Tampilkan posting dengan label short story. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label short story. Tampilkan semua posting

Oktober 07, 2015

Tengelam dalam Dasar Batu Gelap

Asal Asul Batu Gantung


Dipinggiran danau Toba, Sumatra Utara hiduplah sepasang petani yang hidup berbahagia. Kebahagiaan keluarga petani sederhana ini semakin lengkap, saat mereka dikarunai seorang bayi perempuan yang berparas cantik.

“Kita namakan siapa anak, kita ini pak,” tanya ibu.

“Seruni, kita namakan dia Seruni,” jawab bapak sambil menggendong anak pertamanya yang selalu dinantikan kehadiran anak di rumah mungilnya.

Pada zaman dahulu kala,  ada keluarga hidup sederhana disebuah desa terpencil yang terletak di pinggiran Danau Toba, Sumatra Utara. Seruni, nama puteri yang dianugrahkan kepada pasangan suami-istri petani ini. Anak mereka tumbuh dengan cantik dan selalu menurutin setiap perkataan mereka. Sebagai anak petani, Seruni sangat rajin membantu orangtuanya bekerja di ladang.

September 02, 2015

Perginya Peri Purp, Penghuni Waduk Vendemort

sumber foto : coolchaser
Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa yang bernama Vendemort, memiliki waduk air yang sangat besar dan airnya tidak pernah habis. Karena di desa tersebut tinggallah peri air yang bernama Purp. Tapi sayangnya penduduk desa tersebut tidak menghargai air yang ada. Mereka menggunakan air itu suka-suka. Menggunakannya tanpa menghemat, karena mereka mengetahui bahwa waduk itu tidak akan pernah kosong. Selalu saja ada isinya dan tidak pernah berkurang. Sehingga mereka tidak menghargai pentingnya air.



Suatu hari peri Purp terbang mengelilingi desa yang tidak terlalu jauh dari waduk. Jumlah penduduk desa itu hanya 50 orang dan mereka hidup damai. Karena desa Vindemort subur dan indah. Apa saja yang mereka kerjakan selalu berhasil. Pada saat mengelilingi desa Vendemort, peri Purp melihat semua tingkah laku penduduk terhadap air yang mereka gunakan.

Agustus 19, 2015

Penderitaan Seorang Wanita

#Pertama kali membuat kisah cerita pendek yang gagal, karena lebih dari 8 pages, sekitar 20 pages. Ini cerpen pertama kali ditulis di tahun 2009, sebelum lahirnya Novel pertamaku, SIMPUL TERUJUNG. 


Ku Jual Tubuh Ku Untuk Uang


Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, seharusnya aku berada di rumah dan sudah tertidur lelap sama seperti yang lain. Namun tidak demikian dengan ku semakin malam, dan semakin bulan dan bintang memancarkan sinarnya yang redup. Aku harus melangkahkan kaki keluar dari rumah yang sudah reyot. Menelusuri jalan yang gelap dan berharap ada pria yang datang menghampiriku. Sekedar untuk meniduriku sesaat, setelah itu memberiku sejumlah uang.

Januari 27, 2015

Find Shell, Throw without See It



Find Shell, Throw without See It


Sometimes we don’t realize about what is mean true love. That is happened to Anne, but this time Anne is not the person who cut the communication. She just victim, because she believe someone who love her as the way she likes this one. Anne already tired with her life, never lucky to find love. Then suddenly she got an email for stranger. She just read it without any desire to reply. Because the email always keep coming, she just reply simple words but this email sound interested to keep reply and make communication.


She decided to give her number, chatting is one part to know each other. Although many million meters far from each other but Anne feels comfortable to talk with this guy. She shared about the dreams and desire on the futures. She thinks this guy is guardian angel who one day will make her free.


Regularly communication always good in that time, till one day, something happened. Suddenly Anne’s world is broken. She can’t do anything to fix it. Because she doesn’t know anything, she is stupid to fall in the same hole, but the pain is more pain then long time ago, tears become her loyal friend. Until this time, she can’t understand time so fast to broken her dream. Wonderful dream became nightmare in the night. Tears which never stop in the night make her world become dark suddenly.

November 18, 2014

The Ugly Princess

"Ahhhhhhhhhhhhh" someone yell in the princess bedroom. What happen? thinking bodyguard and also some maid who always stand in front of princess room.

"What happen, princess," ask one of maid.

"Don't come," yelled the princess from the room.

"How we can help if you are not allow us to come in?" reply the bodyguard.

"Just, leave me alone and don't dare to come to my room. ANYBODY."

November 16, 2014

Tom Tom The Tooth Fairy


This is the first time I record somewhat in here, just wanna practice again so If somewhat mistake just ignore it hahaha, enjoy the kid
story :)

Tomtom the Tooth Fairy
In a country, there lived a very handsome elf. But unfortunately he does not have the teeth. Handsome fairy named Tomtom. State elf uproar, how can a new born elf has no teeth.

Tomtom certainly feel very sad, because he does not have teeth like a fair friends. He did not feel confident to play with his friends. Tomtom rather be alone, than play with his friends.

