Tampilkan postingan dengan label Kisah Anne. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Anne. Tampilkan semua postingan

Januari 26, 2016

Kisah Anne

Neh foto terjelek yang PD dipajang,
wajah kurang tidur, masih mengantuk
dan tanpa makeup
Sudah lama aku tidak menuliskan sosok Anne dalam kumpulan kisah Anne dari berbagai macam seluk beluk kehidupan masa kini dan masa lalu yang tertuang dalam tulisan fiktif yang mengangkat tema keseharian. Rasanya kangen juga, tetapi sekarang masih belum ada ide untuk kembali menghidupkan kolom kisah Anne pada buku jurnal harian citra ini alias blog diary-citra ini.

Aku jadi teringat pada saat draft salah satu kisah Anne belum selesai, kakak tercintaku membacanya dan mulai marah-marah karena menggunakan nama yang familiar dengan temannya. Padahal nama tokoh fiktif itu sudah ada sejak lama. Aku menyukai saja menulis nama fiktif untuk kumpulan cerita yang berkaitan satu dengan yang lain dengan nama Anne.

November 01, 2012

Butuh Teman Tuk Sharing

e
Anne duduk termenung seorang diri di teras. Kali ini, ia merasa kesepian. Ia membutuhkan seseorang teman tuk berbagi. Persoalan kehidupannya kian berat. Hubungan asmaranya pun mengantung. Ada rasa sedih dan kesepian yang menenami dirinya saat itu. Anne kembali berpikir, apakah ini termasuk gejala stress yang ia alami! Baru-baru ini, Anna diundang sebagai pembicara di kalangan remaja. Topik yang dibahas mengenai stress (untuk info lebih lanjut baca di hal-wanita ya). Ia merasakan belakangan ini kehidupan semakin keras, ia merasa seorang diri. Apalagi beberapa hari ini ia tidak bisa berhubungan atau berkomunikasi dengan bebas dengan sang kekasih. Ia butuh sahabat untuk berbagi. Selama ini, semua temannya curhat padanya, tetapi kali ini Anne bingung mau curhat dengan siapa? Bersambung Smile Always®

Maret 24, 2010

Kontrol Diri

Hari ini suasana hati Anne sedang tidak baik, banyak masalah yang menimpa dirinya. Namanya juga manusia, Anne hanya lah manusia biasa yang terkadang lepas kontrol pada dirinya sendiri. Sepanjang hari ini dirinya uring-uringan tidak menentu. Akibatnya, pekerjaan jadi tidak lancar. Tidak hanya hari ini saja, tetapi sudah beberapa hari. Kini, Anne sedang merenung di sebuah cafe yang tidak jauh dari tempat butiknya. Ia belum mengerjakan kolom yang seharusnya dua hari lagi, ia harus kirim ke majalah.

Saat asyik memandang hamparan luas parkiran, Anne tidak bisa berpikir. Ada perasaan sesak dihatinya. Karena sejak dari pagi hingga sore ini setiap kata yang ia keluarkan dari bibirnya selalu menyinggung orang lain. Milk shake yang dipesannya pun, tidak ia sentuh.

Ia tersadar dari lamunannya, ketika suara ponselnya berbunyi. Ia melihat pada layar kaca, Iin sedang menelponnya. ''Hallo,'' jawab Anne enggan.

Terdengar suara terbatuk kecil di seberang sana, ''Apa kabar?'' suara itu terdengar riang.

''Baik, kamu.''

''Sama, syukur kalau begitu,'' ucap Iin. Suasana hening, ''Aku mau cerita boleh?''

Sebenarnya saat itu Anne enggan mendengar orang curhat, namun ia mengurungkan niatnya saat Iin ingin bercerita. ''Mau cerita apa?''

Iin terbatuk kecil, ''Belakangan ini hidupku kacau. Semua yang aku kerjakan menurut perasaanku tidak ada yang benar. Aku kerap kali marah yang meluap-meluap tanpa sebab dan membuat takut karyawan dan menyakiti perasaan keluargaku.''

Anne terdiam, karena saat ini kondisi dirinya sama dengan apa pengalaman kawannya itu. ''Koq bisa kenapa?'' tanya Anne penasaran, lebih tepatnya ingin mendapatkan jawaban dari kasusnya sendiri.

''Aku juga tidak tahu, kadang aku menyesalinya namun tidak mau mengakuinya. Aku kesal dengan diriku eh malah membuat kelakuanku menjadi-jadi. Meskipun aku tahu, aku salah.''

''Terus?''

Iin tertawa, ''Semangat banget.''

Anne tertunduk malu, ia pun mulai mengaduk-aduk milkshake yang sudah mulai mencair es yang ada dalam gelas itu. ''Entah lah, mungkin saat ini kondisiku sama seperti kamu.''

''Maksudnya?'' tanya Iin tak mengerti.

''Saat ini aku bukan aku yang kukenal. Aku sering menyakiti perasaan orang lain. Karena itu jika kamu menyelesaikan ceritamu. Mungkin aku bisa mendapatkan solusinya.''

Butuh beberapa detik untuk bisa mendengar suara Iin dari seberang sana, ''Seperti bukan kamu Anne.''

Anne tertawa kecil, ''Aku kan juga manusia biasa.''

''Kamu benar, habis kamu terlihat hampir tak pernah punya masalah.''

Anne tersenyum, ''Tidak seperti itu kelihatannya.''

''Baiklah, sifat burukku ini entah semakin menjadi-jadi, aku putus asa, keluargaku tersakiti begitu juga orang yang berada di sekelilingku. Aku tidak mengerti apa penyebabnya, kukira mungkin dikarenakan aku terlambat datang bulan. Ternyata tidak juga.''

Anne masih sabar mendengar kawannya bercerita, meskipun ia sendiri tidak yakin apakah ia bisa mendapatkan solusinya. ''Terus bagaimana.''

''aku mencoba mengontrol atau mengendalikan diriku. Bukan perasaan atau emosiku. Awalnya susah, aku terus mencoba sambil mencoba berdiam terlebih dahulu sebelum mengungkapkan kata, satu atau dua kali memang tidak berhasil atau masih ada beberapa yang kusakiti, tapi aku sudah bisa mengurangi jumlahnya.''

