Tampilkan postingan dengan label my novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my novel. Tampilkan semua postingan

April 26, 2014

Sketsa Kehidupan Novel


Enlarge this document in a new window
Self Publishing with YUDU

Juli 01, 2013

Sketsa Kehidupan Antara Dusta dan Derita Novel

:)

                                                                             Sketsa Kehidupan
                                                                     ‘’Antara Dusta dan Derita’’ 
SUNYI
Setiap malam datang , hanya kesunyiaan yang ada
Hanya kegelapan yang ada disekelilingku . . . .
Sunyi, itulah yang ku tahu
Gelap, walaupun cahaya lampu menderang
Terlalu sunyi, hingga aku bisa mendengar suara jangkrik
Aku takut pada keheningan malam
Aku takut pada kesunyian yang membisu dan kelam
Salahkah aku, jika aku mengusir sunyi ini dengan ke diskotik?
Setidaknya di sana tidak sesepi di sini
Di sana penuh orang yang beragam
Pastinya, aku tidak merasa takut pada kegelapan
Walaupun lampunya tidak seterang kamarku
Namun tidak sesunyi rumah dan hatiku
***      
Kenapa mesti ada malam hari, kenapa mesti ada hari lain untuk menggantikan hari ini.
Jika setiap malam hatiku selalu direnung duka dan ketakutan yang berkepanjangan. Kenapa aku
harus merasa takut pada kegelapan? Aku takut, entah sejak kapan, setiap malam datang, aku
takut. Takut pada kesunyian, takut pada kegelapan, takut tak ada orang yang peduli padaku. Aku
takut, jika nanti aku terbangun tak ada orang yang menemaniku.      
Kini, aku tahu cara mengusir rasa takut dan sepiku dimalam hari. Pergi dari satu café ke
café lain, maupun ke diskotik dapat membuatku merasa nyaman dari kesunyian malam yang kian
 1
Citra Pandiangan

mencengkram. Walaupun, aku harus pergi dengan diam-diam. Setidaknya, di sana aku memiliki
kawan dan juga orang yang ingin menikmati malam dikeramaian.       
‘’Woi, melamun aja,’’ teriak Barbara pas ditelingaku.      
Aku menoleh kepadanya dan tersenyum. Susah, jika mau berbicara santai saat berada di
diskotik. ‘’Bingung, mau ngapain,’’ ujarku jujur, karena ini merupakan ketiga kalinya aku
menyelinap dari rumah untuk pergi ke diskotik.       
Tanpa banyak bicara, Barbara menarik tanganku dan mengajakku ke lantai dansa. Di
lantai dansa yang penuh sesak orang, Barbara menari. Menari dengan gemulai dan indahnya.
Sedangkan aku, berdiri disisinya kikuk untuk meniru gerakan gemulai tubuhnya. Rasanya, aku
ingin pergi karena malu. Aku seperti orang bodoh saja berada di atas lantai dansa.
‘’Kenapa, Dri,’’ ujarnya setengah teriak, ‘’Ikuti iramanya.’’      
Aku mencoba menggoyangkan tubuhku mengikuti irama musik, yang ada malah gerakan
kaku yang kutunjukan. Kulihat, Barbara tersenyum dan kembali menarik tanganku. Kali ini
untuk kembali duduk.      
‘’Bar, aku nggak bisa ngedance,’’ kataku sambil tersenyum malu.      
‘’Sebenarnya kamu bisa, cuma kamu itu malu aja. Bebaskan dirimu. Di sini, tak ada
orang yang peduli dan memperhatikan kita, kecuali,’’ ujar Barbara menggantung.      
‘’Apa?’’       
‘’Lupakan saja,’’ Barbara melanjutkan, ‘’Yuk, pulang sudah jam dua neh. Besok, kita
kan harus sekolah.’’      
Aku mengangguk setuju. Mobil Inova yang dipinjam Barbara dari pacarnya pun
dibawanya menelusuri malam. Sunyi, jalanan sudah mulai sepi. Walaupun masih ada beberapa
kendaraan yang lalu lalang, tetapi tidak seperti pada pagi apalagi siang hari. Panas dan macet.
***
Berbeda memang hidupku, sejak kakak kuliah dan memilih kos, suasana rumah semakin
sepi dan sunyi. Setiap pulang sekolah, aku bingung mau hendak berbuat apa, makan siang saja,
rasanya tak memiliki selera. Aku kangen kakakku, tetapi setiap dihubungi dia selalu sibuk dan
sibuk, kuliah membuatnya makin menjauh dariku.      
‘’Ma, kenapa kamu pergi begitu cepat, aku masih kangen, aku masih butuh mama,’’
isakku. ‘’Sunyi ini membunuhku, ma.’’      
 2
Citra Pandiangan

