Juni 29, 2013

Last Night on 31 Number


Every year if have lucky, your age will be add every you was born in the world. Like me, this night is my last time I got 31 number in my ages. Because in the first July, I will be 32. Thinking about two years ago, make my life so messy! Because I got some jobs from different company but I cant exist. Because the problems is I can't go to the church on saturday.

Searching jobs and I always rejected because of saturday. But that is okay, after two years get job and resign and I can't put that on my resume because will be bad on my history of my jobs. So I decided to try another thing. Learn how to design dresses and sewing.

I am so bless because I can do that, even the first time is so damn difficult. Now, I will be getting older and also keep single for hole my life hahahahahahaha........... Like I said I am ice queen!!!!!!!!!!!!  My sister try to help me get job in Maldives but never lucky because to long in journalist.

Yea that is okay. I am glad too even I really want to know that islands. I never go to aboard so far a way. Just Singapore and Malaysia for oversea. But I wish I can change my destiny, I can go to travel in the world, even if I will be 50 years old.

Okay 32 will not so extremely danger and I am still can do anything. Am I right. 32 is not bad number. Even I feel so "hot" hahaha please don't think negative about that. I mean the weather is so damn hot this night. I cant do anything about the weather.

I am also happy I have good friend in the world and I call him, Redly and his kids. He always support me as well I can imagine. and also Mr Danny and I call him, grandfather. Because I either don't have grandfather from my mum side and my father side.

Talking about grandfather, still fresh in my memories when I was so young. I was junior high school, in usually afternoon time, maybe in oversea in tea time. I was sitting with my grandfather, Soekomiharjo in terrace. Then my grandfather asked me what I wanna be when I was grow up. I said I wanna be the writer and also journalist, then I will be marriage with the white guy because white guy so romantic hahahaha. crazy idea for my ages.

But, yes I did to be writer and journalist. even just indie books and also I wrote on my blogs lol. I am so happy if I remembered all my good memories. Even Every year I will be older then I cant imagine. But a few months I felt so bad because my faith less. Because I think God doesn't love me at all. When I was thinking again.

I never have an idea for sewing course, God show me the way then why I must think I am not to be good for that and God doesn't allow me good opportunity. Even I ever said I want that "job" then I was angry with God, after that I got that job and in fact that company was so strange then I ever imagine. So I just 2 months worked there. The owner to much dream, like me. But NOW, I am not the dreamer girl anymore. I will fight to my dream and future then just think about the failure.

I also sent many resume to many international organization but never get the good result to all my resume I sent it.




 

Juni 25, 2013

Five Days Sick and Now Better

Maybe the readers asking, where am I after everyday upload many information then disapear like a ghost ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ... :D ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ :D okay, because five days I got heavy fever and cought and also flue, make my noise red coz to much touch with tissue.

Even I was sick but when I feel better, I'm trying to full my shop online for july. So this one accessory I made when I was sick and disapear.

I'm also happy on friday, my parents will back from holiday. That's mean I can concentrate to make dress for sell. Because when mum not here. I'm doing all house wife job and that's making me feel bored and tired and unbelieve. I do it alone ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ... :D ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ :D

So, I always worry about can I be good wife one day, so I can say, I can be good wife even to be wife so damn tired ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ... :D ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ :D

Ok, see you soon. I also want go to one place to get inspiration. I must change to be good and more good then this year. Coz on july I will be 32 years old. Already old and still like before!


BlackBerry®

Juni 22, 2013

Doll

My sister told me that I must learn how to make doll and maybe she's right.

Making own business and try something whatever that as long as I can make it.

I'm sick since 3 days ago and I'm feeling lonely. But • · ♥·♡ τнäиκ чöü ♥·♡. God, my parents will home before I'm birthday,

Ah first july will make me getting old!


BlackBerry®

Ku Kejar Ringgit di Malaysia -short story-

Short story for composition writing on magazine but i am not the winner hahaha so I decided to share it



Ku Kejar Ringgit di Malaysia


"Kamu mau? Lumayan lo penghasilannya!"

Tanya mantan bos Nunung saat bertemu Nunung di salah satu cafe. Saat itu Nunung sedang gundah mengenai hubungan asmaranya dengan Handoko, pria campuran Cina dan Sunda itu.

"Saya akan pertimbangkan bu," jawab Nunung lirih.

"Ya sudah saya tunggu secepatnya," ujar Miranda sambil berdiri, "Kamu masih ingatkan tempat untuk menemui saya dimana?"

Nunung mengangguk, "Masih bu, secepatnya akan saya kabari."

Nunung tidak bisa tidur sejak berjumpa dengan mantan bosnya di salah satu cafe yang berada di Baloi. Kerja di Malaysia? Ringgit? Berarti kehidupan mapan! Nunung ingin menghapus bayangan yang mengiurkan dan bayangan bebas dari Handoko.

Alasan Nunung merantau ke Batam, karena ingin bebas dan mendapatkan uang. Wanita bertubuh semampai ini menyadari ia tidak akan mendapatkan pekerjaan yang gajinya mencapai belasan juta ataupun lima juta ke bawah. Lulusan SMP, tentunya hanya bisa mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan bilyard maupun restauran seafood yang berada di wilayah Nagoya.

Menjadi anak pertama dari keluarga yang susah di kampung membuat Nunung  tidak bisa melanjutkan pendidikan di bangku SMA. Nunung merasa prihatin dengan kondisi ibunya yang menjadi janda. Ibunya memutuskan bercerai, setelah tidak kuat lagi menahan siksaan batin dan fisik. Sosok bapak bagi Nunung adalah pria yang kejam dan berhati bengis. Pada saat itu, usia Nunung baru lima tahun dan masih belum mengerti mengapa ibu meninggalkannya di rumah nenek, setelah diusir bapak dari rumah. Perceraian kedua orangtuanya membuat hidup Nunung berpindah-pindah dari satu keluarga ke keluarga lain yang masih kerabat ibunya. Nunung menyadari sejak kecil, ikut kerabat tidak lah mudah, tetapi Nunung berhasil melaluinya dengan baik. Setelah tamat SMP, ibu Nunung pun mengambilnya kembali. Ibu Nunung sudah menikah dengan duda beranak dua dan salah satu anaknya masih kecil. Nunung tetap menyayangi ibunya dan berharap ibunya bahagia. Tetapi disisi lain, Nunung ingin bebas. Meskipun ibunya tidak bisa menyekolahkannya. Ia tidak menyalahkan. Ia hanya ingin pergi dari kampung halamannya. Ternyata Tuhan menjawab doanya. Teman dekat Nunung, Maya pulang kampung dan ia menceritakan mengenai Batam. Nunung tertarik untuk mencoba keberuntungan di Batam.

