Maret 31, 2010

Oh No . . . I am Fat


Em, wanita itu benar-benar rumit dan sukar dimengerti. Termasuk diriku. Terkadang aku tidak mengerti apa yang kumau dan kuinginkan. Mencoba diet, malah makan banyak. Mencoba makan banyak, juga tidak bisa. Belakangan ini banyak orang yang mengatakan diriku gemuk... Oh No... I am fat, pikirku.

Tidak hanya kawan-kawan saja, tetapi juga narasumberku. Bahkan narasumber yang rada cuek pun nyampe bilang sekarang gemuk lagi ya?? Wah, gawat!!!!! Memang jika ada niat diet, aku bisa benar-benar diet dan bela-belain bangun lebih pagi tuk olahraga.

Sekarang boro-boro bangun lebih pagi tuk olahraga, malasnya minta ampun. Sampai saat ini, aku tidak berani lihat timbangan. Aku beranggapan timbanganku rusak, jika melihat angka 50 or lebih pada jarum penunjuk berat badan. Ckckck segitunya.

Aku ngerasa tubuhku kembali melar. Padahal, aku sudah berupaya diet dan menjaga berat badan. Kini, aku kembali kesulitan untuk memilih menggunakan baju yang nyaman dikenakan. Em, hal yang paling membuatku kesal adalah bagian depan yang jika berat badanku bertambah. Bagian itu yang paling menonjol. Capek deh,

Kenapa perempuan itu ribet dan memiliki segudang aturan tidak boleh terlalu gemuk, montok dan juga kurus. Duh... mank susah jadi wanita. Banyak aturan yang kasat mata. Tapi kadang menjadi wajib untuk dilakukan. Mengingat semua hal bisa terjadi.

Sekarang aku berupaya kembali melakukan diet dan bahkan puasa untuk mengurangi berat badan. Niat yang tidak bagus bukan???

Maret 24, 2010

Kontrol Diri

Hari ini suasana hati Anne sedang tidak baik, banyak masalah yang menimpa dirinya. Namanya juga manusia, Anne hanya lah manusia biasa yang terkadang lepas kontrol pada dirinya sendiri. Sepanjang hari ini dirinya uring-uringan tidak menentu. Akibatnya, pekerjaan jadi tidak lancar. Tidak hanya hari ini saja, tetapi sudah beberapa hari. Kini, Anne sedang merenung di sebuah cafe yang tidak jauh dari tempat butiknya. Ia belum mengerjakan kolom yang seharusnya dua hari lagi, ia harus kirim ke majalah.

Saat asyik memandang hamparan luas parkiran, Anne tidak bisa berpikir. Ada perasaan sesak dihatinya. Karena sejak dari pagi hingga sore ini setiap kata yang ia keluarkan dari bibirnya selalu menyinggung orang lain. Milk shake yang dipesannya pun, tidak ia sentuh.

Ia tersadar dari lamunannya, ketika suara ponselnya berbunyi. Ia melihat pada layar kaca, Iin sedang menelponnya. ''Hallo,'' jawab Anne enggan.

Terdengar suara terbatuk kecil di seberang sana, ''Apa kabar?'' suara itu terdengar riang.

''Baik, kamu.''

''Sama, syukur kalau begitu,'' ucap Iin. Suasana hening, ''Aku mau cerita boleh?''

Sebenarnya saat itu Anne enggan mendengar orang curhat, namun ia mengurungkan niatnya saat Iin ingin bercerita. ''Mau cerita apa?''

Iin terbatuk kecil, ''Belakangan ini hidupku kacau. Semua yang aku kerjakan menurut perasaanku tidak ada yang benar. Aku kerap kali marah yang meluap-meluap tanpa sebab dan membuat takut karyawan dan menyakiti perasaan keluargaku.''

Anne terdiam, karena saat ini kondisi dirinya sama dengan apa pengalaman kawannya itu. ''Koq bisa kenapa?'' tanya Anne penasaran, lebih tepatnya ingin mendapatkan jawaban dari kasusnya sendiri.

''Aku juga tidak tahu, kadang aku menyesalinya namun tidak mau mengakuinya. Aku kesal dengan diriku eh malah membuat kelakuanku menjadi-jadi. Meskipun aku tahu, aku salah.''