Anne mencoba mencerna, ''Melakukan kontrol, penguasaan diri, tapi di saat dirimu sedang tertekan atau emosi akibat hormonmu yang sedang meningkat. Aku rasa mustahil.''

Iin tertawa, ''Benar sekali, aku mencoba menyalurkan emosiku dengan berolahraga, badan jadi capek, pikiran tak ada. Jadi masih bisa mengontrol diri. Memang susah, tapi akhirnya aku berhasil. Saat aku sedang PMS, aku tetap bisa mengendalikan emosiku.''

''Selamat ya.''

''Ann.''

''Ya.''

''Aku rasa kamu pasti bisa.''

''Terimakasih,'' ucap Anne, ''Maaf Iin nanti aku telepon. Aku harus segera menyingkir dari cafe, dah ramai orang. Tak enak.''

''Kamu masih seperti dulu.''

Anne tertawa ringan,''Ya kalau suntuk atau kesal. Paling enak nongkrong di cafe.''

''See you,'' ujar Iin memutuskan sambungan ponsel.

Sambungan ponselpun terputus. Anne melanjutkan lamunannya. Pemilik cafe sudah terbiasa dengan kehadiran Anne dan sudah tidak heran melihat Anne duduk berjam-jam di cafenya tanpa makan. Ia tidak merada dirugikan oleh Anne. Karena hampir semua bangku penuh dan silih berganti, tetapi Anne masih saja bertahan duduk di bangku berjam-jam.

Anne mulai merenung dan berpikir, emosinya belakangan ini meledak-ledak. Bagaikan bom waktu yang siap meledak kapan saja, meskipun percikan-percikan emosi sudah terlontarkan. ''Ya, aku harus mencoba mengontrol diriku. Bagaimanapun sulitnya, akulah yang bisa melakukan itu. Aku tidak boleh larut dalam suasana hatiku yang sedang tidak baik. Aku harus mencoba bangkit kembali.''

Sebagai manusia, terkadang kita sering lepas kendali terhadap perasaan dan tingkahlaku kita. Terkadang kita sadari tindakan yang kita lakukan menyakiti orang lain. Namun kita tak kuasa menolak untuk berbuat atau melakukan tindakan yang jelas-jelas kita akan sadari kita yang bersalah.

Kontrol diri memang sulit, mengikuti perasaan kadang ada baik dan buruknya. Namun sebagai manusia kita harus mencoba bersikap bijak dan peduli tanpa mengikuti perasaan yang kadang membuat kita menderita.

Mertua Menjengkelkan

Bosan dengan lokasi perumahan yang sepi, Anne ingin mencoba suasana yang berbeda. Hidup harus penuh warna, itu prinsip kehidupan Anne. Karena itu, dia memutuskan untuk mengontrak rumah di lingkungan yang berbeda. Bahkan kondisi lingkungannya juga jauh berbeda dari tempat lingkungan perumahan yang nyaman dan sepi dari perumahannya.

Meski baru tiga hari tinggal di rumah kontrakan yang dempet dengan rumah tetangga sebelah. Anne sudah akrab dengan keluarga sebelah. Rumah munggil itu ditempati dua keluarga yakni mertua dan menantu wanita.

Awalnya kehidupan keduanya lancar, namun begitu si menantu sudah punya anak. Terjadi kesenjangan. ''Ann, sekarang ini susah,'' ujarnya saat bertandang ke rumah Anne.

Anne yang sedang membolak-balik majalah, langsung menutup majalah. Masih dengan tatapan bingung, ia memandang wanita putih yang ada di depannya itu. ''Maksudnya?''

Mulailah, Rina bercerita, sejak anaknya lahir, kelakuan mertuanya menyebalkan, khususnsya mertua perempuan. Sedangkan mertua laki-laki baik sama dia. Bahkan sama anaknya, maklum cucu pertama.

Kondisi rumahtangga mertuanya memang berbeda dengan kondisi rumahtangga yang lain. Mengingat mertua prianya memiliki istri dua dan lebih dominan tinggal di rumah istri lainnya. Setiap mertua prianya datang, si menantu di jelek-jelekin.

''Aku bingung, kondisiku sekarang beda saat aku belum punya anak. Anak aku masih kecil dan capek ngurusnya, keluhnya.

Rupanya aktivitas Rina yang biasanya membantu semua pekerjaan rumah dari mencuci, masak, membersihkan rumah, menyeterika baju. Jadi tidak bisa dilakukan semuanya. Jadinya mertuanya beranggapan dia malas.

Raut wajahnya yang suntuk dan putus asa nampak tergambar, ''Saya bingung benar lo Ann.''

''Ya harap maklum aja,'' katanya.

Saat itu Rina sedang menggendong putra pertamanya nampak sedikit bergoyang, menenangkan bayi dalam gendongannya. ''Aku cuma bisa bantu sebiasanya, tapi tetap juga dianggap salah. Akhirnya belakangan ini aku ngurung terus di kamar.''

Tatapan mata Anne pun berubah binggung, ''Maksudnya?''

''Begini, biasanya aku bantuin mertua masak or bersih-bersih jika anakku tidur. Sekarang tidak lagi, kesal aku. Mana capek.''

Itu bisa dimaklumin memang, sebagai tetangga Anne mengetahui betul kondisi Rina. Rumah berdempet, terkadang membuat Anne mau tidak mau terbangun dari tidur lelapnya. Dikarenakan bayi yang menanggis sepanjang malam.

Sebagai ibu tentunya Rina tidak mungkin tidak bangun. Pastinya, kasat mata pun akan nampak. Meskipun terkantuk-kantuk, ia akan menenangkan bayinya, memberikan apa saja agar anaknya itu terdiam.

Rupanya tindakan yang dilakukannya pun dianggap salah. Mertuanya melaporkan pada suaminya. Nama Rina pun jadi jelek dimata mertuanya yang lain. Padahal, dia tidak sepenuhnya salah. Mengingat ibu muda dan pengantin baru, butuh ruang privasi sendiri.

Anne menyarankan agar dia mencari tempat tinggal lain.