Akhirnya di sinilah Nunung terjebak di Batam, terjebak dengan gaya hidup khas metropolitan, ekonomi dan hubungan asmara. Maya bekerja sebagai pelayan di bilyard di daerah Jodoh, tempat pertama kali, Nunung merasakan dunia malam saat tiba di Batam. Nunung pun mendapatkan pekerjaan itu atas bantuan sahabatnya. Di tempat yang penuh para pelanggan pria menghabiskan jam malam, Nunung bertemu dengan Handoko. Seiringnya waktu Handoko pun menjadi pacarnya. Handoko tidak suka melihat Nunung kerja malam, apalagi disentuh dan dipeluk para pria. Akhirnya Nunung keluar dari tempat kerjanya dan bekerja sebagai pelayan restauran seafood. Berpacaran dengan Handoko dan tinggal serumah, membuat Nunung bekerja di tempat usaha Handoko. Sejak Nunung sebagai pegawainya membuat ia menyadari sikap keegoisannya. Apalagi setelah Handoko mendapatkan keperawanannya sikap Handoko menjadi-jadi dan semakin posesive. Membuat Nunung tidak kuat lagi menjalani hubungan dengannya. Meskipun Handoko banyak membantu Nunung, bukan berarti perempuan yang baru memasuki usia 21 tahun itu adalah robot. Yang harus siap kapan pun dibutuhkan. Bahkan gaji pun kadang dikasih, kadang tidak, membuat ia kesulitan untuk mengatur keuangannya. "Aku sudah tidak kuat lagi," keluh Nunung pada Lisa, sahabatnya sewaktu bekerja sebagai pelayan di restauran.

"Ya sudah kamu putus saja," saran Lisa, "Untuk sementara waktu kamu bisa tinggal di kosan aku. Lagipula teman sekamarku lagi pulang kampong."

Kebebasan yang Nunung harapkan, tidak semanis anggannya. Tuntutan ekonomi di Batam yang semakin tinggi, belum lagi orangtua yang di kampung mengharapkan kiriman uang. Tekanan emosional hubungannya dengan Handoko membuat Nunung ingin berlari. Tetapi ingin lari kemana? Seakan tidak ada tempat untuk menghindar.

Ringit, mata uang Malaysia itu sangat menggiurkan. Bekerja di Malaysia berarti Nunung bisa menghindari Handoko yang terus memburunya. Selain itu mata nilai mata uang Malaysia masih tinggi dibandingkan hasil jarih payah Nunung bekerja di Batam. Nunung kembali ingat kata-kata mantan bosnya. "Kamu akan mendapatkan bayaran 2000 ringgit sebulan dan itu belum bonus. Kerjamu cuma sebagai pelayan cafe saja." 2000 ringgit, 1 ringgit ia memperkirakan Rp3000 berarti sebulan Rp6 juta. Tempat tinggal dan makan di tanggung. Itu jumlah yang besar bagi Nunung. Sebulan, ia hanya mendapatkan Rp2 juta, itu pun sudah banting tulang. Nunung pun tertidur dengan pikiran yang kalut.

Cuaca panas membangunkannya. Akhir-akhir ini cuaca di Batam tidak bisa di tebak. Panasnya menyengat, kadang hujan tapi tetap membawa hawa panas. Nunung ingin menarik selimut untuk menghalau silau di matanya dan kembali tidur. Tetapi bagian tubuh lain mengatakan hal berbeda. Bunyi keroncong dari dalam perutnya membuatnya harus bangkit dari rasa malasnya. Nunung membasuh mukanya dan pergi mencari makanan untuk mengusir perut yang kian bernyanyi. Menu hari ini yang dipilih Nunung sayur asam dan ayam panggang, masakan khas Sunda yang berada di ujung jalan memang menggiurkan selera. Tidak lupa secangkir es jeruk menyegarkan tenggorokannya yang dahaga. Suara ponselnya berbunyi, Nunung hanya melirik handphone blackberry yang baru tiga bulan dibelikan Handoko. Namun tak ada niat sekali pun Nunung mengangkat ponselnya. Nunung hanya mengaduk-aduk mangkuk sayur asam, rasa lapar diperutnya lenyap entah kemana. Nunung berpikir dan berpikir keras hingga tanpa sadar ia hampir menumpahkan gelas yang berisi jeruk manis yang tinggal setengah gelas. "Ya, aku sudah mengambil keputusan. Ini adalah keputusanku. Aku akan pergi ke Malaysia," pikirnya.

Diambilnya ponsel 3G yang berwarna hitam itu, ditekannya angka 1. Munculah di layar LCD, ibu. Butuh nada dering kelima, baru lah terdengar suara yang berat. "Ada apa Nung?" tanya ibunya, saat menjawab telepon dari putrinya.

 “Bu, Nunung akan ke Malaysia," katanya tanpa basa-basi.

"Apa!" Jerit ibu Nunung, "Untuk apa? Bukannya kamu sudah dapat kerja enak di Batam."
"Ndak papa bu, Nunung mau mencari pengalaman."

"Pokoknya ibu nggak izinkan," ucap wanita paruh baya itu dengan tegas, "Ibu takut kalau ada hal yang buruk menimpa mu nak seperti berita-berita di TV itu.

"Pokoknya ibu nggak usah kuatir," sahut Nunung cepat, "Nunung sudah putuskan! Putusanku bulat." Nunung berpikir, apapun yang terjadi! Aku akan kejar ringgit.