''Terus?''

Iin tertawa, ''Semangat banget.''

Anne tertunduk malu, ia pun mulai mengaduk-aduk milkshake yang sudah mulai mencair es yang ada dalam gelas itu. ''Entah lah, mungkin saat ini kondisiku sama seperti kamu.''

''Maksudnya?'' tanya Iin tak mengerti.

''Saat ini aku bukan aku yang kukenal. Aku sering menyakiti perasaan orang lain. Karena itu jika kamu menyelesaikan ceritamu. Mungkin aku bisa mendapatkan solusinya.''

Butuh beberapa detik untuk bisa mendengar suara Iin dari seberang sana, ''Seperti bukan kamu Anne.''

Anne tertawa kecil, ''Aku kan juga manusia biasa.''

''Kamu benar, habis kamu terlihat hampir tak pernah punya masalah.''

Anne tersenyum, ''Tidak seperti itu kelihatannya.''

''Baiklah, sifat burukku ini entah semakin menjadi-jadi, aku putus asa, keluargaku tersakiti begitu juga orang yang berada di sekelilingku. Aku tidak mengerti apa penyebabnya, kukira mungkin dikarenakan aku terlambat datang bulan. Ternyata tidak juga.''

Anne masih sabar mendengar kawannya bercerita, meskipun ia sendiri tidak yakin apakah ia bisa mendapatkan solusinya. ''Terus bagaimana.''

''aku mencoba mengontrol atau mengendalikan diriku. Bukan perasaan atau emosiku. Awalnya susah, aku terus mencoba sambil mencoba berdiam terlebih dahulu sebelum mengungkapkan kata, satu atau dua kali memang tidak berhasil atau masih ada beberapa yang kusakiti, tapi aku sudah bisa mengurangi jumlahnya.''

Anne mencoba mencerna, ''Melakukan kontrol, penguasaan diri, tapi di saat dirimu sedang tertekan atau emosi akibat hormonmu yang sedang meningkat. Aku rasa mustahil.''

Iin tertawa, ''Benar sekali, aku mencoba menyalurkan emosiku dengan berolahraga, badan jadi capek, pikiran tak ada. Jadi masih bisa mengontrol diri. Memang susah, tapi akhirnya aku berhasil. Saat aku sedang PMS, aku tetap bisa mengendalikan emosiku.''

''Selamat ya.''

''Ann.''

''Ya.''

''Aku rasa kamu pasti bisa.''

''Terimakasih,'' ucap Anne, ''Maaf Iin nanti aku telepon. Aku harus segera menyingkir dari cafe, dah ramai orang. Tak enak.''

''Kamu masih seperti dulu.''

Anne tertawa ringan,''Ya kalau suntuk atau kesal. Paling enak nongkrong di cafe.''

''See you,'' ujar Iin memutuskan sambungan ponsel.

Sambungan ponselpun terputus. Anne melanjutkan lamunannya. Pemilik cafe sudah terbiasa dengan kehadiran Anne dan sudah tidak heran melihat Anne duduk berjam-jam di cafenya tanpa makan. Ia tidak merada dirugikan oleh Anne. Karena hampir semua bangku penuh dan silih berganti, tetapi Anne masih saja bertahan duduk di bangku berjam-jam.

Anne mulai merenung dan berpikir, emosinya belakangan ini meledak-ledak. Bagaikan bom waktu yang siap meledak kapan saja, meskipun percikan-percikan emosi sudah terlontarkan. ''Ya, aku harus mencoba mengontrol diriku. Bagaimanapun sulitnya, akulah yang bisa melakukan itu. Aku tidak boleh larut dalam suasana hatiku yang sedang tidak baik. Aku harus mencoba bangkit kembali.''

Sebagai manusia, terkadang kita sering lepas kendali terhadap perasaan dan tingkahlaku kita. Terkadang kita sadari tindakan yang kita lakukan menyakiti orang lain. Namun kita tak kuasa menolak untuk berbuat atau melakukan tindakan yang jelas-jelas kita akan sadari kita yang bersalah.

Kontrol diri memang sulit, mengikuti perasaan kadang ada baik dan buruknya. Namun sebagai manusia kita harus mencoba bersikap bijak dan peduli tanpa mengikuti perasaan yang kadang membuat kita menderita.

