Oktober 31, 2009

Waktu dan Rasa Syukur

Tak terasa waktu terus berlalu, em . . . awal bulan November, setelah itu Desember . . . Kemudian Januari. Cepat sekali waktu itu berlalu, sedangkan aku merasa --merasakan-- berjalan di tempat. Tak ada yang berbeda yang kurasakan. . . Bukannya aku mengeluh, hanya saja kalau aku bisa, aku ingin menghentikan waktu.

Aku tak ingin waktu cepat berlalu, karena impian dan harapanku masih belum tercapai. Aku masih ingin mengapai asaku, walaupun itu sulit. Aku bingung dengan diriku. Aku bingung dengan perasaanku kian hari membuatku tak berdaya. . .

Waktu memang kita yang mengendalikan, dalam arti kita yang membagi waktu kita untuk apa. Namun kadang 1 x 24 jam terasa kurang. Apalagi belakangan ini, waktu untuk kebaktian pun berkurang. . . . Oh No, aku bingung. Aku tidak merana dan tidak senang. Aku hanya bingung dengan apa yang kuinginkan.

Terkadang ada rasa bosan yang menusuk sanubariku. Hidupku serasa berjalan di tempat. Ach, bosan!!!! Setiap waktu selalu sama. Tak ada yang beda. Satu per satu datang dan pergi. Namun, tak satu pun bisa menarik hatiku. Aku sendiri juga bingung.

Entah lah, manusia itu seharusnya menyerahkan segala kekuatirannya pada yang di atas. Tapi, kenapa terkadang manusia malah tidak mengingat yang diatas di setiap waktu kebahagiaan dan kesedihannya. Bahkan rela bunuh diri karena tidak memiliki jalan keluar.

Em . . . . Tuhan itu maha tahu dan adil. Walau terkadang kita lupa akanNya. Dia tidak pernah lupa akan kita. Apalagi kalau kita sudah memohon ampun dan berjanji akan mengubah pola hidup kita menjadi lebih baik. Dia dengan senang hati akan menerima kita kembali.

Kini, semua persoalan dan keinginanku, kuutarakan padaNya. Semua kesukaran dan kebahagianku ada padaNya. Daripada mempercayai manusia (baca kawan) malah membuatku makin menderita. Karena terkadang manusia itu hanya baik di depan kita. Kalau dibelakang entah apa yang dikatakannya.

Jadi kawan, mari kita serahkan segala kehidupan kita hanya pada satu ya itu Tuhan. Luangkan lah waktu walau sejenak tuk mengucapkan syukur dan terimakasih. Niscaya, hidup kita akan damai dan tentram.

Hepi Banget

Rasanya senang banget waktu membaca tulisan mengenai novelku yang di ulas bg Kohar, seorang penulis senior yang setiap ketemu 'online' selalu aku rusuhin dengan berbagai pertanyaan seputar dunia menulis. Karena karyanya bagi penggemar sastra tentunya sudah tak asing.

Nama bg Kohar Ibrahim sudah banyak menghasilkan sastra-sastra yang dipublikasikan langsung lewat prosa kata dalam bentuk article hingga novel. Siapa yang tidak kenal sosok Abdul Kohar Ibrahim dalam dunia menulis.

Beragam tulisannya sering muncul di media cetak baik lokal, seperti Batampos maupun nasional seperti Kompas. Kepiaweannya dalam menulis sastra tentunya telah menghasilkan berbagai karya tulis dan aku tentunya merasa senang. Seorang Abdul Kohar Ibrahim menuliskan mengenai novel pertamaku.

Aku tahu dan yakin benar --sebenar-benarnya-- masih banyak kesalahan ejaan dalam tulisanku. Secara memang editornya bukan dari jurusan jurnalist ataupun bahasa Indonesia. Namun, kesalahan kecil itu tidak mengurangi dari makna yang terkandung dalam tulisan.