Jantung Nunung berdebar-debar saat kapal feri tujuan Batam-Malaysia berlayar. Nunung berangkat bersama dua gadis lainnya dan mantan bosnya. Nunung merasa sedikit kuatir, karena Nunung sepenuhnya sadar bahwa ia pekerja ilegal di Malaysia. Di dalam kapal feri, Nunung merasa bimbang dan kuatir. Setidaknya itu yang ia rasakan selama tiga puluh menit. "Ah sudahlah," pikir Nunung, "Tujuanku ke Malaysia untuk mengejar ringgit. Apa pun resikonya aku terima." Nunung melirik barisan di samping kanannya, kedua teman barunya yang bernama Yanti dan Ria sudah pulas tertidur.  Usia mereka tidak jauh berbeda dengan Nunung. Tapi Nunung enggan menarik informasi lebih dalam lagi. Akhirnya Nunung putuskan untuk mengikuti jejak mereka. Apalagi Nunung merasa lelah dengan pikiran-pikiran yang ada dalam benaknya. Selama sisa waktu di perjalanan, Nunung habiskan dengan tertidur. Nunung terkejut saat pundaknya ditepuk.

"Bangun, kita hampir sampai," ujar mantan bos Nunung membangunkannya dengan cara menepuk bahunya. Dengan berat hati, Nunung membuka matanya. "Maaf bu, saya tertidur."
"Ya tidak apa-apa, bangunkan kawanmu," sahutnya sambil menunjuk Yanti dan Ria, "Kita sudah hampir sampai."

Nunung pun menganggukkan kepalanya dan membangunkan temannya dengan cara yang sama mantan bosnya membangunkannya. Mereka pun secara bergantian keluar dari kapal dan menuju imigrasi untuk pengecekan dokumen dan mendapatkan stampel. Dalam perjalan ke bagian pemeriksaan imigrasi, jantung Nunung seperti hendak keluar. Nunung masih ingat perkataan mantan bosnya, jika ditanya pihak imigrasi bilang mau menjenguk keluarga yang tinggal di Johor. Nunung pernah membaca di majalah, untuk mengatasi kegugupan dengan menarik nafas dalam-dalam. Nunung pun mencoba menenangkan diri pada saat ia mengantri barisan untuk mendapatkan stampel.

"Berikutnya," teriak petugas imigrasi pada Nunung yang termenung, karena tidak menyadari dua orang di depannya sudah tidak ada.

Nunung pun melangkahkan kaki sambil membawa koper kecil berwarna hitam. Nunung berharap mendapatkan petugas imigrasi pria, karena lebih mudah dibandingkan petugas perempuan yang berdarah Melayu. Hal itu diketahui Nunung dari teman-temannya yang pernah ke Malaysia. "Awak kesini mau ngapain?" tanya petugas imigrasi yang berdarah Melayu kental itu dengan ketus.

Nunung tersenyum,"Saya mau berkunjung ke rumah saudara."

"Saudaranya tinggal dimana dan berapa lama?" Selidiknya.

"Mungkin sekitar dua minggu," jawab Nunung santai, "Saudara saya tinggal di Johor. Beliau menunggu saya di depan."

Wanita itu pun memberikan stampel pada lembaran paspor Nunung. Sesudah mendapatkan stampel itu, Nunung pun meninggalkan bagian imigrasi. Mata Nunung was-was mencari teman dan mantan bosnya. Ada sedikit kelegaan pada saat Nunung melihat sosok yang ia kenal sedang menunggunya disamping pintu gerbang. Dalam perjalanannya menuju pintu gerbang, Nunung sempat berpikiran negatif. Maklum ini pertama kalinya Nunung ke Malaysia dan uang di dalam dompetnya pun tak banyak.
Tidak lama kemudian, mobil avanza berhenti dan seorang pria bertubuh tambun melambaikan tangan. Lambaian tangan itu di balas mantan bos nunung. "Ayo cepatan," katanya, "Jemputan kita sudah datang."

Seperti dijanjikan Nunung memang bekerja di café. Cafe tersebut hanya buka malam hari mulai jam tujuh hingga jam tiga dini hari waktu setempat. Bos baru Nunung orangnya sangat baik, wanita asli Melayu yang masih kerabat jauh dengan mantan bos Nunung. Nunung bersama dua teman barunya diberi tempat tinggal yang berjarak seratus meter dari lokasi café itu berada.

Suasana café tempat Nunung bekerja tidak jauh berbeda denga di Batam. Pengunjung café selalu ramai di wilayah Johor Bahru. Nunung sangat menikmati pekerjaannya. Nunung pun dibelikan nomor ponsel di Malaysia. Wanita muda itu benar-benar merasa bebas dari tekanan yang ia rasakan. Tidak ada gangguan telepon, ia pun merahasiakan keberadaannya di Malaysia dari teman-temannya, hanya dua orang yang mengetahui keberadaan Nunung mencari ringgit di Malaysia.

Dua minggu pun berlalu tanpa di rasa, waktunya Nunung kembali ke Indonesia, ke Batam. Kapal ferri yang berada di pelabuhan Stulang Laut, Johor Bahru membawanya pulang kembali ke Batam bersama dua teman barunya yang ternyata teman yang menyenangkan selama di Malaysia. Namun pada pertemuan kedua, mereka diminta tidak datang bersamaan. Takut pihak imigrasi akan curiga. Nunung diminta untuk tinggal di Batam selama satu minggu, setelah itu kembali lagi ke Malaysia.

Waktu terasa lama saat Nunung berada di Batam, sedangkan saat berada di Malaysia waktu terasa cepat berlalu. Nunung merasa selama di Batam pikirannya selalu galau. Namun, tanggal yang ditungggu-tunggunya untuk kembali ke Malaysia pun tiba. Nunung hanya mempersiapkan beberapa baju seperlunya selama di sana.

Pergi ke Malaysia untuk kedua kalinya dan pergi sendiri membuat Nunung merasa lebih berbahaya. Berbagai pikiran negative menyelimutinya selama kapal membawanya menuju pelabuhan Malaysia. Kali ini, Nunung mendapatkan petugas pria seperti yang diharapkannya pada saat pertama kali datang ke Malaysia. Pertanyaan standar pun dilontarkan pria yang diperkirakan berusia 40 tahunan itu. “Awak sendirian datang ke sini?” tanyanya usai menanyai pertanyaan standar berapa lama dan kemana tujuan datang ke Malaysia.