At one time, Tomtom is aloof flew erratic direction. Apparently he has been among the border gates between the worlds of fairies and humans. Tomtom surprised. Because senior fairies always forbid anyone through the border gates between the worlds of fairies and humans.

Tomtom feel curious was kept flying through the gate. Tomtom astonishment at the sight of the human world that is similar to the fairy world. Lots of flowers, trees. Tomtom hear many voices laughing. Apparently Tomtom saw a bunch of kids who were playing under the tree.

Tomtom watched from the top of the tree. He was pleased to observe the children at play. Tomtom also have a desire to be able to play with fairy friends . However, he realizes that he has flaws. He does not have teeth like his friends. He was ashamed to smile. Because his smile would look weird.

April 26, 2014

Sketsa Kehidupan Novel


Enlarge this document in a new window
Self Publishing with YUDU

November 20, 2013

Tertipu | Short Story

Tertipu

Niatnya mencari kerja di kota besar dengan bayangan akan mendapatkan gaji besar. Sehingga bisa di tabung dan membuka usaha pada masa tua. Pergilah Paijo ke kota metropolitan itu. Dengan semangat empat lima yang berkobar-kobar di dadanya. Berbekal ijasah yang dia raih dengan susah payah.

Paijo pun mulai memasukan setiap surat lamaran kerjanya ke berbagai tempat baik masukin sendiri, lewat elektonik mail, lewat pos. Semua dilakukan Paijo dengan harapan gaji besar. Paijo hampir putus asa, karena setiap dapat panggilan kerja. Ia selalu ditawarin gaji kecil, Tentunya Paijo tidak mau, apalagi hidup di kota besar itu butuh biaya besar juga. Hingga akhirnya, Paijo yang putus asa di tengah malam, merenung dan berusaha memandang bulan dan bintang tetapi terhalang oleh bangunan yang tinggi-tinggi.

Juni 22, 2013

Ku Kejar Ringgit di Malaysia -short story-

Short story for composition writing on magazine but i am not the winner hahaha so I decided to share it



Ku Kejar Ringgit di Malaysia


"Kamu mau? Lumayan lo penghasilannya!"

Tanya mantan bos Nunung saat bertemu Nunung di salah satu cafe. Saat itu Nunung sedang gundah mengenai hubungan asmaranya dengan Handoko, pria campuran Cina dan Sunda itu.

"Saya akan pertimbangkan bu," jawab Nunung lirih.

"Ya sudah saya tunggu secepatnya," ujar Miranda sambil berdiri, "Kamu masih ingatkan tempat untuk menemui saya dimana?"

Nunung mengangguk, "Masih bu, secepatnya akan saya kabari."

Nunung tidak bisa tidur sejak berjumpa dengan mantan bosnya di salah satu cafe yang berada di Baloi. Kerja di Malaysia? Ringgit? Berarti kehidupan mapan! Nunung ingin menghapus bayangan yang mengiurkan dan bayangan bebas dari Handoko.

Alasan Nunung merantau ke Batam, karena ingin bebas dan mendapatkan uang. Wanita bertubuh semampai ini menyadari ia tidak akan mendapatkan pekerjaan yang gajinya mencapai belasan juta ataupun lima juta ke bawah. Lulusan SMP, tentunya hanya bisa mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan bilyard maupun restauran seafood yang berada di wilayah Nagoya.

Menjadi anak pertama dari keluarga yang susah di kampung membuat Nunung  tidak bisa melanjutkan pendidikan di bangku SMA. Nunung merasa prihatin dengan kondisi ibunya yang menjadi janda. Ibunya memutuskan bercerai, setelah tidak kuat lagi menahan siksaan batin dan fisik. Sosok bapak bagi Nunung adalah pria yang kejam dan berhati bengis. Pada saat itu, usia Nunung baru lima tahun dan masih belum mengerti mengapa ibu meninggalkannya di rumah nenek, setelah diusir bapak dari rumah. Perceraian kedua orangtuanya membuat hidup Nunung berpindah-pindah dari satu keluarga ke keluarga lain yang masih kerabat ibunya. Nunung menyadari sejak kecil, ikut kerabat tidak lah mudah, tetapi Nunung berhasil melaluinya dengan baik. Setelah tamat SMP, ibu Nunung pun mengambilnya kembali. Ibu Nunung sudah menikah dengan duda beranak dua dan salah satu anaknya masih kecil. Nunung tetap menyayangi ibunya dan berharap ibunya bahagia. Tetapi disisi lain, Nunung ingin bebas. Meskipun ibunya tidak bisa menyekolahkannya. Ia tidak menyalahkan. Ia hanya ingin pergi dari kampung halamannya. Ternyata Tuhan menjawab doanya. Teman dekat Nunung, Maya pulang kampung dan ia menceritakan mengenai Batam. Nunung tertarik untuk mencoba keberuntungan di Batam.

