenjang pernikahan.

Konflik pra nikah dan saat menikah tentu akan datang silih berganti. Sanggupkah aku akan melewati itu semua nanti? Buktinya, banyak yang gagal dalam menjalaninya. Perselingkuhan, penghianatan, pengorbanan. Aku tidak mau masuk ke dalam bagian itu.

Ya, Tuhan. Kalau memang nantinya aku akan menikah berikan yang seiman dan yang pasti yang mandiri dan sayang pada keluarganya. Kenapa? Kalau dia menyanyangi keluarganya, tentunya dia juga akan menyanyangi keluarga ku. Itu sudah pasti bukan?

Bagaimana dia bisa menghargai keluarga ku, kalau keluarganya sendiri tidak dihargai. Beda prinsip dan iman, tentunya akan sulit dalam menjalani hubungan yang lebih serius, apalagi dalam menjalin suatu ikatan yang sakral.

Aku juga sama seperti yang laen, ingin menikah sekali seumur hidup. Karena bagi ku, meskipun dianggap kuno kali. Menikah adalah hubungan yang sakral. Aku ingin nantinya, aku menikah di gereja diiringi musik yang khas dipernikahaan saat berjalan menuju althar dan pria --yang nantinya akan menjadi suami ku-- menunggu disana.

Berjanji akan selalu bersama disaat suka, duka, sedih, senang dan disaat sakit dan sehat. Sebuah janji yang diucapkan dihadapan Tuhan dan juga manusia, dimana yang sudah dipersatukan oleh Tuhan, tidak bisa diputuskan oleh manusia.

Tetapi, apakah itu mungkin? Sejauh ini, beberapa kali menjalin hubungan selalu berbeda religion. Ku akui teman ku banyak dan sahabat ku dari kecil hingga saat ini usia ku sudah berada di 27 tahun --usia yang kata orang sudah matang untuk memiliki anak-- tetapi tidak untuk ku. Karena, aku --sejujurnya-- masih belum siap. Kebanyakan kawan ku berbagai agama, yang notabennya Islam. Itu, bukan suatu alasan untuk tidak berteman. Tetapi, untuk hubungan lebih serius tidak mungkin bukan?

Semakin mendapat kabar mengenai perceraian, dengan berbagai alasan antara lain, suami yang tidak perhatian, suami yang tidak peduli lagi pada keluarga hingga memutuskan untuk bercerai. Kenapa bisa begitu? Untuk apa pria mengajak menikah, kalau akhirnya ditelantarkan anak dan istrinya.

Mungkin bagi sebagian orang virgin sudah tidak terlalu penting. Tetapi, itu sangat penting bagi ku. Aku ingin semua perfect. Tentunya, aku tidak ingin --semua orang juga-- mempunyai calon suami yang terkena penyakit kelamin apalagi HIV/AIDS. Aku ingin semuanya bersih dan sehat baik secara rohani maupun fisik.

Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana keperawanan kawan ku hilang oleh suaminya, tetapi habis itu disia-siakan. Padahal menjaga agar tetap virgin di masa sekarang ini sangat sulit. Adilkah itu pada mereka yang hidupnya disia-siakan pria yang tidak bertanggung jawab? Aku tidak bisa menjawab, karena memang tidak ada jawaban untuk beberapa pertanyaan.

Sebagai manusia, kita hanya bisa berharap dan berdoa agar mendapatkan yang terbaik dari semuanya. --amin-- Meskipun terkadang, keinginan tidak bisa menjadi kenyataan seperti yang diharapkan. Tetapi setidaknya manusia kan bisa berharap dan berusaha.

Menjalin hubungan antar dua manusia yang berbeda jenis kelamin dan berniat untuk menjalin hubungan yang lebih serius tentunya membutuhkan kesiapan yang luar biasa. Karena mempersatukan dua kepribadian itu sangat lah tidak mudah...

Oktober 29, 2008

Bete dan Apes

Selasa merupakan hari berat bagi ku. Ya, mau bagaimana lagi, flashdisk ku rusak berat dan tak bisa digunakan lagi. Kalau soal harga seh ga masalah, bisa dibeli lagi. Masalahnya adalah data yang ter-save disana. Lagipula rusaknya juga bukan karena kesalahan aku, melainkan ditendang orang. Itu pun ditendangnya pada saat aku memasukan flashdisk di CPU computer.

Selain itu juga, berat dan badan ku sampai saat ini masih pegel. Lantaran harus naik dan turun kapal tongkang hasil dari patroli Lantamal IV Tanjungpinang. Untuk menuju ke sana dibutuhkan tenaga super ekstra. Apalagi saat itu aku pakai sepatu hak tinggi. Jelas saja kesulitan. Naik dan loncat dari satu kapal ke kapal lain. Untuk bisa melihat dan mengabadikan gambar tersebut.

Ditambah cuaca yang super panas. Eh, sudah gitu jam deadline yang super cepat. Bete banget deh. Ya, sudah lah. Mank, kemarin tuh hari yang paling apes dan nyebelin. Mudahan aja, hari ini dan besok menjadi lebih baik. Lagi ngak mood. Apalagi semalam, aku SMS dia, dianya cuek aja. Bete ngak. Padahalkan, dia suka memberi aku informasi untuk tambahan data buat cerita ku berikutnya.

Ntar, malam aku coba telp dia dan mudahan aja mendapat jawaban or Sabtu siang deh. Sabtu ku kan aku dan dia libur. Jadi, aku bisa telpon dia sore hari dan mendapatkan bahan yang aku mau.... Awas lo ya R.. kalo ga mau ngangkat, ku jitak kalo aku ke Batam lage hehe...

Bukan Salah Wanita, Bag II

''Kan, kalian tahu, dari tadi telepon rumahnya ngak diangkat. sedangkan ponselnya ngak aktif,'' ujar ku sebel.

''Ya, sudah ke kostan kami aja dulu. Ntar, kita antar. Bagaimana? Kalau balik ke kostan mu terlalu jauh,'' tutur Roma mengingatkan.

''Aku naik taksi aja lah pulang,'' tolak ku.

''Bahaya lho anak gadis keluyuran malam-malam,'' Wandi mengingatkan. Wandi menyarankan agar aku ikut ke kostannya, cari makanan lalu berjanji akan mengantarkan aku ke rumah Ranie. Akhirnya aku setuju dengan berbagai pertimbangan. Aku tak tahu daerah itu.

Sesampainya di kost-an Wandi yang dibangun dalam tiga tingkat. ''Besar juga ya. Berapa orang disini,'' tanya ku sambil menuju lokasi kamar mereka yang berada di lantai kedua.

''Ada sekitar lima puluh kamar, yang nempati lebih dari tujuh puluh,'' jawab Wandi.

''Koq bisa,'' tanya ku bingung.

''Ya, bisa donk neng. Kan satu kamar ada yang bedua ataupun bertiga,'' jawab Andi sambil tertawa.
Begitu sampai kamar, Wandi membuka pintu lebar-lebar. ''Sebentar ya, aku mandi dulu,'' kata Wandi sambil meninggalkan ku di kamarnya. Sementara, Andi dan Roma kembali ke kamarnya. Selang lima menit, Wandi pun datang. ''Kamu ngak mandi?,'' tanyanya.

''Ngak, nanti saja di tempat kawan ku. Bener ya, aku diantar kesana,'' tanya ku balik.

''Iya, kita cari makan dulu yuk. Disana ada jual ayam goreng atau ayam bakar enak,'' ajaknya. Andi sudah menungu di luar. ''Jadi, kita cari makan?,'' tanya Andi. ''Jadi,'' jawab Wandi singkat.

Saat menuruni tangga. Andi berujar, baju mu seksi ya, San. ''Seksi,'' tanya ku bingung. Karena aku hanya mengenakan celana jeans dan t'shirt warna kuning, tidak terlalu press body. Karena aku memilih ukuran M bukan S. Pada saat itu, Wandi tidak mendengar percakapan kami. Lantaran, dia sudah menuruni tangga dulu.

''Body kamu bagus,'' ujar Andi membuat risih Santi. ''Apaan seh,'' kata Santi ketus. Santi pun langsung mempercepat menuruni tangga menyusul Wandi. ''Disini, ada wartel nggak. Aku mau mencoba menghubungi Ranie. Batre ponsel ku lowbat neh,'' ujar ku pada Wandi.

''Tuh, didepan situ. Yuk, ku antar kesana,'' kata Wandi sambil menuju wartel terdekat.

Ternyata ponsel Ranie tidak akif. Plus, telepon rumah tak diangkat. Santi mulai merasa cemas. Ia pun langsung memutar nomor sahabatnya, Yovie. Namun, sayang Yovie tak bisa menjemput Santi dari lokasi yang asing. ''Please, jemput aku ya,'' rengek Santi.

''Sorry, bukannya aku ngak mau. Tetapi aku lagi ada acara keluarga. Kamu ini, napa bisa sampai kesana seh,'' tanyanya balik.

''Ya, sudah lah. Kalau mank ga bisa,'' ujar ku kesal sambil menutup telepon. Sudah ngak mau, marah-marah lagi. Bete deh.

''Bagaimana, bisa dihubungi,'' tanya Wandi, saat melihat ku keluar. Aku hanya menggelengkan kepala. Ku lihat sudah jam 9 malam, membuat ku makin tak berdaya akan hidup ku. ''Aduh, bagaimana neh. di kost ku juga sudah ngak ada orang,'' keluh ku pada diri ku sendiri.

Kami pun pergi membeli makanan di warung yang menurut Wandi enak. ''Mau pesan apa,'' tanya Wandi pada ku. ''Terserah,''

''Ayam bakar tiga ya dan es jerman tiga,'' pesan Wandi pada penjual nasi. ''Beres,'' jawab penjual nasi itu. Pesanan kami pun siap dalam hitungan tiga puluh menit. Berarti jam sudah menunjukan ke arah jarum jam yang makin malam.

Tiba-tiba ponsel Wandi berbunyi dan raut wajahnya langsung berubah panik. ''Ada apa?,'' tanya ku saat ia menutup ponselnya.

''Mama ku, tiba-tiba jantungnya kumat. Aku disuruh pulang sekarang ke Bandung,'' katanya panik.

''Yang bener aja, terus aku bagaimana?,'' tanya ku bingung.

''Andi, aku titip Santi ya. Jagain dia baik-baik, kalau ada apa-apa San, telepon aku ya. Aku tinggal dulu,''ujarnya sambil membayar pesanan makanan itu.

Perut ku memang lapar, tetapi selera makan ku sudah hilang. Rasa panik melanda ku tiba-tiba. Apalagi kalau mengingat perkataan Andi waktu ditangga itu, membuat ku makin resah.

''Yuk, pulang,'' ujar Andi membuyarkan lamunan kalut ku.

''Ya Tuhan, tolong aku. Doa ku dalam hati,'' ... ''Ya,'' kata ku sambil mengikuti pulangnya.

''Kenal dimana sama Wandi,'' tanya Andi meluberkan suasana kaku yang tiba-tiba datang.

''Ngak, ingat,'' jawab ku asal-asalan. ''Aku diantar ke tempat Ranie ya. Kamu kan sudah janji sama Wandi,'' tutur ku cepat.

''Sudah malam neh, mau jam berapa keliling mencari rumah kawan mu. Mending kamu tidur aja di kamar Wandi kan kosong,''

''Yang bener aja, masa aku tidur di kamar cowoq,'' tolak ku.

''Terus mau bagaimana,'' katanya lagi.

Begitu sampai ke kost-an mereka. Kami pun naik ke lantai dua. Andi menyuruh ku naik duluan, aku pun menolak. Tapi, dia tetap tak bergeming dari tempatnya. Terpaksa aku melangkahkan kaki ku duluan menuju lantai dua. Perasaan ku, matanya terus memandang tubuh ku, membuat ku risih.

