Mei 28, 2010

Bedah Buku Bual Kedai Kopi Hujan Kritik

Suryatati : Kedepan akan Lebih Baik Lagi

BANDUNG (TP)- Suryatati A Manan kembali meluncurkan buku terbarunya yang berjudul Bual Kedai Kopi yang ditulisnya bersama Martha Sinaga. Buku ini merupakan buku kelima, setelah buku Surat untu Suami yang dilucurkan pada tahun 2009 lalu. Menurut Walikota Tanjungpinang, Suryatati A Manan, yang juga penulis Sabtu (15/5), buku ini merupakan buku kelima dan juga buku kedua berduet dengan Martha Sinaga.

''Saya membuatnya sudah lama. Hatiku berdebar-debar menunggu komentator dari tiga orang yang ahli sastra. Kita lihat bagaimana nantinya,'' ungkapnya.

Buku kelima ini merupakan buku pantun dan syair yang telah lama dibuatnya dan baru bisa dilucurkan sekarang. ''Buku ini saya harapkan bisa memberikan motivasi dan inspirasi. Karena kita memiliki aset yang luar biasa dalam dunia sastra. Syair dan pantun sudah lama ada dan tidak hanya di Tanjungpinang saja tetapi juga di Sumbar dan Jawa dengan nama yang berbeda,'' tuturnya.

Ia berharap dengan adanya buku syair dan pantun ini bisa merambah dan memberikan motivasi dan inspirasi bagi yang lain untuk bisa melakukan hal yang serupa.

Sebelum buku Bual Kedai Kopi dibedah oleh
Sides Sudyarto, Matdon dan Ahmadun Yosi Herfanda di hotel Mitra Bandung, beberapa penyair Tanjungpinang membacakan beberapa pantun dan syair yang tertulis di buku Bual Kedai Kopi yang halamannya berjumlah 117.

Tatik, sapaan Suryatati A Manan menambahkan buku ini ada beberapa foto yang menggambarkan kota Tanjungpinang. ''Jika tidak percaya melihat keindahan Tanjungpinang dari foto ini, bisa datang langsung dan melihat sendiri kota Tanjungpinang,'' ungkapnya.

Sementara itu, Sides Sudyarto sebelum membedah buku Suryatati A Manan dan Martha Sinaga menuturkan bahasa Melayu sudah cukup panjang usianya. Karena sudah dikenap pada awal abad ke 20 di Pulau Sumatera dan Pulau Bangka.

''Dalam kandungan bahasa Melayu itu kemudian hidup segala macam bentuk sastra seperti syair, pantun, talibun, gurindam dan sebagainya. Ilmu pengetahuan, kesenian, juga agama hidup dan menyebar melalui bentuk syair dan sebagainya,'' urainya.

Pria kelahiran Desa Banjaranyar itu mencontohkan tokoh tasauf dan agamawan Hamzah Fanzuri, menuliskan larya-karya yang terkenal dalam bentu syair. Begitu juga dengan tokoh budayawan dan sufi melayau Raja Ali Haji yang juga mengabadikan karyanya yang mashur, gurindam dua belas dalam bentuk syair.

Menurut Sides yang sudah melalang buana dalam dunia sastra, bual kedai kopi bukanlah sebuah bualan, melainkan sebuah kesaksian dua pribadi mengenai realitas sosial yang memancing kritik kedua penulis.

''Kesaksian dan kritik sosial dikemas dalam dua bentuk syair dan pantun. Dengan begitu antologi karya berdua memiliki fungsi ganda yakni melestarikan bentuk pantun dan syair sebagai genre sastra kita. Mereka juga menyampaikan sumbanhgsih dalam bentuk keprihatinan menyangkut lingkungan manusia dan lingkungan hidup kita yang sedang meradang akibat ulah sesama manusia,'' tukasnya.

Sementara itu, Matdon menuturkan judul kumpulan syair dan pantun bual kedai kopi ini langsung mengingatkannya pada estetika lokal. ''Bahasa Melayu yang ada di Kepulauan Riau memang terdengar unik dan klasik, namun memiliki daya tarik yang asyik. Lokalitas kata bual yang menggambarkan realitas tradisi masyarakat disana, budaya ngobrol, sekedar berbincang-bincang santai atau membicarakan apa saja,'' ungkap Matdon.

Ia menambahkan kata bual pada awal judul buku ini nampak pragmatik, tetapi konsep kata ini malah membuat sastra di Kepulauan Riau memiliki pijakan, sebab karya sastra yang menyadari estetika lokal akan memperkaya bahasa Indonesia.

