Akhir pekan kali ini, Anne memutuskan untuk berada di rumah. Setelah melalui hari berat, karena banyak surat komplain yang masuk terkait kolom dwi mingguan yang selalu digarapnya di salah satu majalah wanita yang ada di Indonesia. Anne selalu meluangkan waktu membaca surat-surat yang dikirimkan redaksi majalah dwi mingguan yang rutin dikirimkannya. Selain itu, bisnis salon dan butiknya pun mengalami pasang surut. Karena banyaknya persaingan yang sedang terjadi.

Di Batam itu unik. Setiap ada mall baru, mall lama selalu mati. Untunglah, mall yang dijadikan tempat Anne berbisnis sangat strategis dan nyaman. Serta kebanyakkan orang eklusif yang berbelanja di sana, baik itu pejabat maupun wisatawan asing.

Setiap akhir pekan, salon yang sekaligus butik itu selalu ramai dikunjungi wisata dari Singapura, Malaysia dan Australia. Lantaran tawaran harga yang ditawarkan di Purple Beauty and Boutiq lebih murah dibanding di Singapura. Serta fashion yang ditawarkan untuk perawatan kuku selalu trendi dan up to date.

Bisnis kecantikan ini tak sengaja masuk dalam kehidupan Anne, Anne jauh dari peralatan make up. Anne lebih suka tampil sederhana dan apa adanya. Namun, Anne ingin mencoba berbagai hal. Kebetulan Anne memiliki modal dan pekerjaan tetap sebagai kolomnis di majalah dwi mingguan, membuat Anne mempunyai banyak waktu luang.

Sejak dulu Anne bercita-cita menjadi penulis novel, tetapi hingga saat ini masih belum tersampaikan. Ya, karena menulis novel lebih ribet dibanding menjadi kolomnis yang membuat tulisan habis begitu saja. Beda dengan novel yang membutuhkan berbagai macam konflik dan juga ending cerita yang menarik dan membuat pembaca penasaran untuk menyelesaikan buku yang sedang dibaca.

Anne memiliki tubuh yang tidak terlalu gemuk dan montok. Setiap kali mengaca di cermin, pantulan tubuhnya terlihat begitu menarik. Namun, Anne merasa kurang nyaman dengan satu bagian tubuh yang berada dibagian depannya. Padahal, banyak wanita yang berusaha agar bagian tersebut tampak besar. Berbeda dengan Anne, ia ingin mengecilkan bagian payudaranya.

Sebab, memiliki ukuran penuh membuatnya merasa tak nyaman. Apalagi, kalau memakai baju presbody membuatnya menjadi risih. Karena beberapa mata usil para pria selalu memandang bagian sensitifnya itu dan membuatnya merasa tak nyaman sebagai wanita.

Setiap kali mengungkapkan itu, kepada sahabat dan teman wanitanya, selalu beranggapan bahwa Anne itu bodoh. Karena sebagian kawan wanitanya menilai itu suatu anugrah, tetapi Anne merasa itu membuatnya tidak nyaman. Usai mandi, seperti biasa Anne duduk didepan cermin memandang payudaranya dan berharap ukurannya bisa mengecil. Setidaknya standar seperti wanita yang hanya memiliki ukuran size 32 B dengan body badan yang tidak besar, seperti bodynya. Namun, ukuran panyudaranya itu membuatnya jadi risih.

Anne tiba-tiba teringat sama kawannya, Rosa. Rosa berharap memiliki payudara seperti milik Anne. ''Tukuran aja yuk,'' ujar ku pada Rosa saat itu.

Rosa hanya memandang dan tersenyum. ''Aku pengen banget memiliki panyudara seperti milik mu. Aku berencana akan membesarkannya dengan cara silikon,'' kata Rosa dan membuat Anne kaget.

''Bukan kah itu berbahaya,'' tanya Anne.

''Ya, mau bagaimana lagi,'' keluhnya. ''Aku berharap, aku bisa memiliki payudara yang penuh. Tidak seperti ini.

''Dipikirkan baik-baik,'' pinta ku pada Rosa. ''Ingat, beberapa kasus yang terjadi akibat silikon,''

Setelah pembicaraan yang tidak penting itu dua bulan lalu. Anne sudah lama tak bertemu dengan Rosa. Anne tiba-tiba teringat pembicaraan itu. Bahkan Anne pernah membaca article mengenai silikon yang berbahaya hingga membuat nyawa menjadi korban karena ingin menjadi cantik dan sempurna.

Anne tahu bahwa tidak ada wanita yang sempurna di dunia ini. Tetapi, Anne tahu bahwa wanita selalu ingin tampil menarik dan itu sudah menjadi rahasia umum. Segala pujian ingin didengar para wanita. Terbalik dengan Anne, Anne tak suka bila para pria -teman prianya- menilai dirinya dari fisik. Body seksi, payudara penuh. Sapa yang tidak ingin?

Dengan berbagai pertimbangan Anne mencoba untuk mencari informasi mengenai pengecilan payudara, bukan untuk membesarkan payudara. Sebagai wanita, tentunya, Anne juga memiliki keinginan untuk menggunakan bra dengan desain dan model yang menarik. Namun, dengan bentuk tubuh dan ukuran payudara yang penuh, Anne selalu merasa kesulitan untuk mendapatkan bra sesuai dengan ukuran dan bentuk tubuh sedangnya.

