Februari 27, 2010

Biarkan Aku Menikmatinya Sesaat

Ya Tuhan, aku tidak ingin terbangun dari mimpi ini..... Biarkan lah aku menikmatinya sesaat. Menikmati debaran jantungku, menikmati diriku yang merona mendengar gombalannya. Sudah lama, aku tidak merasakannya....

Kadang aku merasa malu, aku terlalu tua untuk gampang terpesona mendengar rayuan gombal pria. Tetapi, aku ingin menikmati sejenak.. Jika dia memang jodohku, dekat kan lah padaku. Jika bukan, jauhkan lah ia dari hidupku.

Karena aku hanya mencari jodoh sesuai seperti apa yang diharapkan orangtuaku, seiman dan saling mengerti satu dengan yang lain. Ah, aku seperti kembali seperti remaja yang senang di rayu gombal. Padahal, sudah ada beberapa pria yang kutolak. Bukan karena aku tidak menyukainya, kaarena perbedaan agama yang tidak bisa disatukan dalam suatu pernikahan....

It's about Johns Grisham

Saat kami saling bertukar informasi mengenai penulis yang paling kita suka. Kawanku menyebut nama penulis Johns Grisham dan dengan lugunya aku bilang tidak mengenalnya. Saat aku sebutkan nama Paulo Coeho. Dia pun tak mengenalnya. Aku penasaran dengan nama Johns Grisham.

Sangking penasaraannya, aku mencoba mencari di internet mengenai penulis satu itu dan teng... teng... Aku dapat informasi mengenai penulis asal Amerika itu. Ternyata aku pernah menonton film yang dibuat berdasarkan novelnya yang berjudul The Pelican Brief - John Grisham.

Dasar parah ya, aku berharap bisa menemukan koleksi dari penulis itu. Karena buku yang di filmkan aja menengangkan. Apalagi kalau baca ya? Pasti mantap.

Februari 03, 2010

Perahu Kertas Akhirnya Berhenti

Dasar sableng, aku menghabiskan waktuku hampir seharian membaca. Kenapa aku bisa bilang begitu. Ya, tidak heran... Karena sejak Selasa sore, aku membaca karya Dee dengan judul Perahu Kertas. Karya yang luar biasa menarik dan saling terkait. Dua jempol tuk bu dee.

Meskipun dah minjam sejak seminggu lalu, memaksakan kak Dena tuk membawakan buku itu ke lapangan basket. Jangan berpikir, aku main basket xixi --dasar geer-- Karena di lapangan basket --kembali mengingat pria-pria tinggi itu bertanding-- ada pembukaan turnamen walikota cup 3.

Alhasil, sedikit mengingatkan di SMS --gw sms gak ya, koq jadi lupa-- em di FB berulang-ulang.. teng, treng teng --ikut gaya kawan-- buku itu sampai juga ditanganku. Akhirnya masuk ke dalam tas ransel yang selalu ku bawa kemana-mana, praktis dan besar xixi.....

Begitu mau baca, mata dah mengantuk. Apalagi besok mau ke gereja. Alhasil, niat itu pun ku telan bulat-bulat. Buku yang bercover perahu kertas itu, kembali menjadi penghuni ranselku. Banyaknya pekerjaan, pikiran kacau, pressure sana-sini, baru selasa sore itu aku punya kesempatan kembali menyentuh buku itu.

Nama Keenan, Kugi pada cover belakang menghiasi setiap lembar kisah dalam perahu kertas. Kisah yang menarik, pasti sebagian sudah membaca. Jadi tidak perlu aku jabarkan dalam curhatku kali ini, bahkan tidak aku buat review buku yang pernah aku baca. Padahal buku itu mank layak, dijadikan kenangan dalam tiap baris bait dalam tulisan.

Tulisan dee itu mengingatkanku pada masa aku SMA dulu. Aku pernah menulis mengenai kisah tersebut, walau tak 100 persen sama, tetapi 30 persen ada kesamaan dalam tokoh buku tersebut, namun kebalikan dari buku itu.

Tokoh pertama merupakan seorang wanita yang memiliki cita-cita sebagai pelukis dan penulis --serakah ya-- namun niat itu ditentang mamanya. Ah, sudah lah, aku juga tidak mau mengingat tulisan 11 tahun silam itu.

