November 20, 2013

Tertipu | Short Story

Tertipu

Niatnya mencari kerja di kota besar dengan bayangan akan mendapatkan gaji besar. Sehingga bisa di tabung dan membuka usaha pada masa tua. Pergilah Paijo ke kota metropolitan itu. Dengan semangat empat lima yang berkobar-kobar di dadanya. Berbekal ijasah yang dia raih dengan susah payah.

Paijo pun mulai memasukan setiap surat lamaran kerjanya ke berbagai tempat baik masukin sendiri, lewat elektonik mail, lewat pos. Semua dilakukan Paijo dengan harapan gaji besar. Paijo hampir putus asa, karena setiap dapat panggilan kerja. Ia selalu ditawarin gaji kecil, Tentunya Paijo tidak mau, apalagi hidup di kota besar itu butuh biaya besar juga. Hingga akhirnya, Paijo yang putus asa di tengah malam, merenung dan berusaha memandang bulan dan bintang tetapi terhalang oleh bangunan yang tinggi-tinggi.


Saat beranjak untuk masuk ke dalam kamar kosnya, Paijo tertekun dan kaget saat mendengar ponselnya yang bernada bell sepeda itu berbunyi. Ia mendapatkan SMS di tengah malam. Ia pun tertekun saat membaca SMS itu.

BUNYI SMS-nya : PANGGILAN INTERVIEW xx NOVEMBER 2013 pukul 11.00 Jl harapan yang terputus, gedung tertinggi di lantai 100 PT MAJU MUNDUR dg ibu PERI" WAJIB membawa lamaran kerja lengkap.

Paijo membaca sms itu berulang-ulang kali sambil menggaruk-garuk kepalanya. Apa beneran neh SMS panggilan kerja. Hidung Paijo gatal dan semakin gatal bila sedang bingung. Untung cuaca tidak terlalu dingin mengigit kulit. Sehingga Paijo tidak perlu mengeluarkan air dari hidungnya yang gatalnya minta ampun. Ditambah lagi kakinya mulai dikerumunin semut. Ya, Paijo lupa kalau di dekat ia duduk sepanjang malam ada sarang semut. Jadilah ia terus mengaruk hidung dan kaki bergantian.

Malam berganti menjadi pagi. Paijo antara sadar dan tidak sadar, ia masih terbayang SMS di tengah malam itu. Ia pun terbangun, karena pulau yang semalam dia buat menempel pada wajahnya. Saat ia membenarkan posisi bantalnya. Ia pun segera terbangun, mencoba membakar semangatnya yang sudah padam.

Mandi bersih, pakai parfum minyak nyongnyong yang ada hanya itu soalnya. Pakaian rapi dan sepatu fantovel andalannya. Dengan jalan tegap dan bangga, ia menenteng surat lamaran kerjanya. Memasuki gedung tertinggi, sebelum masuk ia harus melapor pada sekuriti setempat. Ia pun dikasih card visitor. Wah, gedung tertinggi itu mempunyai sistem yang berbeda. Paijo pun bingung untuk masuk ke dalam lift untuk menuju lantai 100.

Ditunggu-tunggu pun tak ada orang yang datang. Akhirnya datang juga pria berwajah seram bertampang jutek, menekan tombol lift itu. Ia pun segera mengikuti cara pria garang itu. Namun Paijo yang polos itu pun nyeletuk, "Oh begitu toh caranya."
Membuat pria garang itu nyegir dan bicara dalam hati, "Ih dasar bloon." Membuat wajah Paijo jadi gusar.

Namun accident kecil itu tidak membuat Paijo putus asa. Ia pun berharap segera tiba di lantai 100. bertemu dengan ibu peri. Mudahan aja ibu peri itu benar-benar ibu peri seperti yang didongeng yang memberikan keajaiban padanya. Eh, yang mau bertemu dengan ibu peri sangat banyak. Paijo mendapat urutan ke 13. Ah, pikir Paijo ini angka sial, mudahan aja tidak sial. Ia melihat para kompotiternya, mereka semua berpakaian branded, wangi parfumnya menyengat dan mengelitik hidung Paijo yang hanya terbiasa menggunakan minyak parfum yongyong.

Tibalah giliran Paijo, Paijo dengan semangat menuju ruang 4513. Eh, ternyata dalam ruangan itu masih ada seorang pelamar yang sedang duduk. Paijo disuruh menunggu di luar. Lalu, ia pun berdiri dan menunggu di depan ruangan itu. Tetapi ia sempat mendengar di ruangan lain orang-orang pada ngerumpi dan tertawa. Ah Paijo pun mencuri dengar untuk membunuh waktu.


Pria itu pun mempersilahkan Paijo untuk masuk, karena urusannya sudah selesai.

Paijo: Selamat siang ibu peri
Peri : Silahkan duduk, bawa surat lamaran
Paijo: Iya saya bawa, (sambil menyerahkan surat lamarannya)
Peri : Apa anda tidak keberatan jika dikontrak
Paijo: (Dengan suara berapi-api) Oh tentu tidak bermasalah. Memangnya ini perusahaan bergerak dibidang apa?
Peri : (Wajah ibu peri berubah), Nanti juga tahu. Saya yang harus tanya dulu
Paijo: Oh begitu
Peri : (mulut manyun) Iya, nanti juga dijelasin
Paijo: Napa tidak sekarang?
Peri : (garuk-garuk kepala dan dengan nada kesal) mau diteruskan tidak?
Paijo: Okey, silahkan ibu peri
Peri : Orangtua kerja apa?
Paijo: (gantian yang garuk-garuk kepala) lho apa hubungannya?
Peri : Ya ada
Paijo: Dimananya
Peri : Ya ada di data kami, kami butuh
Paijo: udah pensiun jadi petani
Peri : Kamu bisa apa saja?
Paijo: Lho untuk apa cv saya bawa jika tidak dibaca?
Peri : Ini kan interview
Paijo: Begitu ya
Peri : Iya tuh sistem kami begini
Paijo: Iya-ya lanjutkan bu peri
Peri : Ya jawab donk pertanyaan saya
Paijo: Keahlian saya banyak bu peri, bisa nyangkul, bisa ngetik dan sebagainya
Peri : Okay, kamu melamar sebagai apa?
Paijo: Saya gak ingat bu peri, la saya kirimkan lamaran banyak
Peri : Oh begitu, disini yang ada kosong head administrasi. Apa kamu mau?
Paijo: Wah mau donk bu peri
Peri : Okay nanti surat lamaran kamu, kami kasih ke perusahaan itu, nanti perusahaan itu yang menghubungi dan melakukan wawancara
Paijo: Lha, sekarang kita sedang apa?
Peri : wawancara
Paijo: Terus apa bedanya?
Peri : Ya beda, kami hanya menyalurkan surat lamaran anda ke tempat-tempat yang membutuhkan.
Paijo: Kalau gitu saya bisa sendiri (gerutunya sambil meninggalkan ruangan ibu peri dengan langkah lunglai)




Thanks for Visit Diary Citra | It's about Me, You and Them
Title : Tertipu | Short Story
Writen By : Citra Pandiangan
Do You like this article: Tertipu | Short Story Do You want to keep it? You can ask me and I will give it to you. Happy Reading and Hapy Blogging. God bless us

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

You've decided to leave a comment – that's great! Please keep in mind that comments are moderated and please do not use a spammy keyword. Thanks for stopping by! and God bless us! Keep Creative and Health

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Kota Cinta | Kita Bahagia | diary Citra