''Aku sudah bilang ke suami, tetapi dia bilang bersabar dulu. Padahal tidak ada masalah. Jika hanya makan pakai garam, yang penting hidup tenang,'' ucapnya lirih.

''Yang sabar aja Rin, namanya juga berumah tangga,'' ujar Anne.

***

Beberapa hari kemudian Rina datang ke rumah, wajahnya sedikit sumringah. ''Aku diberi nasehat An,'' katanya.

''Sama siapa?''

''Mertua perempuan satunya lagi,'' ucapnya semangat.

''Begitu,'' kataku sedikit penasaran, ''Memangnya dia beri nasehat apa?''

''Sifat mertuaku yang ini kan memang seperti itu,'' tutur Rina, ''Karena itu si ibu menyarankan kalau aku juga bermanis-manis. Sehingga kata-katanya tidak sesuka-sukanya menjelek-jelekan aku di depan mertua laki.''

Tatapan Anne makin bingung. Melihat ekspresi teman curhatnya tak mengerti. Rina kembali menjelaskan, biasanya saat si kecil tidur, aku tidak pernah keluar kamar, tetap berada di kamar.

''Pernah ada mertua laki datang, tanya aku dimana. Dengan ketus, mertua perempuan bilang kerjaku tidur terus. Padahal tidak, nah si ibu bilang aku harus pandai mencari titik agar aku tidak dijelek-jelekan lagi. Apalagi sampai dipojokin.''

''Begitu ya?''

Ia pun mengangguk mantap dan dengan mata berbinar. Minimal bebannya sedikit berkurang.


Masalah yang sangat umum dialami para pasangan muda, salah satu yang tersulit adalah menghadapi mertua! Kehidupan berumah tangga memang tak hanya membutuhkan saling cinta, tapi juga bagaimana keduanya mampu membaur dengan kebiasaan dan sifat orangtua masing-masing.

Setiap keluarga memiliki kebiasaan berbeda-beda, perbedaan inilah yang harus mampu dipahami dan disesuaikan. Terutama bagi pasangan yang masih tinggal satu rumah dengan mertua.

Wajar bila setiap orang mengalami takut dan tertekan dengan orang lain yang berbeda kebiasaannya, konflik antara mertua dan menantu sangat mudah terjadi apabila keduanya tak mampu menjalin komunikasi yang baik dan lancar.

Berikut ini permasalahan yang sangat umum menjadi pemicu antara mertua dan menantu, serta bagaimana cara mengatasinya:

- Kritikan
Baik mertua atau menantu kerap melancarkan kritik bila salah satunya melakukan kesalahan, baik langsung maupun kepada orang lain. Meski masalahnya sepele, namun kritikan yang menyudutkan akan memicu permasalahan yang cukup besar.

Bila memang kritikan mulai dianggap mengganggu dan menjengkelkan, ada baiknya untuk meminta pengertian untuk tidak lagi berkomentar mengenai kejelekan masing-masing.

- Kebiasaan Negatif
Setiap orang pasti memiliki kelemahan atau kebiasaan yang dianggap menyebalkan oleh orang lain, tapi bila kebiasaan tersebut kemudian terus diungkit tentu akan memicu terjadinya konflik.

Hadapilah semua perbuatan tersebut dengan santai dan responlah dengan senyuman, jaga emosi agar tidak terpancing. Bila tingkahnya sudah melebihi batas, cobalah bicarakan baik-baik padanya. Bisa melalui candaan maupun mengatakannya langsung dengan sikap sopan.

Agar hubungan antara mertua dan menantu bisa kompak dan saling menghormati, ada tiga hal yang bisa dilakukan secara bersama-sama, yaitu:

1. Menjaga Komunikasi
Komunikasi yang baik dan lancar adalah kunci utama dalam membangun kebersamaan antara mertua dan menantu. Cobalah jalin kebersamaan dengan saling memahami dan memaklumi kebiasaan satu sama lain, bila masing-masing saling menjaga sikap maka konflik pun bisa dihindari.

2. Saling Terbuka
Perbedaan latar belakang dan kebiasaan dua keluarga kadang menyulitkan untuk saling terbuka, namun ingatlah bahwa Anda berdua kini telah menjadi satu keluarga. Karena itu, mulailah jalin sikap saling terbuka satu sama lain. Baik hal prinsipil seperti keuangan dan kesehatan, hingga hal-hal sepele seperti masakan dan lainnya.

3. Jalin Kebersamaan
Utamakanlah acara bersama keluarga, baik keluarga sendiri maupun pasangan. Atur jadwal sebaik mungkin sehingga Anda bisa memberi waktu cukup untuk menjalin kebersamaan dengan keluarga besar pasangan. Selain dapat semakin saling mengenal, hadir di acara keluarga akan meminimalisir pandangan negatif orang lain terhadap Anda.

Menjalin keharmonisan antara menantu dan mertua memang menjadi tantangan tersendiri bagi pasangan baru, namun dengan memahami dan memaklumi karakter serta kebiasaan mertua, maka hubungan baik pasti akan terjalin dengan lancar. (berbagai sumber)

Juli 17, 2009

Berserah Lebih Baik

Dering ponsel Anne tidak berhenti. Padahal, Anne saat itu tengah bertekad untuk tidak mengangkat telepon dari siapa pun. Ia lelah, menjadi sosok yang sempurna, sosok yang tegar, sosok wanita karir yang mandiri. Padahal, dia sedang meratapi nasibnya yang kian suram.

Biasanya, hidup Anne sangat lah indah, menyenangkan. Bekerja dan memiliki bisnis merupakan impian yang sejak dulu ingin diraihnya. Entah, kenapa belakangan ini hidupnya terasa sunyi, hampa dan tidak berarti.

Mengerjakan pekerjaannya pun mulai setengah hati, bisnis yang berkembang pun mulai menyita waktunya, belum lagi deadline di majalah dwi mingguan yang harus disetor.

Selain itu, persoalan jodoh juga membuatnya sedikit gundah. Walaupun hal itu tidak terlalu masuk dalam perhitungan kamus dalam hidupnya. Karena jatuh cinta itu tidak pernah membutakan matanya untuk berpaling dari sesuatu yang sudah diyakininya sejak dulu.

