September 16, 2010

Weekend on The Trikora Beach Part III

Kali ini perjalanan untuk menjadi ''model'' ya maklum setiap lihat kamera. Tuh orang, langsung deh bergaya. Meskipun harus melewati perjalanan yang panjang.... Jadi ingat film kartun ninja hatori xixixi..... seperti apa ya lagunya, oh kalau tidak salah liriknya seperti ini, mendaki gunung bla bla bla deh...

Nah, perjalanan itu akhirnya hampir berakhir. Tralalala... duh, senangnya. Saat mau memasuki jalur batu karang lewat pintu. Ternyata di sana banyak --preman-- Habisnya bau alkholol sangat menyengat saat kami lewat. Apalagi mereka juga tidak sopan. Nah, kami jalan aja terus tanpa mengubris kelakukan para preman kuecil2 itu.

Dipalak Per Orang Rp5.000

Kami terus saja berjalan dan ternyata ada orang yang memanggil kami. Kami cuek saja terus jalan. Secara kami tahu, masuk ke lokasi itu gratis. Tidak mempedulikan, orang yang memanggil kami. Rupanya, mereka meminta bayaran, satu orang Rp5.000. Kami tidak mempersoalkan uang tersebut. Jika, uang tersebut masuk ke khas pemerintah. Berhubung, diriku tidak lagi bekerja dan malas berdebat. Aku membayarkan saja uang itu.

Baru beberapa langkah kami meninggalkan ''pos-posan'' itu. Ada lagi orang2 badung yang menggoda2 tak jelas. Cuapek deh... Kapan seh, Indonesia tuh pemuda2nya bisa grow up gitu lho.

Ternyata cuaca yang sudah sore dan badan lelah, membuat kami kurang semangat untuk melanjutkan perjalanan itu. Kami hanya sekedar duduk2 dan kemudian telp pun berbunyi. Di markas mereka sudah menunggu kami untuk pulang ke rumah. Karena hari semakin sore.

Hampir Celaka

Dalam perjalanan pulang, mobil yang dibawa Nadia terus saja melaju. Rupanya, jam 17.00 WIB, sudah banyak orang yang turut pulang kembali ke rumah masing2. Akibatnya, jalanan kecil itu pun menjadi macet.

Didepan kami, ada mobil Avanza yang berniat mau menyalib empat mobil yang ada di depannya. Karena mobil yang berada di barisan depan, merupakan mobil kijang tua yang berjalan lambat. Nadia pun, sejak awal memang ingin menyalib kelima mobil itu. Rupanya, mobil yang didepan kami tuh. Masih ragu2 tuk menyalib.

Namun, pada akhirnya bisa menyalib. Nadia pun mengikuti mobil yang ada di barisan depan itu. Ngebut. Pada saat itu, ban mobil belakang tergincir. Roland dan Hanes yang tidur di jok belakang terkejut dan terbangun.

Bagaimana tidak, kita nyaris celaka. Untung, Tuhan masih memberkati dan melindungi kami. Sehingga kami tiba di rumah dengan selamat. Dikarenakan, mama Nadia sudah memperingatkan dia untuk membawa mobil pelan. Kami pun bisa menikmati pemandangan pantai yang sudah surut dengan rasa syukur atas anugrah Tuhan.

September 15, 2010

Weekend on The Trikora Beach Part II

Ternyata menuju batu karang, penuh duri dan berliku. Pasalnya, kami bilang duri, dikarenakan batu karangnya tajam-tajam dan licin lagi. Jadi, untuk menginjak satu tanjakan untuk jalan harus ekstra hati-hati. Karena licinnya luar biasa.

Jadi seperti orang buta atau nenek-nenek. Kenapa aku bisa bilang seperti itu, karena kami berjalan ekstra hati-hati. Salah menginjak batu karang, ups kaki luka kalau tidak itu, bisa terpeleset dan jatuh. Luar biasa pengorbanan untuk bisa berfoto-foto di batu karang. Ini semua ide Maria. Oh, ya belum lagi banyak rumput laut, lumut dan juga binatang... Wuih... gilber, eh ternyata hasil fotonya kurang memuaskan.