Akhirnya di sinilah Nunung terjebak di Batam, terjebak dengan gaya hidup khas metropolitan, ekonomi dan hubungan asmara. Maya bekerja sebagai pelayan di bilyard di daerah Jodoh, tempat pertama kali, Nunung merasakan dunia malam saat tiba di Batam. Nunung pun mendapatkan pekerjaan itu atas bantuan sahabatnya. Di tempat yang penuh para pelanggan pria menghabiskan jam malam, Nunung bertemu dengan Handoko. Seiringnya waktu Handoko pun menjadi pacarnya. Handoko tidak suka melihat Nunung kerja malam, apalagi disentuh dan dipeluk para pria. Akhirnya Nunung keluar dari tempat kerjanya dan bekerja sebagai pelayan restauran seafood. Berpacaran dengan Handoko dan tinggal serumah, membuat Nunung bekerja di tempat usaha Handoko. Sejak Nunung sebagai pegawainya membuat ia menyadari sikap keegoisannya. Apalagi setelah Handoko mendapatkan keperawanannya sikap Handoko menjadi-jadi dan semakin posesive. Membuat Nunung tidak kuat lagi menjalani hubungan dengannya. Meskipun Handoko banyak membantu Nunung, bukan berarti perempuan yang baru memasuki usia 21 tahun itu adalah robot. Yang harus siap kapan pun dibutuhkan. Bahkan gaji pun kadang dikasih, kadang tidak, membuat ia kesulitan untuk mengatur keuangannya. "Aku sudah tidak kuat lagi," keluh Nunung pada Lisa, sahabatnya sewaktu bekerja sebagai pelayan di restauran.

"Ya sudah kamu putus saja," saran Lisa, "Untuk sementara waktu kamu bisa tinggal di kosan aku. Lagipula teman sekamarku lagi pulang kampong."

Kebebasan yang Nunung harapkan, tidak semanis anggannya. Tuntutan ekonomi di Batam yang semakin tinggi, belum lagi orangtua yang di kampung mengharapkan kiriman uang. Tekanan emosional hubungannya dengan Handoko membuat Nunung ingin berlari. Tetapi ingin lari kemana? Seakan tidak ada tempat untuk menghindar.

Ringit, mata uang Malaysia itu sangat menggiurkan. Bekerja di Malaysia berarti Nunung bisa menghindari Handoko yang terus memburunya. Selain itu mata nilai mata uang Malaysia masih tinggi dibandingkan hasil jarih payah Nunung bekerja di Batam. Nunung kembali ingat kata-kata mantan bosnya. "Kamu akan mendapatkan bayaran 2000 ringgit sebulan dan itu belum bonus. Kerjamu cuma sebagai pelayan cafe saja." 2000 ringgit, 1 ringgit ia memperkirakan Rp3000 berarti sebulan Rp6 juta. Tempat tinggal dan makan di tanggung. Itu jumlah yang besar bagi Nunung. Sebulan, ia hanya mendapatkan Rp2 juta, itu pun sudah banting tulang. Nunung pun tertidur dengan pikiran yang kalut.

Cuaca panas membangunkannya. Akhir-akhir ini cuaca di Batam tidak bisa di tebak. Panasnya menyengat, kadang hujan tapi tetap membawa hawa panas. Nunung ingin menarik selimut untuk menghalau silau di matanya dan kembali tidur. Tetapi bagian tubuh lain mengatakan hal berbeda. Bunyi keroncong dari dalam perutnya membuatnya harus bangkit dari rasa malasnya. Nunung membasuh mukanya dan pergi mencari makanan untuk mengusir perut yang kian bernyanyi. Menu hari ini yang dipilih Nunung sayur asam dan ayam panggang, masakan khas Sunda yang berada di ujung jalan memang menggiurkan selera. Tidak lupa secangkir es jeruk menyegarkan tenggorokannya yang dahaga. Suara ponselnya berbunyi, Nunung hanya melirik handphone blackberry yang baru tiga bulan dibelikan Handoko. Namun tak ada niat sekali pun Nunung mengangkat ponselnya. Nunung hanya mengaduk-aduk mangkuk sayur asam, rasa lapar diperutnya lenyap entah kemana. Nunung berpikir dan berpikir keras hingga tanpa sadar ia hampir menumpahkan gelas yang berisi jeruk manis yang tinggal setengah gelas. "Ya, aku sudah mengambil keputusan. Ini adalah keputusanku. Aku akan pergi ke Malaysia," pikirnya.

Diambilnya ponsel 3G yang berwarna hitam itu, ditekannya angka 1. Munculah di layar LCD, ibu. Butuh nada dering kelima, baru lah terdengar suara yang berat. "Ada apa Nung?" tanya ibunya, saat menjawab telepon dari putrinya.

 “Bu, Nunung akan ke Malaysia," katanya tanpa basa-basi.

"Apa!" Jerit ibu Nunung, "Untuk apa? Bukannya kamu sudah dapat kerja enak di Batam."
"Ndak papa bu, Nunung mau mencari pengalaman."