Dering ponsel itu merupakan dering ke dua puluh. Sudah ada dua puluh misscall, saat Anne mencoba meraih ponselnya yang sengaja di letakan jauh dari kamarnya.

Berbagai nomor yang belum disimpan dan sejumlah nama muncul di layar ponselnya. Belum lagi pesan mail box dan SMS yang sudah menumpuk Anne tertarik dengan nomor ponsel yang menelponnya berkali-kali.

Anne mencoba menelponnya kembali, belum dering pertamanya, suara di seberang sana berteriak, cemas.

''Kamu kemana saja, kami cemas sudah beberapa hari ini gak ada online, chatting, kirim email, sms atau kabar,'' jeritnya.

Aku berdiam, menarik nafas. ''Nggak kemana-mana, di rumah saja,'' kataku masih dengan nada malas-malasan.

Perempuan diseberang itu pun kembali bersuara, ''Ini bukan kamu, bukan kamu yang biasanya. Ada apa?''

Kembali, aku terdiam dan mencoba merenungkan kata-katanya. Memangnya, aku sebenarnya itu seperti apa? Aku saja tidak pernah tahu siapa diriku sebenarnya, jati diriku dan masih banyak hal yang tak kupahami akan diriku sendiri. Tanpa, kusadari aku terisak, tanpa sebab, hampa.

''Kenapa,'' ujarnya lembut.

''Aku merasa jenuh, bosan dan hampa.''

''Memangnya, kenapa bisa sampai merasa seperti itu. Apa kamu sudah berserah? Mencoba yang terbaik dalam doamu?''

Aku tertegun. Ya, aku menyadari, belakangan ini, sudah hampir dua bulan aku tak pernah berdoa, pergi ke gereja pun hanya sebatas rutinitas yang wajib aku lakukan. Aku menangis, hanya karena ucapan yang sedikit namun menggena di hatiku.

Aku tidak sendirian di dalam hidup ini. Karena masih banyak orang yang menyayangiku apa adanya. Tinggal bagaimana aku lebih mendekatkan diriku padaNya.

''Anne, kalau kamu butuh di kuatkan, aku bersedia datang untuk berdoa bersama. Karena kamu tidak sendirian di dunia ini,'' ucap tulus sahabatku.

Desember 22, 2008

Mencoba tuk Berbuat Baik

Anne tersenyum saat melihat dua keponakannya bermain di halaman rumah kecilnya. Menjelang Natal, dua orang keponakannya hendak menghabiskan liburannya di Batam. Hari ini merupakan hari kedua, kedatangan mereka.

''Mama Anne,'' ujar Aldo memanggil Anne, sambil menendang bola.

''Yup,'' jawab Anne sambil menangkap bola yang dilempar kearahnya. ''Ada apa, Do?''

''Bosan neh, dua hari di rumah saja. Besok kita kemana tante,'' tanya Aldo sambil diiyakan Peter.

Anne berpikir sejak, lalu tersenyum. ''Bagaimana kalau ke Mall,'' sarannya.

Aldo dan Peter saling berpandangan dan menggeleng. ''Bosan,'' serunya serentak.

''Kalau sama mama Anne tidak bosan, dijamin,'' kataku sambil melempar bola kepada Aldo.

''Masa seh, tante,'' ujar Peter sambil mendatangiku.

''Ada apa Peter, dah kangen mau pulang ke rumah ya,'' gurauku.

Peter semakin mengeratkan pelukannya, Aldo pun datang mengampiri kami dan ikut memelukku. ''What's up men,'' kataku sambil tertawa lucu melihat tingkah laku keponakanku.


''Lapar,'' kata Peter sambil tertawa.

''Yuk, kita buat cemilan. Jam makan malam masih dua jam lagi. Jadi tanggung kalau makan nasi,'' sahutku sambil melirik arloji berwarna emas di pergelangan tangan kananku.

''Ayo,'' seru Aldo sambil berlari ke dalam rumah, diikuti Peter dan tentunya juga aku.

''Mau buat apa?'' tanya Aldo penasaran, saat berada di dapur. Mata Peter pun melihat dapur yang tertata rapi.

Anne tertawa melihat tingkah laku keponakannya, biasanya di rumah selalu sepi. Karena Anne tinggal seorang diri. Kehadiran dua keponakan yang tak pernah diduganya membawa suasana baru. ''Sebenarnya tante sudah punya cemilan, ice cream dan puding. Bagaimana kalau kita membuatnya menjadi lebih menarik. Lalu, kita saling tukar karya masing-masing,'' ujarku mengusulkan.

Tanpa menunggu jawaban dari mereka, mereka pun langsung segera menuju lemari es dan mengeluarkan beberapa makanan yang ada di sana. ''Mama Anne keluar dulu sana, nanti kami berikan ice cream yang terenak,'' ujar Aldo mengusirku keluar dari dapur.

''Wow,'' seruku sambil keluar dari dapur. ''Jangan buat berantakan dapur mama Ann ya,''

''Beres,'' kata mereka serempak.

Selang dua puluh menit mereka bereksperimen di dapur dan keluar membawa tiga gelas berisi ice cream dengan berbagai hiasan dan campuran yang lain. Bentunya lucu, kalau soal rasa sudah pasti sama. Saat itu, kami duduk sambil memandangi teras rumah yang sudah mulai gelap.

Pada saat aku hendak menyuapkan sesendok kecil ice cream, ada anak kecil berdiri di depan pagar, memandang kami, tepatnya ice cream yang ada ditanganku. Berkali-kali, dia menelan ludah. Ku suruh kedua keponakanku melihat mereka. ''Menurut kalian, apa yang sebaiknya kita lakukan pada anak itu,'' tanyaku sambil menyuruh mereka melihat anak itu.

''Biarin aja,'' kata Peter, Aldo pun menyetujuinya.

''Kenapa? Alasannya,''

''Kitakan nggak kenal dia mama,'' ujar Aldo mengingatkan.

''Terus?'' desakku.

''Ya, tidak boleh. Siapa tahu dia berniat jahat,'' kata Peter dengan nada dibuat serius.

''Mau mendengar cerita tak,'' tanya ku sambil memandang satu per satu keponakanku.