Mertua Menjengkelkan

Bosan dengan lokasi perumahan yang sepi, Anne ingin mencoba suasana yang berbeda. Hidup harus penuh warna, itu prinsip kehidupan Anne. Karena itu, dia memutuskan untuk mengontrak rumah di lingkungan yang berbeda. Bahkan kondisi lingkungannya juga jauh berbeda dari tempat lingkungan perumahan yang nyaman dan sepi dari perumahannya.

Meski baru tiga hari tinggal di rumah kontrakan yang dempet dengan rumah tetangga sebelah. Anne sudah akrab dengan keluarga sebelah. Rumah munggil itu ditempati dua keluarga yakni mertua dan menantu wanita.

Awalnya kehidupan keduanya lancar, namun begitu si menantu sudah punya anak. Terjadi kesenjangan. ''Ann, sekarang ini susah,'' ujarnya saat bertandang ke rumah Anne.

Anne yang sedang membolak-balik majalah, langsung menutup majalah. Masih dengan tatapan bingung, ia memandang wanita putih yang ada di depannya itu. ''Maksudnya?''

Mulailah, Rina bercerita, sejak anaknya lahir, kelakuan mertuanya menyebalkan, khususnsya mertua perempuan. Sedangkan mertua laki-laki baik sama dia. Bahkan sama anaknya, maklum cucu pertama.

Kondisi rumahtangga mertuanya memang berbeda dengan kondisi rumahtangga yang lain. Mengingat mertua prianya memiliki istri dua dan lebih dominan tinggal di rumah istri lainnya. Setiap mertua prianya datang, si menantu di jelek-jelekin.

''Aku bingung, kondisiku sekarang beda saat aku belum punya anak. Anak aku masih kecil dan capek ngurusnya, keluhnya.

Rupanya aktivitas Rina yang biasanya membantu semua pekerjaan rumah dari mencuci, masak, membersihkan rumah, menyeterika baju. Jadi tidak bisa dilakukan semuanya. Jadinya mertuanya beranggapan dia malas.

Raut wajahnya yang suntuk dan putus asa nampak tergambar, ''Saya bingung benar lo Ann.''

''Ya harap maklum aja,'' katanya.

Saat itu Rina sedang menggendong putra pertamanya nampak sedikit bergoyang, menenangkan bayi dalam gendongannya. ''Aku cuma bisa bantu sebiasanya, tapi tetap juga dianggap salah. Akhirnya belakangan ini aku ngurung terus di kamar.''

Tatapan mata Anne pun berubah binggung, ''Maksudnya?''

''Begini, biasanya aku bantuin mertua masak or bersih-bersih jika anakku tidur. Sekarang tidak lagi, kesal aku. Mana capek.''

Itu bisa dimaklumin memang, sebagai tetangga Anne mengetahui betul kondisi Rina. Rumah berdempet, terkadang membuat Anne mau tidak mau terbangun dari tidur lelapnya. Dikarenakan bayi yang menanggis sepanjang malam.

Sebagai ibu tentunya Rina tidak mungkin tidak bangun. Pastinya, kasat mata pun akan nampak. Meskipun terkantuk-kantuk, ia akan menenangkan bayinya, memberikan apa saja agar anaknya itu terdiam.

Rupanya tindakan yang dilakukannya pun dianggap salah. Mertuanya melaporkan pada suaminya. Nama Rina pun jadi jelek dimata mertuanya yang lain. Padahal, dia tidak sepenuhnya salah. Mengingat ibu muda dan pengantin baru, butuh ruang privasi sendiri.

Anne menyarankan agar dia mencari tempat tinggal lain.

''Aku sudah bilang ke suami, tetapi dia bilang bersabar dulu. Padahal tidak ada masalah. Jika hanya makan pakai garam, yang penting hidup tenang,'' ucapnya lirih.

''Yang sabar aja Rin, namanya juga berumah tangga,'' ujar Anne.

***

Beberapa hari kemudian Rina datang ke rumah, wajahnya sedikit sumringah. ''Aku diberi nasehat An,'' katanya.

''Sama siapa?''

''Mertua perempuan satunya lagi,'' ucapnya semangat.

''Begitu,'' kataku sedikit penasaran, ''Memangnya dia beri nasehat apa?''