Akhir pekan dibulan Oktober itu dihabiskan Anne setengah harian untuk browsing di internet mencari informasi yang actual dan dapat dipercaya. Harga tak menjadi soal, bukan kah itu selalu menjadi bagian dari wanita yang ingin tampil menarik atau sesuai seperti yang diinginkan dan diharapkan.

Namun, kebanyakan informasi yang didapat untuk membesarkan, bukan mengecilkan. Anne sempat sedikit merasa depresi. Browsing di internet dihentikan, karena ponselnya berdering.
Dengan ogah-ogahan, Anne mengangkat telepon. Sebelumnya, Anne melihat dulu nomor yang tertera di LCD ponsel. Beth. ''Hi, Beth,'' sapa Anne.

''Pa kabar,'' suara Beth terdengar. ''Aku lagi di Batam neh. Kesinilah, aku tunggu di cafe seperti biasa ya. Batamcentre.

''Oke, dua puluh menit lagi, aku tiba disana,'' ujar ku sambil mematikan ponsel.

Anne pun memilih baju t'shirt warna merah dipandupadankan dengan rok jeans selutut dan ditambah celana legging dan sendal hak tinggi, senada dengan warna baju. Saat memandang tubuhnya, lagi-lagi Anne menghelakan nafas dan berharap ada keajaiban. Keajaiban bahwa Anne bangun dengan ukuran payudara yang kecil. Sehingga ia nyaman untuk berjalan-jalan ke mall tanpa menggunakan jaket untuk menutupi ukuran payudaranya yang penuh.

***

''Hi, sorry lama nunggu,'' ujar Anne saat melihat Beth sedang duduk di cafe paling pojok dengan tangan berada di layar monitor laptop.

''Never mind. Aku ingin kenalkan kamu dengan mantan bos ku, waktu aku kerja di Singapure,'' tutur Beth.

''Mana dia?,'' tanya ku.

''Lagi ke toilet. Tunggu sebentar aja. Makin gemuk aja tuh,'' ujar Beth sambil menunjuk payudara ku.

''kamu kaya gak tau aja neh. kalau berat badan ku naikkan, yang pertama kali kelihat bagian depan ma belakang. Bete neh, pengen dikecilin. kamu kan kerja di Hongkong, masa ngak tahu informasi untuk mengecilkan payudara,'' beber ku.

''Ada, aku pernah kesana. Cuma sekedar melihat-lihat. Tempatnya menarik, kebanyakan artis Hongkong melakukan perawatan disitu. Di bangun dalam bentuk lima lantai. Ntar aku kasih info ke kamu ya. Tapi, sayang lho,'' kata Beth.

''Hi, what are you talking about,'' sapa wanita yang langsung duduk disamping Beth.

''Hi, I wanna introduce you to my best friend. This is miss Anne and this is miss Rachel,'' ujar Bert memperkenakan kami.

''Nice to meet you,'' ujar kami bersamaan.

''Miss Rachel bisa bahasa Indonesia tetapi kurang lancar,'' terang Beth.

''Ok, never mind. Kami lagi membahas mengenai payudara,'' kata ku.

''Anne pengen mengecilkan payudara,'' ujar Bert menambahkan.

''kamu seperti aku, dulu aku juga melakukan operasi pengecilan payudara di Hongkong, dokternya the best. Tidak kelihatan bekas jahitannya rapi. Sekarang ukuran bra ku 32 a dari sebelumnya 34 B,'' jelas Rachel.

''Are you sure,'' tanya ku tak yakin.

''100 percen, i am sure. You can ask Beth. She know my size before of operasi,'' jawabnya. Ku lihat Beth mengangguk.

Rachel menuturkan, meskipun bagus, tetapi pasti ada dampaknya. ''keluarga ku terkena kanker payudara, seharusnya dipotong. Tetapi dokter masih bisa menyelamatkan panyudara ku tanpa perlu di potong. Masih ada bekasnya. dagingnya diambil dari bagian pantat ku,'' urainya.

Mendengar itu dengan spontan aku bertanya, ''koq bisa?''

''I don't know but it's true. I wish, you think about that, I know you feel not confidence with ur size. But no problem. Everything will be all right,'' ucap Rachel dengan mimik wajah yang serius.

***
Perbincangan di cafe yang tak direncanakan dan tak disangka membuka pemikiran Anne bahwa semua yang telah diberikanNya merupakan anugrah yang harus disyukuri. Walaupun ukuran kecil atau besar, asalkan jauh dari penyakit. semuanya baik-baik saja. Bukan kah itu lebih bagus.
''Thanks God, you open my mind in this time,'' doa Anne dalam hati saat perjalanan pulang ke rumahnya. Anne jadi mendapat bahan untuk pembasan kolom di majalah wanita.

--cuma fiktif--

@By Citra Pandiangan

Artikel Terkait:

Silakan pilih sistem komentar anda

Jadilah orang pertama yang berkomentar!

You've decided to leave a comment – that's great! Please keep in mind that comments are moderated and please do not use a spammy keyword. Thanks for stopping by! and God bless us! Keep Creative and Health