''Ya,'' seru mereka berdua cepat

***

Ada seorang anak, sebut saja namanya Markus. Dia anak seorang petani, saat itu kondisi di daerahnya sedang kemarau. Tidak ada yang bisa diberbuat para petani itu untuk menyelamatkan hasil panennya. Markus pun jadi bersedih, karena melihat ayahnya pulang dengan raut wajah lelah dan putus asa.

Karena Markus anak yang baik dan usianya juga sudah sepuluh tahun, ia berusaha membantu ayahnya. Namun ayahnya melarang. Karena kata ayahnya percuma. Hasil kebun tak bisa diselamatkan, mata air sudah sedikit. Jadi, tidak mungkin untuk mengaliri tanaman. Air itu hanya cukup untuk persedian di rumah, buat minum dan keperluan lain.

Untunglah ayah Markus merupakan petani yang rajin menabung, sehingga tidak terlalu merasa kuatir untuk membiayai keperluan di rumah. Namun, kalau kemarau terus menerus melanda desa mereka, bisa dipastikan uang tabungannya bisa habis dan keluarganya bisa menderita.

Keesokan harinya, Markus berjalan menelusuri jalan setapak. Berniat menangkap ikan, memang sungai dengan tempat tinggalnya cukup jauh. Markus berjalan sepuluh kilometer, rasa lelah dan haus menderanya. Ia pun segera meminum air yang tadi dibawanya, beserta ember hitam yang rencananya mau digunakan untuk tempat ikan dan air.

Air sungai masih mengalir, namun tidak sebanyak dulu. Dibukanya bajunya dan bersusah payah, akhirnya Markus berhasil menangkap ikan, tiga ekor ikan dengan ukuran dua kecil dan satu besar. Saat berjalan pulang, Markus berpapasan dengan seorang kakek. Kakek itu sedang murung, karena cucunya marah-marah minta dimasakin ikan. Padahal, saat itu kakek sedang tidak punya uang.

Markus merasa kasihan, lalu diberinya satu ekor yang paling besar. Sedangkan Markus hanya membawa dua ekor ikan yang masih kecil. Markus berniat memberikan yang terbaik yang dia punya. Padahal, Markus pun lebih membutuhkan ikan itu untuk dijadikan lauk di rumah agar mengurangi biaya untuk membeli lauk di rumah.
***

''Tahu nggak maksud poin yang mama An ceritakan,'' tanyaku.


Aldo dan Peter hanya saling berpandangan. Aldo langsung menyahut, ''Kenapa harus begitu Ma,''

''Karena, kalau kita memberikan sesuatu kepada orang harus yang terbaik. Bukan berdasarkan apa yang tidak kita butuhkan. Di alkitabkan juga ada,'' kataku mengingatkan.

''Jadi .... Kita harus beri ice cream kita, sepertinya dia sangat menginginkan,'' kata Peter lirih.

Aku hanya mengangkat bahu, ''Menurut mu sayang''

''Harus,'' kata Peter ragu-ragu.

''Jadi?'' kataku sambil memandang Peter dan Aldo bergantian.

''Kami berikan ice cream ini ya tante, nanti aku dan Peter bagi berdua,'' ujar Aldo sambil berlari membawa cangkir ice creamnya.

''Ini,'' kata Aldo menyerahkan gelas ice creamnya.

Anak itu memandang ragu, lalu memandang ke arahku was-was. Belum sempat aku menyehut, Peter berujar ''Tidak apa-apa, ambil saja. Ice cream kami, kami iklas koq. Nanti ice cream kami yang satu lagi, kami bagi berdua,''

''Makasih,'' sahut anak itu sambil mengambil ice cream dan berlari secepat mungkin.

Aldo dan Peter saling berpandangan tak mengerti. Lalu, kembali mengampiriku bangku teras. ''Bagaimana,'' tanyaku.

''Sudah kami serahkan, tapi aneh,'' kata Aldo. ''Iya ma, aneh,'' ujar Peter membenarkan.

''Aneh, kenapa,'' sahutku.

''Dia malah berlari dan pergi membawa gelas tante,'' kata Peter dengan nada takut.

''Ya sudah tidak apa-apa. Neh ice cream tante, kalian aja yang makan,'' ujarku sambil menyerahkan ice cream.

Aldo dan Peter mengelengkan kepala. ''Nggak, kami mau makan ice cream dengan berbagi,''

''Kenapa?''

''Karena seru,'' teriaknya.

Sore itu kami habiskan waktu bercanda dan tertawa. Tidak lama kemudian anak itu datang dengan mengandeng adiknya dan satu tangannya membawa cangkir bekas ice cream yang tadi diserahkan Aldo dan Peter.

Anak itu berdiri di depan pagar dan menatap kami, Aldo langsung mengampiri.

''Makasih,'' lanjut anak itu, ''Tadi aku harus cepat-cepat pergi menemui adikku. Karena dia ingin makan ice cream. Aku takut ice creamnya akan segera mencair. Ice creamnya enak.''

Aldo tersenyum sambil mengambil cangkir yang disodorkannya. Sementara itu, Peter saat melihat anak itu datang bersama adiknya masuk ke dalam dan membuat dua cangkir ice cream di cangkir plastik.

''Ma, cangkir plastik ini boleh mereka bawa pulang nggak,'' tanya Peter.

''Tentu saja boleh, mama kan punya banyak gelas di dapur,'' kataku dengan nada senang.

Peter menyerahkan ice cream itu kepada anak itu. Lalu, kami masuk ke dalam.

Desember 04, 2008

Berbagi Tugas, Suka dan Duka

Teman-teman Anne di Jakarta sudah sibuk meminta Anne berkunjung ke sana. Pasalnya, salah satu diantara tiga sahabat baiknya semasa masih kuliah dulu mau melangsungkan pernikahan. Berhubung, hanya Anne yang paling jauh memisahkan diri diantara mereka. Maka Anne harus bertandang ke sana.

Pernikahan memang masih akan berlangsung dua minggu ke depan. Namun, akhir pekan ini, Anne memutuskan untuk mengunjungi sahabat-sahabatnya di Jakarta. Setelah memastikan pekerjaan di Batam beres. Anne pun meninggalkan kota industri tersebut.