Pantun hingga saat ini masih dipakai kalangan muda, meskipun penggunaannya hanya sekedar untuk main-main maupun hiburan dan bahasa pantun pun disesuaikan dengan masa sekarang. ''Pantun menunjukan kecepatan seseorang dalam berpikir dan bermain-main dengan kata dan fungsi pantun yang sakral agak berubah menjadi profan,'' terangnya.

Untuk syair berbeda dengan pantun. Matdon yang juga penyair menuturkan, syair adalah puisi lama yang sudah jarang dipakai pada masa kini.

''Bedanya pantun masih banyak digunakan dalam bahasa gaul, syair boleh dikatakan tidak. Para penyair lebih memilih syair kontemporer, modern, mbeling, haiku, ketimbang harus membuat syari yang dinilai terlalu mengikuti aturan dan tidak bebas bahkan dianggap membelenggu kebebasan berbahasa,'' jelasnya.

Dari sesi tanya jawab, beberapa penulis dan penyair yang hadir nampak antusias bertanya maupun memberikan masukan dan kritikan kepada hasil karya duet antara Suryatati A Manan dan Martha Sinaga.

Salah satunya, Naning Pranomo seorang novelist menuturkan, hasil karya puisi dan pantun ini merupakan hasil karya yang bagus dan juga harus memperhatikan beberapa aspek dalam hal menulis puisi.

Hal senada juga diungkapkan salah satu tamu yang menuturkan dalam menulis pantun maupun syair juga harus memperhatian etika, jangan sampai menyebut nama apalagi untuk hal yang negatif.

''Untuk judulnya tidak mewakili semua isi dalam buku bual kedai kopi, karena hanya satu penulis saja, Martha Sinaga yang menuliskan mengenai kedai kopi,'' ungkapnya.

Menjawab itu, Suryatati A Manan menuturkan pihaknya sudah menuliskan gambaran mengenai bual kedai kopi pada kata pengantar. ''Kedai kopi yang saya maksud bukan hanya sekedar pembahasan di kedai kopi. Melainkan topik yang dibahas,'' tutur Tatik.

Ia menuturkan, masukan dan kritikan yang diterimanya pada saat bedah buku merupakan suatu pelajaran dan akan lebih teliti lagi dalam menulis.

Namun Tatik menegaskan buku kelimanya ini tetap akan beredar di pasaran untuk menambah warna dunia sastra dalam bidang syair dan pantun.

Mei 25, 2010

Ini No sapa???

Geram Kali aku kale ini. . . . . Sudah hampir dua minggu ini, banyak nomor yang gak jelas miss call -miss call yang gak penting. diangkat mati, dibiarkan menjadi-jadi.

Sadar gak seh, tindakan itu merugikan orang lain.... Merugikan waktu, tenaga. Gara2 orang iseng, eh orang nelp penting malah gak diangkat... Uh bete banget neh, ma beberapa nomor.
Em. Ini hanya sebagian saja nomor orang yang senang menganggu kehidupan orang

0813 712 484 63

085272007954

0813 716 375 37

0813 65688965

081270038296

Em.. Diharapkan jangan gangguin orang ya

Mei 20, 2010

Bijak atau Tidak Bijak

Aku pikir bekerja di 'dapur' media merupakan pekerjaan yang memiliki pemikiran dan pandangan yang 'bebas' dalam artian berbeda jika bekerja sebagai PNS. Dimana semuanya serba terbuka dan saling mensupport atau mendukung satu dengan yang lain. Karena berada dalam satu dapur yang sama.

Aku tidak tahu mana yang bijak atau tidak bijak. Mana suara yang pantas di dengar atau tidak. Karena ternyata semuanya membingungkan dan semu. Semua saling mencela dan menyindir tanpa memberikan argument dan penjelasan yang bisa kumengerti...

Aku mengharapkan ada kebijaksanaan dalam memberikan kritikan dan masukan agar semua menjadi jelas. Bukannya setengah-setengah, itupun bukan langsung disampaikan ke 'kita' melainkan melalui 'orang lain' dan selalu dibahas setiap saat. Tanpa ada intruksi lebih jelas ingin solusi seperti apa?

Mei 19, 2010

Kenangan Buruk Pemacu Semangat

Aku adalah seorang anak yang tidak pintar dan tidak memiliki kepandaian apapun. Aku hanya mempunyai mimpi, mimpi yang berubah-ubah sejak aku kecil. Pertama sekali menginjakan kaki di bangku sekolah. Aku ingin menjadi guru, itu dikarenakan guruku baik sekali.