“Iya saya datang sendiri pak, mau berkunjung ke tempat saudara.”

“Jika awak mau nanti kita bisa jalan-jalan bareng. Saye bisa menemani awak selama disini, bagaimana?” Nunung pun menolak dengan halus, dan pria itu pun akhirnya mengembalikan paspornya yang sudah diberi stampel. Nunung pun melangkahkan kaki pergi dari bagian imigrasi. Ia sudah mencatat alamat dan naik taksi ke tempat kediamannya sementara di Malaysia. Seminggu telah berlalu, Nunung dikejutkan oleh bosnya yang memintanya untuk bersembunyi di café lain milik bosnya yang berjarak 300 meter. Menurut bosnya akan ada pemeriksaan tenaga kerja. Itu diketahuinya dari telepon yang ia terima. “Awak untuk sementara bekerja di salah satu café milik saye, jaraknya tak jauh. Pacik Sulaiman akan mengantar awak, okay?”

Nunung hanya mengangguk saja, selama perjalan ke sana dengan mobil. Nunung merasa kuatir dan cemas. Namun sepanjang perjalanan pacik menjelaskan bahwa mereka telah membayar salah satu polisi disana untuk memberikan informasi kapan akan ada razia. Meskipun merasa takut, Nunung tetap bertahan bekerja sebagai karyawan illegal di Malaysia. Ringgit sudah ia rasakan di tangan. Ia tidak ingin mundur lagi. Resiko pekerja illegal sudah diketahuinya dengan matang, tetapi hidup butuh perjuangan dan pengorbanan. Inilah jalan yang dipilih Nunung untuk meningkatkan perekonomian yang kian sulit dan mahal dengan mengejar ringgit di Malaysia. ©
 

Juni 19, 2013

Waiting You

I'm here alone but I'm waiting you
I'm here so worry coz I don't see you
I'm here thinking of you coz of love you
I'm here waiting you coz I always do this

People said the bored job is waiting
I understand that but I'm not like that
I'm so happy waiting you and always you
Coz that's nice when I can see and touch you

Waiting you make me feel so good
Waiting you make me think about you
Waiting you make me always want near you
Waiting you is the best moment in this time

Tanjungpinang, 17 June 2013
BlackBerry®

Holiday in Prambanan Temple

Ah I'm missing Yogyakarta, I have plan this year I want visit there and also learn how to make shoes, but I must remove that plan on my mind. Because I must step by step to learn anything to settle my small business, like hand-craft for fashion.

I was college in one academy in Yogyakarta, that was why I ever visit Prambanan temple. Ah this picture already long time ago I took lol, the body still very skinny. So bad now I'm "fat" but my friend said curve. I don't know which one right.

Ups back to prambanan temple, this is some information about the temples there:


A. The Discovery and Restoration of
Prambanan Temple The discovery of Lorojonggrang Temple was reported by C.A. Lons in 1733. The temple was in ruined condition, abandoned among grass and tree vegetation. First effort to reveal the presence of a temple was done in 1885 by cleaning the site from grasses and shrubs followed by grouping thestones. This project was supervised by Yzerman, Groneman and van Erp. The work was continued in 1918.

Grouping and identifying the stones in detail followed by restructuring Ciwa Temple was done by van Erp. In 1937, restoration began under the supervision of Bosch, followed by Stuuerheim, van Ramound and others. The restoration was finished in December 20, 1953. About 240 temples undergone restoration, such as two Apit Temples (restored in 1923), four Kelir Temples, and four Corner Temples (Candi Sudut), two Perwara Temples, two entrance gates, the South Gate and the North Gate. The next restoration used the Government Routine Development Budget. Those restoration included Brahma Temple ( start restoration in 1978 ), Wisnu Temple (start restoration in 1982).

B. Structural Description and Arrangement

The Prambanan Temple is a group of Hindu temples, and was also known as Lorojonggrang Temple. The word Prambanan refers to the name of a District, Prambanan District, whereas Lorojonggrang refers to its actual name.

The temple complex has three concentric square Outer square (222 x 390 meters) surrounded by a 1 meter boundary wall.

Middle square (110 x 110 meters) surrounded by a 1 meter boundary wall.

Center square (34 x 34 meters) surrounded by a 1 meter boundary wall.


All the three squares have gates to connect the other squares. The outer square do not have temples. Inside the middle square there are 224 Perwara temples which are arranged in 4 rows of temples. The first row consists of 68 temples, followed by the second row (60 temples), the third row (52 temples) and the fourth row (44 temples ). The arrangement of temples is in such a way that shorter temples lies in the outside and getting higher toward the center. Inside the center square are sixteen small and big temples, Some of them are

1. Ciwa Temple as the main temple.

2. Wisnu Temple in the North of Ciwa Temple.

3. Brahma Temple in the South of Ciwa Temple.

4. Nandi Temple in front of Ciwa Temple.

5. Temple A and B lies in front of Wisnu and Ciwa Temple.

6. Apit Temple lies in the North and the South flanking row of temples {the West and East row (apit = to flank)}

7. Four Kelir Temples in front of each gate of the main square.

8. Four Sudut Temples (sudut = corner) at each of the corner of the main square.
BlackBerry®

Banana Fried Recipe

My favorite snack in afternoon time, sometimes I am buying this banana fried but without ice cream. But today, I want to shared tecipe banana fried, mmm yummy and nice when eat it warm

YIELD: 8 small bananas (4 Servings)
PREP: 10 mins
COOK: 5 mins
READY IN: 15 mins

Bananas coated in rolled oats and fried until the outside is crispy and the inside smooth and creamy. Drizzled with a little honey it makes for a divine dessert.

Ingredients

1 bunch lady finger bananas
1/4 cup flour
1/4 cup rolled oats
1 egg
1 tablespoon honey (if you like it)
vegetable oil


Instructions

1. Add 1" of oil into a pot and heat over medium heat until it reaches 340 degrees F (170C).

Prepare a paper towel lined wire rack.