"Pokoknya ibu nggak izinkan," ucap wanita paruh baya itu dengan tegas, "Ibu takut kalau ada hal yang buruk menimpa mu nak seperti berita-berita di TV itu.

"Pokoknya ibu nggak usah kuatir," sahut Nunung cepat, "Nunung sudah putuskan! Putusanku bulat." Nunung berpikir, apapun yang terjadi! Aku akan kejar ringgit.

Jantung Nunung berdebar-debar saat kapal feri tujuan Batam-Malaysia berlayar. Nunung berangkat bersama dua gadis lainnya dan mantan bosnya. Nunung merasa sedikit kuatir, karena Nunung sepenuhnya sadar bahwa ia pekerja ilegal di Malaysia. Di dalam kapal feri, Nunung merasa bimbang dan kuatir. Setidaknya itu yang ia rasakan selama tiga puluh menit. "Ah sudahlah," pikir Nunung, "Tujuanku ke Malaysia untuk mengejar ringgit. Apa pun resikonya aku terima." Nunung melirik barisan di samping kanannya, kedua teman barunya yang bernama Yanti dan Ria sudah pulas tertidur.  Usia mereka tidak jauh berbeda dengan Nunung. Tapi Nunung enggan menarik informasi lebih dalam lagi. Akhirnya Nunung putuskan untuk mengikuti jejak mereka. Apalagi Nunung merasa lelah dengan pikiran-pikiran yang ada dalam benaknya. Selama sisa waktu di perjalanan, Nunung habiskan dengan tertidur. Nunung terkejut saat pundaknya ditepuk.

"Bangun, kita hampir sampai," ujar mantan bos Nunung membangunkannya dengan cara menepuk bahunya. Dengan berat hati, Nunung membuka matanya. "Maaf bu, saya tertidur."
"Ya tidak apa-apa, bangunkan kawanmu," sahutnya sambil menunjuk Yanti dan Ria, "Kita sudah hampir sampai."

Nunung pun menganggukkan kepalanya dan membangunkan temannya dengan cara yang sama mantan bosnya membangunkannya. Mereka pun secara bergantian keluar dari kapal dan menuju imigrasi untuk pengecekan dokumen dan mendapatkan stampel. Dalam perjalan ke bagian pemeriksaan imigrasi, jantung Nunung seperti hendak keluar. Nunung masih ingat perkataan mantan bosnya, jika ditanya pihak imigrasi bilang mau menjenguk keluarga yang tinggal di Johor. Nunung pernah membaca di majalah, untuk mengatasi kegugupan dengan menarik nafas dalam-dalam. Nunung pun mencoba menenangkan diri pada saat ia mengantri barisan untuk mendapatkan stampel.

"Berikutnya," teriak petugas imigrasi pada Nunung yang termenung, karena tidak menyadari dua orang di depannya sudah tidak ada.

Nunung pun melangkahkan kaki sambil membawa koper kecil berwarna hitam. Nunung berharap mendapatkan petugas imigrasi pria, karena lebih mudah dibandingkan petugas perempuan yang berdarah Melayu. Hal itu diketahui Nunung dari teman-temannya yang pernah ke Malaysia. "Awak kesini mau ngapain?" tanya petugas imigrasi yang berdarah Melayu kental itu dengan ketus.

Nunung tersenyum,"Saya mau berkunjung ke rumah saudara."

"Saudaranya tinggal dimana dan berapa lama?" Selidiknya.

"Mungkin sekitar dua minggu," jawab Nunung santai, "Saudara saya tinggal di Johor. Beliau menunggu saya di depan."

Wanita itu pun memberikan stampel pada lembaran paspor Nunung. Sesudah mendapatkan stampel itu, Nunung pun meninggalkan bagian imigrasi. Mata Nunung was-was mencari teman dan mantan bosnya. Ada sedikit kelegaan pada saat Nunung melihat sosok yang ia kenal sedang menunggunya disamping pintu gerbang. Dalam perjalanannya menuju pintu gerbang, Nunung sempat berpikiran negatif. Maklum ini pertama kalinya Nunung ke Malaysia dan uang di dalam dompetnya pun tak banyak.
Tidak lama kemudian, mobil avanza berhenti dan seorang pria bertubuh tambun melambaikan tangan. Lambaian tangan itu di balas mantan bos nunung. "Ayo cepatan," katanya, "Jemputan kita sudah datang."

Seperti dijanjikan Nunung memang bekerja di café. Cafe tersebut hanya buka malam hari mulai jam tujuh hingga jam tiga dini hari waktu setempat. Bos baru Nunung orangnya sangat baik, wanita asli Melayu yang masih kerabat jauh dengan mantan bos Nunung. Nunung bersama dua teman barunya diberi tempat tinggal yang berjarak seratus meter dari lokasi café itu berada.

Suasana café tempat Nunung bekerja tidak jauh berbeda denga di Batam. Pengunjung café selalu ramai di wilayah Johor Bahru. Nunung sangat menikmati pekerjaannya. Nunung pun dibelikan nomor ponsel di Malaysia. Wanita muda itu benar-benar merasa bebas dari tekanan yang ia rasakan. Tidak ada gangguan telepon, ia pun merahasiakan keberadaannya di Malaysia dari teman-temannya, hanya dua orang yang mengetahui keberadaan Nunung mencari ringgit di Malaysia.