Meskipun saat ini aku lupa namanya, waktu itu, aku masih ingat dengan jelas gambaran yang kualami dam kurasakan. Guruku itu mengambilkan aku minuman dan kue. Bahkan aku dibelikan ice cream, Ia sangat baik dan perhatian. Aku ingin menjadi dia begitu besar.

waktu berlalu dan saat aku dibangku kelas lima. Aku bercita-cita ingin menjadi perawat agar bisa menyuntik orang. Karena perawat itu sangat baik dan penyabar... Namun menjelang aku duduk di bangku SLTA. Keinginanku ingin menjadi penulis. Aku mencoba menulis dan menulis. Walaupun hasilnya nol, tetapi aku terus mencoba. Beberapa om dan tante suka ''mengejek'' diriku. Karena aku pelat dan sebagainya.

Tapi anehnya aku malah terus ingin membuktikan bahwa aku bisa melakukan apa yang aku inginkan. Kenangan di masa laluku, memicu aku untuk terus berbuat yang lebih baik lagi.

Jakarta-Bandung Part 2

Jam sudah menunjukan pukul 07.00, aku duluan keluar dari dalam kamar. Karena --jeng-- desi masih sibuk mengetik berita. Saat turun dari lantai dua ke lobi, kesal juga saat melihat keluar hotel. Hujan sedang turun dengan derasnya. Padahal aku sengaja turun lebih awal ke lobi, karena dari tadi aku sudah tidak sabaran ingin ke Rumah Buku.

Menunggu sepuluh menit, sambil sekali-kali memandang langit dan berharap hujan reda, atau minimal tidak sederas itu. Sehingga bisa diterobos menuju toko buku yang bersebelahan dengan hotel Mitra, tempat kami menginap nanti malam -karena kan belum tidur di sana hehe--.

Parkiran hotel yang memiliki lantai sekitar lima lantai itu tidak memiliki parkiran luas. Alhasil beberapa sekuriti sibuk membantu orang yang keluar dari mobil. Kucoba berbicara dengan salah satu sekuriti yang juga membawa payung.

''Pak, boleh pinjam payungnya sebentar,'' tanyaku saat itu.

''Boleh aja.''

''Makasih pak, cuma ke toko buku sebelah saja koq. Gak lama.''

Begitu tangan pria yang memiliki kulit sawo matang itu mengulurkan tangannya menyerahkan payung berwarna biru yang sudah agak usang. Aku segera meluncur ke toko buku sebelah hotel. Sayang, baru melihat-lihat sekitar lima menit. Teleponku berbunyi dan aku disuruh segera balik ke hotel.

Dengan sedikit kecewa, aku kembali ke hotel dengan membawa payung pinjaman tersebut. Begitu sampai di hotel, beberapa kawan -tidak semuanya- sudah stand by. Aku segera mengembalikan payung dan masuk ke mini bus.

Rencananya kita mau makan di tempat yang praktis dan simple, sehingga ada waktu tuk jalan-jalan. Jadi terpilihlah Bumbu Desa... Tempat kami makan malam itu.

Mei 17, 2010

Jakarta-Bandung Part 1

Senang juga mendapat kesempatan pergi --lagi-- ke Bandung. Meskipun cuma sehari aku puas juga. Sabtu (15/5) berangkat dari Tanjungpinang bersama dengan kawan-kawan dan juga rombongan walikota Tanjungpinang. Kebetulan karena hari sabtu dan biasanya keluarga pergi ke gereja. Jadi aku berangkat ke sana sesuai dengan perjanjian, tiba di airport atau bandara sekitar jam 06.20.

Karena tak satupun orang yang aku kenal ada di bandara, segera aku setel musik dari ponselku dan membuka lembaran buku yang belum sempat aku tuntaskan. Tiap lembar novel yang kubaca cukup ampuh mengusir kebisuan dan juga kebisingan bandara di pagi hari.

Tak lama berselang, Heni, Opi dan Sri pun datang ke bandara. Kemudian disusul rombongan yang lain, kecuali Desi. Kami sudah hampir naik pesawat, dia baru datang. Jadilah kami naik dengan Sri Wijaya Air menuju Jakarta.

Disepanjang perjalanan, aku menikmati waktu santai dan mendengarkan musik. Sekali-kali berbincang-bincang dengan pak Aris maupun Desi yang kebetulan duduk sederet denganku. Alhasil perjalanan yang ditempuh tidak ada halangan. Kami tiba sesuai dengan jadwal.