Karena bangkainya sudah tidak ada. Walaupun aku kecewa, tetapi nasi sudah menjadi bubur. Barang-barang 'pusakaku' jadi bangkai dan tak berbentuk. Begitu kata mama, waktu aku kembali ke Tanjungpinang setelah lulus kuliah.

Padahal, aku ingat betul 100 persen, em lebih 1000 persen. Barang2 pusakaku kusimpan dalam kardus dan kutaruh dibawah ranjangku agar tetap keramat saat aku pulang. Di sana naskah cerpen, calon bukuku dan juga koleksi idolaku --the moffatts-- tak bersisa sama sekali. Eh, terlalu berlebihan, masih tersisa sedikit, tapi bukan naskahku melainkan koleksi artis penyanyiku.

Ah, kenangan pahit itu kembali aku rasakan, saat membaca tokoh Kugy. Unik ya, dee bisa menggambarkan begitu jelas dan menarik, penuh makna tersirat dalam setiap kisah babak dalam buku itu. Aku terharu, aku menangis dan tersenyum membuat imajinasiku ikut terusik dalam tiap barisan kata. Sederhana, lugas dan menarik.

Sangking menariknya, aku terus dibuatnya penasaran --atau kutu bukuku kumat lagi-- aku melumat bacaan itu sampai selesai dibaca. Tak peduli tempat dan waktu, setiap ada kesempatan, aku mengeluarkan buku itu dan membacanya.

Akhirnya perahu kertas telah berlabuh. Aku jadi menyesal, kenapa terlalu cepat menyelesaikannya dan membuatku harus mencari bacaan lain yang lebih menarik. Karena saat ini, aku tidak punya tenaga dan inspirasi untuk memulai kembali tulisan2 dan kenangan yang ada dalam benakku.

Menelusuri Perahu Kertas

Aku terhanyut dalam rangkaian kata dalam perahu kertas... Aku sudah pernah membaca buku di balik tulisan perahu kertas di Gramedia Pekanbaru. Namun sayang, buku itu aku kembalikan dalam rak buku gramedia. Hal itu tidak lain, aku sudah belanja lebih dari Rp200 ribu untuk lima buku yang aku beli.

Kebanyakan --most of them-- buku pengarang dari luar, karena di Gramedia Batam memang buku itu sudah tidak lagi ada di display ataupun di toko buku Gramedia Batam. Masih ada satu buku yang sangat ingin aku beli, yakni Lolita.... Mudahan, kalau aku hunting buku, aku akan menemukan novel karangan luar negeri.

Membaca rangkaian kata Perahu Kertas, sangat berbeda dengan membaca supernova. Karena tokoh yang luar biasa hidup atau karena memang imajinasiku yang membawaku hanyut dalam alunan perahu kertas.

Sayang, buku yang dpinjamkan kak Dena, belum selesai aku baca. Karena banyak gangguan, mati lampu. Begitu lampu hidup, mata sudah mengantuk. Dasar nasib, tetapi malam itu, aku membacanya hingga jam 1 malam dari jam 10, setelah lampu hidup.

Februari 02, 2010

Tak Niat Menyakiti

Belakangan ini, tanpa kusadari... Aku sering sekali menyakiti perasaan seseorang.. Kalau dipikir-pikir lebih dari satu. Karena persoalan kecil. Niat hati tak mau menyakiti. Namun apa kata hati, kadang berbeda dengan ada yang dimulut. Kenapa bisa begitu?

Kenapa susah sekali mengendalikan emosi, amarah yang ada dalam benakku. Apa salah, jika aku berdiam. Namun, niat berdiam yang ada dalam benakku, tidak sesuai dengan apa yang keluar dari mulutku.

Walau aku menyadari aku yang salah, tapi kenapa aku terlalu gengsi untuk mengakui kesalahanku. Tuhan, aku tahu, aku banyak menyakiti orang yang ada didekatku. Tapi, sesungguhnya aku tidak ingin menyakiti mereka. Aku sangat menyanyangi mereka.

Aku hanya minta satu, mohon ubahlah aku menjadi lebih dewasa dalam berpikir dan juga bertindak. Karena aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Kota Cinta | Kita Bahagia | diary Citra