By : Citra Pandiangan

Berbagai pendapat sudah sering dilontarkan para ahli dan kegiatan berupa sosialisasi sudah sering dilakukan KPA (Komisi Penanggulangan AIDS), baik ditingkat pusat maupun daerah dengan menggandeng berbagai organisasi maupun LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang bergerak dibidang yang sama. Hal itu dalam rangka memberikan penyuluhan dan informasi mengenai HIV/AIDS dan pencegahan terhadap virus yang menyebabkan penurunan kekebalan daya tubuh.

Namun masih saja banyak masyarakat yang salah mengartikan virus HIV/AIDS. Bahkan menjauhi ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) karena takut tertular penyakit tersebut. Pemahaman HIV dan AIDS sedikit berbeda. Sekedar diketahui AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome, suatu penyakit yang membuat tubuh sulit mencegah terjadinya infeksi penyakit. Sedangkan HIV adalah Virus Human Immunodeficiency yang menyebabkan terjadinya penurunan kekebalan tubuh pada manusia, menyebabkan AIDS dengan menginfeksi dan merusak sebagian dari kekebalan tubuh terhadap penyakit.

Para penderita HIV/AIDS biasanya diasingkan dan dijauhkan dari lingkungan masyarakat. Karena merasa takut tertular bila melakukan kontak tubuh dengan penderita. Bahkan pihak keluarga merasa malu bila mengetahui salah satu sanak keluarga tertular virus HIV. Padahal mereka butuh dukungan dan juga memiliki kesempatan yang sama layaknya orang normal lainnya.

Penularan virus HIV bukan karena makan sepiring berdua, berjabat tangan maupun bersentuhan. Sebab bersentuhan dengan penderita tidak akan menularkan virus itu pada tubuh kita. Virus itu tertular bila kita melakukan hubungan kontak secara intim, seperti berhubungan badan dengan penderita atau menggunakan jarum suntik yang tidak steril, misalnya menggunakan narkoba.

Hal itu disebabkan kemungkinan ada salah satu pengguna jarum suntik penderita HIV/AIDS. Di Jakarta, Medan penularan HIV/AIDS lebih didominasi oleh penggunaan jarum suntik. Berbeda dengan di Kepulauan Riau, penularan HIV/AIDS masih dominan melalui hubungan seksual. Banyaknya tempat-tempat penjaja seksual baik dalam satu wadah maupun yang berkeliaran di jalan-jalan di kota gemerlap merupakan salah satu faktor yang menyebabkan virus itu terus merambah dan bertambah.

Jumlah angka penderita tiap tahun terus meningkat di setiap daerah di Indonesia. Tidak lain, karena penderita baru menyadari beberapa tahun kemudian. Bahwa dirinya telah tertular atau telah positif HIV. Cara kerja virus HIV/AIDS sangat lama. Bahkan, terkadang kita tidak menyadari orang yang dekat dengan kita sudah tertular virus tersebut.

Untuk melakukan pencegahan penularan HIV melalui hubungan seks adalah jangan melakukan hubungan seks di luar nikah dan sering berganti-ganti pasangan. Penularan HIV bisa terjadi pada saat melakukan hubungan seksual, sebab kita tidak mengetahui bahwa pasangan kita sudah positif HIV. Penularan melalui hubungan seksual terdapat dalam air mani dan cairan vagina. Hal itu dikarenakan penis bergesekan langsung dengan vagina/

Seperti diketahui banyak kasus penularan HIV terjadi tanpa disadari karena tidak ada tanda, gejala, atau ciri-ciri yang khas AIDS pada orang-orang yang sudah tertular HIV sebelum masa AIDS (antara 5 – 10 tahun setelah tertular HIV). Orang-orang yang baru tertular tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV.

Tapi, pada rentang waktu itu seseorang yang tertular HIV sudah bisa menularkan HIV kepada orang lain melalui hubungan seks, transfusi darah, jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo, dan cangkok organ tubuh, dan air susu ibu (ASI).

Biasanya penularan HIV/AIDS paling didominasi bagi orang yang senang berganti-ganti pasangan. Karena ada kemungkinan pasangan kita sudah menderita penyakit tersebut. Cara yang efektif, hindari melakukan hubungan seksual dengan orang yang tidak dikenal. Cukup dengan pasangan kita saja, baik itu istri maupun suami. Hanya dengan mereka saja kita melakukan hubungan intim untuk menghindari HIV/AIDS.

Bagaimana dengan yang suka gonta-ganti pasangan, bahkan yang senang berkecimpung di diskotik maupun di tempat portitusi, ada baiknya waspada. Belum tentu kelihatannya sehat, mereka benar-benar sehat. Ada baiknya juga saat melakukan hubungan intim menggunakan pengaman atau pun kondom. Fenomena pemakaian kondom memang masih menggelitik dilingkungan Indonesia.

Masih banyak masyarakat beranggapan dengan adanya kondom, berarti menyetujui pergaulan bebas. Sehingga beberapa warga yang senang berkecimpung di dunia malam bisa bebas bergonta-ganti pasangan.

Sebenarnya kondom diciptakan selain untuk menjaga agar tidak tertular penyakit melalui transmisi seksual (PMTS) hingga menyebabkan penularan virus HIV/AIDS, Kondom juga digunakan sebagai salah satu alat mencegah terjadinya kehamilan atau membuat keluarga berencana.