2. Meanwhile prepare 3 bowls with the flour, egg, and oatmeal. (Sometimes I don't put oatmeal)

3. Dust the bananas in flour, them dip them in the egg to coat.

4. Roll the bananas in the oatmeal until they're well covered with oats.

5. When the oil reaches 340 degrees F, fry the bananas until the oats are golden brown, then transfer to the paper towel lined rack to drain.

6. Plate the bananas and drizzle with honey. Serve with a scoop of ice cream.

BlackBerry®

Benefit Banana Fruits For Healthy Body

Health benefits of banana fruit

Banana fruit is one of the high calorie tropical fruits. 100 g of fruit provides 90 calories. Besides, it contains good amounts of health benefiting anti-oxidants, minerals, and vitamins.

Banana pulp is composed of soft, easily digestible flesh with simple sugars like fructose and sucrose that when eaten replenishes energy and revitalizes the body instantly; thus, for these qualities, bananas are being used by athletes to get instant energy and as supplement food in the treatment plan for underweight children.

The fruit contains a good amount of soluble dietary fiber (7% of DRA per 100 g) that helps normal bowel movements; thereby reducing constipation problems.

It contains health promoting flavonoid poly- phenolic antioxidants such as lutein, zea-xanthin, ß and α-carotenes in small amounts. These compounds help act as protective scavengers against oxygen-derived free radicals and reactive oxygen species (ROS) that play a role in aging and various disease processes.

It is also a very good source of vitamin-B6 (pyridoxine), provides about 28% of daily- recommended allowance. Pyridoxine is an important B-complex vitamin that has a beneficial role for the treatment of neuritis, and anemia.

Further, it helps decrease homocystine (one of the causative factors in coronary artery disease (CHD) and stroke episodes) levels within the body. The fruit is an also moderate source of vitamin-C (about 8.7 mg per 100g).

Consumption of foods rich in vitamin-C helps the body develop resistance against infectious agents and scavenge harmful oxygen-free radicals.

Fresh bananas provide adequate levels of minerals like copper, magnesium, and manganese. Magnesium is essential for bone strengthening and has a cardiac-protective role as well. Manganese is used by the body as a co-factor for the antioxidant enzyme, superoxide dismutase. Copper is required in the production of red blood cells.

Fresh banana is a very rich source of potassium.

100 g fruit provides 358 mg potassium.

Potassium is an important component of cell and body fluids that helps control heart rate and blood pressure, countering bad effects of sodium.

Benefits of Eating Bananas

Banana Ease Depression

People suffering from depression , feel much better after eating a banana . This is because bananas contain Tryptophan , a type of protein that the body converts into serotonin known to make you relax, improve your mood and generally make you feel happier. PMS Forget the pills just eat a banana . The vitamin B6 which banana contains regulates blood glucose levels, which can affect your mood.

Banana Treats Anemia

High in iron, bananas can stimulate the production of hemoglobin in the blood and so help in cases of anemia .

Banana Helps Regulate Blood Pressure
Bananas are extremely high in potassium yet low in salt making them perfect to beat blood pressure .

Banana Is A Brain Food

Research has shown that the potassium packed fruit like Bananas can assist learning by making pupils more alert.

Banana Reduces Constipation

High in fiber , including bananas in the diet can help restore normal bowel action , and helps you overcome the problem without resorting to laxatives .

Banana Cure Hangovers

One of the quickest ways of curing a hangover is to make a banana milk shake , sweetened with honey . The banana calms the stomach and, with the help of the honey, builds up depleted blood sugar levels , while the milk soothes and re-hydrates your system.

Banana Soothe Heart Burn

Bananas have a natural antacid effect in the body so if you suffer from heart burn, try eating a banana for soothing relief.

Banana Helps You Avoid Morning sickness

Snacking on Bananas between meals helps to keep blood sugar levels up and avoid morning sickness .


Banana Treats Mosquito Bites
Before reaching for the insect bite cream, try rubbing the affected area with the inside of a Banana Skin . Many people find it amazingly successful at reducing swelling and irritation .

Banana Calms Nerves

Bananas are high in B vitamins that help calm the nervous system .

Banana Ease Peptic Ulcers

The Banana is used as the dietary food against intestinal disorders because of its soft texture and smoothness. Banana is the only raw fruit that can be eaten without distress in over chronicler cases. Banana also neutralizes over acidity and reduces irritation by coating the lining of the stomach.

Banana Is A Cooling Fruit

Many other cultures see Banana as a cooling fruit that can lower both the physical and emotional temperature of expectant mothers.

Banana Helps To Quit Smoking
Bananas can also help people trying to give up smoking . The B6, B12 they contain, as well as the potassium and magnesium found in them, help the body recover from the effects of nicotine withdrawal .

Banana Helps To Reduce Stress
Potassium is a vital mineral, which helps normalize the heartbeat , sends oxygen to the brain and regulates your body's water balance . When we are stressed, our metabolic rate rises, thereby reducing our potassium levels.

These can be re-balanced with the help of a high

potassium Banana snack.

Banana Diet Minimize Stroke Risks
Eating Bananas as part of a regular diet can cut the risk of death by strokes by as much as 40 per cent.


Final Conclusion

So a Banana is a natural remedy for many ills.

When compared to an apple , Banana has four times more protein, twice the carbohydrate, three times the phosphorus, five times the vitamin A and iron, and twice the other vitamins and minerals. In terms of cost Banana is also much cheaper than Apple. Hence since today say , " Apple ! Sorry! Banana A Day Keeps Doctor Away".

BlackBerry®

Fenomena Prostitusi di Kalangan Pelajar

Mungkin sudah tidak heran lagi dengan adanya prostitusi di Indonesia dan juga di dunia. Namun jika prostitusi dilakukan oleh anak yang di bawah umur atau masih pelajar yang duduk dibangku SMP. Tentunya "sedikit mengejutkan" dikalangan masyarakat.

Fenomena prostitusi di kalangan pelajar, sebenarnya sudah bukan rahasia umum lagi. Namun dikarenakan selama beberapa pekan di berita televisi di Indonesia dan juga pastinya koran harian yang mengungkap, pelajar menjual keperawanannya hanya untuk mendapatkan uang.