Dua minggu pun berlalu tanpa di rasa, waktunya Nunung kembali ke Indonesia, ke Batam. Kapal ferri yang berada di pelabuhan Stulang Laut, Johor Bahru membawanya pulang kembali ke Batam bersama dua teman barunya yang ternyata teman yang menyenangkan selama di Malaysia. Namun pada pertemuan kedua, mereka diminta tidak datang bersamaan. Takut pihak imigrasi akan curiga. Nunung diminta untuk tinggal di Batam selama satu minggu, setelah itu kembali lagi ke Malaysia.

Waktu terasa lama saat Nunung berada di Batam, sedangkan saat berada di Malaysia waktu terasa cepat berlalu. Nunung merasa selama di Batam pikirannya selalu galau. Namun, tanggal yang ditungggu-tunggunya untuk kembali ke Malaysia pun tiba. Nunung hanya mempersiapkan beberapa baju seperlunya selama di sana.

Pergi ke Malaysia untuk kedua kalinya dan pergi sendiri membuat Nunung merasa lebih berbahaya. Berbagai pikiran negative menyelimutinya selama kapal membawanya menuju pelabuhan Malaysia. Kali ini, Nunung mendapatkan petugas pria seperti yang diharapkannya pada saat pertama kali datang ke Malaysia. Pertanyaan standar pun dilontarkan pria yang diperkirakan berusia 40 tahunan itu. “Awak sendirian datang ke sini?” tanyanya usai menanyai pertanyaan standar berapa lama dan kemana tujuan datang ke Malaysia.

“Iya saya datang sendiri pak, mau berkunjung ke tempat saudara.”

“Jika awak mau nanti kita bisa jalan-jalan bareng. Saye bisa menemani awak selama disini, bagaimana?” Nunung pun menolak dengan halus, dan pria itu pun akhirnya mengembalikan paspornya yang sudah diberi stampel. Nunung pun melangkahkan kaki pergi dari bagian imigrasi. Ia sudah mencatat alamat dan naik taksi ke tempat kediamannya sementara di Malaysia. Seminggu telah berlalu, Nunung dikejutkan oleh bosnya yang memintanya untuk bersembunyi di café lain milik bosnya yang berjarak 300 meter. Menurut bosnya akan ada pemeriksaan tenaga kerja. Itu diketahuinya dari telepon yang ia terima. “Awak untuk sementara bekerja di salah satu café milik saye, jaraknya tak jauh. Pacik Sulaiman akan mengantar awak, okay?”

Nunung hanya mengangguk saja, selama perjalan ke sana dengan mobil. Nunung merasa kuatir dan cemas. Namun sepanjang perjalanan pacik menjelaskan bahwa mereka telah membayar salah satu polisi disana untuk memberikan informasi kapan akan ada razia. Meskipun merasa takut, Nunung tetap bertahan bekerja sebagai karyawan illegal di Malaysia. Ringgit sudah ia rasakan di tangan. Ia tidak ingin mundur lagi. Resiko pekerja illegal sudah diketahuinya dengan matang, tetapi hidup butuh perjuangan dan pengorbanan. Inilah jalan yang dipilih Nunung untuk meningkatkan perekonomian yang kian sulit dan mahal dengan mengejar ringgit di Malaysia. ©
 

Juni 19, 2013

The Single Club - Short Story-

Tidak biasanya aku mengikuti cerpen femina, meskipun tidak menang. Tidak ada salahnya tuk terus mencoba.




The Single Club


Belakangan ini cuaca di kota Batam sangat panas, sepanas hati Riana. Bagaimana tidak, dia baru mendapat kabar bahwa kedua sahabatnya akan segera menikah di bulan November. Sedangkan Riana sendiri belum memiliki pacar. Setiap mendengar kabar pernikahan, dunia Riana seperti tersambar petir. Riana bukannya cemburu atau merasa rendah diri. Meskipun dia sudah memasuki usia 31 tahun pada bulan Agustus. Bukan berarti Riana menargetkan dirinya untuk menikah cepat. Dia tidak terlalu peduli dengan pernikahan, namun dia paling tidak suka dengan gunjingan dari orangtuanya. Tekanan dari keluarganya pun semakin gencar, membuat Riana ingin segera menghilang dari muka bumi ini. Tapi sayangnya, hidup tidak seindah dongeng. Dia tidak memiliki tongkat yang membuatnya bisa menghilang. Jadi Riana menerima nasib menjadi single forever. Namun berbeda dengan orangtua yang mendesaknya untuk segera menikah. Pertengkaran hebat terjadi tadi pagi dan membuatnya tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja. Sedangkan pekerjaannya sedang menumpuk di kantor.