Walaupun begitu, rasa capeknya terobati deh... Mana wajahku jadi makin hitam dan belang. Begitu kembali ke markas, beberapa kawan2 sudah pada cantik kembali. Alias, sudah mandi. Ya, karena sudah gerah. Eh, kebalik.... gatal, jadinya aku pun langsung deh ke tempat pemandian. Siapkan uang Rp2.000 untuk mandi. BAB juga Rp2.000, untuk Pi Rp1.000.

Setelah mandi, sueger... Meskipun airnya payau.. Berdandan dulu, lalu kembali ke markas. Nah, yang lebih parah lagi.... Ternyata beberapa kawan, Meri dan Nadia ngajakin ke sana... Parahnya, bukan karena mereka ngajakin ke sana. Melainkan perjalananya tuh, lumayan bikin kaki puegel tenan.....

Meskipun jam alroji sudah meunjukan pukul 15.00 WIB, cuaca masih saja panas... Ya, kami pun berjalan secara perlahan. Namun pasti.

Ketika ku Menerima-Nya

Tiada seindah hari ini
Dimana aku merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupku
Tiada seindah waktu itu
Dikala semua kesusahanku, kuserahkan padanya

Kerinduan untuk selalu berserah pada Nya
Semakin tinggi dan semakin kuat
Karena aku percaya, bersamaNya aku akan selamat

Kehidupan di dunia ini tidak lah abadi.
Karena kehidupan di dunia ini hanya untuk mencari
Mencari kedamaian dan pencerahan hati

BersamaNya aku merasakan itu
Karena bersamaNya hidupku aman dan tenang
Hidup bersyukur atas semua karunia yang ada
Sebelumnya aku tak pernah merasa bersyukur

Tak pernah merasa cukup
Selalu kekurangan
Selalu ada yang salah
Di dalam kehidupanku

Namun kini kehidupanku berbeda
AKu merasakan kedamaian
Itulah alasan aku hidup saat ini
Karena Yesus akan selalu bersamaku

Menjagaku, Melindungiku
Alasan itulah yang membuat aku bisa tersenyum
Karena seluruh hidupku adalah miliknya
Bersamanya aku akan selamat dan bahagia

Jumat 10 september 2010 di ruang tamu, Tanjungpinang

September 14, 2010

Weekend on The Trikora Beach Part I


Tidak seperti biasanya, weekend kemarin aku bisa libur. Karena berhubung masih suasana Lebaran. Maklum bekerja sebagai kuli tinta, membuatku tidak bisa menikmati waktu bersama keluarga. Walaupun, aku masih belum menikah. Jadi, keluarga yang kumaksud adalah adik2ku dan juga orangtuaku.

Wacana liburan ke trikora sudah lama direncanakan, bersama beberapa kawan yang juga mendapatkan liburan diwaktu yang sama. Alhasil, wacana itu pun bisa terlaksana. Aku bersama keluargaku dan juga beberapa keluarga kawanku, Merry, Nadia, Roland, dan juga keluarga Nababan, menikmati suasana liburan.

Dalam perjalanan akhir pekan kami ini, tidak lah mudah. Bagaimana tidak, semakin banyak orang tentunya komunikasi semakin tidak nyambung. Alhasil, seharusnya pagi, kami sudah berangkat, sampai sana malah jam 11an.

Sepanjang perjalanan ke pantai trikora --sampai saat ini, masih satu2nya pantai yang bisa dinikmati bersama-- Pasalnya, sejauh mata memandang hampir setiap bagian tanah yang kosong, tertuliskan tanah ini milik pemerintah, tanah ini milik A, B hingga Z kali ya.... Entah tahun berapa lagi, masyarakat masih bebas menikmati pantai, secara gratis.

Pantai trikora ini masih belum tercemar, indah dan menarik. Perpohonan kelapa dan juga bebatuan karang, serta ombak. Benar2 membuat kita menikmati suasana alam yang sesungguhnya. Deburan ombak lepas menghantam karang adalah pemandangan yang patut dinikmati dan disyukuri atas anugrah Tuhan.

Tiba dipantai trikora, suasananya --wuih-- full people, hampir semua bibir pantai dari ujung ke ujung penuh manusia. Ya, namanya juga hari libur. Mereka sama seperti kami yang juga ingin menikmati liburan bersama keluarga.