Namun masih banyak masyarakat beranggapan memakai kondom sangat tidak nyaman saat melakukan hubungan seksual. Sebenarnya tidak demikian, sekarang sudah tersedia berbagai pilihan, bentuk dan ukuran kondom. Bahkan di salah satu tempat lokalisai yang ada di Kepulauan Riau menganjurkan agar para tamu menggunakan kondom. Masuk ke lokalisasi tersebut kita langsung dapat membaca tulisan besar yang tepasang ‘Daerah Wajib Kondom’.

Dengan menggunakan kondom, tentunya dapat mengurangi penularan HIV/AIDS. Namun masih banyak orang beranggapan menggunakan kondom tidak nyaman dan tidak enak. Menganggu saat melakukan hubungan intim. Hal itu tidak benar, karena tekstur bahan kondom sangat tipis. Sehingga salah kalau beranggapan memakai kondom menganggu kenyamanan berhubungan.

Sekarang ini berbagai perusahaan yang bergerak dibidang alat kontrasepsi atau pun Keluarga Berencana menyajikan kenyamanan pengguna alat pengamanan. Bahkan alat kontrasepsi tersebut sebelum diedarkan telah dilakukan uji coba terlebih dahulu, seperti mengecek elektrolit, tekan udara hingga pengisian air. Untuk mengetahui kekuatan kondom, sebelum diedarkan.

Menggunakan kondom saat berhubungan memiliki banyak keuntungan, bagi pasangan suami-istri yang masih belum menginginkan anak, bisa menggunakan kondom saat melakukan hubungan intim. Karena kondom merupakan alat pelindung, dengan menggunakan kondom dapat mencegah pertukaran cairan tubuh.

Saat ini jumlah penderita HIV/AIDS tiap tahun bertambah, hal itu karena masih banyaknya masyarakat yang masih mempertahankan gaya hidup bebas, berganti-ganti pasangan untuk mendapatkan kenikmataan sesaat. Mereka tidak pernah merasa takut untuk melakukan hubungan seksual. Menurutnya, mereka sehat dan hal tersebut belum tentu benar. Semua orang tahu, untuk mengetahui apakah kita sudah terjangkit virus itu harus mengikuti sejumlah tes dan konseling. Namun, kebanyakan orang yang sedang berkelut di hiburan malam maupun para penyuka kehidupan malam tak pernah memiliki keberanian untuk melakukan pengecekan dirinya terhadap virus HIV/AIDS yang hingga saat ini masih belum bisa disembuhkan.

Penggunaan kondom juga dapat mengurangi resiko penularan Infeksi Menular Seksual (IMS) hingga HIV/AIDS. Masih banyak masyarakat beranggapan dengan mengedarkan dan memberikan penyuluhan untuk menggunakan kondom saat berhubungan intim sama dengan menyetujui seks bebas. Namun dari itu semua, kita harus berpikir dengan memberikan sosialisasi penggunaan kondom dapat mengurangi dampak penularan HIV/AIDS dan itu berarti juga menyelamatkan sebagian kehidupan masyarakat. Lingkaran rantai pergaulan bebas ini memang tidak bisa di putuskan atau dihindari, kecuali keinginan dan tekad pekerja malam maupun pengguna yang berniat mengubah cara pandangan dan gaya hidup ke arah yang benar. Dan itu tidak lah mudah, salah satu cara yang saat ini relevan dan prespentif yakni memberikan penyuluhan terhadap penggunaan kondom, serta sosialisasi mengenai dampak dari pergaulan bebas. Hal itu pun pada kenyataan di lapangan sangat susah diterapkan.

Satu-satunya cara yang saat ini bisa diterapkan dengan penggunaan kondom. Walaupun hal itu masih sedikit para ‘pekerja malam’ yang mau menggunakannya. Alasan mereka, karena pelanggan merasa tidak puas saat melakukan hubungan menggunakan kondom. Karena itu sekarang kondom tidak hanya untuk pria tetapi juga disediakan untuk wanita.

Penggunaan kondom yang tepat dapat mencengah pertukaran cairan vegina dan air mani saat melakukan penggesekan yang memicu penuran PMS, seperti spilis hingga virus HIV.

Keuntungan lain menggunakan kondom juga meningkatkan kesuburan dan juga menghindari interfilitas atau ketidak suburan pada pasangan akibat gesekan yang terjadi. Jangan beranggapan menggunakan kondom berarti tidak puas dalam berhubungan intim, karena menganggu. Karena hal tersebut tidak benar.

Ingat untuk membeli kondom pada tempat yang benar dan melihat tanggal kadarluasa yang tertera. Namun, ada baiknya untuk melakukan hubungan intim hanya dengan pasangan cinta sejati saja. Lebih indah dan lebih aman tanpa merasa was-was akan tertular penyakit menular seksual maupun HIV. ***

Artikel Terkait:

Silakan pilih sistem komentar anda

2 komentar untuk Penggunaan Kondom dapat Mengurangi Penularan HIV

You've decided to leave a comment – that's great! Please keep in mind that comments are moderated and please do not use a spammy keyword. Thanks for stopping by! and God bless us! Keep Creative and Health

  1. yang ini sebenarnya harus digalakkan secara besar2an... indonesia termasuk pengidap HIV/AIDS terbesar didunia lho setelah afrika... bagusnya ini diketahui masyarakat luas, mengenai penanganan HIV/AIDS, dampak dan penyadaran dari masyarakat itu sendiri... untuk kakak sendiri, aku ancungin top jempol dua tangan de... moga2 ada perhatian lebih dari masyarakat luas ya kk.... amiiinnn...
    lanjutin perjuangan kk... MERDEKA..

    BalasHapus
  2. makasih . . . Yuk, mari galakan bersama karena itu juga tuk kepentingan bersama kan

    BalasHapus