''Aku masuk ke dalam kamar dulu ya,'' kata ku cepat-cepat. Tiba-tiba tangan ku ditarik, nanti ajalah. ''Nonton dulu yuk,'' katanya sambil memegang tangan ku.

''NGak lah sudah malam,'' tolak ku sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan kanan ku.

Sia-sia. Terpaksa, aku pun masuk ke kamarnya. Saat kami tiba dikamarnya. Roma sudah tertidur lelap. Andi pun memulai pembicaraan dan ku jawab sesingkat-singkatnya. Sekitar sepuluh menit aku dan dia berbincangg-bincang tak karuan. Aku memutuskan balik ke kamar Wandi dengan alasan, tak enak menganggu Roma yang sudah tidur.

Selang beberapa lama, Andi pun datang ke kamar. Saat itu, pintu kamar Wandi belum ku tutup. Karena teman Wandi sedang mencari barangnya. ''Ke kamar ku yuk,'' ajak Andi. ''Filmnya bagus lho,'' katanya lagi.

''Ngak lah, aku disini aja,'' tolak ku. Tetapi itu orang tetap aja bersikeras mengajak ku ke kamarnya. ''Ayolah,'' katanya.

Aku tetap pada pendirian ku, tidak mau. Lalu ia berbisik ditelinga ku. Kalau aku tak mau, ia akan mengendong ku untuk membawa ku ke kamarnya. Terpaksa, dengan enggan aku mengikutinya. ''Kalau ngak digituin kamu ngak mau kan ikut aku,'' ujarnya sambil tertawa.

Kata Andi, ''aku terpaksa bilang begitu, ngak enak dengan teman Wandi. Dia lagi cari barang, kamu tungguin. Risihlah dia.

Aku hanya diam saja. Begitu aku masuk kamarnya. ''Mana Roma,'' tanya ku, saat melihat kasur Roma kosong.

''Lagi cari makan,'' ujar Andi sambil duduk. ''Duduk lah,'' ajaknya.

Aku memilih duduk berhadapan dengannya. Dibanding berada disebelahnya.

''Sudah punya pacarnya?,'' tanya Andi tiba-tiba.

''Memangnya, kenapa,'' tanya Santi balik.

''Sudah pernah ngapain aja,'' ujarnya tanpa menghiraukan pertanyaan Santi.

''Maksudnya apaan seh,'' tanya Santi dengan nada kesal.

''Pura-pura ngak tahu atau mank ga tahu,'' tuturnya sambil tersenyum memandang wajah Santi.

Hal tersebut membuat Santi sedikit muak. Memang dari awal pertemuan tersebut, Santi sudah tidak terlalu merespon tingkahlaku Andi yang tak sopan itu. '"Sudah lah, aku mau tidur. Sudah malam,'' ujar Santi sambil beranjak berdiri.

Spontan tangan Andi pun langsung meraih pergelangan tangan Santi dan membuatnya terjatuh. ''Apa-apaan seh,'' kata Santi melihat ulah Andi. Andi hanya diam saja.

''Lepasin ngak atau aku teriak,'' ancam Santi.

Ancaman itu tidak digubrisnya. Pergelangan tangan Santi dipegangnya lebih erat dan matanya terus menelusuri tubuh Santi.Gerakan mata tersebut membuat Santi makin direndung rasa ketakutan. Santi berusaha melepas cengraman lengannya dengan sekuat tenaga. Meskipun pergelangan tangannya sakit. Santi berusaha, akhirnya Andi melepaskan cengkramannya. Santi pun segera berdiri dan berlari menuju pintu keluar. Namun, Santi kalah cepat, Andi sudah lebih dulu berada di pintu, menutup dan mengkuncinya.

''Aku mau tidur,'' kata Santi agar Andi segera membukakan pintunya. ''ya, Tuhan, apa yang harus aku lakukan,'' pikirnya. ''Maafkan aku,''

''Masih jam berapa, nanti aja tidurnya. Sini aja dulu,'' ujarnya sambil melangkah mendekati Santi. Spontan Santi mundur ke belakang. ''Aku, sudah ngantuk, mana kuncinya?,'' pinta Santi sambil mengulurkan tangannya tetap menjaga jarak.

''Ini, ambil lah kalau mau,'' ucapnya tanpa melepas pandangan dari tubuh Santi.

''Taruh aja dikasur biar nanti aku ambil,'' ujar Santi.

Santi berharap agar Andi segera pergi jauh dari kunci yang diletakannya diata kasur. Namun, harapan Santi tinggal harapan. Santi pun mencoba meraih kunci kamar semaksimal mungkin agar bisa menjauh dari sosok Andi. Tetapi, usahanya sia-sia.

Begitu Santi mendekati kunci tersebut, tubuh Santi langsung ditariknya kedalam pelukannya. Reaksi yang tidak terduga itu membuat Santi terkejut dan berteriak tertahan antara ketakutan dan tanpa disadarinya suaranya pun langsung menghilang.

Kesempatan itu ternyata tak disia-siakan Andi. Andi pun mencoba memeluk Santi lebih erat, Santi menolak dengan mengerangkan sisa-sisa kekuatannya. Semakin Santi memberontak, pelukan yang didapatnya pun semakin kuat. setiap santi berusaha bergerak membuat Andi semakin bersemangat. Santi pun akhirnya kehabisan tenaga.

''Kamu mau ngapain seh, lepaskan nggak,'' ujar Santi dengan suara melemah. ''Aku kan tidak pernah membuat mu kesal,''

''Aku minta dikit aja, aku pengen merasakan bibir mu yang seksi,'' kata Andi dengan suara parau.

Dengan desahan nafasnya, ia mencoba mencumbu Santi yang masih berada dalam pelukannya. Santi pun menolak dan berusaha meronta. Andi yang sudah gelap mata itu pun langsung melemparkan tubuh Santi yang sudah lemah diatas kasur. Kesempatan itu pun langsung diraih Santi untuk bangun, tetapi kalah cepat. Tubuh santi pun ditindih. Santi sudah berusaha menyadarkan Andi untuk tidak membuatnya menderita.

''Ya, Tuhan tolong aku,'' doa Santi dalam hati. ''Lepaskan ngak, atau aku teriak,''

''Coba saja, kalau kamu berani,'' sehut Andi cepat dan dengan kecepatan yang sama mencoba mencium bibir santi. Santi mencoba mengelak dari bibir Andi yang membuat badannya merinding seketika. Bukannya menyerah, Andi malah mencoba mencumbu leher Santi.

Santi yang memang sudah tak bisa menggerakan badannya dan suaranya seperti terkunci mencoba melepaskan diri dari nafsu Andi yang sudah mengebu. Tangan Santi yang berhasil lepas dari tindihan Andi pun dicoba dengan sekuat tenaga untuk mendorong tubuh Andi dari atas tubuhnya. Lagi-lagi usaha Santi harus gagal.

Tangan Santi pun dipegang dan ditaruh disela-sela pahanya. Bibirnya pun terus menjelajahi lekuk leher Santi dan terasa basah. ''Tolong, jangan' rintih Santi, tetapi sia-sia saja. Andi sudah membabi buta mencoba menyatukan tubuh santi dengan tubuhnya agar Santi tidak bisa bergerak. Santi mencoba menutup bibirnya rapat-rapat agar bibir Andi yang kotor itu tidak bisa mencoba mencicipi bibir Santi.

Tak kalah akal, Andi pun terus menelurusuri leher Santi dengan bibirnya. Setelah itu, ia mencium telinga Santi dan membuat Santi semakin beronta dalam keadaan tubuh yang ditindih. Desahan nafas Andi membuat Santi muak, apalagi bekas bibir Andi menelusuri leher dan teliga Santi membuatnya menjadi basah dan terasa menjijikan.

Andi sudah tidak mempedulikan permohonan Santi itu pun mulai mengambil kesempatan pada tubuh yang sudah tidak berdaya itu. Andi semakin liar, tangannya pun mulai dimasukan ke dalam t'shirt kuning yang ia kenakan itu. Dengan sangat mudah, tangannya pun masuk ke dalam, Andi mencoba menelusuri perut Santi. Santi yang sudah tak berdaya hanya bisa menangis dan memohon.

''Ya, Tuhan, maafkan aku dan tolonglah aku,'' ujar Santi didalam hatinya. Wajah Santi yang sudah penuh dengan air mata dan mimik wajah ketakutan itu pun juga tidak menyadarkan Andi untuk berhenti. Tangan Andi dengan leluasa menelurusi lekuk tubuh Santi hingga bagian depan.

''Aku mohon jangan,'' pinta Santi pada Andi.

''Sebentar aja,'' ujar Andi tanpa melihat wajah Santi yang sudah pucat pasi itu. Tangannya pun terus bergerak dan menyentuh kulit Santi. Bahkan ia mencoba membuka celana jeans yang Santi kenakan. Santi pun mencoba mengumpulkan tenaga yang masih ada untuk meronta. Badannya pun terasa sakit. Tubuh Andi pun terasa makin berat menindih tubuhnya. Satu-satunya harapan adalah berteriak. Tetapi, suaranya tak kunjung bisa dikeluarkan. Entah kenapa, apa karena ketakutan atau karena panik. Sejujurnya, Santi pun bingung.

Entah kenapa juga, Andi pun tidak jadi melakukannya pada Santi dan Andi pun duduk sambil memandang tubuh Santi. Baju yang dikenakan Santi pun sudah berantakan, rambutnya kusut, matanya sembab dan masih ada sisa-sisa air mata.

''Terimakasih Tuhan,'' doa santi dalam hati.

''Rapikan tuh rambut ma baju mu,'' ujar Andi tanpa berkedip memandang Santi. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Santi dengan kecepatan penuh merapikan dirinya dan segera mengambil kunci dan keluar dari kamar itu secepat yang ia bisa.

Setelah keluar dari kamar itu, Santi pun segera masuk ke kamar kawannya dan mengunci kamar rapat-rapat. suara kedoran kamar dan memanggil namanya tidak digubrisnya. Santi ketakutan, sepanjang malam itu, Santi tak bisa tidur. Hingga akhirnya, santi baru bisa tertidur jam 3 dini hari dan terbangun jam lima. Santi pun keluar dari kamar itu pelan-pelan dan mencuci buka serta sikat gigi. Lalu, meninggalkan tempat itu menuju rumah kawannya yang sudah menunggunya dengan cemas.

***

''Apa salah ku,'' tanya Santi pada ku.

Aku yang tak tahu apa yang pernah menimpanya pun bertanya, ''Memangnya, kamu ada salah apa?,''

''Aku tak pernah mengoda pria, aku tak pernah pakai baju seksi yang mengundang pria untuk mendekati ku. Tetapi kenapa aku mau....,'' ujarnya terbata-bata.

''Mau apa?,'' tanya ku. Santi hanya diam saja. Aku mendesak Santi, ''bicaralah. Sapa tahu lebih ringan,'' ujar ku sambil menatapnya bingung.

''Diperkosa,'' bisiknya lirih.Suaranya memang pelan, tetapi seakan-akan guntur datang di siang bolong.

***

''Ann, jangan melamun, Kamu kan bawa mobil. Nah lampu hijau tuh,'' ujar Inne menyadarkan ku.

''Apa yang sedang kamu pikirkan,'' tanya Inne lagi.

''Perempuan,'' ujar ku sambil tetap berkonsentrasi pada jalanan didepan ku.

''Kenapa dengan perempuan,'' tanya Ranie penasaran.

''Lemah,'' jawab ku sekenanya. "Wanita selalu dijadikan simbol seks, wanita selalu dijadikan korban nafsu para pria. Memangnya, salah apa ya wanita itu pada mereka,''

''Kamu ini ada-ada aja,'' ujar Ranie. Ranie menambahkan, itulah kenyataan yang terkadang aku sendiri tak bisa menerimanya. ''Wanita hanya dijadikan pelengkap penderitaan dan selalu menjadi korban. Tetapi, banyak juga kan wanita yang kuat dan bertahan.