Sesuai dengan kata penganta, kalau dalam novel --goresan pena-- disitu aku tuangkan alasan kenapa aku menulis mengenai HIV/AIDS dan saat ini aku sedang mengharap novel kedua dan aku juga berharap, tetap mendapat masukan dari penulis-penulis hebat yang sangat aku kagumi dan ingin seperti mereka yang dua jempol tak cukup untuk mengungkapkan kekagumanku terhadap karya sastra mereka baik berupa novel maupun puisi yakni pak Rida K Liamsi, Abdul Kohar Ibrahim, Ramon Damora, ms Putu dan beberapa lainnya.

Tulisan dari A Kohar Ibrahim 'Simpul Terujung'

Bloknota: A.Kohar Ibrahim

B
ENAR. Aku selalu gembira bahkan bangga menerima hasil terbitan baru, terutama berupa karya sastra baik prosa maupun puisi. Terutama sekali karya penulis-jurnalis dan perempuan pula. Semata-mata lantaran medan juang maupun kedekatan dengan kaum “kuli” yang aku kenal dalam perjalanan hidupku.

Begitulah kegembiraanku menerima novel berjudul Simpul Terujung karya Citra Pandiangan – wartawati Harian Batam News – terbitan Milaz Grafika, Tanjungpinang 2009. Dedicated to all of ODHA (Orang Dengan HIV/AID). Benar. Sungguh benar bahwasanya kisah yang diungkap novel dengan judul Simpul Terujung itu sejak awal mula sudah memikat hatiku. Beberapa waktu yang lalu. Ketika Citra mengutarakan garis bersar jalan cerita atau alur dari tema yang hendak diungkapkannya. Pertama, suatu tema yang besar.

Lantaran memang merupakan tantangan sekaligus salah satu ancaman besar bagi keberadaan umat manusia. Ancaman salah satu macam penyakit tersebut HIV/AID yang telah menggelobal. Yang tersebar di lima benua. Selain yang paling gawat di benua Afrika, juga di Asia, termasuk Indonesia. Problematika yang mengancam kehidupan manusia dan kemanusiaan ini memang layak diungkap dan diperhatikan serta diupayakan solusinya. Kedua, penuangan isi atau komposisi alur kisahnya yang menggelitik hati dan pikiran. Kisah Segi Tiga. Kisah ketiga tokoh-tokoh utamanya yang berkonflik: Ellen – Audrey – Jack. Benar.

Ada benar yang sebenar-benarnya memang – akan hubungan yang tak pernah ada perceraian. Apa dan bagaimanapun terjadinya konflik, namun takkan ada kata cerai dengan saudari kandung sendiri. Apa pula terbuktikan adanya bauran hubungan kasih-sayang dan benci serta saling membutuhkan satu sama lain, meski terselang silang seling perihal konfliktual yang gawat. Dari sudut pandang hidup kehidupan hubungan kekeluargaan itulah pas-nya judul Simpul Terujung bagi alur novel pertama Citra Pandiangan ini.Sebagai cicipan dari novel bernas lagi pula enak dibaca ini, saya turunkan nukilan yang tertera pada cover belakang, sebagai berikut:

”Hidup Ellen cukup lumayan, dia memiliki pekerjaan sebagai Public Relation, punya teman yag perhatian dan kekasih yang tampan, Jack. Bahkan seminggu lagi dia akan menikah dengan pujuaan hatinya. Namun rencana pernikahannya berantakan. Setelah Audrey, adiknya menyatakan dirinya hamil dengan Jack. Hidupnya jadi tak menentu.Dia membenci adiknya yang sejak kecil selalu menyusahkan hidupnya, dia membenci Jack, karena mengkhianatinya. Padahal hubungan mereka telah terjalin empat tahun, bukan waktu yang sebentar tuk mengenal karakter pasangan.Rasa malu terhadap rekan kerja dean juga koleganya membuatnya keluar dari pekerjaan.