''Sifat mertuaku yang ini kan memang seperti itu,'' tutur Rina, ''Karena itu si ibu menyarankan kalau aku juga bermanis-manis. Sehingga kata-katanya tidak sesuka-sukanya menjelek-jelekan aku di depan mertua laki.''

Tatapan Anne makin bingung. Melihat ekspresi teman curhatnya tak mengerti. Rina kembali menjelaskan, biasanya saat si kecil tidur, aku tidak pernah keluar kamar, tetap berada di kamar.

''Pernah ada mertua laki datang, tanya aku dimana. Dengan ketus, mertua perempuan bilang kerjaku tidur terus. Padahal tidak, nah si ibu bilang aku harus pandai mencari titik agar aku tidak dijelek-jelekan lagi. Apalagi sampai dipojokin.''

''Begitu ya?''

Ia pun mengangguk mantap dan dengan mata berbinar. Minimal bebannya sedikit berkurang.


Masalah yang sangat umum dialami para pasangan muda, salah satu yang tersulit adalah menghadapi mertua! Kehidupan berumah tangga memang tak hanya membutuhkan saling cinta, tapi juga bagaimana keduanya mampu membaur dengan kebiasaan dan sifat orangtua masing-masing.

Setiap keluarga memiliki kebiasaan berbeda-beda, perbedaan inilah yang harus mampu dipahami dan disesuaikan. Terutama bagi pasangan yang masih tinggal satu rumah dengan mertua.

Wajar bila setiap orang mengalami takut dan tertekan dengan orang lain yang berbeda kebiasaannya, konflik antara mertua dan menantu sangat mudah terjadi apabila keduanya tak mampu menjalin komunikasi yang baik dan lancar.

Berikut ini permasalahan yang sangat umum menjadi pemicu antara mertua dan menantu, serta bagaimana cara mengatasinya:

- Kritikan
Baik mertua atau menantu kerap melancarkan kritik bila salah satunya melakukan kesalahan, baik langsung maupun kepada orang lain. Meski masalahnya sepele, namun kritikan yang menyudutkan akan memicu permasalahan yang cukup besar.

Bila memang kritikan mulai dianggap mengganggu dan menjengkelkan, ada baiknya untuk meminta pengertian untuk tidak lagi berkomentar mengenai kejelekan masing-masing.

- Kebiasaan Negatif
Setiap orang pasti memiliki kelemahan atau kebiasaan yang dianggap menyebalkan oleh orang lain, tapi bila kebiasaan tersebut kemudian terus diungkit tentu akan memicu terjadinya konflik.

Hadapilah semua perbuatan tersebut dengan santai dan responlah dengan senyuman, jaga emosi agar tidak terpancing. Bila tingkahnya sudah melebihi batas, cobalah bicarakan baik-baik padanya. Bisa melalui candaan maupun mengatakannya langsung dengan sikap sopan.

Agar hubungan antara mertua dan menantu bisa kompak dan saling menghormati, ada tiga hal yang bisa dilakukan secara bersama-sama, yaitu:

1. Menjaga Komunikasi
Komunikasi yang baik dan lancar adalah kunci utama dalam membangun kebersamaan antara mertua dan menantu. Cobalah jalin kebersamaan dengan saling memahami dan memaklumi kebiasaan satu sama lain, bila masing-masing saling menjaga sikap maka konflik pun bisa dihindari.

2. Saling Terbuka
Perbedaan latar belakang dan kebiasaan dua keluarga kadang menyulitkan untuk saling terbuka, namun ingatlah bahwa Anda berdua kini telah menjadi satu keluarga. Karena itu, mulailah jalin sikap saling terbuka satu sama lain. Baik hal prinsipil seperti keuangan dan kesehatan, hingga hal-hal sepele seperti masakan dan lainnya.

3. Jalin Kebersamaan
Utamakanlah acara bersama keluarga, baik keluarga sendiri maupun pasangan. Atur jadwal sebaik mungkin sehingga Anda bisa memberi waktu cukup untuk menjalin kebersamaan dengan keluarga besar pasangan. Selain dapat semakin saling mengenal, hadir di acara keluarga akan meminimalisir pandangan negatif orang lain terhadap Anda.