Kuping Riana masih terasa panas mengingat perkataan orangtuanya. "Sampai kapan kamu single begini? Semua orang sibuk berlomba-lomba mencari suami!” Sedangkan kamu hanya bersantai saja," sindir mama, saat kami sedang sarapan.

"Terus mau mama bagaimana? Memangnya cari suami itu gampang?" Jawab Riana.

Mama hanya menggelengkan kepala, "Mama kan sudah berusaha mencarikan kamu jodoh, tapi semuanya kamu tolak semua," ujar mama sedikit emosi, "Memangnya kamu mau cari pria yang seperti apa! Jangan bagaikan pungguk merindukan bulan."

"Bukan begitu mama," jawab Riana kesal, “Semua itu ada waktunya.”

"Kamu ini,” ujar Mama geram. “Memangnya kamu mau mencari yang kaya. Lihat-lihat dulu kondisi keluarga kamu. Kamu ini...."

"Aku berangkat kerja dulu," potong Riana cepat dan ia segera beranjak dari tempat duduknya. "Kamu ini,” nada suara mama sudah mulai meninggi, “Setiap kali membicarakan pernikahan selalu saja seperti itu."

"Bukan begitu,” elak Riana, “Aku nanti bisa terlambat kantor dan kena warning."

"Riana.... Riana….. Riana," teriak suara yang menyadarkannya dari lamunannya.

"Ya pak," kata Riana sedikit kikuk, saat menyadari bos memanggilnya.

"Kenapa kerjaanmu belakangan ini banyak yang tidak beres," keluh bosnya, "Cepat perbaikin berkas ini dan antar ke meja saya."

"Baik pak, secepatnya,” ucap Riana sambil membuka file di computer. “Kalau begini terus bisa tidak diperpanjang kontrak kerjaku," keluh Riana dalam hati.

Belakangan ini pekerjaan Riana banyak yang gagal dibanding berhasilnya. Pernikahan dua sahabatnya bukanlah menjadi batu sandungan. Tapi sindiran-sindiran dari orangtuanya yang membuatnya semakin terpuruk. Orangtuanya, khususnya dari mama yang membuatnya tak tahan. "Memangnya salah, jika tidak menikah? Memangnya apa tujuan untuk menikah? Memangnya mudah untuk menemukan pria yang ideal. Bagaimana jika belum menemukan yang cocok. Memangnya aku harus menikah dengan sembarang pria yang penting memiliki status menikah?" Keluh Riana dalam hati.

Waktu terasa cepat berlalu dan semakin membuat Riana gelisah. Bulan Oktober dalam hitungan hari akan segera digantikan bulan November. Sejujurnya Riana merasa sedih dan hampa, karena beban perkataan yang selalu dilontarkan orangtuanya. Belum lagi di lingkungan pekerjaan dan sosialnya. Namun Riana berusaha sabar dan menutup telinga. Karena setiap kali orangtuanya membicarakan topik pernikahan dengan Riana selalu berakhir dengan peperangan. Sejujurnya hati Riana sakit dan hancur, tapi orangtuanya tidak memahami dirinya seutuhnya. Orangtua Riana hanya menuntut dan menuntut untuk ia segera menikah. Bukannya Riana tidak mencoba untuk membuka hati pada pria. Tetapi masa lalunya selalu membuatnya merasa kecewa. Setiap pria yang mendekati dirinya, semuanya memandang rendah dirinya. Mereka menganggap Riana mudah untuk dijamah, apalagi di era moderen seperti ini. Sedikit pria yang bertindak jantan dan menghargai perempuan sebagaimana mestinya. Bagaimana tidak, Riana memiliki tubuh yang menggiurkan bagi para pria. Meskipun Riana tidak menggunakan pakaian seksi. Namun, bagian tubuhnya lah yang selalu menarik para pria. Riana tidak berdaya untuk urusan satu ini, karena memang takdirnya memiliki bentuk payudara yang besar dan seksi tanpa perlu menggunakan oat-obatan. Banyak pria yang menggodanya, membuatnya kesal karena merasa tidak dihargai. Ia menginginkan pria menghargainya apa adanya. Bukan dari penampilan tapi dari hatinya. Namun pria seperti itu sudah sangat langka untuk didapatkan.

Kedua sahabatnya akhirnya menikah. Sangat disayangkan ia tidak bisa hadir di pesta pernikahan. Karena izin cutinya tidak diberikan. Kantor sedang mengalami kemajuan pesat, sehingga pegawai yang mengajukan cuti tidak diizinkan hingga awal Desember. Padahal Riana sangat ingin hadir di pesta sahabatnya. "Maaf aku tidak bisa datang ke pernikahanmu, Ella," kata Riana saat mendengar sambungan teleponnya dijawab.

"Kenapa Riana? Padahal aku mengharapkan kamu hadir."

"Bosku tidak mengizinkan aku cuti. Kerjaan di kantor sangat banyak. Tapi aku selalu berharap, kamu slalu berbahagia say, tetap semangat ya dan sukses."