''Bertahan pada pernikahan yang sia-sia. Takut aib keluarga terbongkar, malu pada lingkungan. Itu semua selalu jadi bahan pembicaraan wanita. seakan-akan wanita itu tidak boleh memilih jalannya sendiri. Itu kan bukan salah wanita saja,'' urai Anne kesal bila membayangkan kawannya bakal menjadi korban pemerkosaan.

''kita sebagai wanita ya harus bersatu padu untuk mengatasi persoalan tersebut. Tanpa bersantu bakal percuma saja,'' timpal Inne.

Inne melanjutkan, terkadang wanita selalu dipersalahkan. Alasannya, wanita yang selalu mengoda pria.

''Padahalkan belum tentu benar,'' ujar Anne.

Ya, wanita memang selalu dipersalahkan dalam segala hal.... Padahal, belum tentu, wanita itu yang salah. Benerkan?
--cerita ini hanya fiktif saja ya--

@By Citra Pandiangan

Oktober 27, 2008

Itu Bukan salah Wanita!! Bag I

Suasana rumah Anne yang sederhana dan terletak jauh dari pusat keramaian berbeda dari hari biasanya. Karena beberapa kawan lama datang berkunjung untuk sekedar melepas kangen dan berbagi pengalaman yang tak pernah dilupakan, mulai dari pertemanan sekolah hingga kuliah. Tentunya merupakan hal yang jarang terjadi masih bisa saling berhubungan. Meskipun memiliki berbagai kesibukan masing-masing.

''Di lemari es mu ada apa aja Ann,'' tanya Ririn sambil membuka lemari es. Saat melihat isi kulkas, ''makanan apaan aja neh, dasar kamu nga berubah'',

''Ya, biasalah, ngak sempat belanja. Malas gue ke mall. Tapi banyak cemilannya kan, kalau tuk masak..,'' kata ku terhenti. Sebab, Lilis dan Inne langsung menyehut, ''No Way,''

''Kalau begini terus kapan lo married,'' tanya Inne sambil menjitak kepala ku.

''Aduh, sakit tahu. Memangnya pria menikah untuk cari pembantu apa, untuk memasak dan membersihkan rumah. Enak betul donk tuh pria. Kalau gitu, aku cari pria yang bisa masak dan bersihkan rumah, ada ngak ya,'' tanya ku sambil mengangkat dagu ku tinggi.

''Dasar lo,'' kata mereka sambil tertawa.

''Mall jauh ngak dari sini,'' tanya Ririn dengan mimik wajah serius.

''Ngak terlalu jauh ko. Untuk apa?,'' tanya ku balik.

''Ya, belanjalah. Kita bakar-bakar yuk,'' ajak Ririn yang memang gemar memasak.

''Malas ah, mending beli jadi aja ya. Ngak repot, cepat dan praktis lagi,'' tolak ku sambil nyegir.

''Ayolah, sekalian jalan-jalan. Kan beda masak dan beli sendiri. Ingat, kami besok dah harus balik lagi neh ke kampung masing-masing,'' ungkap Inne sambil tertawa lepas, ciri khasnya.

Disetujuin Lilis. Tiga lawan satu, ya tentu saja satu kalah. ''Ya sudah, yuk kita pergi,'' ajak ku akhirnya.

Sepanjang perjalanan ke Nagoya Hill untuk ke swalayan, kami terus saja bercanda dan tertawa hingga disimpang Jam, ada anak kecil menawarkan koran dan kami membelinya. Judulnya mengenai kasus pemerkosaan.

''Wah, sadis banget seh. Masa pacarnya diperkosa seperti itu,'' ucap Lilis sambil membaca baris tulisan yang ada di koran tersebut.

''Coba mana,'' rebut Inne. ''Tega banget seh, tuh cowoq,'' ujarnya setelah membaca koran itu.

Tiba-tiba Ririn yang selesai menerima telepon pun berkata, ''Kalian inget ngak ceritanya, kawan kita yang mau diperkosa. Untunglah tak jadi,''

''Makanya, kita harus hati-hati, meskipun sama orang yang kita kenal baik, belum tentu baik. Apalagi sama, orang yang baru dikenal,'' ujar Ririn tanpa henti.

Membuat ku tersentak, jadi ingat pengalaman Santi, teman kuliah dulu.

***

Waktu itu, liburan Idul Fitri, Santi yang enggan pulang kampung pun memutuskan untuk tetap berada di kos. Padahal, orangtuanya sudah mengajak untuk pulang. Namun, karena berbagai alasan, ia pun memilih tetap berada di Surbaya. Rencananya ia mau jalan-jalan ke Jogja, tetapi karena enggan ia pun lebih memilih berada di kos-kosan. Di kost-kostan masih ada beberapa kawan yang belum pulang ke rumahnya masing-masing.

Ponsel Santi pun berdering dan kawan satu kampungnya pun menelpon dan menyuruh santi nginap di rumah kontrakanya selama liburan yang lokasinya jauh dari tempat tinggal Santi. Santi memilih kost yang dekat dengan kampusnya. Kegiatannya hanya seputar kampus dan mall yang tak terlalu jauh jaraknya. Kalau disuruh ke daerah Surabaya utara atau lainnya, dijamin bakal nyasar.

''Kesini ya, nginap di tempat ku aja. Ramai-ramai koq, ada Susan juga,'' ujar Ranie.

''Ya, sudah mana alamatnya,'' tanya Santi sambil mencatat alamat yang diberikan Ranie. Begitu hubungan terputus, Santi pun bingung mau kesana. Ia pun mencoba menelpon beberapa kawannya, ternyata sudah pada pulang. ''Aduh, bagaimana ini,'' pikir Santi, mana beberapa kawannya juga sudah pada mau pulang, membuatnya makin panik. Apalagi kost-kostannya berjumlah 25 kamar, tingkat dengan bentuk bangunan U membuatnya makin merinding.

Ditambah, cerita beberapa kawan kostnya bahwa kostannya berhantu, membuatnya makin tak nyaman. Disaat itu, ponselnya berdering, ia pun mengangkatnya. ''Hello,'' sapa Santi dari ponselnya.

''Santi ya?,'' tanya pria disebrang sana.

''Benar, ini dengan siapa ya?,'' Santi balik bertanya.

''Ini dengan Wandi, masa lupa seh. Kita yang ketemu di mall waktu itu. Ingat ngak,'' tanya Wandi balik.

''Oh, iya,'' ucap Santi berbohong.

''Aku mau main ke rumah mu, bisa ngak?,'' ujar pria yang bernama Wandi itu.

''Aku mau pergi ke tempat kawan ku,'' tolak Santi halus.

''Bagaimana kalau aku antar, kamu mau ngak,'' ujar Wandi menawarkan bantuan.

''Ngak usah. Karena aku juga lagi nyari-nyari alamat rumahnya. Aku juga ngak tau. Ntar aku naik taksi aja,'' kata Santi.

''Sudah ngak perlu, biar aku antar ya. Mana alamat rumah mu, biar aku kesana,'' kata pria itu lagi.

Setelah berpikir beberapa saat, Santi pun menerima tawaran itu sambil memberikan alamat tempat tinggalnya. Selang satu jam, pria itu pun datang bersama dua teman prianya juga. Santi yang ragu-ragu untuk pergi pun berusaha menolak. Tetapi, pria itu berhasil menyakinkannya untuk pergi bersama dengannya aman. Santi yang sudah sendirian di kost-kostan itu pun menerimanya tanpa ada rasa was-was. Karena ia melihat pria itu baik.

Mereka pun berputar-putar mencari alamat rumah Ranie di Surabaya Utara. Dari mulai jam 3 sore hingga jam menunjukan pukul setegah tujuh malam. ''Aku capek neh, kita pulang dulu ya. Kost-kostan kami ngak terlalu jauh koq dari sini,'' kata Roma, teman Wandi.

''Aku, turun aja lah disini,'' kata Santi cepat.

''Ngak usah, ntar kita cari lagi. Kamu telepon aja kawan mu, kasih tau letaknya dimana,'' saran Andi.

--fiktif--

Oktober 26, 2008

Liburan ke Batam I

Rencananya aku enggan ke Batam, apalagi di tanggal tua begini. Wah berabe kalau pergi ke mall tanpa membawa uang lebih --lebih untuk membeli yang gue pengen-- Tetapi karena Sabtu kemarin ada kegiatan kantor dan aku diminta datang sama bang Rizal. Dengan berat hati, aku meninggalkan Tanjungpinang --Padahal sebelumnya setiap libur pasti ke Batam--

Rencananya mau perginya di Sabtu pagi, ternyata perginya Jumat malam bareng Elish. Setelah menyelesaikan berbagai urusan kantor. Begitu beres, baru deh pergi ke Batam dengan menggunakan kapal Baruna yang merupakan last ferry yang berangkat pukul 19.00 WIB.

Sampai di Batam sekitar pukul 21.30 WIB, aku dan Elish langsung menuju kantor. Disana pacar Elish sudah menunggu. So, aku langsung ke lantai II tempat Heru masih kerja. Soalnya, aku minta tolong antarin ke rumah po. Terpaksa neh nunggu lama sampai jam 22.15, sampai kerjaan dia beres.

Bete juga seh, apalagi begitu ketemu beberapa teman kantor. Bukannya nanyain kabar, malah bilang wah makin besar ya... Ya, mau bagaimana ya, aset gitu lho hehe. --Padahal gw bete kalo ada orang bilang gitu-- Tapi, kebanyakan wanita malah pengen seperti punya aset gw --ya disyukurin aja--

Ok... Setelah dia menyelesaikan pekerjaannya. Baru deh aku dan dia pergi ke rumah po yang terletak di Batamcentre dekat perumahan KDA. Begitu sampai disana, po sedang bersantai dan ternyata po sudah makan. Jadi deh aku dan dia pergi makan diluar. Habis itu, kami pun pulang dengan jalan memutar.

***

Keesokan harinya, dengan mata yang masih mengantuk dan berat. Karena baru bisa tertidur jam 3 dini hari. Aku pun mulai mempersiapkan semuanya dan pergi bareng po menuju kantor. Disana sudah menunggu beberapa kawan. Karena batre ponsel ku lagi lowbat. Aku ke atas untuk mencharge batre ponsel dan yang lain nunggu dibawah.

Begitu mau berangkat, aku pun di telpon dan disuruh turun ke basement. Menunggu sekitar 10 menit. Kami pun berangkat dengan menggunakan mobil mba Dewi. Ya, didalam mobil ada bang Wahyu, so kami tukaran musik2 lucu deh. Aku dapat banyak dari bang Wahyu --Thanks ya bang--

Sampailah kami ke KTM Resort. Disana sebagian teman juga sudah menunggu. Beberapa kawan yang bisa membakar ikan pun mulai bakar-bakar. Ye, aku cuma bantuin sebentar. Habis mank aku ga bisa masak seh. Daripada ribet mendingan kawan-kawan aja yang notabennya mank suka masak.

Singkat cerita, aku yang mank ga bawa ganti baju, terutama pakaian dalam. Pastinya, enggan dijemplungin dalam kolam.

Oktober 24, 2008

Memories of The Past
















Tiada hari tanpa kenangan yang diabadikan dalam bentuk gambar. Baik itu rasa senang dan duka. Moment yang tak mungkin terlupakan bukan? Karena hidup akan terus berjalan dan waktu akan terus berputar ke depan. Bukan ke belakang, sehingga jangan sia-siakan waktu untuk hal yang tidak terlalu penting. Meskipun tak terlalu penting, tetapi terkadang juga perlu dilakukan.