Fenomena prostitusi ini sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari "gaya hidup mewah" yang diinginkan pelaku. Melihat stasiun televisi yang menanyangkan sinetron mengenai gaya hidup mewah dan bebas, membuat mereka tergiur untuk bisa merasakan gaya hidup glamor, sedangkan kondisi perekonomiannya tidak mendukung.

Jalan pintas untuk mendapatkan uang adalah dengan menjual harga diri dan tubuh mereka untuk dinikmatin pria hidung belang. Sebenarnya, fenomena prostitusi di kalangan pelajar ini bisa diminimalis dan tidak semuanya dibebankan oleh pendidik atau pengajar di sekolah.

Melainkan bagaimana mengembalikan moralitas dan juga budaya Indonesia yang memiliki tutur kata budi pekerti yang bagus. Belakangan ini, aku mengamati bahasa-bahasa anak-anak yang ditunjukan ke orangtua ataupun orang yang lebih tua, bahasa-bahasa yang banyak dilontarkan para artis yang menjadi panutan sangat tidak logis. Seperti "emangnya urusan lho!" Etc. Rasanya, mendengar bahasa-bahasa yang tidak "pantas" untuk dilontarkan anak kecil pada orang dewasa, karena sangat trend di televisi.

Begitu juga dengan teknologi yang canggih, membuat pelajar tertarik untuk menjadi bagian dari namanya trend teknologi. Namun perekonomian yang tidak mendukung, plus salah bergaul. Jadilah perkumpulan pelajar yang memiliki kesamaan untuk menempuh jalan singkat.

Sebenarnya bagaimana untuk mengatasi fenomena prostitusi di kalangan remaja? Tunggu saja besok, akan diulas.

See yea!

Xxx


BlackBerry®

The Single Club - Short Story-

Tidak biasanya aku mengikuti cerpen femina, meskipun tidak menang. Tidak ada salahnya tuk terus mencoba.




The Single Club


Belakangan ini cuaca di kota Batam sangat panas, sepanas hati Riana. Bagaimana tidak, dia baru mendapat kabar bahwa kedua sahabatnya akan segera menikah di bulan November. Sedangkan Riana sendiri belum memiliki pacar. Setiap mendengar kabar pernikahan, dunia Riana seperti tersambar petir. Riana bukannya cemburu atau merasa rendah diri. Meskipun dia sudah memasuki usia 31 tahun pada bulan Agustus. Bukan berarti Riana menargetkan dirinya untuk menikah cepat. Dia tidak terlalu peduli dengan pernikahan, namun dia paling tidak suka dengan gunjingan dari orangtuanya. Tekanan dari keluarganya pun semakin gencar, membuat Riana ingin segera menghilang dari muka bumi ini. Tapi sayangnya, hidup tidak seindah dongeng. Dia tidak memiliki tongkat yang membuatnya bisa menghilang. Jadi Riana menerima nasib menjadi single forever. Namun berbeda dengan orangtua yang mendesaknya untuk segera menikah. Pertengkaran hebat terjadi tadi pagi dan membuatnya tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja. Sedangkan pekerjaannya sedang menumpuk di kantor.

Kuping Riana masih terasa panas mengingat perkataan orangtuanya. "Sampai kapan kamu single begini? Semua orang sibuk berlomba-lomba mencari suami!” Sedangkan kamu hanya bersantai saja," sindir mama, saat kami sedang sarapan.

"Terus mau mama bagaimana? Memangnya cari suami itu gampang?" Jawab Riana.

Mama hanya menggelengkan kepala, "Mama kan sudah berusaha mencarikan kamu jodoh, tapi semuanya kamu tolak semua," ujar mama sedikit emosi, "Memangnya kamu mau cari pria yang seperti apa! Jangan bagaikan pungguk merindukan bulan."

"Bukan begitu mama," jawab Riana kesal, “Semua itu ada waktunya.”

"Kamu ini,” ujar Mama geram. “Memangnya kamu mau mencari yang kaya. Lihat-lihat dulu kondisi keluarga kamu. Kamu ini...."

"Aku berangkat kerja dulu," potong Riana cepat dan ia segera beranjak dari tempat duduknya. "Kamu ini,” nada suara mama sudah mulai meninggi, “Setiap kali membicarakan pernikahan selalu saja seperti itu."

"Bukan begitu,” elak Riana, “Aku nanti bisa terlambat kantor dan kena warning."

"Riana.... Riana….. Riana," teriak suara yang menyadarkannya dari lamunannya.

"Ya pak," kata Riana sedikit kikuk, saat menyadari bos memanggilnya.

"Kenapa kerjaanmu belakangan ini banyak yang tidak beres," keluh bosnya, "Cepat perbaikin berkas ini dan antar ke meja saya."

"Baik pak, secepatnya,” ucap Riana sambil membuka file di computer. “Kalau begini terus bisa tidak diperpanjang kontrak kerjaku," keluh Riana dalam hati.

Belakangan ini pekerjaan Riana banyak yang gagal dibanding berhasilnya. Pernikahan dua sahabatnya bukanlah menjadi batu sandungan. Tapi sindiran-sindiran dari orangtuanya yang membuatnya semakin terpuruk. Orangtuanya, khususnya dari mama yang membuatnya tak tahan. "Memangnya salah, jika tidak menikah? Memangnya apa tujuan untuk menikah? Memangnya mudah untuk menemukan pria yang ideal. Bagaimana jika belum menemukan yang cocok. Memangnya aku harus menikah dengan sembarang pria yang penting memiliki status menikah?" Keluh Riana dalam hati.