Walaupun bosnya, Raymond melarangnya untuk keluar dari perusahaan.Dia lebih menyukai kesendiriannya. Selama tiga bulan, dia menyendiri, menutup diri dari luar. Namun, dia bangkit dari keterpurukannya. Mencoba memulai hidup baru. Setelah dia memutuskan hubungan sepihak dengan adikinya, begitu pernikahan (Audrey & Jack) berlangsung.Mencoba kembali menata hidup, Ellen pindah dari Jakarta ke Batam. Dia memperoleh pekerjaan di salah satu hotel berbintang di sana. Di Batam, tak seoraqng pun yang mengetahui masa lalunya.Disaat dia mulai kembali menatap hidupnya dan merasa nyaman di Batam, dia mendapat kabar buruk. Audrey, adiknya, terkena vrus AIDS dan kanker. Antara rasa tak percaya dan bingung.

Berbagai perasaan berkecambuk, apakah dia harus melihat kondisi adiknya dan memaafkannya?”Pembaca akan menemukan sendiri jawabannya, dengan mengikuti jalan kisah yang menggelitik sarat akan ragam rasa manusia yang manusiawi. Layaknya nada lagu humanisme yang lugu, mendayu dan mengharukan. Novel yang berkisah dengan nuansa melodrama bahkan romantika gaya Citra ini tidak memberikan kesan sebagai novel cengeng, melainkan sebaliknyalah. Bernas. Berbobot. Layak simak oleh kalangan pembaca yang luas – tua muda – yang perduli akan salah satu bencana yang menimpa ummat manusia yang tersebut penyakit berupa virus AIDS.

Yang peduli pada pendidikan bagi sesama manusia, terutama putera-puterinya, betapa dampak hubungan seks bebas dan ragam prilaku kelainannya sekalian kaitannya dengan narkoba yang menyesatkan.Novel Simpul Terujung ini menarik hati dan pikiran, lantaran terasa penulisnya memang juga jurnalis yang sebagai ”kuli” (tinta) mengemban idealisme pencerahan. Jurnalis yang bukan menulis secara asal-asalan, melainkan dengan pengenalan materi, data dan fakta yang dikumpulkan.

Lantas berkat bakatnya dalam mengkomposisi kata-kata yang pas dan juga daya imajinasi yang kuat, terwujudlah suatu karya prosa berupa novel yang layak sekaligus enak simak. Bahkan, via karya sastra alias komposisi kata-kata berupa novel ini Citra bukan saja menunjukkan ke-sastrawati-annya, tapi sekaligus juga sebagai salah satu ”dokter” yang ujar-katanya layak perhatian masyarakat. Teristimewa sekali bagi kaum penderita serangan virus AIDS atau bagi Orang Dengan HIV/AIDS.

Dengan baris-baris kata di atas, mengingat makna pentingnya kata-kata bagi sastrawan-sastrawati, bagi wartawan-wartawati, berkaitan dengan penyakit dan kedokteran, saya jadi teringat pada seorang dokter Rusia bernama Anton Chekov yang akhirnya memilih karir sebagai sastrawan kebanding kedokteran.Akhirul kata, saya acungkan jempol untuk Citra Pandiangan, sebagai novelis baru yang mengingatkan saya pada para penulis-jurnalis wanita lainnya yang saya kenal dan hormati, seperti LA.. Juga pada para novelis macam Francoise Sagan, pada Toni Morrison, pada Taslima Naser, pada NH Dini dan lainnya yang peduli pada suka-duka masyarakat banyak.Terima kasih telah memperkaya kesusastraan Indonesia dan dunia. Salam
kreatif. ***

DIKUTIP DARI NOTE FB BG KOHAR IBRAHIM
Batam, 28 Oktober 2009.

Oktober 28, 2009

Sketsa Kehidupan ‘’Antara Dusta dan Derita’’

Sejak mamanya meninggal karena kanker, Audrey hanya bergantung pada kakaknya seorang. Ayahnya sibuk bekerja dan tak pernah mempedulikannya. Rasa sepinya memuncak, saat kakaknya memutuskan ngekos, begitu masuk universitas.

Rasa sepi itu selalu menghantuinya tiap malam, hingga akhirnya ia tak lagi merasakan sepi. Setelah mengenal dunia gemerlap. Berawal dari pergi ke pub, diskotik yang sering dilakukannya diam-diam, tanpa sepengetahuan orangtuanya.