Sekedar jalan-jalan bersama kawan, ngerumpi atau menonton film kesukaan. Merupakan moment yang akan manis untuk dikenang pada masa yang kan datang





























Ku hargai waktu ku tiap detik dan menit untuk ku abadaikan baik dalam bentuk foto maupun tulisan. Karena hidup tak kan bisa diulang pada masa lampau bukan? Life is going on baik kamu suka atau pun duka. Warnai lah hari mu, dunia mu dengan rasa syukur dan rasa suka cita. Karena tiap menit adalah hidup mu yang akan kamu ingat........

Oktober 23, 2008

Nobody Perfect

Akhir pekan kali ini, Anne memutuskan untuk berada di rumah. Setelah melalui hari berat, karena banyak surat komplain yang masuk terkait kolom dwi mingguan yang selalu digarapnya di salah satu majalah wanita yang ada di Indonesia. Anne selalu meluangkan waktu membaca surat-surat yang dikirimkan redaksi majalah dwi mingguan yang rutin dikirimkannya. Selain itu, bisnis salon dan butiknya pun mengalami pasang surut. Karena banyaknya persaingan yang sedang terjadi.

Di Batam itu unik. Setiap ada mall baru, mall lama selalu mati. Untunglah, mall yang dijadikan tempat Anne berbisnis sangat strategis dan nyaman. Serta kebanyakkan orang eklusif yang berbelanja di sana, baik itu pejabat maupun wisatawan asing.

Setiap akhir pekan, salon yang sekaligus butik itu selalu ramai dikunjungi wisata dari Singapura, Malaysia dan Australia. Lantaran tawaran harga yang ditawarkan di Purple Beauty and Boutiq lebih murah dibanding di Singapura. Serta fashion yang ditawarkan untuk perawatan kuku selalu trendi dan up to date.

Bisnis kecantikan ini tak sengaja masuk dalam kehidupan Anne, Anne jauh dari peralatan make up. Anne lebih suka tampil sederhana dan apa adanya. Namun, Anne ingin mencoba berbagai hal. Kebetulan Anne memiliki modal dan pekerjaan tetap sebagai kolomnis di majalah dwi mingguan, membuat Anne mempunyai banyak waktu luang.

Sejak dulu Anne bercita-cita menjadi penulis novel, tetapi hingga saat ini masih belum tersampaikan. Ya, karena menulis novel lebih ribet dibanding menjadi kolomnis yang membuat tulisan habis begitu saja. Beda dengan novel yang membutuhkan berbagai macam konflik dan juga ending cerita yang menarik dan membuat pembaca penasaran untuk menyelesaikan buku yang sedang dibaca.

Anne memiliki tubuh yang tidak terlalu gemuk dan montok. Setiap kali mengaca di cermin, pantulan tubuhnya terlihat begitu menarik. Namun, Anne merasa kurang nyaman dengan satu bagian tubuh yang berada dibagian depannya. Padahal, banyak wanita yang berusaha agar bagian tersebut tampak besar. Berbeda dengan Anne, ia ingin mengecilkan bagian payudaranya.

Sebab, memiliki ukuran penuh membuatnya merasa tak nyaman. Apalagi, kalau memakai baju presbody membuatnya menjadi risih. Karena beberapa mata usil para pria selalu memandang bagian sensitifnya itu dan membuatnya merasa tak nyaman sebagai wanita.

Setiap kali mengungkapkan itu, kepada sahabat dan teman wanitanya, selalu beranggapan bahwa Anne itu bodoh. Karena sebagian kawan wanitanya menilai itu suatu anugrah, tetapi Anne merasa itu membuatnya tidak nyaman. Usai mandi, seperti biasa Anne duduk didepan cermin memandang payudaranya dan berharap ukurannya bisa mengecil. Setidaknya standar seperti wanita yang hanya memiliki ukuran size 32 B dengan body badan yang tidak besar, seperti bodynya. Namun, ukuran panyudaranya itu membuatnya jadi risih.

Anne tiba-tiba teringat sama kawannya, Rosa. Rosa berharap memiliki payudara seperti milik Anne. ''Tukuran aja yuk,'' ujar ku pada Rosa saat itu.

Rosa hanya memandang dan tersenyum. ''Aku pengen banget memiliki panyudara seperti milik mu. Aku berencana akan membesarkannya dengan cara silikon,'' kata Rosa dan membuat Anne kaget.

''Bukan kah itu berbahaya,'' tanya Anne.

''Ya, mau bagaimana lagi,'' keluhnya. ''Aku berharap, aku bisa memiliki payudara yang penuh. Tidak seperti ini.

''Dipikirkan baik-baik,'' pinta ku pada Rosa. ''Ingat, beberapa kasus yang terjadi akibat silikon,''

Setelah pembicaraan yang tidak penting itu dua bulan lalu. Anne sudah lama tak bertemu dengan Rosa. Anne tiba-tiba teringat pembicaraan itu. Bahkan Anne pernah membaca article mengenai silikon yang berbahaya hingga membuat nyawa menjadi korban karena ingin menjadi cantik dan sempurna.

Anne tahu bahwa tidak ada wanita yang sempurna di dunia ini. Tetapi, Anne tahu bahwa wanita selalu ingin tampil menarik dan itu sudah menjadi rahasia umum. Segala pujian ingin didengar para wanita. Terbalik dengan Anne, Anne tak suka bila para pria -teman prianya- menilai dirinya dari fisik. Body seksi, payudara penuh. Sapa yang tidak ingin?

Dengan berbagai pertimbangan Anne mencoba untuk mencari informasi mengenai pengecilan payudara, bukan untuk membesarkan payudara. Sebagai wanita, tentunya, Anne juga memiliki keinginan untuk menggunakan bra dengan desain dan model yang menarik. Namun, dengan bentuk tubuh dan ukuran payudara yang penuh, Anne selalu merasa kesulitan untuk mendapatkan bra sesuai dengan ukuran dan bentuk tubuh sedangnya.

Akhir pekan dibulan Oktober itu dihabiskan Anne setengah harian untuk browsing di internet mencari informasi yang actual dan dapat dipercaya. Harga tak menjadi soal, bukan kah itu selalu menjadi bagian dari wanita yang ingin tampil menarik atau sesuai seperti yang diinginkan dan diharapkan.

Namun, kebanyakan informasi yang didapat untuk membesarkan, bukan mengecilkan. Anne sempat sedikit merasa depresi. Browsing di internet dihentikan, karena ponselnya berdering.
Dengan ogah-ogahan, Anne mengangkat telepon. Sebelumnya, Anne melihat dulu nomor yang tertera di LCD ponsel. Beth. ''Hi, Beth,'' sapa Anne.

''Pa kabar,'' suara Beth terdengar. ''Aku lagi di Batam neh. Kesinilah, aku tunggu di cafe seperti biasa ya. Batamcentre.

''Oke, dua puluh menit lagi, aku tiba disana,'' ujar ku sambil mematikan ponsel.

Anne pun memilih baju t'shirt warna merah dipandupadankan dengan rok jeans selutut dan ditambah celana legging dan sendal hak tinggi, senada dengan warna baju. Saat memandang tubuhnya, lagi-lagi Anne menghelakan nafas dan berharap ada keajaiban. Keajaiban bahwa Anne bangun dengan ukuran payudara yang kecil. Sehingga ia nyaman untuk berjalan-jalan ke mall tanpa menggunakan jaket untuk menutupi ukuran payudaranya yang penuh.

***

''Hi, sorry lama nunggu,'' ujar Anne saat melihat Beth sedang duduk di cafe paling pojok dengan tangan berada di layar monitor laptop.

''Never mind. Aku ingin kenalkan kamu dengan mantan bos ku, waktu aku kerja di Singapure,'' tutur Beth.

''Mana dia?,'' tanya ku.

''Lagi ke toilet. Tunggu sebentar aja. Makin gemuk aja tuh,'' ujar Beth sambil menunjuk payudara ku.

''kamu kaya gak tau aja neh. kalau berat badan ku naikkan, yang pertama kali kelihat bagian depan ma belakang. Bete neh, pengen dikecilin. kamu kan kerja di Hongkong, masa ngak tahu informasi untuk mengecilkan payudara,'' beber ku.

''Ada, aku pernah kesana. Cuma sekedar melihat-lihat. Tempatnya menarik, kebanyakan artis Hongkong melakukan perawatan disitu. Di bangun dalam bentuk lima lantai. Ntar aku kasih info ke kamu ya. Tapi, sayang lho,'' kata Beth.

''Hi, what are you talking about,'' sapa wanita yang langsung duduk disamping Beth.

''Hi, I wanna introduce you to my best friend. This is miss Anne and this is miss Rachel,'' ujar Bert memperkenakan kami.

''Nice to meet you,'' ujar kami bersamaan.

''Miss Rachel bisa bahasa Indonesia tetapi kurang lancar,'' terang Beth.

''Ok, never mind. Kami lagi membahas mengenai payudara,'' kata ku.

''Anne pengen mengecilkan payudara,'' ujar Bert menambahkan.

''kamu seperti aku, dulu aku juga melakukan operasi pengecilan payudara di Hongkong, dokternya the best. Tidak kelihatan bekas jahitannya rapi. Sekarang ukuran bra ku 32 a dari sebelumnya 34 B,'' jelas Rachel.

''Are you sure,'' tanya ku tak yakin.

''100 percen, i am sure. You can ask Beth. She know my size before of operasi,'' jawabnya. Ku lihat Beth mengangguk.

Rachel menuturkan, meskipun bagus, tetapi pasti ada dampaknya. ''keluarga ku terkena kanker payudara, seharusnya dipotong. Tetapi dokter masih bisa menyelamatkan panyudara ku tanpa perlu di potong. Masih ada bekasnya. dagingnya diambil dari bagian pantat ku,'' urainya.

Mendengar itu dengan spontan aku bertanya, ''koq bisa?''

''I don't know but it's true. I wish, you think about that, I know you feel not confidence with ur size. But no problem. Everything will be all right,'' ucap Rachel dengan mimik wajah yang serius.

***
Perbincangan di cafe yang tak direncanakan dan tak disangka membuka pemikiran Anne bahwa semua yang telah diberikanNya merupakan anugrah yang harus disyukuri. Walaupun ukuran kecil atau besar, asalkan jauh dari penyakit. semuanya baik-baik saja. Bukan kah itu lebih bagus.
''Thanks God, you open my mind in this time,'' doa Anne dalam hati saat perjalanan pulang ke rumahnya. Anne jadi mendapat bahan untuk pembasan kolom di majalah wanita.

--cuma fiktif--

@By Citra Pandiangan

Oktober 22, 2008

Copi Darat Yuk....

Cuaca pagi Batam sedang tidak bagus. Dari semalam hingga pagi hujan terus. Seakan-akan langit menumpahkan segala isi hatinya hingga membuat daerah Batam diredung duka yang tak berkesudahan. Matahari pun seakan engggan menampak kan sinarnya. Jam sudah menunjukan pukul 08.00 WIB. Namun, diluar masih terlihat seperti jam 05.00 WIB. Meskipun, Anne jarang bangun terlalu pagi, tetapi cuaca mendung dan hujan semalaman membuat Anne cepat tertidur dan cepat terbangun di pagi harinya.

Suana mendung membuat Anne enggan untuk meninggalkan kasur nyamannya. Kalau tidak ada penerimaan karyawan di salonnya, Anne malas untuk cepat-cepat mandi dan pergi. Dengan langkah gontai, Anne keluar dan mengambil beberapa koran dan mulai membaca headline di koran harian lokal. Lagi-lagi tentang pemerkosaan.

Dunia ini sepertinya, isi dikepala hanya sex, sex dan sex saja. Tidak ada yang lain, tiga hari lalu anak SD memperkosa temannya, minggu lalu, ayah tiri memperkosa anaknya, dan kini orang yang baru kenal memperkosa anak SMP. Aneh, Anne jadi ingat dimasa dia masih duduk dibangu SMA, untuk urusan pacaran aja Anne masih enggan. Sekarang, anak kecil, SD tepatnya sudah pada punya pacar. Anne aja bingung perubahan yang sangat cepat terjadi pada isi dunia. Karena dunia tidak pernah berubah, tetapi orang yang tinggal didalamnya lah yang banyak berubah.