Waktu terasa cepat berlalu dan semakin membuat Riana gelisah. Bulan Oktober dalam hitungan hari akan segera digantikan bulan November. Sejujurnya Riana merasa sedih dan hampa, karena beban perkataan yang selalu dilontarkan orangtuanya. Belum lagi di lingkungan pekerjaan dan sosialnya. Namun Riana berusaha sabar dan menutup telinga. Karena setiap kali orangtuanya membicarakan topik pernikahan dengan Riana selalu berakhir dengan peperangan. Sejujurnya hati Riana sakit dan hancur, tapi orangtuanya tidak memahami dirinya seutuhnya. Orangtua Riana hanya menuntut dan menuntut untuk ia segera menikah. Bukannya Riana tidak mencoba untuk membuka hati pada pria. Tetapi masa lalunya selalu membuatnya merasa kecewa. Setiap pria yang mendekati dirinya, semuanya memandang rendah dirinya. Mereka menganggap Riana mudah untuk dijamah, apalagi di era moderen seperti ini. Sedikit pria yang bertindak jantan dan menghargai perempuan sebagaimana mestinya. Bagaimana tidak, Riana memiliki tubuh yang menggiurkan bagi para pria. Meskipun Riana tidak menggunakan pakaian seksi. Namun, bagian tubuhnya lah yang selalu menarik para pria. Riana tidak berdaya untuk urusan satu ini, karena memang takdirnya memiliki bentuk payudara yang besar dan seksi tanpa perlu menggunakan oat-obatan. Banyak pria yang menggodanya, membuatnya kesal karena merasa tidak dihargai. Ia menginginkan pria menghargainya apa adanya. Bukan dari penampilan tapi dari hatinya. Namun pria seperti itu sudah sangat langka untuk didapatkan.

Kedua sahabatnya akhirnya menikah. Sangat disayangkan ia tidak bisa hadir di pesta pernikahan. Karena izin cutinya tidak diberikan. Kantor sedang mengalami kemajuan pesat, sehingga pegawai yang mengajukan cuti tidak diizinkan hingga awal Desember. Padahal Riana sangat ingin hadir di pesta sahabatnya. "Maaf aku tidak bisa datang ke pernikahanmu, Ella," kata Riana saat mendengar sambungan teleponnya dijawab.

"Kenapa Riana? Padahal aku mengharapkan kamu hadir."

"Bosku tidak mengizinkan aku cuti. Kerjaan di kantor sangat banyak. Tapi aku selalu berharap, kamu slalu berbahagia say, tetap semangat ya dan sukses."

Dua minggu sejak pernikahan kedua sahabatnya, Riana merasa seperti berada di neraka setiap berada di rumah. Kecaman hampir setiap saat, tidak pagi, siang, sore maupun malam selalu dilontarkan. Perang mulut tak pernah bisa dihindari lagi. "Sampai kapan kamu mau begini terus. Kawanmu semua sudah memiliki anak dan sudah pada menikah. Mama malu, anak mama tidak laku-laku!!"

"Malu sama siapa ma? Sekarang ini zaman moderen, perempuan yang tidak menikah tidak dianggap tabu. Memangnya aku barang apa? Pakai acara tidak laku segala!"

Mata mama semakin melotot karena kesal mendengar perkataan Riana. "Mama saja seusia kamu sudah memiliki anak. Jangan terlalu memilih nanti malah nggak dapat."

Riana hanya diam saja, Riana sudah bosan berdebat dan selalu berakhir dengan kemarahan mama yang bagaikan gemuruh. Sedangkan Riana selalu bersembunyi di kamar dan menangis seorang diri. Bosan aku sejujurnya mendengarkan perkataan yang selalu memojokanku. Tak ada kah seorang pun di dunia ini yang memahamiku sepenuhnya. Memangnya menjadi single adalah kutukan? Perawan tua? Tidak laku? Kenapa untuk yang satu ini, dilingkungan keluarga dan tempat tinggalku dianggap hal yang tabu. Bosan aku menangis meminta jodoh dari Tuhan setiap malam. Tak seorang pun mengetahui jeritan batinku! Itu hanya antara aku dan Tuhan. Tapi kenapa wanita single masih dipandang rendah? Katanya ini sudah bukan zaman Siti Nurbaya? Tapi kenapa masih memikirkan perjodohan dan pernikahan. Adilkah hidup ini? Adakah seseorang di luar sana yang mengalami nasib tertekan seperti aku. Riana sedang menulis di blog dan ia pun menulis mengenai tekanan menjadi single, sementara teman-temannya delapan puluh persen sudah menikah. Bagaimana perasaan menjadi single, tekanan yang dihadapi di rumah lebih besar dibanding di luar.

Diluar bayangan Riana, ternyata di luar sana banyak yang mengalami nasib yang sama seperti Riana. Mereka semua tertekan oleh lingkungan, khususnya lingkungan di rumah sendiri yang malah memojokan dan menghina mereka. Rumah yang seharusnya sebagai tempat yang nyaman dan mendukukung malah menjadi tempat bagai neraka.

Riana membuat janji dengan beberapa teman yang meninggalkan pesan di inbox-nya dan mereka membuat janji pertemuan akhir pekan ini. Jantung Riana berdetak kian cepat, karena ia akan bertemu dengan beberapa orang yang bernasib sama dengannya. Riana merasa bermimpi dan tidak percaya bahwa ternyata di kota yang sama, tempat dimana ia merasa tertekan batin, ada beberapa orang yang memiliki nasib yang sama dengannya.

Jantungnya kian berdebar saat ia memasuki café yang berada di dalam mall. Café yang biasa Riana kunjungi bersama sahabat-sahabatnya. Tetapi kali ini berbeda, Riana akan bertemu dengan orang yang sama sekali tidak ia kenal tetapi memiliki nasib yang sama. Riana memperhatikan dengan seksama setiap melihat wanita yang masuk ke dalam café seorang diri, mencari beberapa gambaran tiga wanita yang akan ia temui.

Riana sangat terkejut saat melihat seorang wanita muda, cantik yang menghampiri meja tempat ia telah memesan minuman. “Riana,” sapa wanita muda itu, “Aku Nania.”

“Hi, silahkan duduk. Kita tunggu yang lainnya ya,” balas Riana sambil mempersilahkan Nania duduk. Tidak lama kemudian, Lulu dan Puspita datang kepertemuan mereka.