Malah membawa Audrey terjerumus dalam pergaulan bebas. Narkoba merupakan bagian dari dirinya yang tak terpisahkan. Seringnya menggunakan drugs, membuat Audrey kehilangan keperawanannya demi satu gram sabu-sabu.

Hidupnya kian terpelosok dalam pergaulan bebas. Kebohongannya membuat ia makin menderita, bahkan tunangan kakaknya pun terpaksa menikah dengannya. Dikarenakan Audrey hamil. Akibatnya, ia makin kehilangan sosok kakak yang sangat dibutuhkannya.

Kakaknya menghilang usai pesta pernikahannya. Sedangkan Jack selalu memperlakukannya dengan kasar dan menyebabkan ia keguguran. Ia memutuskan bercerai, setelah kehilangan bayi dalam kandungannya. Keputusan itu didukung ayahnya.

Setelah bercerai, ia semakin terpuruk dan tengelam dalam dunianya sendiri. Ayahnya tidak bisa berbuat apa-apa. Hal itu dilakukannya agar bisa melupakan gelora hidupnya yang penuh dengan kebohongan dan derita.

Hingga akhirnya ia diketahui mengidap penyakit HIV dan kemudian diagnosa dokter kanker payudara. Audrey harus berjuang menerima keadaannya Apakah ia menyerah dengan keadaannya atau berjuang dengan sisa waktu yang ada?

BAKAL SEGERA HADIR

Oktober 25, 2009

Suer Ingin Diet

Padahal aku sudah senang banget, waktu di Pekanbaru aku bisa menurunkan berat badan. Padahal cuma sebelas hari. Bisa nahan godaan tuk tidak makan. Apa karena juga bulan puasa ya? Nah, sekarang sudah hampir satu bulan di rumah, eh berat badan naik lagi.

Duh . . . . Dulu makan apa saja nggak bisa gemuk, susah. Sekarang berat badan dah mencapai 50 KG. Padahal dulu tuk mencapai 44-45 Kg susahnya minta ampun. Sekarang kebalik, mau menurunkan berat badan susah banget.

Kadang naik, kadang turun. gak stabil deh. Jadi, enaknya bagaimana ya. Suer gw pengen diet banget. Olahraga, sudah jarang dilakukan, makan malam dah nggak makan. Kadang seh sekali-kali. Minum obat diet?

Duh mana berani, resiko . . . Apalagi kalau kerjaannya di lapangan. Bakal berabe kalau sakit perut karena pengaruh obat yang sedang bekerja. Bisa repotkan hehe. . . . Plus kondisi PLN ''uka-uka'' Kadang hidup, kadang mati.

Nggak pagi, siang, sore dan malam. Duh pusing. . . Mau sauna kemana ya? mau olahraga, bawaannya dah malas banget deh. Habis belakangan ini bangun pagi susah betul. Eh, malam susah tidur. Gilber, dunia gue jadi kebalik . . .

Apa karena kepikiran ingin nurunin berat badan ya. Karena udah nggak nyaman dengan kondisi tubuh seperti ini. Aduuuuh, pusing di buatnya. Mudahan dalam waktu dekat, gw bisa balik normal lagi deh, minimal 45 kilogram.

Oktober 15, 2009

Terjatuh Pada Lubang yang Sama

Entah apa aku bisa dibilang apes, beruntung, sial atau bagaimana. Yang jelas aku tidak tahu, pasti!!! Yang kutahu, tubuhku sakit, memar dan luka. Padahal, luka pertama saja masih belum hilang. Eh, sekarang lukanya lebih parah. memar hampir disekujur tubuhku dan menyebabkan beberapa bagian tubuhku.

Dalam seminggu dua kali aku terjatuh pada ''lubang'' yang sama alias terjatuh dari namanya roda dua. Pertama, terjatuh mau masuk selokan di pertigaan lampu lalu lintas di kampung baru. Itu menyebabkan memar dan biru pada paha kanan dan kiri, serta harus membawa tuh motor tuk di perbaiki. Hilang lah beberapa lembarann mata uang rupiah yang berwarna biru.