Bola mata Anne terus menerus membaca baris demi baris di kolom koran yang sedang dibacanya. Sekali-kali Anne mengela nafas dan merasa aneh dengan 'kenyataan' dunia yang ia tinggalin sekarang ini. Anak SMP diperkosa pria yang baru dikenalnya, perkenalan melalui telepon dan diajak ketemuan. Lalu, terjadilah pemerkosaan.

Anne kembali teringat masa kuliahnya. Masa itu, terasa sangat menyenangkan. Kuliah di Jogjakarta yang terkenal dengan sebutan kota pelajar, membawa Anne pada masa-masa yang tak terlupakan. Sewaktu di Jogjakarta, berbagai hal telah dialaminya bersama teman-temannya.

Bila mengenang masa-masa itu, Anne selalu merasa kangen dengan tiga sahabatnya yang sudah tak ada lagi disampingnya, hubungan hanya sebatas mengirim email, surat, paket dan telepon. Sudah mulai jarang bertemu. Lantaran, masing-masing sudah sibuk dengan urusan pekerjaannya dan sudah meninggalkan kota gudeng itu.

Kini, pikiran Anne kembali ke masa-masa kuliah. Pada saat itu lagi demen yang namanya chatting baik melalui YM (Yahoo Massanger) maupun MRC. Bahkan, sahabatnya, Inne selalu menghabiskan waktunya di warnet (Warung Internet) yang dekat dengan kampusnya. Tidak hanya sahabatnya yang dirundung demam chatting, tetapi beberapa kawan kostnya pun juga sama.

Kejadian-kejadian unik pun terjadi di dunia nyata. Nink yang merupakan playgirl di kost-kost-an tersebut, memang paling doyan 'ngerjain orang', terutama pria. Nah, mulailah bahaya dunia maya menjadi bahasa sehari-hari dan mungkin sudah pernah dialami, copy darat. Setelah perbincangan dilakukan lewat chatting mulai merambah ke telepon, lalu copy darat --bertemu di dunia nyata--

Anne terkadang merasa senang membunuh waktu bosan dengan chatting, tetapi hanya sebata chatting di cyber world dan jarang berlanjut di dunia nyata. Karena sangat aneh dan lucu. Namun, sebagian kawannya beranggapan menarik dan suatu tantangan.

''Aku tadi chatting dengan anak kampus sebrang. Katanya, ntar malam mau main kesini,'' ujar Nink membunyarkan lamunan Anne.

''Oh, ya. Jangan lupa suruh bawa coklat or makanan. Kalau nggak tak boleh datang,'' kata ku sambil tertawa.

Sudah menjadi tradisi siapa saja pria yang datang ke kost yang berisi 10 wanita cantik harus membawa makanan. ''Ya, katanya dia mau membawa martabak,'' kata Nink sambil tertawa-tawa geli. Soalnya neh korban merupakan korban yang kedelapan.

''Asyik neh, ntar malam kita bakal makan martabak,'' sambung Otin saat melintas didepan kami.

Kami hanya tersenyum dan Nink yang memang sudah sering menerima telp dari pria yang menjadi korban kedelapannya itu sudah bersiap-siap memanti malam datang. Ditambah tidak hanya si dia saja yang bakal datang, tetapi Riyan juga akan datang pada malam yang sama, hanya jamnya berbeda.

Jarum jam sudah menunjukan pukul 19.00 WIB, seperti biasa, para penghuni kost nongkorng di teras atas. Karena kostannya tingkat. Keuntungan kost disitu, pria tidak boleh masuk ke kamar atau naik keatas. Jadi, aman deh.

Nah, si korban kedelapan pun datang. Pada saat pria berambut gondrong itu datang, kami sedang berada di teras. Nink sedang berdiri membelakangi pagar dan sebagian dari kami duduk dikursi ada yang sambil ngemil, baca, SMS-an. Berbagai aktivitas pun terlihat disitu sambil menunggu pertunjukan dan tentunya menunggu martabak.

''Malam,'' sapa pria gondrong yang notabennya merupakan korban Nink yang kedelapan. Karena kebanyakan penghuni kost, tamu yang mau bermain harus nelpon terlebih dahulu, buat janji gitu.

''Malam, cari siapa?,'' tanya Nink. Oh ya, mumpung ingat, untuk teman chatting masing-masing penghuni kost mempunyai nama panggilan atau samaran. Nah, nama Nink untuk chatting Anggi.

''Kamu Anggi kan?,'' pria tersebut bertanya pada Nink. Karena pria yang datang itu menyeramkan, jelek, tidak menarik membuat Nink jadi ilfeel. ''Bukan,'' kata Nink cepat. ''Aku Nink,''

''Tapi suaranya mirip dengan Anggi,'' ujar pria itu tak mau kalah.

''Ye, dibilang salah ya salah. Koq ngeyel seh. Tanya aja ma yang lain,'' kata Nink membela diri.

''Cari siapa mas,'' tanya Helga yang posisi duduknya strategis.

''Angginya, ada mba?,'' ulang pria itu.

''Tadi Angginya pergi. Dia titip pesan, kalau temannya datang suruh nunggu. Tapi dia ngak bilang pulang jam berapa. Telpon aja ke Hp-nya,'' saran Helga.

''Saya ngak punya nomornya. Jangan ngerjain saya donk. Tadi, saya telp dianya ada,'' ucap pria itu denan nada tinggi.

''Ye, siapa yang ngerjain. Memang Angginya ngak ada. Lagi keluar,'' kata Nink dengan nada ketus.

''Brengsek banget. Sudah, aku tahu kamu tuh Anggi, jangan kaya gini donk. Saya kan sudah jauh-jauh dari concat kesini. Kan, di telepon saya sudah bilang kalo saya tuh orangnya jelek. Katanya ngakpapa,'' gerutu pria itu sambil pergi dan membuang bungkusan itu ke tong sampah.

Begitu dia pergi dengan motor satrianya. spontan ketawa yang tadi ditahan-tahan, meledak. ''Keterlaluan kamu Nink,'' kata ku sambil melempar bantal yang dari tadi pengen ku lempar kan ke Nink.

''Ye, orangnya jelek dan menyeramkan. Ogah deh, tenang aja martabak bakal tetap ada,'' sehutnya sambil tertawa.

''Seharusnya bukan kamu donk yang bicara, kan suaranya sama. Makanya dia marah,'' timpal Otin.

''Biarin,'' ujar Nink sambil cengengesan.

''Tuh, korban mu datang lagi,'' tunjuk Helga pada pria yang keluar dari mobil.

''suit... Riyan datang tuh,'' siul Anne pada Nink.

''Tenang, kali ini pasti dia bawa makanan,'' tutur Nink sambil melemparkan bantal ke arah ku.

''Mana makananya, kalau kesini wajib bayar pajak,'' teriak Otin pada Riyan.

Riyan yang mendengar tersenyum sambil berkata,'' Nih, ambil kesini. Kalau nggak tak bawa pulang lagi,''

''Ambil sana, An'' pinta Otin. ''Baju ku terlalu pendek. Baju mu kan lebih sopan dibanding kami.

''Ya deh, tapi jatah ku lebih banyak ya,'' kata ku sambil turun ke bawah.

''Hai, mana makanannya Yan,'' ujar ku sambil mengulurkan tangan.

''Kenalan dulu kek,'' katanya, ''Bener ngak Anggi,'' ujarnya mencari persetujuan. Anggi alias Nink hanya mengangguk sambil tertawa.

''Nama ku Kirei,'' sehut ku. ''So, mana tuh makanannya,''

''Kirey pakai I or Y,'' tanyanya

''Ya, pakai I donk yan berarti cantik dalam bahasa Jepang,'' jawab ku sambil meninggalkannya dengan membawa kantong plastin yang bertulisan morning bakery.

''Eh, tapi nama mu kan An, tadi kawan mu yang bilang,'' teriaknya.

''Itu nama panggilan di rumah. Kalau tuk kamu ya Kirei,'' sehut ku.

Akhirnya Nink dan Riyan meninggalkan kami dengan sekantong makanan. Sebelum Nink meninggalkan kami, dia mengajak Yuni untuk menemaninya.

Kebanyakan dari kawan-kawann bila copy darat selalu mengajak kawan atau di tempat keramaian dan tak mau diantar pulang. Mereka berpendapat, akan terlalu bahaya. Menghindari hal-hal yang tak menyenangkan terjadi.

Anne jadi kembali teringat saran-saran yang diberikan kawannya yang sekarang entah berada dimana. Bila bertemu dengan pria yang baru dikenalnya harus di lingkungan yang ramai. Ajak kawan yang bisa dipercaya. Jangan sampai bertemu di tempat-tempat yang sepi atau jauh dari lingkungan yang tak dikenal.

--cerita ini fiksi ya--
@By Citra Pandiangan

Oktober 21, 2008

Kemelut Rumah Tangga

Terkadang aku merasa bingung harus berada dipihak mana, antara persoalan yang sedang dihadapi kawan ku. Terlalu banyak hal yang harus diambil. Bersikap tegas dalam membuat suatu keputusan tentu saja sulit. Apalagi kalau sudah menyangkut hubungan dalam rumah tangga. Karena, aku sendiri pun belum pernah tau bagaimana rasanya kemelut dalam rumahtangga. Sebab, aku sendiri masih menyandang status single. Lebih nyaman dan enak --hehe--

Kawan ku tentunya perempuan, sudah ku anggap tante sendiri. Nah, persoalannya dari dulu adalah hubungan yang tak harmonis antara dia dan suaminya. Pasalnya, suaminya selalu bertingkah kanak-kanak dan sudah menjadi-jadi. Saat ini, dia sedang mengandung lagi, anak ketiga tepatnya. Sayangnya, tingkah laku pria tersebut tidak bisa dibilang dewasa --menyebalkan memang sikap yang tak gentelman--

Aku jadi teringat beberapa tahun silam, sempat terjadi pertengkaran yang luar biasa. Saat itu dia meminta cerai, tetapi suaminya memohon untuk tidak diceraikan. Tekad sudah bulat, bahkan didukung keluarga. Ternyata, sia-sia tekad yang sudah diambil untuk bercerai. Sebab, suaminya mengancam bunuh diri. Ancaman tersebut dilakukan juga dengan meminum baigon.

Sungguh ironis bukan? Terpaksa dengan sisa-sisa cinta yang masih tersisa dan sudah tak ada lagi penghargaan atas diri sang suami. Dipersalahkan mertua, karena hampir kehilangan anak yang terbaiknya. Karena mencoba bunuh diri. Kejadian ini pun kembali berulang.

Tentunya, kasihan pada mental kedua anaknya yang masih kecil. Meskipun saat ini satunya sudah duduk di SMP dan satunya SD. Namun, tetap saja tak baik bagi perkembangan mental si anak bukan? Ya, kali ini aku hanya sebagai pendengar dan tak bisa melihat langsung kondisinya.

Waktu lagi kerja, aku mendapat SMS bertulisan : Gw kelaparan neh. Mo masak, gak bisa mencium bau masakan. Mau beli, gw ngak bisa bawa motor ndiri. Gw tersiksa hari ini.

Membaca itu, aku jadi merasa kasihan dan aku pun membalas SMS tersebut. Ngak ada yang bisa dimintaiin tolong kah, si itu mana?

Balasan SMS na : Siapa? Kemarin minta tolong murid eh dia nyerempet motor orang. Kalo si itu sudah tak peduli lagi. Kami dah lama tak saling peduli.