Perjalanan dengan pesawat memang tidak terasa. Tak berselang lama, Anne pun menginjakan kaki di ibukota metropolitan yang super padat. Karena datang diam-diam, tanpa woro-woro ma ketiga kawannya itu. Anne pun memilih menggunakan taxi dan langsung meluncur ke salah satu hotel yang biasa digunakannya untuk menginap bila bertandang ke Jakarta.

Sebenarnya, teman-temannya sering marah. Pasalnya, Anne tak pernah mau menginap di rumah mereka. Padahal, banyak kamar yang tersedia. Anne selalu menolak dengan halus. Alasannya, sapa tahu ketemu arjuna --pria tampan dan berwibawa dan baik hati-- Kalau sudah begitu, sahabat-sahabatnya hanya tertawa saja.

Sebelum menyamperi sahabat-sahabatnya yang hingga saat ini masih belum tahu keberadaan Anne di Jakarta. Anne pun menelpon mereka dan menanyakan keberadaannya. Untung lah ketiga sohibnya itu lagi nongkrong di salah satu cafe di salah satu mall di Jakarta.

''Hai,'' sapa Anne, saat melihat ketiga sahabatnya itu sedang asyik duduk ngerumpi. Setelah memborong sejumlah barang di butik-butik yang ada di Mall. Hal itu terlihat karena banyaknya kantong belanjaan di bawah meja mereka.

''Anne,'' teriak mereka serempak dan langsung menyamperi dan cupika-cupiki pun terjadi.

''Sialan lo, datang kemari, ngak kabar-kabari kita,'' sehut Lara sambil mencubit tangan ku.

''Aduh, sakit Ra,'' ujar ku sambil tertawa. ''Namanya aja mau bikin kejutan. Masa kasih tau seh. Kawan mau menikah, masa aku ngak turut ambil bagian dalam huru-hara ini,'' kata ku sambil melirik Ema.

Ema pun langsung menyikut lengan. ''Ya, wajib tuh,''

''Paling juga mau ambil bagian dalam hal mencicipi wedding cakenya,'' timpal Inne.

''Tahu aja lo,'' jawab ku, sambil diselingin tawa diantara kami. ''As far as, everything OK?, tanya ku pada Ema.

''I guest. Apalagi ada kamu di sini, pasti makin OK,'' jawab Ema.

''Eh, Anne. Kamu kapan nyusul,'' tanya Lara dan otomatis kedua sahabatnya yang lain mengalihkan pandangan ke aku.

''Wow, wow nyusul apaan neh?,'' tanya ku balik.

Mereka pun tertawa dan berujar, ''Pura-pura ngak tahu lagi''

''Aku masih lama friends. Soalnya, arjuna ku masih di paket dan paketnya belum sampai-sampai neh. Lagi pula, kita disini kan untuk membantu Ema. Jadi urusan ku di nomor sekian kan dulu ya,'' pinta ku dengan memberikan mimik mengiba.

''Ngak juga,'' sehut Ema cepat. ''Apa seh yang kamu tunggu. Pacar baik hati koq di putus,''

''Bukan diputus. Kami hanya pisah sementara. Anyway busway, ngak penting deh dibahas. Kita ke salon yuk. Mau crembath neh, capek barusan turun dari pesawat. Penat neh leher,'' ujar ku mengalihkan perhatian.

''Boleh aja,'' jawab mereka serempak.

****

Setelah creambath, kami pun berpisah. Sebenarnya seh tidak benar-benar berpisah. Yang masih tinggal di mall itu, aku dan Inne. ''In, do you have problem?,'' tanya ku, akhirnya.

Inne memandang ku lama, ''Nope. Why you ask like that?

Tangan Inne ku tarik untuk memasuki cafe yang classic dan tidak terlalu ramai. Kami pun memilih duduk di sudut, tetapi cukup strategis untuk memandang ke luar. ''Kita kan sudah kenal lama. Masa aku tidak tahu, kalau kamu lagi punya masalah. Memang, kamu berpura-pura untuk turut tertawa. Tapi, tahu ngak. Tawa yang kamu keluarkan tidak lepas. Kawan kita mungkin lagi terlalu sibuk dan bahagia, sehingga tidak memperhatikan hal itu,'' ungkap ku sambil memegang jemari sahabat ku satu ini.

Inne tertawa renyah --tawa khasnya-- ''Kamu memang tak berubah. Selalu aja, mau jadi pendengar yang baik. Pantesan, ku lihat kolom mu makin banyak yang baca. Kawan-kawan ku di kantor, suka baca kolom yang kami isi,'' kata Inne.

Sejauh ini, kata Inne, aku tak pernah merasa punya masalah. Tapi, tanpa disadari, hubungan rumah tangga ku tak lagi nyaman.

Seingat ku, pernikahan Inne baru berjalan sekitar enam bulan. Jadi, persoalan dalam rumah tangga mereka pasti ada. ''Maksud mu, In. Tidak nyaman yang seperti apa?,'' tanya ku.

''Ya, tidak nyaman aja. Tidak nyaman karena aku terlalu capek untuk mengurus kerjaan dan rumah tangga. Sebelum menikah, kami sudah sepakat, bahwa aku akan tetap kerja. Karena, aku menyukai pekerjaan ku,'' ujarnya lirih.

Inne melanjutkan, semua pekerjaan rumah aku yang kerjakan. Sedangkan Didi selalu membuat rumah berantakan dengan barang-barangnya yang berserak. Awalnya seh, aku tak masalah. Tapi lama kelamaan, setiap kali dibilangin, dia marah-marah.

Inne menarik nafasnya. ''Pernikahan tidak seperti yang ku bayangkan. Happy ending,'' keluhnya.

''Ngak juga ko. Memang menyatukan dua kepribadian itu tidak gampang. Banyak kawan-kawan kita yang sukses dengan pernikahannya bukan?,'' tanya ku. ''Itu tergantung bagaimana kita menyikapi permasalahan. Pernah, kamu membicarakan ketidak sukaan mu pada Didi dalam kondisi yang sedang bersantai dan tidak dalam keadaan sama-sama saling capek,''

Inne mengelengkan kepala. ''Ya, mana bisa. Kita sama-sama bekerja dan sibuk. Kadang, aku masih tidur. Didi sudah pergi kantor. Begitu juga sebaliknya.