Menjalin keharmonisan antara menantu dan mertua memang menjadi tantangan tersendiri bagi pasangan baru, namun dengan memahami dan memaklumi karakter serta kebiasaan mertua, maka hubungan baik pasti akan terjalin dengan lancar. (berbagai sumber)

Maret 23, 2010

Virus Itu Bernama UN . . .

Belakangan ini menjelang Ujian Nasional ada banyak kejadian lucu. Semua itu dikarenakan virus. Virus itu yang bernama UN (Ujian Nasional). Biasanya setiap hari, di kota tercinta --karena saat ini aku tinggal di sin-- kota yang terkenal dengan sebutan kota gurindam dan negeri pantun tiada hari yang namanya tidak mati lampu.

Kali ini, menjelang UN hampir tidak ada mati lampu di rumah. Sebagai masyarakat juga, aku merasa bersyukur. Namun menurut beberapa masyarakat, ini dikarenakan anak-anak sedang menghadapi UN. Sehingga orangtua meminta dispensasi dari PLN agar mempertimbangkan hal ini.

Mengingat tidak semuanya warga Tanjungpinang adalah warga kaya raya yang mampu membeli genset jika sedang mati lampu. Mati lampu tidak tanggung-tanggung sekali mati bisa sampai tiga jam lebih. Bahkan kadang dalam sehari bisa dua kali mati lampu. Bahkan ini ya, pengalaman pribadi, yang kurasakan sehari tiga kali, seperti minum obat.

Jadi permintaan para orangtua yang memang mayoritas bukan yang berduit bisa di maklumin. Apalagi anak ditekan dari guru, guru di tekan kepala sekolah, kepsek di tekan Disdikpora Kab/Kota, Disdikpora ditekan Disdik Kepri, Disdik Kepri ditekan Menteri Pendidikan. Benang kusut jadinya.....

Em . . . Sebenarnya tidak ada salahnya dengan UN, tetapi apakah kualitas dan kuantitas sekolah bisa di samakan??? Bagi orang yang berduit, sekolah di sekolah yang bergengsi tentu tidak ada masalah. Bagi orang yang pintar, sekolah di sekolah yang bertaraf nasional Oke punya. Lalu, bagaimana dengan anak yang memiliki otak yang pas-pasan? Cuma satu kata, kasihan deh kamu, begitu kah??

Diluar itu semua, bagaimana dengan anak yang mendapatkan pendidikan di hiterland? Standar yang diberikan pemerintah pusat tidak tanggung2, rata-rata 5,5. Bagaimana dengan nasib mereka? Virus itu yang bernama UN tidak mengenal sosial, pendidikan dan juga sekolah bertaraf internasional atau hiterland. Karena semuanya tetap sama, tidak di pandang sebelah mata.

Namanya juga virus, mana bisa memilih orang kaya or orang miskin, orang pintar or orang bodoh. Jadi tidak heran, ada beberapa anak yang stres dalam menghadapi UN. Bukan UN-nya yang dijadikan momok, tetapi tekanan yang dihadapi anak.

Sebenarnya kalau dipikir2 UN sama seperti masa menghadapi EPTA/EPTANAS cuma bedanya sekarang UN dan itu semua menjadi sorotan semua, baik orangtua, murid, guru, kepsek hingga gubernur bahkan menteri.

Apakah pelajaran hanya sebatas mendapatkan nilai bagus atau diresapin hingga hari tua masih diingat? Pernah juga ada yang bilang di Asia, nilai standar UN yang paling rendah. Ah masa seh? Kalau dipikir-pikir, itu sesuai. Karena pembangunan sendiri tidak merata. Mengingat bagaimana daerah di hiterland, daerah di pelosok yang fasilitas pendidikannya saja tidak memadai.

Ah, tapi virus yang bernama UN tidak memandang. Anak pejabat hingga anak petani bahkan pengangguran, semua harus sama rata merasakan panas dinginnya menghadapi UN. Bagi yang punya duit, tidak ada masalah. Bisa kurus di tempat kursus yang bergengsi, bahkan pakai jaminan jika tidak lulus, uang kembali...