Semua menceritakan kisah yang hampir sama dengan Riana. Nania adalah wanita muda yang baru berusia 25 tahun tetapi orangtuanya memaksanya menikah secepatnya, tapi sayang Nania belum menemukan pria yang pas. Sehingga ia harus menerima nasib dilangkahi adik perempuannya yang baru berusia 22 tahun. Sedangkan kisah Puspita berbeda, ia sudah berumur diatas Riana, usianya akan memasuki usia 36 tahun. Ia memiliki usaha butik. Ia sudah pernah bertunangan tetapi pria yang ia cintai menghamili wanita lain.

Sementara Lulu berusia sama dengan Riana tetapi kepedihannya lebih tragis dibanding Riana. Lulu tiga bersaudara dan ia anak pertama dan memiliki dua saudara laki-laki, adik pertamanya sudah menikah. Lulu tidak hanya merasa tertekan oleh orangtuanya yang selalu menekannya untuk menikah tetapi adik bungsunya juga. Adik bungsunya tidak memandang dirinya. Karena ia belum menikah. Beban hidup Lulu terasa berat.

Berbagi bersama dengan teman yang memiliki nasib yang sama ternyata sangat melegakan Riana dan teman-teman barunya. Mereka bisa sedikit merasa lega dan terhibur serta saling menguatkan satu sama lain. Seiring dengannya waktu, mereka sering melakukan pertemuan dan berbagai bersama persoalan yang mereka hadapi terkaitnya status mereka, wanita single. Akhirnya mereka memutuskan untuk membentuk club, “The Singles Club” yang untuk sementara waktu anggotanya hanya mereka berempat. Seiring waktu keanggotaan mereka akan bertambah.

“Wah, aku benar-benar merasa lega bisa bergabung bersama kalian dan mencurahkan unek-unek yang selama ini aku pendam seorang diri. Berbicara dengan teman yang sudah menikah, mereka malah menyalahkan aku karena tidak menikah,” keluh Lulu, pada pertemuan keempat.

“Masih mending,” sahut Puspita, “Aku waktu ikut arisan dengan teman-temanku. Mereka merasa dunia mereka sudah sempurna mungkin. Secara tidak langsung mereka menganggap orang yang belum menikah adalah orang yang malang.” Riana tersenyum mendengarnya. Karena Riana juga mengalami nasib yang sama, sejak kedua sahabatnya menikah. Mereka memandang sinis Riana dan orangtuanya pun semakin gencar menuntutnya. Bahkan beberapa kali sahabatnya tanpa disengaja mereka menyakiti perasaannya. Kata-kata, “Untuk apa memiliki banyak uang jika jauh dari suami.” “Kebahagiaan sejati pada saat kamu sudah menikah, seperti aku. Jangan tunda-tunda. Entar menyesal tidak cepat menikah.”

Setiap kali temannya berbicara seperti itu Riana hanya tersenyum saja dan menyakinkan bahwa status single bukanlah akhir dari dunia. Karena belum tentu pernikahan akan membawa kebahagiaan sejati. Meskipun pada kenyataannya ada beberapa kasus pernikahan yang gagal. “Ella, ada teman aku yang menyesal menikah terlalu cepat dan memiliki anak. Meninggalkan karir dan ternyata karir suaminya juga tersendat,” kata Riana, “Tidak semua pernikahan itu mulus, begitu juga tidak mudah menjadi single tetapi aku yakin dan percaya semua ada masa dan waktunya.”

“Kenapa senyum-senyum sendiri,” tanya Nania. “Tidak, hanya mengingat hal yang tidak penting! Aku rasa ini sudah waktunya kita membicarakan perasaan dan keinginan kita pada orangtua kita,” kata Riana akhirnya.

“Iya aku setuju, sudah waktunya keluarga kita mendukung keinginan kita,” tambah Lulu.

“Benar juga ya, selama ini kita diam saja. Mungkin orangtua kita tidak menyadari bahwa tindakan mereka telah menyakiti anaknya,” sahut Puspita membuat ketiga sahabat barunya tertawa. “Ayo, siapa disini yang tidak mau menikah,” canda Riana. Semuanya hanya tersenyum saja. Karena pada dasarnya wanita single pun ingin menyandang status marriage tapi bukan karena keterpaksaan atau pun dorongan sosial dan lingkungan. Mereka pun sepakat untuk mengungkapkan perasaan mereka kepada orangtua masing-masing mengenai status single yang mereka sandang. Sebenarnya status single tidak perlu dibesar-besarkan. Karena itu hanya lah masalah waktu. Tanpa mereka sadari The Singles Club telah mengubah cara pandang mereka dalam menghadapi kehidupan ini. Karena pada dasarnya mereka ingin menikah hanya saja masih belum memiliki keberanian dan kesempatan. Bukan kah kehidupan itu indah, hanya saja ada sebagian orang yang memiliki pikiran berbeda soal pernikahan. Dan pada dasarnya, semua manusia di muka bumi ini ditakdirkan untuk menikah, hanya penerapan waktunya yang berbeda ada yang terlalu cepat, mengejar target usia, ada yang lambat menemukan jodoh, seperti anggota Single Club yang terbentuk tidak disengaja. Dalam perjalanan pulang Riana merancang kata-kata untuk diungkapkan ke orangtuanya. “Mama tolong jangan pandang rendah diriku, aku juga memiliki mimpi untuk menemukan belahan jiwaku. Mungkin bukan saat ini, bukan besok atau pun minggu depan. Waktu masih panjang, tapi jangan lah membuat hatiku terluka dengan kata-kata yang menyakitkan jiwa dan hatiku. Aku tahu pria idamanku terlalu tinggi, tapi percayalah jikaa sudah waktunya pasti ia datang. Jangan pandang rendah diriku lagi. Biarkan orang berkata apa, asalkan jangan dari mama. Aku ingin mama mendukungku dan bukannya malah membuatku semakin tertekan. Menjadi sendiri bukan berarti harus dipandang rendah, melainkan masih diberi kesempatan menikmati hidup sebelum menikah, mengurus suami dan anak. Karena semua itu akan indah pada waktunya, pada saat aku sudah siap untuk berumah tangga, tetapi saat ini aku belum siap lahir dan batin.” ©
 
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Kota Cinta | Kita Bahagia | diary Citra