Mencari pondokan aja susahnya minta ampun, semua full. Wah, celutuk salah seorang dari kami, seharusnya lebih pagi... Em, namanya saja nasi sudah menjadi bubur, So tuk apa disesali bukan?

Jadinya, kami semua nongkrong di warung, pesan es degan --es kelape muda, cakap rang Melayu-- Kami pun mulai membuka bekal. Ada yang bawa opor ayam, mie, telur, ikan pepes dan masih banyak menu. Sebelum berenang, kita bersantap dahulu. Setelah itu let's go....

Mama Kesal

Suasana panas, tidak mengurungkan niat kami tuk berenang dan bersenang-senang. Secara memang semua sudah dipersiapkan... Uh, lagi-lagi penyewa ban mengambil kesempatan dengan harga yang mahal. Masa ban kecil aja sewanya mesti mengambil kocek Rp20 ribu, sedangkan ban big sekali sewa Rp40 ribu... Uih... tak apalah, kan tak setiap saat pantai ramai begini.

Aku menyewa ban kecil, jadi kelompok kami menyewa tiga ban. Nah, pada saat menikmati gelombang ombak bersama ban itu, kawan2 mengajak kekedalaman. Secara, aku tak bisa berenang, tentu saja teriak paling histeris. Ya, kalau tenggelam kan repot xixixi......

Em, bosan menganggu diriku, mereka pun mulai mencari korban yang lain. Aku ajak mama, tuk menikmati ban berdua. Secara, ternyata keseimbangan kami tidak sama. Kami hampir dua kali tenggelam --duh ban sialan--

Eh, alhasil, mama dah malas menggunakan ban dan marah-marah. Ya, mau bagaimana lagi, kadar asin di pantai trikora ini memang kelewatan banget... Maklum pantai lepas. Jadinya, uasein.... bener deh....

Mata aja sampai pedih, perut terasa mual pada saat tanpa sengaja ombak menghantam kami. Bosan diganggu ombak, aku pun ke darat. Rupanya, mama sudah ke darat duluan. Em, mencari lokasi kami aja kesusahan. Akhirnya, berhasil juga menemukan lokasi markas kami xixixi... Karena kebanyakan manusia, sampai tersesat pada arus manusia yang hilir mudik di sepanjang bibir pantai dan juga daratan...

Uih.... segarnya air putih yang melewati tenggorokan, yang terasa menyesakan dan pedih. Saat tanpa sengaja meminum air laut yang tak enak itu. Basuh muka dengan air minum.. Masih terasa lengket, karena kadar garamnya yang luar biasa tinggi.

Duduk sambil menikmati cake coklat buatan mama. Tidak lama kemudian, Maria pun datang dengan wajah kesal. Rupanya, tuh anak juga jadi korban ''penindasan''. Kita pun memutuskan untuk mencar dan menikmati aksi narsis kami dengan berfoto2 di sepanjang batu karang.

Penuh Duri dan Berliku

Ternyata untuk mencapai pemandangan yang bagus untuk diabadikan itu rupanya penuh perjuangan. Jarak dari markas kami ke sana hampir sekitar dua kilo meter. Udah sampai di dekat batu karang itu, kami pun melewatinya dengan jalur laut. Airnya di sana lebih jernih. Bahkan, kami bisa melihat perbedaan warna.

Ternyata menuju batu karang, penuh duri dan berliku. Pasalnya, kami bilang duri, dikarenakan batu karangnya tajam-tajam dan licin lagi. Jadi, untuk menginjak satu tanjakan untuk jalan harus ekstra hati-hati. Karena licinnya luar biasa.

September 10, 2010

Cake oh Cake


Add ImageSelama libur dua hari ini, seharusnya aku mengerjakan tulisan yang ingin dilombakan. Eh, bukannya mulai menulis, malah mulai memasak. Aku memiliki rencana ingin membuka cafe, saat aku resign dari perusahaan tempat aku mencari nafkah selama enam tahun ini. Bukannya karena aku sudah tidak betah lagi. Melainkan aku ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi.