Dua minggu sejak pernikahan kedua sahabatnya, Riana merasa seperti berada di neraka setiap berada di rumah. Kecaman hampir setiap saat, tidak pagi, siang, sore maupun malam selalu dilontarkan. Perang mulut tak pernah bisa dihindari lagi. "Sampai kapan kamu mau begini terus. Kawanmu semua sudah memiliki anak dan sudah pada menikah. Mama malu, anak mama tidak laku-laku!!"

"Malu sama siapa ma? Sekarang ini zaman moderen, perempuan yang tidak menikah tidak dianggap tabu. Memangnya aku barang apa? Pakai acara tidak laku segala!"

Mata mama semakin melotot karena kesal mendengar perkataan Riana. "Mama saja seusia kamu sudah memiliki anak. Jangan terlalu memilih nanti malah nggak dapat."

Riana hanya diam saja, Riana sudah bosan berdebat dan selalu berakhir dengan kemarahan mama yang bagaikan gemuruh. Sedangkan Riana selalu bersembunyi di kamar dan menangis seorang diri. Bosan aku sejujurnya mendengarkan perkataan yang selalu memojokanku. Tak ada kah seorang pun di dunia ini yang memahamiku sepenuhnya. Memangnya menjadi single adalah kutukan? Perawan tua? Tidak laku? Kenapa untuk yang satu ini, dilingkungan keluarga dan tempat tinggalku dianggap hal yang tabu. Bosan aku menangis meminta jodoh dari Tuhan setiap malam. Tak seorang pun mengetahui jeritan batinku! Itu hanya antara aku dan Tuhan. Tapi kenapa wanita single masih dipandang rendah? Katanya ini sudah bukan zaman Siti Nurbaya? Tapi kenapa masih memikirkan perjodohan dan pernikahan. Adilkah hidup ini? Adakah seseorang di luar sana yang mengalami nasib tertekan seperti aku. Riana sedang menulis di blog dan ia pun menulis mengenai tekanan menjadi single, sementara teman-temannya delapan puluh persen sudah menikah. Bagaimana perasaan menjadi single, tekanan yang dihadapi di rumah lebih besar dibanding di luar.

Diluar bayangan Riana, ternyata di luar sana banyak yang mengalami nasib yang sama seperti Riana. Mereka semua tertekan oleh lingkungan, khususnya lingkungan di rumah sendiri yang malah memojokan dan menghina mereka. Rumah yang seharusnya sebagai tempat yang nyaman dan mendukukung malah menjadi tempat bagai neraka.

Riana membuat janji dengan beberapa teman yang meninggalkan pesan di inbox-nya dan mereka membuat janji pertemuan akhir pekan ini. Jantung Riana berdetak kian cepat, karena ia akan bertemu dengan beberapa orang yang bernasib sama dengannya. Riana merasa bermimpi dan tidak percaya bahwa ternyata di kota yang sama, tempat dimana ia merasa tertekan batin, ada beberapa orang yang memiliki nasib yang sama dengannya.

Jantungnya kian berdebar saat ia memasuki café yang berada di dalam mall. Café yang biasa Riana kunjungi bersama sahabat-sahabatnya. Tetapi kali ini berbeda, Riana akan bertemu dengan orang yang sama sekali tidak ia kenal tetapi memiliki nasib yang sama. Riana memperhatikan dengan seksama setiap melihat wanita yang masuk ke dalam café seorang diri, mencari beberapa gambaran tiga wanita yang akan ia temui.

Riana sangat terkejut saat melihat seorang wanita muda, cantik yang menghampiri meja tempat ia telah memesan minuman. “Riana,” sapa wanita muda itu, “Aku Nania.”

“Hi, silahkan duduk. Kita tunggu yang lainnya ya,” balas Riana sambil mempersilahkan Nania duduk. Tidak lama kemudian, Lulu dan Puspita datang kepertemuan mereka.

Semua menceritakan kisah yang hampir sama dengan Riana. Nania adalah wanita muda yang baru berusia 25 tahun tetapi orangtuanya memaksanya menikah secepatnya, tapi sayang Nania belum menemukan pria yang pas. Sehingga ia harus menerima nasib dilangkahi adik perempuannya yang baru berusia 22 tahun. Sedangkan kisah Puspita berbeda, ia sudah berumur diatas Riana, usianya akan memasuki usia 36 tahun. Ia memiliki usaha butik. Ia sudah pernah bertunangan tetapi pria yang ia cintai menghamili wanita lain.

Sementara Lulu berusia sama dengan Riana tetapi kepedihannya lebih tragis dibanding Riana. Lulu tiga bersaudara dan ia anak pertama dan memiliki dua saudara laki-laki, adik pertamanya sudah menikah. Lulu tidak hanya merasa tertekan oleh orangtuanya yang selalu menekannya untuk menikah tetapi adik bungsunya juga. Adik bungsunya tidak memandang dirinya. Karena ia belum menikah. Beban hidup Lulu terasa berat.