Wah itu cuplikan sedikit sms antara aku dan kawan ku. Terkadang aku berpikir apa yang salah dari hubungan? Orangnya, sikapnya atau apanya? Kenapa sikap tak saling peduli itu timbul. Seharusnya kan, pria harus bersikap tegas dan tegar dalam menghadapi sesuatu, bukannya mengancam akan bunuh diri bila dirundung masalah. Itu tidak menyelesaikan persoalan dalam hidup. Malah, akan menambah persoalan baru, baik itu jangka panjang maupun jangka pendek.

Hidup ini unik? Memang, kalau berbicara lebih mudah dibanding menjalaninya. Itu, aku tahu. Tak perlu dikasih tahu --sok dewasa deh gw-- Berbagai persoalan rumahtangga kerap terjadi diantara hubungan? Tetapi kata orang itu adalah bumbu dalam kehidupan. Tetapi terpulang dari bagaimana mereka menyingkapi persoalan.

Kalo pemikiran ku dan udah ku utarakan padanya, saat kawan ku bilang mau bercerai, SMS ku tulis begini: Ya, kamu harus tegas. Bahwa persoalan bunuh diri tuh tak kan menyelesaikan persoalan. Kalo kamu udah bulat. Lakukan aja. Pegang pada prinsip yang menurut mu benar. Aku selalu berpedoman pada itu hehe.. Biar aja orang menilai Qt ego. Karena Qt hidup tuk diri sendiri. Kalo ikut kata orlin --orang lain-- kapan Qt maju en hepi. Bener tak?

Bulatkan tekad!!!! Banyak orang yang memang susah untuk membulatkan tekad dalam kehidupan. Terlalu banyak pertimbangan hingga membuat hidup yang seharusnya tidak rumit menjadi kemelut yang berkepanjangan. Hidup adalah sebuah pilihan, lakukan lah meskipun itu benar atau salah. Karena yang menjalani adalah diri mu sendiri. Kamu bahagi dan menderita, orang tak pernah peduli. Mereka hanya suka mencemooh dan bergosip.

Kenapa mesti pusing memikirkan orang lain. Karena yang menjalani hidup ya kita sendiri. Kita yang tahu mana yang terbaik untuk diri sendiri. Walaupun terkadang putusan yang diambil itu salah. Satu-satunya cara untuk melepaskan kemelut dengan berdoa. Karena dengan berdoa, hidup akan menjadi sedikit ringan. Karena Tuhan merupakan sahabat sejati yang tak pernah bosan-bosannya mendengarkan keluh kesah kita. Kapan pun kita butuh DIa selalu ada.

Sungguh sabahat yang abadi, walaupun terkadang kita suka melupakannya disaat senang. Tetapi Dia tak pernah tinggalkan dirimu sedikit saja.

Pengaruh Buruk Rokok

Banyak orang muda merasa kurang gentelman jika tidak merokok atau merasa kurang pede, seperti Irvan merasa kurang pede jika duduk-duduk dengan Edo Cs yang sedang asyik merokok dihadapannya. Mungkin, kamu seperti Dave yang mencoba-coba merokok sekalinya keterusan dan menjadi kecanduan. Jika tidak merokok ada yang hilang didalam dirinya. Sebagian orang muda, terutama pria. Sering merasa diejek kawannya jika tidak merokok. Merokok bagi sebagian besar dikalangan remaja pria memang mengasikan. Bahkan, katanya dengan merokok dapat menghilangkan stres dengan menyendiri sambil menghisap sebatang rokok.

Saat ini dikalangan anak muda di Indonesia didapati merokok baik itu remaja putri maupun pria. Mereka tidak menyadari bahaya yang datan pada mereka di masa yang akan datang. Merokok dapat melemahkan kapasitas orang-orang muda dalam bidang atletik atau olahraga. Buktinya, hanya sedikit juara atletik yang terus merokok didalam latihannya. Pada umumnya, mereka sependapat bahwa merokok dapat menghambat prestasinya.

Sekarang ini, banyak sistem perdagangan dan iklan rokok yan sistematis telah membuat rokok sebagai bagian dalam pergaulan. Ini tentunya, sangat berbahaya bagi remaja. Bahkan saat ini sudah ada rokok tanpa asap (smokeless) dalam bentuk tablet hisap.

Rokok seperti ini sangat berbahaya karena rokok ini berupa tembakau yang dikunyah atau snuffobacco. Rokok dapat menimbulkan ketergantungan atau kecanduan.

Ada tiga macam pengaruh buruk rokok dengan sadar atau tidak rokok telah merongrong ekonomi pribadi atau keluarga. Rokok juga membahayakan oranglain dan merusak kesehatan sendiri. Mungkin pengaruh2 itu tidak terasa langsung oleh beberapa kalangan anak muda.

Merokok adalah satu faktor yang mempengaruhi ekonomi dan kesehatan setiap perokok. Perokok menengah pada umumnya adalah anak muda yang menghisap satu bungkus rokok setiap hari. Misalnya satu bungkus Rp6000 x 30 hari =Rp180 ribu per tahun. Itu adalah pengeluaran yang mewah bagi anak remaja yang masih meminta uang orangtua.

PENYAKIT AKIBAT ROKOK

Banyak orangmuda yang tak menyadari penyakit yang diakibatkan asap rokok. Kalangan medis dan ilmuwan sudah jelas mengakui bahwa karsinogen asap rokok adalah penyebab penyakit kanker dan kematian. Bahkan kadar racun nikotin yang terdapat pada rokok menimbulkan ketidaktentuan jantung dan juga memasukan zat kimia kedalam sistem pembuluh darah yang disebut CATECOLAMINE.

Penyakit jantung terdapat dua kali lebih banyak pada orang perokok dibandin dengan orang yang tidak perokok. Juga karbonmonoksida pada rokok tersebut menghalagi masuknya oksigen pada jantung yang dapat mengakibatkan serangan jantung yang tiba-tiba.

Apalagi uratnadi pembuluhdarah yang membekali masuknya otot-otot jantung dengan darah telah diendapi penyakit yang disebabkan nikotin dan karbon monoksida dari rokok itu,

Bahkan ada beberapa penyakit jenis kanker yang dapat diderita seorang perokok yakni kanker mulut dan kanker bibir lebih banyak diderita perkokok. Itu disebabkan karena panas dari asap rokok terutama kalau perkok itu menggunakan pipa.

Selain itu, faktor lain penyebab kanker mulut dan kanker bibir dikarenakan adanya ter pada asap rokok yang merupakan zat penyebab kanker. Tidak hanya itu saja, perokok juga dapat menderita penyakit kanker kerongkongan, paru-paru dan usus lima sampai 10 kali lebih cenderung dari yang bukan perokok.

Kadang sebagaian pemuda yang merokok tahu akibatnya tetapi tetap saja melakukannya. Mungkin, sebagian dari mereka berkata pada dirinya sendiri ''Aku ini sudah merokok sejak beberapa tahun lalu, tetapi sampai sekarang tidak juga mendapat penyakit kanker,''

Penelitian mengatakan bahwa kanker paru-paru itu mengambil waktu 20 tahun lamanya untuk mengembang.

MENGHINDARI ROKOK

Banyak kalangan anak muda yang ingin lepas dari pengaruh rokok, tetapi tidak tahu caranya. Sebenarnya, tidak ada cara yang sederhana dan tidak ada obat yang dapat mengatasinya. Jika kamu benar-benar ingin berhenti ada dengan cara sederhanya yakni bulatkan tekad pribadi untuk tidak merokok lagi. Setelah menetapkan waktunya, berkatalah pada diri sendiri bahwa ''MULAI SAAT INI AKU BERHENTI MEROKOK SAMA SEKALI.''

Atas kemauan sendiri mau tentunya hal itu akan berhasil dan ternyata banyak anak muda dan dewasa yang berhasil menghentikan pengaruh buruk rokok pada diri sendiri.

@By Citra Pandiangan

Mejeng Dulu Ach









































Oktober 20, 2008

Bunuh Diri Demi Cinta No Way

Belakangan ini banyak sekali surat kabar maupun televisi menanyangkan kasus pembunuhan. Berbagai macam versi yang berbeda, ada yang bunuh diri karena putus cinta, ekonomi, dan berbagai macam alasan lainnya yang bisa dibilang tak masuk diakal. Nyawa itu kan sangat berharga. Masa mau dihentikan untuk alasan yang tak pernah bisa diduga.

Anne masih berada di dalam kamarnya, meskipun berukuran 4 x 4 tetapi didesain dengan nyaman. Dinding yang dipilihnya berwarna ungu muda kebiru-biruan. Tempat tidur yang nyaman, meja rias berada di depannya. Sedangkan meja computernya diletakkan dekat jendela yang ada taman kecilnya. Sehingga saat bekerja menulis bahan ceritanya. Ia bisa memandang pemandangan.

Kasus bunuh diri mengingatkannya pada teman masa kuliahnya. Sebut saja Marie. Marie merupakan kakak kelasnya satu tingkat jurusan informatika computer di salah satu perguruan swasta di Bandung. Kos-kosan yang berjumlah 25 kamar yang terdiri dari wanita semua. Selalu ceria dan ramai.

Apalagi yang menempati tidak hanya satu jurusan dan satu kampus. Melainkan dari berbagai perguruan tinggi yang ada di kota yang terkenal dengan peyemnya itu. Marie sama seperti yang lain mempunyai pacar. Lumayan kata kawan-kawan yang lain, untuk mengisi waktu luang dan ada bodyguard gratis. Karena aku masih baru di Bandung dan berniat tidak mau pacaran, jadi anteng-anteng aja.

Pernah pada suatu ketika, terjadi keributan yang luar biasa di malam minggu antara Marie dan Yovie. Yovie mengaku tidak bisa datang mengapel. Lantaran, ada urusan kampus. Jelas saja, Marie tidak percaya. '"Mana ada urusan malam minggu di kampus. Manknya, aku orang bodoh,'' teriak Marie di telepon, yang spontan saja suara teriakan di ruang televisi itu mengundang perhatian beberapa teman dan juga aku yang sedang duduk di teras atas.

''Ada apa,'' tanya Otin.

Kami saling menggelengkan kepala dan ada yan mengangkat bahu tanda tak tahu apa yang terjadi di ruang televisi yang hanya berisikan Marie. ''Kalau kamu tak datang, aku akan bunuh diri neh,'' katanya lagi, kali ini suaranya tidak menggema di ruang televisi yang luas dan kosong itu.

Otin yang masih penasaran pun menanyakan lagi ke kami apa yang terjadi. Kali ini, Sinta menjawab, biasa lah berantem dengan pacarnya.

Aku yang masih terbilang baru berada di kos-kosan tersebut diam saja dan melanjutkan membaca buku Chicken Soup for the Soul yang barusan aku beli di Gramedia masih berada di teras depan.

Tak lama kemudian, Marie yang selesai menerima telepon dari sang kekasih itu pun langsung ke bawah tanpa basa-basi. Biasanya kan nyapa dulu, sambil duduk. Sempat terjadi keheranan antara Elmi dan Otin. Pasalnya, kamar Marie itu diatas, terus ngapain dia ke bawah. Dalam pemikiran ku, ia mau menelpon ke wartel melanjutkan pertengkaran dengan Yovie.

Selang beberapa menit, Marie ke atas sambil membawa pisau. Dengan rasa penasaran Otin pun menanyakan untuk apa itu. ''Tuk apa tuh pisau,'' tanya Otin sambil ngelihat benda tajam yang berada di tangan Marie.

''Untuk bunuh diri,'' jawabnya masih dengan sisa-sisa air mata di pipinya.

''Oh,'' kata Otin, yang lainnya masih tetap bercakap-cakap seperti biasa.

Marie pun masuk ke kamarnya dan tak keluar-keluar selang beberapa menit, setelah masuk ke dalam. Otin yang mank dari tadi penasaran pun kembali merasa cemas dengan pikiran bahwa apa yang dikatakan Marie benar. DIA MAU BUNUH DIRI.