Jatuhnya yang pertama kali karena membawa sepeda motor di jalan raya, tidak membuat aku jera. Hal itu, aku ulangi lagi --dikit terpaksa-- karena papa sedang berada di Medan. Aku harus menaklukan si roda dua menuju batu 9 --Bintancentre-- sepanjang perjalanan aku terus berdoa agar selamat sampai tujuan. Karena lalu lintas dari batu 6 ke kantor padat dan banyak angkutan besar2 lewat dengan kecepatan tinggi. Wasalam deh kalau kecelakaan di situ, nyawa taruhannya.

Apalagi, kaya orang seperti aku pedenya poll tapi masih belum menguasai motor. Alhasil, waktu di depan SMA 2, motorku terjatuh dan aku terjungkir. Untung lah, nyawaku tidak apa-apa. Aku menyalahkan jalan, karena licin. Habis hujan soalnya. Padahal itu semua akibat kecerobohanku.

So guys, kalau belum bisa bawa motor lebih save kalo numpang ma kawan aja deh. Jangan bawa di jalan raya, apalagi kalau lalulintasnya padat dan jalan bertikungan. Nyawa taruhannya. Kini, tubuhku memar semua. Kalau digerakin sakit. Terpaksa hari ini izin tak masuk; Besok wajib nyetor berita lebih banyak hehe. . .

SUNYI


Setiap malam datang , hanya kesunyiaan yang ada
Hanya kegelapan yang ada disekelilingku . . . .
Sunyi, itulah yang ku tahu


Gelap, walaupun cahaya lampu menderang
Terlalu sunyi, hingga aku bisa mendengar suara jangkrik
Aku takut pada keheningan malam


Aku takut pada kesunyian yang membisu dan kelam
Salahkah aku, jika aku mengusir sunyi ini dengan ke diskotik?
Setidaknya di sana tidak sesepi di sini


Di sana penuh orang yang beragam
Pastinya, aku tidak merasa takut pada kegelapan
Walaupun lampunya tidak seterang kamarkuNamun tidak sesunyi rumah dan hatiku



NB. Sepenggal puisi dari novel kedua yang berjudul Sketsa Kehidupan

antara dusta dan derita . . .

Oktober 07, 2009

Terjatuh dari Motor

Lumayan, sakitnya baru terasa sekarang. Habis jatuh dari motor tadi siang. Em, pelajaran neh bagi kawan-kawan juga. Jangan sok-sokan deh, kalau belum mahir sudah berjalan di jalan raya hehe. . . Akibatnya bisa fatal lho. . .

Pagi-pagi aku mendapat telepon dari Pimpredku dan meminta aku datang ke warung makan dengan membawa laptop dan modem, kebetulan bos mau menggunakan itu. Untuk urusan kerja. Jadilah, aku ke sana dengan menggunakan sepeda motor seorang diri.

Motor ini baru aku beli seminggu yang lalu, namun belum sempat aku gunakan. Kebetulan tuh motor mank sengaja aku minta agar gak digunakan ma adikku. Otomatis, aku segera meluncur ke lokasi, muter2 gak dapat. disitu aku jadi pede menggunakan tuh motor.

Siangnya, aku mencoba ke beberapa lokasi menyelesaikan urusan kerja. Em. . . pas pulang dari tempat tersebut, entah kenapa pas turunan di pertigaan lampu merah di Kampung baru, aku salah perhitungan dan hampir terjatuh ke dalam selokan.

Akibat jatuh tersungkur dan separuh badanku menggantung --karena mau masuk ke dalam selokan-- motor Vega R lumayan pesok dan tergores. Ya, untung lah nyawaku selamat, alias tidak luka parah.

Asli, aku malu banget. . . Namun, kalau gak begitu tentunya tidak ada pengalamankan? Sekarang, sakit di lutut kiri, di telapak kanan dan kiri serta perutku lumayan neh membuatku merana hehe . . . Aku hanya bisa keep silent, tidak mau terlalu terbuka, ntar gak boleh bawa motor ma bonyok deh.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Kota Cinta | Kita Bahagia | diary Citra