''Tapi kan tidak setiap saat,'' tanya ku lagi.

''Iya seh Anne, cuma aku malas aja membicarakan itu lagi dengannya,'' ujar Inne sambil menyuapkan potongan blackforest.

''Coba resep ini, kalau kamu mau. Kamu pulang, mandi dan ajak Didi pergi makan malam ke tempat romantis dan bilang keluh kesah mu. Jangan dipendam lama-lama, bahaya. Bicarakan dari hati ke hati,'' saran ku.

''Ach, malas,'' tolak Inne acuh tak acuh.

''Ye, coba dulu deh. Karena kamu sahabat ku. Masa ku biarkan kamu memikul beban itu seorang diri. Kalau ngak mempan, baru kita hajar dia rame-rame,'' ujar ku sambil tertawa.

Inne pun tertawa, ''Jangan donk. Biar bagaimana pun dia suami ku. Tapi, kalau menghajarnya, suruh dia masak boleh juga,''

****

Jam sudah menunjukan pukul 20.00 WIB, saat aku tiba di hotel. Badan terasa lelah dan pegel. Merendamkan tubuh di bath tub dengan aroma lavender, rasanya nyaman dan bisa tidur dengan cepat. Untunglah, aku tak pernah melupakan peralatan tersebut dari tas kosmetik ku.

Ku tuangkan aroma lavender ke bath tub yang sudah berisikan air hangat. Ku rendam tubuh ku dalam air yang berbusa dengan aroma lavender. Ku biarkan diri ku hanyut dalam aroma wewangian. Tanpa disadari, aku memikirkan Inne. Bagaimana pertemuannya dengan suaminya, Didi.

Memang dalam pernikahan tidak ada yang mudah. Bukan karena itu, aku memilih masih sendiri. Karena menyatukan dua kepribadian tidak gampang. Mengubah kebiasaan hidup single lah yang masih belum bisa ku lakukan.

Jauh dari kamar mandi hotel, Inne yang sudah berdandan cantik dan menunggu suaminya datang ke restauran X, tempat biasa mereka merayakan sesuatu special ketika masih pacaran. Saat Didi tiba di restauran X. Kaget melihat penampilan Inne yang berbeda dan duduk di bangku yang biasa mereka dudukin bersama.

Begitu melihat Didi, Inne pun melambaikan tangan dan tersenyum. Didi pun membalas lambaian tangan dan membalas senyum Inne. ''Memangnya, ada yang ku lewatkan honey?,'' tanya Didi, saat menarik bangku disebelah istrinya.

''Tidak ada, aku hanya ingin suasana yang berbeda aja. Aku sudah pesankan makanan kesukaan mu kalau ke sini. Bagaimana kerjaan mu,'' tanya Inne pada suaminya.

''Baik. Ada apa neh. Apa ada yang special, tetapi aku lupa,'' tanya Didi masih dengan mimik bingung.

''Memangnya harus ada yang spesial ya, baru kita ngumpul. Ngak juga kan?'' tanya Inne balik.

''Ngak juga seh. Tapi aku senang aja. Sudah lama ya, kita ngak pergi berdua seperti ini. Tahu gitu, aku mandi dulu,'' kata Didi sambil tertawa.

''Tidak apa-apa ko. Walaupun kamu bau, tetapi tetap ganteng,'' goda Inne. Spontan mereka tertawa kecil.

''Aku minta maaf ya. Selama ini membuat mu kesal. Sebenarnya, aku tidak bermaksud demikian,'' ujar Didi, membuat Inne tersentak kaget.

''Maksudnya?,'' tanya Inne dengan mimik bingung.

''Sebenarnya, persoalan seperti itu tidak perlu dipertengkarkan. Hanya saja, kebiasaan ku susah untuk diubah. Aku akan berusaha deh,'' ungkap Didi.

''Wow, aku kan belum bilang apa-apa,'' kata Inne lagi.

''Tahu ngak, selama ini aku juga sudah berusaha agar tidak ada pertengkaran. Tapi belakangan ini sikap mu berubah dingin dan mendiamkan aku. Aku jadi takut kalau salah-salah berbicara akan ada pertengkaran lagi,'' urainya sambil mengenggam lembut jemari istrinya.

''Kamu tahu dari mana,?'' tanya Inne penasaran.

''Setelah pertengkaran kita pada waktu itu. Aku berusaha berubah, tapi tetap aja sulit mengubah kebiasaan sewaktu masih single. Untuk tetap membuat rumah tangga kita nyaman. Aku membaca buku-buku dan majalah tentang pernikahan,'' ungkapnya. ''Disitulah aku baru tahu. Bahwa ada beberapa hal yang harus dibicarakan dari hati ke hati. Bukan pada saat hati sama-sama panas dan ada berberapa hal yang tidak perlu diucapkan, tetapi saling memahami,''

''Makasih, karena kamu sudah mau berusaha untuk mengubah menjadi suami yang lebih baik. Aku pun juga akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi istri yang baik,'' tutur Inne akhirnya.

''Harus tuh,'' kata Didi sambil menarik hidung istrinya.

''Apaan seh. Kan, aku sudah bilang. Ngak suka hidung ku ditarik. Tapi sekali-kali ngak papa,'' ucap Inne sambil tertawa.

''Biar mancung,'' bisik Didi sambil terawa renyah.

''Jadi idung ku, ngak mancung neh,'' ujar Inne sambil pura-pura cemberut. ''Aku mau ke toilet sebentar ya say,'' pamit Inne.
Begitu tiba di kamar mandi wanita. Inne pun segera menekan nomor telepon Anne. ''Lama banget seh,'' ujar Inne waktu mendengar jawaban Hallo dari sebrang.

''Gue ketiduran di bath tub neh. Sampai airnya dingin. Ada apa, ngak sukses ya?,'' tanya Anne bertubi-tubi.

''Aku cuma mau bilang, makasih. Dah ya, suami ku nunggu. Kami mau dinner dulu,'' ujar Inne menutup sambungan telp.