Setelah sampai di bandara yang penuh dengan manusia yang hendak berpergian ke beberapa daerah lain, aku tiba di luar bandara Soekarno Hatta. Kemudian, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan mini bus --full ac-- Perjalanan selama tiga jam itu tidak terasa membosankan. Meskipun aku tidak tidur di sepanjang perjalanan Jakarta-Bandung.

Aku benar-benar menikmati waktu perjalanan itu. Dikarenakan menggunakan jalan tol, jadi tidak ada yang namanya si komo lewat --baca macet-- Jadi perjalanan sesuai dengan jadwal. Ya, daripada bengong dan bosan, bual-bual --bincang2-- kecil pun dimulai.. Dari hal yang sudah tahu maupun ya pura-pura tahu diluangkan --biar tidak bosan saja--

Dari sekedar mengenang perjalanan dari Jogjakarta ke Semarang naik motor dan mempertanyakan pertanyaan silly --koq tidak ada ya sepeda motor di jalan tol-- hahaha jelas sebagian tertawa. Ya secara -anak kecil- juga tahu. Ya daripada suntuk dan boring, tidak ada salahnya.

Karena kami belum sempat sarapan, alhasil perut keroncongan dan akhirnya kita makan pagi-siang di saung cibiut --entah benar apa gak ya-- Kami makan dan bersenang2 disitu. Setelah itu menuju hotel Mitra yang berlokasi di jalan --lupa aku--

Istirahat sebentar lalu dilanjutkan dengan mengikuti beda buku bual kedai kopi di lantai I. Buku karya Suryatati A Manan dan juga Martha Sinaga. Alhasil menarik pada saat bedah buku tersebut. Selain itu, aku juga bertemu beberapa orang yang menarik dan hebat --bagiku-- Bertemu dengan kak Yanti dan juga penulis senior, Naning Pranoto.

Meskipun perbincangannya singkat, tapi ia memberikan aku kartu nama untuk bisa saling berkomunikasi. Aku harap, aku bisa seperti kak Naning, hebat dalam menulis dan juga bermain theater.

Kegiatan selesai, meskipun wajah kami lelah --termasuk bu Tatik-- Namun sumringahnya tak pernah putus. Walaupun pada saat di bedah hujan kritikan terhadap karyanya terus dilontarkan. Salut buat bu Tatik....

Kemudian, aku kembali ke kamar dan mencoba tidur. Karena aku sekamar dengan Desi, Desi memilih membuat laporan dan aku mencoba tidur. Namun, meskipun mata lima wat tetapi kantuk belum juga datang.

Aku lirik jam di ponsel jam 5.30, kumencoba makin memejamkan mataku. Meskipun terasa ngantuk dan capek, tetapi mata ini tidak juga bisa dipejamkan. Lalu, aku memilih mandi. Rasanya menyegarkan ketika tubuh yang lelah bersentuhan dengan air anget dari shower yang keluar dan membahasi tubuhku.

Mei 03, 2010

Banjir Tinta

Baru kali ini melihat tinta muncrat ke wajah dan tanganku. Ini kejadian ini berawal dari Nadia yang mencoba mengisi tinta printer yang sudah habis untuk memprint kegiatan KPA (Kelompok Pemuda Advent). Sudah deh, rumah banjir tinta --tidak terlalu di dramatisir hehe--

Tinta yang tinggal 1/4 itu muncrat ke wajah dan baju kami. Alhasil, kami langsung lari ke kamar mandi untuk segera meninghilangkan jejak pada wajah dan tangan kami. Setelah berupaya menghilangkan tinta dari wajah, tangan dan dada kami. Masih ada sisa-sia tinta pada tangan.

Ruang tamu sudah --lumayan-- hancur, bunga kena tinta, meja kena tinda, kursi dan pastinya lantai yang lebih parah. Oh ya masih ada sarung bantal xixixi. Untunglah mama tidak marah, karena itu memang tidak disengaja, kecelakaan. Alhasil, jadi kerjakeras membersihkan lumuran tinta yang ada. Namun itu menjadi pengalaman yang unik.

Hampir seluruh rumah masih terkena sisa tinta yang masih tertinggal. Karena tinta printer cair itu lengket. Dibersihkan di pel tetap aja masih ada bekas-bekasnya. Adikku yang pulang kerjapun terkena tinta yang rupanya tersembunyi pada tumpukan buku-buku kuliahnya.

Ya, kejadian kembali terulang. Saat mencoba mengisi tinta lagi. Kembali lantai depan tertumpah tinta. Bahkan jarumnya pun sampai patah... Strong banget kan?????
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Kota Cinta | Kita Bahagia | diary Citra