Sebenarnya tidak ada salahnya dengan UN, namun orang-orang yang dibelakang UN ini membuat pelajar mengalami depresi hingga stres menghadapi tekanan UN. Padahal UN sama seperti ujian kelulusan biasa, hanya saja beban moral jadi lebih kental dibanding beban kewajiban yang sudah dilaksanakan selama tiga tahun. Ditentukan hanya empat mata pelajaran saja.

Maret 14, 2010

Harus kah?

Hidup ini terkadang tidak bisa kumengerti sepenuhnya. Banyak hal yang unik dan terjadi belakangan ini. Namun, dari semua itu aku bertambah dewasa dan bersikap dan berpikir. Harus kah? Itu lah yang selalu menjadi pertanyaanku berulang-ulang.

Permainan

Hidup ini bagaikan permainan dan terkadang kita diatas dan terkadang kita dibawah. Namun dari semua itu Harus kah? Itulah yang selalu membayangi setiap langkahku. Semuanya hanyalah permainan, baik kita yang menyusun skenario maupun orang lain.

Permainan yang kadang kita membuat kita kalah, menang atau seri. Aku hampir terjerumus di dalamnya. Di dalam permainan yang bisa membuatku hancur berkeping-keping. Pengalaman yang kurasakan ini, ternyata juga pernah dialami oleh beberapa kawan.

Ya, memang. . . . The game... everybody is player. Karena itu, jika permainanmu kalah dan telah terlanjur keluar dari jalur. Jangan malu untuk kembali ke jalur dan membuatmu semakin berhati-hati dalam menentukan kehidupan.

Perasaan

Jika mengingat perasaan, semua orang memiliki perasaan. Namun harus kah, perasaan itu jatuh pada orang yang salah? Kalau iya, buang jauh-jauh perasaan itu. Mulai kembali menata perasaan. Jangan jadikan perasaan itu bumerang bagi diri sendiri. Karena terkadang perasaan bisa saja salah.

Logika VS Feeling

Ah, ini lah manusia, selalu menggunakan logika atau feeling. Terkadang logika dan feeling sangat bertentangan. Kadang kita tidak tahu mana yang tepat, feeling or logika. Dengan adanya orang-orang disekeliling kita. Itu akan membuat kita kuat dan tidak terjatuh pada tipu muslihat dunia ini. Yang kadang menggunakan cara kotor mempermainkan perasaan.

Jika manusia sudah memainkan perasaan, terombang-ambing dalam perasaan. Kadang akal sehat dan logika tidak sejalan. Namun dari semua itu, pastilah feeling yang diutamakan. Terkadang, kita harus akui feeling dan insting kita terkadang salah!!!

Jadi haruskah? berbagi persoalan dengan teman atau keluarga?? Atau hanya berdiam diri dalam kebisuan. Ini sudah aku rasakan selama beberapa bulan terakhir. Aku menyadari terkadang feelingku salah. Instingku tidak peka, karena perasaanku yang hanyut dalam alunan permainan skenario seseorang... Untunglah, aku masih punya peganggan yang selalu mengingatkanku.

Doa

Bagi sebagian orang terkadang doa hanyalah rutinitas dan menjemukan. Namun, aku sadari doa yang tak pernah putus-putusnya aku panjatkan. Membuatku menyadari kesalahan dan kekeliruanku. Walaupun sakit, aku tetap bersyukur. Karena meskipun aku jatuh, aku masih jatuh diatas awan-awan. Thanks God, berkatMu aku masih bisa mengendalikan pikiran dan hatiku.

Telepon Misterius

Minggu sore, tepatnya tanggal 28 Februari, jam 03.00 PM, saat aku sedang online di ponsel. Ada dua tanda miscall, ketika aku ofline. Nomor itu tidak ada di phone book ku. Pesan singkat aku kirimkan kepada nomor tersebut. ''Sapa neh''

Tak lama berselang, ponselku berbunyi. Saat itu, aku sedang menghadiri kebaktian rumahtangga, di rumahnya mama Nadia. Aku perhatikan nomor yang tidak tersimpan dalam phone book ponselku.

Setelah nada dering keempat, aku mengangkat nomor itu. Seperti biasa, aku ucapkan salam dan menanyakan siapakah sang penelpon itu. Betapa terkejutnya aku, saat suara wanita itu menyebutkan namanya dan menyebutkan masa lalunya.

