Jam sudah menunjukan pukul 07.00, aku duluan keluar dari dalam kamar. Karena --jeng-- desi masih sibuk mengetik berita. Saat turun dari lantai dua ke lobi, kesal juga saat melihat keluar hotel. Hujan sedang turun dengan derasnya. Padahal aku sengaja turun lebih awal ke lobi, karena dari tadi aku sudah tidak sabaran ingin ke Rumah Buku.

Menunggu sepuluh menit, sambil sekali-kali memandang langit dan berharap hujan reda, atau minimal tidak sederas itu. Sehingga bisa diterobos menuju toko buku yang bersebelahan dengan hotel Mitra, tempat kami menginap nanti malam -karena kan belum tidur di sana hehe--.

Parkiran hotel yang memiliki lantai sekitar lima lantai itu tidak memiliki parkiran luas. Alhasil beberapa sekuriti sibuk membantu orang yang keluar dari mobil. Kucoba berbicara dengan salah satu sekuriti yang juga membawa payung.

''Pak, boleh pinjam payungnya sebentar,'' tanyaku saat itu.

''Boleh aja.''

''Makasih pak, cuma ke toko buku sebelah saja koq. Gak lama.''

Begitu tangan pria yang memiliki kulit sawo matang itu mengulurkan tangannya menyerahkan payung berwarna biru yang sudah agak usang. Aku segera meluncur ke toko buku sebelah hotel. Sayang, baru melihat-lihat sekitar lima menit. Teleponku berbunyi dan aku disuruh segera balik ke hotel.

Dengan sedikit kecewa, aku kembali ke hotel dengan membawa payung pinjaman tersebut. Begitu sampai di hotel, beberapa kawan -tidak semuanya- sudah stand by. Aku segera mengembalikan payung dan masuk ke mini bus.

Rencananya kita mau makan di tempat yang praktis dan simple, sehingga ada waktu tuk jalan-jalan. Jadi terpilihlah Bumbu Desa... Tempat kami makan malam itu.

Artikel Terkait:

Silakan pilih sistem komentar anda

Jadilah orang pertama yang berkomentar!

You've decided to leave a comment – that's great! Please keep in mind that comments are moderated and please do not use a spammy keyword. Thanks for stopping by! and God bless us! Keep Creative and Health