Berbagi bersama dengan teman yang memiliki nasib yang sama ternyata sangat melegakan Riana dan teman-teman barunya. Mereka bisa sedikit merasa lega dan terhibur serta saling menguatkan satu sama lain. Seiring dengannya waktu, mereka sering melakukan pertemuan dan berbagai bersama persoalan yang mereka hadapi terkaitnya status mereka, wanita single. Akhirnya mereka memutuskan untuk membentuk club, “The Singles Club” yang untuk sementara waktu anggotanya hanya mereka berempat. Seiring waktu keanggotaan mereka akan bertambah.

“Wah, aku benar-benar merasa lega bisa bergabung bersama kalian dan mencurahkan unek-unek yang selama ini aku pendam seorang diri. Berbicara dengan teman yang sudah menikah, mereka malah menyalahkan aku karena tidak menikah,” keluh Lulu, pada pertemuan keempat.

“Masih mending,” sahut Puspita, “Aku waktu ikut arisan dengan teman-temanku. Mereka merasa dunia mereka sudah sempurna mungkin. Secara tidak langsung mereka menganggap orang yang belum menikah adalah orang yang malang.” Riana tersenyum mendengarnya. Karena Riana juga mengalami nasib yang sama, sejak kedua sahabatnya menikah. Mereka memandang sinis Riana dan orangtuanya pun semakin gencar menuntutnya. Bahkan beberapa kali sahabatnya tanpa disengaja mereka menyakiti perasaannya. Kata-kata, “Untuk apa memiliki banyak uang jika jauh dari suami.” “Kebahagiaan sejati pada saat kamu sudah menikah, seperti aku. Jangan tunda-tunda. Entar menyesal tidak cepat menikah.”

Setiap kali temannya berbicara seperti itu Riana hanya tersenyum saja dan menyakinkan bahwa status single bukanlah akhir dari dunia. Karena belum tentu pernikahan akan membawa kebahagiaan sejati. Meskipun pada kenyataannya ada beberapa kasus pernikahan yang gagal. “Ella, ada teman aku yang menyesal menikah terlalu cepat dan memiliki anak. Meninggalkan karir dan ternyata karir suaminya juga tersendat,” kata Riana, “Tidak semua pernikahan itu mulus, begitu juga tidak mudah menjadi single tetapi aku yakin dan percaya semua ada masa dan waktunya.”

“Kenapa senyum-senyum sendiri,” tanya Nania. “Tidak, hanya mengingat hal yang tidak penting! Aku rasa ini sudah waktunya kita membicarakan perasaan dan keinginan kita pada orangtua kita,” kata Riana akhirnya.

“Iya aku setuju, sudah waktunya keluarga kita mendukung keinginan kita,” tambah Lulu.

“Benar juga ya, selama ini kita diam saja. Mungkin orangtua kita tidak menyadari bahwa tindakan mereka telah menyakiti anaknya,” sahut Puspita membuat ketiga sahabat barunya tertawa. “Ayo, siapa disini yang tidak mau menikah,” canda Riana. Semuanya hanya tersenyum saja. Karena pada dasarnya wanita single pun ingin menyandang status marriage tapi bukan karena keterpaksaan atau pun dorongan sosial dan lingkungan. Mereka pun sepakat untuk mengungkapkan perasaan mereka kepada orangtua masing-masing mengenai status single yang mereka sandang. Sebenarnya status single tidak perlu dibesar-besarkan. Karena itu hanya lah masalah waktu. Tanpa mereka sadari The Singles Club telah mengubah cara pandang mereka dalam menghadapi kehidupan ini. Karena pada dasarnya mereka ingin menikah hanya saja masih belum memiliki keberanian dan kesempatan. Bukan kah kehidupan itu indah, hanya saja ada sebagian orang yang memiliki pikiran berbeda soal pernikahan. Dan pada dasarnya, semua manusia di muka bumi ini ditakdirkan untuk menikah, hanya penerapan waktunya yang berbeda ada yang terlalu cepat, mengejar target usia, ada yang lambat menemukan jodoh, seperti anggota Single Club yang terbentuk tidak disengaja. Dalam perjalanan pulang Riana merancang kata-kata untuk diungkapkan ke orangtuanya. “Mama tolong jangan pandang rendah diriku, aku juga memiliki mimpi untuk menemukan belahan jiwaku. Mungkin bukan saat ini, bukan besok atau pun minggu depan. Waktu masih panjang, tapi jangan lah membuat hatiku terluka dengan kata-kata yang menyakitkan jiwa dan hatiku. Aku tahu pria idamanku terlalu tinggi, tapi percayalah jikaa sudah waktunya pasti ia datang. Jangan pandang rendah diriku lagi. Biarkan orang berkata apa, asalkan jangan dari mama. Aku ingin mama mendukungku dan bukannya malah membuatku semakin tertekan. Menjadi sendiri bukan berarti harus dipandang rendah, melainkan masih diberi kesempatan menikmati hidup sebelum menikah, mengurus suami dan anak. Karena semua itu akan indah pada waktunya, pada saat aku sudah siap untuk berumah tangga, tetapi saat ini aku belum siap lahir dan batin.” ©
 
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Kota Cinta | Kita Bahagia | diary Citra