Bulan karena ikut-ikutan kawan yang pada keluar. Karena aku mendapatkan kesempatan dan ini tidak ingin aku tolak lagi. Em, memasak cake dan menghias membutuhkan waktu dan tenaga... Alhasil capeknya luar biasa, tetapi melihat cake yang sudah dihias dan juga test yang yummy... semuanya telah terbayar....

Biar tidak lupa, aku mau menuliskan resepnya disini... Biar tidak hilang...

Bahan
4 butir telur
1 gelas gula
1 gelas tepung terigu
1/4 mentega yang sudah dicairkan
1 SM tepung meisena
1/2 SM pengembang kue
1/2 SM pelembut kue
1 ST vanila

Cara membuat
Kocok telur, gula, pengembang kue kurang lebih 10 menit, dengan mixer kecepatan penuh. Lalu masukan pelembut kue.
Kemudian kecilkan mixer dan secara bertahap masukan tepung terigu dan maisena. Lalu, mentega. Setelah itu matikan.
Masukan adonan kue ke dalam loyang yang sudah diberi mentega dan tepung. Biar tidak lengket. Campurkan kismis kering atau apapun yang disuka. Lalu, panggang di api sedang selama kurang lebih 30 menit.

Selamat Idul Fitri

Tidak terasa bagi kawan2ku yang menjalankan puasa, akhirnya telah selesai dan memasuki Hari Kemenangannya.... Begitu juga bagi blogger ataupun pengunjung blog di sini.... Kami mengucapkan Selamat Idul Fitri dan Mohon Maaf Lahir dan Batin...

Tiada kata yang begitu berarti, dari kerendahan hati yang paling dalam. Dengan tulus mengucapkan sepenuh hati... Atas segala upaya dan daya yang sudah dilakukan selama satu bulan penuh. Hingga akhirnya, mencapai hari kemenangan...

September 08, 2010

Sahur on The Road

Seperti biasa... Aku dan kawan2 setiap tahunnya selalu membagikan sahur bagi pekerja-pekerja malam. Alhasil, meskipun hujan pada saat itu, rencana membagikan nasi kotak kepada para pekerja malam dan juga pedagang kelontong, gepeng maupun pemulung tetap berjalan.

Tahun ini yang ikut bertambah dan nasi kotak yang dibagikan bertambah. Kita berkumpul di Rina-Rini, Batu 9 jam 1 dini hari. Satu per satu, kawan mulai berdatagan. Sambil menunggu nasi dimasukan ke dalam mobil. Sebagian kawan2 menyantap hidangan. Lalu, kami berlanjut mengelilingi batu sembilan untuk membagikan nasi kepada petugas2 malam, seperti satpam di beberapa penjaga bank, pegadaian hingga swalayan.

Yang paling lucu, waktu kawan membagikan nasi kepada petugas satpam di Bank. Satpam itu takut2 menerima... Ya, secara kan banyak kasus perampokan bank. Ya, begitulah kita sebagai mahluk hidup yang bertanggungjawab atas kerja, harus waspada.

Lalu, waktu pun terus berjalan, kami keliling membagikan makanan ke beberapa lokasi mulai dari pedagang asongan, pemulung hingga polisi dan juga petugas malam di RSUD maupun RSAL. Dimana mereka masih belum membeli makan untuk sahur.

Berbagi merupakan hal yang paling baik. Bukan hanya mencari nama, melainkan menebarkan kebaikan itu adalah baik... Memberikan contoh yang baik, tidak semuanya bisa berjalan dengan lancar dan baik.

September 03, 2010

Blind Side II

iDari situlah Anne simpatik pada Mike. Dipanggilnya Mike yang sudah mendekati pintu gerbang. Mendengar namanya dipanggil, Mike pun menoleh ke belakang. Anne meminta Mike tinggal bersama mereka, sampai Mike mendapatkan tempat tinggal yang nyaman.

Awalnya, Mike menolak. Namun, pada akhirnya, ia pun tinggal bersama Anne. Anak perempuan Anne, Collin, pada mulanya tidak menyukai Mike. Dikarenakan Mike tinggal bersama Anne untuk sementara waktu dan baju-baju Mike hanya beberapa lembar saja.