Walaupun begitu, aku masih bersyukur masih ada orang yang mau mendengarkan
curhatku. Karena aku masih memiliki seorang sahabat, Barbara. Kalau dia tak ada, mungkin aku
akan mati dalam kesunyian dan kesepian. Tidak hanya malam, siang pun rumah ini terasa sunyi,
gelap, suram. Apalagi jika malam datang. Aku bagai hidup tanpa gairah.       
Mengenal dunia gemerlap membuatku merasa hidup, walaupun aku tak paham dan tak
mengerti, kenapa orang memilih berdesakkan di diskotik. Menari di lantai dansa yang
berdempetan, tetapi yang kutahu, aku tak sendirian. Aku dipenuhi orang yang ingin membunuh
malam yang kian sepi dan menyeramkan.      
Di sana, aku memiliki banyak kawan, ada Erna dan Neni. Kami selalu menghabiskan
waktu malam dengan menari dan menari. Walau terasa capek dan ngantuk, tetapi aku menikmati
waktu malamku bersama mereka. Mereka terlihat tidak pernah capek dan tetap energik.      
Aneh memang, sejak beberapa hari belakangan ini, aku ikutin kegiatan malam mereka.
Mereka tetap saja semangat. Sedangkan aku untuk bangun pagi saja susah. Rencananya, esok
malam, kami akan menyewa ruang VIP karena Erna berulangtahun. Pada kesempatan itu, Erna
mengundang aku dan Barbara untuk merayakan pesta ulangtahunnya. Aku sudah tak sabar,
menanti malam itu.      
‘’Bangun non, sudah pagi,’’ ujar bi  Minah membangunkanku.      
Dengan ogah-ogahan, aku kembali menarik selimut. ‘’Masih ngantuk bi, bangunkan aku
lima menit lagi ya,’’ pintaku.
‘’Ini sudah jam tujuh non, ayah non saja sudah berangkat dari jam setengah tujuh. Hari
ini kata bapak, non naik taksi lho,’’ kembali bi Minah mengingatkan.       
Masih dengan rasa enggan aku keluar dari selimutku dan segera menuju kamar mandi.
Aku mengguyur badanku dengan air dingin. Terasa dingin saat air itu membasahi tubuhku
melalui shower, tetapi itu membuat rasa kantukku menghilang. Terkadang, aku merasa heran,
Barbara masih memiliki kekuatan untuk bangun pagi. Padahal pulangnya selalu larut. Wow
sangat berbeda denganku yang belakangan ini susah bangun pagi. Gara-gara dugem sampai
subuh.      
Seperti biasa bi Minah sudah menyiapkan sarapan dan aku hanya bertugas
menyantapnya, tetapi aku lebih memilih tidak makan. Taksi langganan pun sudah standby di
depan untuk segera mengantarkan aku ke sekolah.      
Kelas dua ini, suasana berbeda dengan kelas satu. Suasana sekolah berbeda karena sudah
tidak ada lagi kakakku di sekolah. Dia sudah kuliah. Kadang, aku merasa kesal, kenapa waktu
cepat berlalu.      
‘’Woi, sudah telat masih melamun,’’ teriak Barbara sambil berlari.     
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Kota Cinta | Kita Bahagia | diary Citra