''Ini XXX (maaf, sensor made on), masih ingat mbak. Ini mbak citra kan?''

''Iya benar, saya sendiri. XXX sapa ya?''

''Itu mbak, yang korban trafficking. Masih ingat mbak.''

Karena tidak ingin mengecewakan si penelpon, aku pun mengiyakan sambil berpikir siapa dan yang mana. Akhirnya aku teringat kejadian beberapa tahun lalu. Dimana kasus trafficking terjadi dan korbannya adalah ABG. Dia adalah salah satu korban tersebut.

Tentunya, aku merasa senang. Karena dia masih mengingat aku, yang hanya lah seorang kuli tinta. Bahkan nomorku pun masih dia simpan. Ada nada tak percaya saat aku tanyakan keadaannya.

Untunglah masa lalunya yang buruk, tidak membuatnya terpuruk pada masa itu. Dimana dia dan kawan-kawan senasibnya dijadikan pelacur. Sekarang dia bekerja sebagai penjaga toko di Jakarta. Aku harap korban-korban yang lain juga bisa memulai lembaran baru dalam kehidupannya.

Wish the best for all of you guys... Masa lalu terkadang memang pahit, namun jangan sampai menjadi terpuruk dikarenakan persoalan itu. Aku harap, kalian bisa bangkit dan berjuang menyongsong masa depan yang gemilang.

Maret 07, 2010

Kepercayaan Advent I

Advent Hari Ketujuh menerima Alkitab sebagai satu-satunya kredo terus keyakinan dasar tertentu sebagai ajaran Kitab Suci. Keyakinan ini, sebagaimana diatur di sini, gereja merupakan ekspresi pemahaman dan ajaran Kitab Suci. Revisi dari pernyataan-pernyataan ini dapat diharapkan pada sesi Konferensi Umum ketika gereja dipimpin oleh Roh Kudus untuk pemahaman yang lebih lengkap tentang kebenaran Alkitab atau menemukan bahasa yang lebih baik untuk mengekspresikan ajaran-ajaran Firman Tuhan.


1. Kitab Suci:
Kitab Suci, Perjanjian Lama dan Baru, adalah Firman Allah tertulis, yang diberikan oleh ilham Ilahi melalui orang-orang kudus Allah yang berbicara dan menulis ketika mereka digerakkan oleh Roh Kudus. Dalam Firman ini, Allah telah berkomitmen kepada manusia pengetahuan yang diperlukan untuk keselamatan. Kitab Suci adalah penyataan sempurna kehendak-Nya. Mereka adalah standar karakter, ujian pengalaman, otoritatif pewahyu doktrin, dan catatan dapat dipercaya tindakan Allah dalam sejarah. (2 Petrus 1:20, 21; 2 Tim. 3:16, 17; Ps. 119:105; Prov. 30:5, 6; Isa. 8:20; Yohanes 17:17; 1 Tesalonika. 2:13; Heb. 4:12.)

2. Trinity:
Ada satu Allah: Bapa, Anak, dan Roh Kudus, suatu kesatuan dari tiga co-Orang kekal. Allah adalah abadi, semua-kuat, semua-tahu, di atas semua, dan pernah hadir. Dia adalah tak terbatas dan di luar pemahaman manusia, namun dikenal melalui penyataan diri-Nya. Dia adalah selamanya patut disembah, adorasi, dan pelayanan oleh seluruh ciptaan. (Ulangan 6:4; Matt. 28:19; 2 Kor. 13:14; Ef. 4:4-6; 1 Petrus 1:2; 1 Timotius. 1:17; Wahyu 14:7.)

3. Bapa
Allah Bapa yang kekal adalah Pencipta, Sumber, Pemelihara, dan Penguasa seluruh ciptaan. Dia adalah adil dan suci, penuh belas kasihan dan murah hati, lambat untuk marah, dan berlimpah kasih setia dan kesetiaan. Kualitas dan kekuatan dipamerkan dalam Anak dan Roh Kudus juga ayat-ayat dari Bapa. (Kejadian 1:1; Rev 4:11; 1 Kor. 15:28; Yohanes 3:16; 1 Yohanes 4:8; 1 Timotius. 1:17; Ex. 34:6, 7; Yohanes 14:9 .)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Kota Cinta | Kita Bahagia | diary Citra