Anne meminta Mike untuk mengambil baju di rumahnya. Namun, pada saat Mike pulang ke rumah orangtua angkatnya ditemani Anne. Saat itu, Mike meminta Anne untuk tetap duduk didalam mobil. Wajah Mike, sedikit kecewa. Pada saat melihat keluarga angkatnya sudah tidak ada di rumah itu lagi.

Lalu, ia pun menyusul Anne yang sedang menunggunya di dalam mobil. Melihat Mike datang tanpa membawa apa-apa. Akhirnya, Anne memutuskan untuk membelikan Mike baju. Awalnya, Mike menolak. Namun, akhirnya ia bersedia di belikan baju, di salah satu toko yang ada di pinggiran kota. Dimana Anne tidak pernah mengenal lingkungan di sana. Apalagi mendatangi daerah tersebut.

Anne ketakutan, namun Mike berjanji tidak akan terjadi apa-apa pada Anne. Anne pun merasa aman dan nyaman. Ia pun menggandeng tangan Mike. Saat berada di toko serba ada dan serba ukuran big. Ternyata, Anne mengalami kesulitan mencari ukuran baju untuk Mike.

Anne pun memarahi pekerja yang ada di sana. Karena nama tokonya tidak sesuai yang tertulis. Mendengar perkataan Anne, petugas itu malah menyibir Anne. Jelas susah mencari ukuran anak yang berukuran super damper big. Anne sempat tersinggung mendengar perkataan petugas itu. Namun, Mike tidak menggubris.

Beberapa kali, Anne menyodorkan model baju kepada Mike dan Mike pun menolak. Lalu, Mike melihat baju yang dilipat. Saat memperlihatkan model baju pilihan Mike. Anne tidak percaya akan pilihan Mike. Namun, pada akhirnya Anne membelikan baju, pilihan Mike.

Baju pilihan Mike adalah baju garis-garis kuning dan hitam, jadi seperti bee. Eh, binatang lebah dengan ukuran super damper besar. JR pun mengejek Mike untuk mengganti baju hanget itu. Kata SJ, Mike, aku melihatmu seperti melihat lebah berwarna kuning besar.''

Mike hanya tersenyum mendengar perkataan SJ. Pada saat menjelang Natal. Seperti biasanya, keluarga Anne melakukan pemotretan keluarga. Untuk dijadikan kartu Natal. saat itu, Mike melihat prosesi

Begitu juga, pada saat pemotretan keluarga. Dimana pada saat itu, Mike menyaksikan Anne dan sekeluarganya melakukan prosesi pemotretan. Lalu, Anne memanggil Mike untuk bergabung berfoto bersama. Awalnya, Mike ragu. Namun SJ mengajaknya. Anne berjanji bahwa foto itu akan disimpan saja dan tidak dijadikan kartu Natal yang dikirim ke teman dan kerabatnya.

Rupanya, Anne mengirim foto yang ada Mike sebagai kartu Natal. Pada awal prosesi pemotran itu, aku tersenyum sendiri menyaksikan film ini. Dimana Mike tidak pernah tersenyum, saat photografer meminta semua menyembutkan kata agar tersenyum, yang ada malah Mike meringis.

Saat Anne berkumpul bersama kawan-kawannya. Kawan-kawannya lalu mengejek Mike. Anne tidak terima. Lalu, ia meninggalkan kawan-kawannya tersebut. Pasalnya, mereka mengatakan bahwa kehadiran Mike bisa menganggu keluarga mereka. Karena Anne memiliki anak kecil, SJ dan anak gadis, Collins. Keberadaan Mike bisa menganggu kehidupan sosial mereka.

Pada malam harinya, Anne menemui putrinya dan menanyakan mengenai keberadaan Mike apakah menganggunya atau tidak. Anaknya menjawab tidak masalah. Anne menyakinkan putrinya, jika Mike mengganggu kehidupannya. Ia akan mencarikan cara tempat tinggal untuk MIke.

Anne pun menanyakan kepada Mike, apakah ia mau tinggal berapa lama dengan keluarga. Karena, jika ia ingin tinggal lama. Ia tidak mungkin, terus-terusan untuk tidur di kursi tamu.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Kota Cinta | Kita Bahagia | diary Citra