''Bagaimana ini, jangan-jangan dia mau bunuh diri beneran,'' tanya Otin cemas.

''Biar aja,'' kata Elmi. ''Paling dia cuma mau mencari sensasi aja,'' sambungnya cepat.

''Mank, sering seperti itu ya Marie,'' tanya ku polos.

''Ya gitu deh,'' jawab Elmi, Helga serempak.

''Koq bisa,'' tanya ku lagi sambil mengalihkan pandangan ke kamar Marie yang sepi.

''Paling juga cari perhatian,'' kata Helga.

Otin dengan cepat bertanya, ''kalau benaran bagaimana?,''

''Ngak mungkin,'' ujar Wati sambil membenarkan kacamatanya.

Otin yang mank selalu panikan pun berusaha mengetuk kamar Marie, tetapi tak ada sehutan. ''Bagaimana neh,'' tanyanya panik pada kami.

Aku pun juga mulai sedikit panik karena reaksi Otin yang berlebihan. Sedangkan empat kawan ku yang lain bersantai.

''Kalau bunuh diri demi cowoq yang super ganteng ga masalah,'' sehut Nink yang dari tadi diam saja.

Aku pun semakin bingung di buatnya. ''Nyantai aja Anne, dah sering koq. Dah capek. Otin aja yang mank selalu begini. Paling cari perhatian,'' kata Nink lagi.

Otin yang memang benar-benar super panik, langsung memanggil Yuni. ''Yun,'' teriaknya.

Tak lama, pintu terbuka, ''Ada apa,'' teriak Yuni membalas teriakan Otin. Karena kamar Yuni berada paling bawah, ujung lagi.

''Kesinilah sebentar, ada yang mau aku bicarakan,'' sehut Otin dengan masih nada teriak.

Yuni pun langsung menuju keatas. Otin dengan semangat empat lima pun menceritakan mengenai Marie. ''Terus aku harus bagaimana,'' tanya Yuni bingung.

''Masuk ke kamarnya kek, atau apa ajalah,'' jawab Otin sekenanya.

''Aku coba deh,'' kata Yuni, sambil mengetuk kamar Marie.

''Marie, ini aku Yuni,'' ujar Yuni dengan nada jawa medoknya.

Sekali, dua kali, tak ada sehutan dari dalam. Yuni yang memang suka ikut kegiatan Mapalah dan sebagainya itu pun mulai mengancam. ''Kalau ngak dibuka pintunya, aku suruh kawan dobrak pintu atau panggil bapak kos lo,'' ancamnya.

Mendengar hal itu, Marie pun membuka kan pintu dan menyuruh Yuni masuk... Akhirnya percobaan bunuh diri pun gagal. Sebagian kawan yang berada disitu pada ketawa ditahan. ''Dasar bodoh,'' tutur Wati sinis.

Aneh, pikir ku. ''Koq ada orang yang mau mencoba bunuh diri cuma untuk pacar. Manknya diapain seh, sampai seperti itu,''

***

Keesokannya, Marie bersikap seperti biasa, kaya tak terjadi hal yang menghebohkan. Karena penasaran, aku menanyakan prihal semalam. Ia hanya tertawa-tawa saja. ''Aku sebel ma dia,'' sehutnya dengan mimik cemberut.

Marie sangat cantik, menurut ku. Walaupun berasal dari daerah Banyumas, ia mirip India, hidungnya mancung dengan warna kulit coklat dan dengan paras wajah yang ayu. ''Sebel boleh aja, tapi kan ngak perlu bunuh diri, kan rugi,'' tanya ku lagi.

''Kalau ngak digituin, dia ngak akan datang,'' katanya membela diri.

''Buktinya, dia ngak datang kan. Buat apa seh repot-rerot seperti itu. Kamu kan cantik,'' ujar ku.

''Kamu ngak tahu seh rasanya,'' ucapnya sekenanya.

***

Aku pikir itu pengalaman pertama dan terakhir melihat teman mau bunuh diri demi pria. Ternyata juga tidak. Sewaktu aku bekerja di Jakarta, pengalaman ini pun kembali terulang. Kali ini terjadi pada rekan bisnis ku. Lagi-lagi karena pria. Sehebat apa seh pria itu, sampai membuat wanita rela mati demi dia. Bunuh diri demi cinta, no way lah. Tak ada di kamus ku.

Lamunan Anne terhenti, karena bel pintu rumahnya berbunyi. Cepat-cepat Anne keluar dari kamarnya menuju depan. Sebelum membuka kan pintu, Anne melihat dulu tamu yang datang. Ternyata pak pos. Anne pun langsung membuka kan pintu.

''Met sore mba, benar ini rumah mba Anne,'' tanya pak Pos ramah.

''Bener pak,'' balas ku.

''Ini ada surat, tolong ditandatangi ya mba,'' ujarnya sambil mengulurkan beberapa surat dan juga paket. Setelah aku menandatanganinya. Ia pun langsung pergi. Aku melihat-lihat surat sekilas siapa tahu ada yang penting, ternyata dari beberapa orang yang mau memberikan komentar mengenai tulisan yang ku buat.
Sebelum kembali ke kamar dan melanjutkan pekerjaan ku. Aku menuju dapur membuat milkshake chocolate plus mengambil cake dari lemari pendingin.

Aku masih tak habis pikir mengenai orang yan rela melukai dirinya demi pria yang dicintainya dan kalau ku bilang itu adalah hal yang bodoh untuk dilakukan. Kembali aku mengingat kejadian yang sempat menghebohkan beberapa kawan. Hal itu dikarenakan, rekan bisnis mencoba melakukan percobaan bunuh diri. Lantaran, pacarnya memutuskan sepihak. Lucu banget deh dunia ini. Memangnya pria cuma satu apa di dunia ini. Sehingga rela melukai dirinya sendiri.

Aku tahu hal itu dari sahabat ku Viona, Vio nama panggilan ku untuk dirinya. Saat itu, ia tidur di kost ku, seperti biasa. Kalau aku lagi suntuk atau dia or ada banyak yang mau diceritakan tentang pacarnya ataupun pekerjaannya. Ia selalu menginap di tempat ku. Begitu sebaliknya.

Sekitar pukul 12.00 malam, ponsel Vio berbunyi dari Kelly. ''Kelly,'' katanya sambil menunjukan layar ponselnya.

Aku melihat sambil berujar, ''Ya, angkat aja,''

Ia menjawab, ''Malas,''

Ponsel pun terus berdering. ''Angkatlah Vio, sapa tahu penting,''

''Halo,'' salam Vio. ''Ada apa,'' tanya Vio, dan langung dijawab, ''Aku mau bunuh diri,''

''Kenapa,'' tanya Vio.

''Kesinilah, aku mau bunuh diri,'' ujarnya.

Ach, please deh, bunuh diri koq bilang-bilang. ''Manknya ada apa,'' tanya Vio sambil memandang pada ku. Aku hanya menggelengkan kepala. ''Bunuh diri koq bilang-bilang,''

''Aku diputusin ma bang Riyan,'' ucapnya sambil tersendu sendan.

''Ya, sudah nyantai aja. Ini sudah malam, rumah ku jauh dari rumah mu. Apalagi, aku lagi menginap di rumah Anne,'' sehut Vio.

''Besok dibahas ya,'' kata Vio lagi.

''Kalau ngak kesini aku bunuh diri,'' ancam Kelly.

Vio pun semakin heran. ''sudah lah, lagi pula motor ku lagi ngak ada. Aku kesana mau naik apa,'' tolak Vio sambil menutup telepon.

''Bagaimana ini?,'' tanya Vio pada ku.

''Cuekin aja lah. Paling juga mau mencari perhatian,'' ujar ku sambil mengingat kejadian Marie waktu masa kuliah dulu.

''Bener neh, kalau dia bunuh diri. Ntar aku yang dipersalahkan,'' katanya panik.

''Rileks. Udahlah,'' ucap ku. ''Ingat waktu itu, dia juga mau bunuh diri kan. Kamu sendiri yang cerita,'' kata ku lagi.

Vio pun mengingat dan mengangguk. ''Iya'' Waktu itu, Kelly juga menelpon Vio untuk bunuh diri, ternyata karena bensinnya mank beneran abis, Ngak bisa kesana. Akhirnya ia pun memotong urat nadi tangannya untuk mengakhiri hidupnya. Namun, ia menelpon Vio kembali untuk diantar ke rumah sakit.

'Karena merasa tak enak, akhirnya Vio pun mengatarkannya ke rumah sakit dengan menggunakan sepeda motor teman kosnya. Kejadian itu pun kembali terulang. Kali ini, Vio bersikap tegas, tidak mau kesana.

''Bagaimana ya, kalau dia nekad lagi,'' tanya Vio sambil berusaha memejamkan mata, jam sudah menunjukan pukul 01.00 dini hari.

''Sudah lah, tidur yuk. Besok kita kan harus kerja. Kita lihat aja besok, beneran mati ngak,'' sehut ku asal.

''Nanti, aku disalahkan keluarganya,'' katanya sambil memandang ku.

Wajahnya mulai terlihat panik, kata ku, kalau mau bunuh diri waktu itu, kenapa tidak pas di urat nadi. Pasti tidak sempat tertolong. Sudahlah, dia cuma cari sensasi aja. ''Kita buktikan aja besok ya,'' kata ku lag
i.

Vio pun menganggukkan kepala dan mematikan ponselnya. Wait and see. Itulah yang kami tunggu keesokan harinya. Ternyata ancaman tuh anak, tidak terbukti. Buktinya, seperti biasa. Namun yang tak habis ku pikir. Kenapa, mau bunuh diri demi pria.

''Dunia ini sudah gila,'' pikir ku. ''Begitu gampang menghabiskan nyawa sendiri untuk hal-hal yang tak berguna. Salah satunya mati demi pria, no way,''

Prinsip hidup ku, sebagaimana pun mencintai pria jangan sampai memberikan sepenuhnya cinta itu untuknya. Cukup berikan kadar 40 persen atau kalau bisa 30 persen. Sehingga kelak cinta itu tak kan membunuh or menyakiti mu.

***

Apalah arti dari cinta?
Bila itu hanya menyakitkan satu dengan yang lain.
Suatu hubungan yang seharusnya didasari pengertian
Sudah tak lagi berjalan....
Untuk apa dipertahankan dengan berbagai cara
Hanya orang bodohlah yang mempertahankan
Dengan cara bunuh diri....

Karena belum tentu, pria itu layak untuk dipertahankan
Cinta itu memang penuh dengan perjuangan
Tapi bukan berkorban nyawa untuk hal yang sia-sia
Karena cinta itu nantinya akan menghilang dengan sendiri

Hidup ini indah untuk dipertahankan
Walaupun tak ada cinta lagi dari sang kekasih
Bukan berarti dunia ini kiamat, bukan?
Karena masih banyak cinta yang lain

Sebab hidup itu bukan hanya untuk pria saja
Hidup untuk orang lain yang mengasihi mu tanpa henti
Life is going on without man............

--cerita ini fiktif ya--

@by Citra Pandiangan

Oktober 19, 2008

Best Friend

Tiada sahabat yang tak mengerti kesusahan kawannya
Tiada sahabat yang tak peduli terhadap penderitaan mu
Tiada sahabat yang sempurna di dunia ini . . . .
Tetapi ia mencoba menjadi sahabat yang terbaik

Dalam menjalin persahabatan dibutuhkan kesabaran
Dibutuhkan sikap saling pengertian . . . .
Dibutuhkan sikap saling peduli dalam menjalaninya
Hingga tak perlu kata-kata untuk menguatkan kesusahan

Hanya dalam pandangan yang penuh arti
Seakan persoalan sebagian sudah dibagi
Tanpa perlu menceritakan secara detail
Seorang sahabat akan berani berkata salah dan benar
Bila memang kamu salah ataupun benar . . . .

Karena sahabat ingin mendapatkan yang terbaik bagi sahabatnya
Tak ada satupun sahabat ingin melukai perasaan kawannya tanpa sengaja
Kemelut kehidupan akan terasa ringan bila dibagi bersama sahabat
Karena sahabat merupakan hal yang terindah yang bisa dimiliki

Meskipun terjadi perbedaan prinsip dan pemikirian
Tanpa sahabat, hidup akan terasa kurang sempurna
Walaupun memang hidup dilingkungan yang tak sempurna
Bersama sahabat hidup akan terus sempurna dan indah
Karena tak ada seorang pun yang tak memiliki sahabat

Walaupun jauh, walaupun tak terlihat lagi
Sahabat merupakan hal yang selalu diinginkan semua orang
Karena dengan adanya sahabat hidup menjadi lebih riang
Sahabat merupakan bagian dari hidup yang tak terpisahkan

@ by Citra Pandiangan

Ku Bertahan Demi Bayi Ku

Hari ini berbeda seperti biasa, Anne sedang pergi ke rumah bersalin. Bukan untuk melahirkan. Karena Anne masih mempertahankan status single yang melekat pada dirinya. Ia enggan berkomitmen dengan pria, meskipun ia telah memiliki kekasih yang bekerja sebagai EO di Jakarta. Namun, ia enggan untuk melakukan hubungan serius dengan kekasih yang sudah menjalin hubungan tiga tahun lebih. Padahal, sang kekasih sudah mengajaknya untuk menjalin hubungan lebih jauh lagi, tetapi selalu ditolaknya dengan seribu alasan.

Anne jarang mau berhubungan dengan rumah sakit, meskipun itu klinik. Bau obat membuatnya merasa jadi tak enak badan. Segala hal yang berhubungan dengan rumah sakit selalu dihindarinya.

Kini, ia terpaksa datang ke rumah bersalin. Meskipun bersih, tetap saja membuatnya malas berlama-lama. Namun, begitu melihat bayi sahabatnya yang lucu. Ia melupakan rasa mulal akibat berbagai bau obat-obatan yang ada di rumah sakit. Apalagi kunjungannya ke kamar Tia merupakan jam makan si baby. Sehingga ia bisa melihat tubuh mungil yang dibalut selimut yang berwarna ungu dengan motif bunga-bunga yang menarik.

Wajahnya tak berdosa, lugu dan lucu. Mengemaskan, kalau sudah usia satu tahun, pasti pipi montoknya bisa 'hancur' karena kena cubit gemes dan sayang dari saudara-saudaranya bahkan teman-teman mamanya. Bayi itu itu diberi nama Fransisca, lahir di bulan Oktober. Bahkan, sangking gemesnya, Anne mengabadikan Fransisca dalam bentuk picture di ponselnya.

''Lucu banget anak mu Ta,'' ujar Anne tanpa lepas memandang wajah yang sedang melahap susu pada bundanya.

''Makanya, cepetan donk nikah. Biar bisa punya baby,'' kata Tia sambil mengelus kepala Fransisca yang masih berbau samphoo.

''Mank, harus menikah dulu ya. Baru bisa punya anak,'' tanya Anne.

Pertanyaan tersebut tentu saja mengejutkan Ita. ''Ya iyalah,'' ujarnya cepat sambil memandang Anne bingung. ''Kalau mau punya anak ya harus nikah dulu, mank bisa dengan ajaib tiba-tiba punya anak,''

''Adopsi,'' jawab ku cepat untuk memendangkan argumen ku.

''Mana bisa, kamu kan belum menikah, mana bisa mengadopsi anak,'' ujarnya sambil tetap memandang Fransisca, bayi mungil yang nyaman berada dalam pelukan bundanya.

''Menikah kaya kamu untuk mendapatkan status, lalu ditinggal suami. Ogah aku,'' tutur ku. Aku tersentak kaget saat menyadari apa yang sedang aku bicarakan. ''Maaf,'' kata ku sambil mengampirinya. ''Aku tak bermaksud,'' ujar ku jadi serba salah.

''Aku tahu,'' sebutnya cepat tanpa memalingkan wajah dari bayinya.

''Tapi kamu beruntung memiliki Fransisca. Itu yang terpenting bukan dari segala hal di dunia ini,'' ucap ku sambil memegang lengannya. ''Kamu tahu, kamu orang yang paling beruntung,''

Dia hanya memandang ku hambar. ''Maaf kan aku,'' kata ku lirih.

''Kamu ini, santai aja lagi. Aku tahu, pasti kamu akan bilang begitu. Kamu kan wanita berdarah dingin terhadap pria,'' kata Ita sambil tertawa dan membuat Fransisca yang sedang terlena dipelukannya tersentak kaget dan langsung tertidur kembali hanya dengan belaian lembut sang bunda.

***

Kenapa pria itu selalu ingin menang sendiri dalam segala hal. Terkadang, kebanyakan wanita yang selalu menjadi korban. Sedangkan pria selalu saja dapat menikmati kesenangan yang dia mau dan pergi tanpa meninggalkan jejak.

''Aku benci pria,'' keluh Anne sambil tetap memandang jalanan gelap menuju rumahnya.

Pria itu egois dan selalu ingin menang sendiri, tidak mau disalahkan dan ini sudah terbukti banyak kasus. Meskipun tak semua pria seperti itu. Tapi, kalau dibandingkan 10:1. Sedikit untuk bisa menemukan pria sejati. Anne kembali mengingat pembicaraan dengan teman lamanya.

Saat itu, Anne sedang berada di Hongkong, mencari beberapa trend fashion yang akan menambah style salon kecilnya. Apalagi, beberapa minggu tulisan untuk di kolom majalah dwi mingguan juga sudah selesai dikerjakan, article itu kini sudah berada di meja redaksi majalah dwi mingguan. Akhirnya, Anne memutuskan pergi untuk berjalan-jalan. Sekalian untuk mengupdate trend fashion nail dan juga sedikit busana fashion yang akan dipajang di salon plus butik kecilnya.

Waktu itu, Anne mendapat kabar bahwa sahabatnya yang di Jakarta telah melahirkan dan suaminya tak pernah kembali. Sungguh kejam. Anak pertama yang dilahirkan itu sejak dikandungan tak pernah dilihat ayahnya. Sungguh aneh dan tak bisa masuk akal. Kenapa ada pria yang begitu tega meninggalkan istri tanpa alasan yang jelas? Pertanyaan yang susah untuk di jawab.

Anne jadi ingat pada waktu mereka liburan bareng beberapa kawan yang kebetulan beberapa diantaranya membawa kekasihnya ke Singapura. Fannya tampak mesra dengan Danny, sang kekasihnya. Selama perjalan akhir pekan itu, meskipun pada saat itu ngumpul bersama-sama, mereka tampak serasi dan selalu menghabiskan waktu berdua dengan canda dan tawa bahagia. Sungguh tak masuk diakal, begitu menikah, sikapnya langsung berubah 100 persen, yang dulunya ramah, kini jadi angkuh. Kehidupan Fannya pun tak lagi bahagia, meskipun ia mengandung anak pertamanya, suaminya tak pernah pulang. Malah minta ditugaskan ke Manado tanpa persetujuan istrinya.

Entah apa permasalahan yang terjadi pada mereka, tetapi jelas, ia tak bertanggungjawab atas hubungan yang mereka sudah ungkapkan janji di depan saksi dan tamu undangan dan di depan Tuhan untuk saling berbagi disaat suka dan duka, sakit dan senang, janji itu meluap begitu saja. Sungguh ironis....

''Aku sedih banget, masa selama aku mengandung, Ia tak pernah datang. Ia pergi saja tanpa kabar,'' ungkap Fanny sedih, begitu aku mendapat kabar dan aku langsung menelponnya.

''Kenapa?,'' tanya ku.

''Alasannya orangtuanya tidak menyetujui hubungan ini,'' isaknya.

''Tapi kan kalian sudah menikah, seharusnya ia bisa mengambil sikap tegas donk,'' ujar ku geram.

''Dia pindah tugas tanpa bilang, Aku harus bagaimana. Bahkan sampai aku melahirkan pun ia tak pernah datang,'' katanya lirih.

''Ya, sudah sabar aja ya Fan. Cobaan, kamu masih bisa bertahan tanpa tuh laki-laki bajingan,'' kata ku dengan kesal.
''Kamu kan punya pekerjaan yang bagus, kamu bisa hidup tanpa dia. Tunjukan kamu mampu. Kalau suatu hari dia datang memohon, jangan mau,''

Ku dengar ia menghela nafas. ''Itu juga yang dikatakan mama. Aku harus tegar demi Erlina. Dia butuh aku, seharusnya aku bahagia ya,'' ucapnya lirih.

''Ya, kamu seharusnya bahagia dan suatu saat anak mu tanya mengenai ayahnya kamu bisa menceritakan semuanya. Bahwa sejak di dalam kandungan ia tak pernah datang,''

''Aku tahu. Tak kan ku biarkan ia melihat anak ku, Meski dalam foto. Tapi ini sangat berat An,'' suara lirih dan helaan nafas terdengar di sebrang telepon.

''Kamu bisa bertahan, aku yakin itu. Berdoa ya, aku juga akan mendoakan mu agar bisa survive,'' ujar ku. ''Semangat, kamu bisa,'' kata ku lagi.

Setelah sebulan berlalu, sejak anaknya lahir. Mulai terdengar lagi kabar mengenai Fannya. ''Eh, tau ngak anak ku lucu banget, dah masuk kan MMS yang ku kirim?,'' tanyanya saat ku angkat ponsel ku.

''Iya, gemesin banget. Ntar kalau aku ada waktu, aku ke tempat mu deh. Dalam waktu dekat, aku mau ke Jakarta,'' ujar ku.

Fannya menceritakan, Danny mencoba datang ke rumahnya untuk bertemu dengannya tetapi ditolaknya. ''Aku tak mau dia melihat anak ku. Aku sudah tak takut dan sedih lagi. Hidup ku hanya untuk Erlina,'' ucapnya semangat.

''Berani banget dia datang ke rumah mu. Sudah ngak mendukung secara moral, enak aja,'' kata ku kesal mendengar ceritanya.

''Aku akan berjuang dan bertahan demi anak ku. Karena dia satu-satunya kebahagian ku dan harapan ku. Aku bangga memiliki anak seperti dia,'' sehut Fannya lagi.

''Ya, aku tahu itu. Kamu pasti bisa menjadi ibu yang baik bagi Erlina. Aku yakin itu, ASAP aku bakal kesana deh. Mudahan ga ada halangan ya,'' ujar ku berharap.

''Iya, aku tunggu. Eh, sudah dulu ya, Erlina dah bangun neh. Ntar disambung lagi,'' katanya.

''Oke, sampai nanti,'' jawab ku sambil menutup telepon.

***

Seorang wanita itu bisa tegar
Meskipun hatinya dilukai seribu kali
Wanita itu bisa menjadi super
Saat melindungi anak yang dikasihinya

Wanita akan selalu bertahan meski dalam kesusahan
Tak ada wanita yang kan menyerah..........
Saat melihat bayi tak berdosa
Meskipun hidup pahit sebagaimana pun
Ia akan terus bertahan

Karena wanita adalah wanita
Wanita yang beragam dan menarik
Karena hidup itu perjuangan
Untuk melihat perkembangan anak yang dikasihi

Tak gentar melawan maut
Tak gentar melawan sakit
Tak gentar meskipun pria meninggalkannya
Wanita akan lemah saat anaknya menderita
Saat anaknya sakit
Karena harapan dan tumpuannya hanya pada sang kekasih
Buah hati yang tercipta dengan sempurna......

to my best friend... Don't Give Up

@ by Citra Pandiangan
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Kota Cinta | Kita Bahagia | diary Citra