Tak lama Inne menutup sambungan telepon. Suara ponsel Anne pun berdering. Layar LCD ponsel bertulisan Didi. Belum sempat Anne mengeluarkan suara. ''Ternyata article lo tokcer juga. Cepatan nikah tuh. Thanks ya, atas article yang kamu tulis sebulan lalu,'' ujar Didi dan langsung mematikan ponselnya.

Gantian Anne di kamar hotel hanya berbalutan handuk yang kebingungan. Begitu memahami, ia pun tersenyum. ''Syukur deh,'' ujar Anne.
Kembali ke restauran X tempat Didi dan Inne berada. ''Habis nelpon siapa,'' tanya Inne, saat melihat suaminya memutus sambungan ponselnya.


''Habis nelp orang spesial agar segera menikah,'' jawab Didi, membuat Inne bingung. ''Aku habis nelp Anne, bilang makasih. Karena sebulan lalu, aku baca articlenya tentang saling memahami karakter suami-istri dan ternyata mantap,'' tuturnya sambil tersenyum.

Spontan aja Inne pun tertawa geli. ''Kenapa,'' tanya Didi bingung.

''Aku juga tadi nelp Anne. Bilang makasih atas sarannya,'' ujar Inne menekankan suaranya agar tidak tertawa lepas.

***

Dalam menjalani batera kehidupan dalam rumah tangga. Pasang surut kehidupan dan persoalan kerap terjadi. Namun dalam menghadapi persoalan, tidak ada salahnya saling memahami antara satu dan yang lain. Tugas, suka dan duka dalam rumah tangga harus saling dibagi, tanpa perlu ucapan dengan kata yang penuh emosi atau marah.

--Kisah ini hanya fiktif ya--

Desember 02, 2008

Tak Pernah Merasa Cukup

Hidup tak kan pernah cukup bagi orang yang tidak bersyukur pada kehidupan. Ia akan terus merasa kekurangan dengan apa yang ada di dirinya. Itu lah yang Anne pikirkan, saat membaca kembali beberapa surat yang diterimanya. Isi surat yang diterimanya beberapa waktu lalu mengenai tidak ada biaya untuk mengikuti gaya hidup jetset --kelas atas--

Kalau mengikuti keinginan diri sendiri, tentunya Anne juga ingin mempunyai rumah megah bahkan yang ada kolam renang sendiri, pembantu yang mengurusi semua keperluan di rumah, mulai dari yang mengurus kebun, rumahtangga, memasak, kalau bisa lebih dari dua orang pembantu. Memiliki berbagai cabang bisnis di Indonesia, keliling dunia setiap sebulan sekali. Bulan ini ke Paris, bulan depan ke Amerika.

Anne menyadari itu tidak akan mungkin, tetapi ia bersyukur apa yang ia punya. Pekerjaan freelance yang tak memakan waktu, hobi menulisnya disalurkan dan usaha bisnis kecantikan plus butiknya meskipun pasang surut tetapi mencukupi biaya kebutuhannya sehari-hari dan juga jalan-jalan setahun atau bahkan enam bulan sekali ke luarnegeri. Untuk mencari trend yang terbaru, untuk mengisi butik dan salonnya agar selalu up to date.

Namun, sedikit orang yang merasa bersyukur atas semua yang sudah menjadi miliknya dan dirasakannya. Manusia ingin lebih dan lebih. Tanpa pernah memandang ke bawah. Seperti istilah diatas langit masih ada langit. Manusia lebih senang memandang keatas dan berharap bisa menjadi si A atau si B.

Seharian ini, Anne mencoba membuat resep baru. Stawberry Shartcake. Bahan yang dibutuhkan 1/4 mangkuk tepung terigu, 1/4 tepung maizena, 1 1/4 sendok teh bakpuder, 4 kuning telur, 3 sendok makan air dingin, 3/4 mangkuk gula, 4 putih telur dan 1/4 sendok teh vanili. Seta 1/2 kilo arbei segar.

Dicobanya beberapa bahan tersebut untuk diolah menjadi adonan. Sedikit ribet dibanding buat kue bolu, tetapi Anne yang notabennya senang makan cemilan ini pun berusaha mencoba resep baru dari buku menu sehat. Ngemil boleh saja, tetapi ada baiknya ngemil makanan yang sehat bukan?

Beberapa jam berkutat di dapur, mempersiapkan bahan dan mengolah. Serta mengoven. Belum lagi harus membereskan dapur yang sudah dibuat berantakan. Kebetulan, hari ini bi Inah --yang membantu bersih-bersih rumah dari pagi hingga sore-- sedang tidak masuk. Izin, karena disekolah anaknya ada acara bersama orangtua. Terpaksa Anne mengerjakan urusan beres-beres. Mencuci bekas adonan kue --pekerjaan yang paling tidak disukainya-- Benar-benar menguras tenaganya.

Namun harum semerbak Stawberry Shartcake memenuhi ruangan dapur membuatnya puas. Setelah dirasa cukup matang. Stawberry Shartcake pun diangkat dan ditaruh diatas piring yang sudah disiapkan. Dihias dikit dengan cream yang diberi pewarna rasa Stawberry dan diatasnya diberi hiasan potongan buah Stawberry yang masih segar.

Em, sedap pikir Anne. Anne melirik jam dinding disudut ruang makannya. Jam menunjukan pukul 17.20 WIB. Anne pun bergegas mandi dan memotong kue tersebut lima iris dan ditaruhnya dalam taperware. Mau diberikan pada orang yang bekerja di salonnya. Setiap Anne membuat resep baru, pertama kali yang merasakan empat karyawati di salon dan butiknya.

***

Anne bersiap-siap untuk tidur. Setelah menyelesaikan membaca buku air penyembuh ajaib. Saat itu, jam di ponsel sudah menunjukan pukul 1 dini hari. Jelas saja, Anne sudah merasa mengantuk. Apalagi seharian berada di dapur, membereskan pekerjaan rumah dan membantu karyawatinya mengitung stok barang. Serta membalas beberapa surat yang masuk lewat email maupun lewat pos.

Ponselnya berdering, dengan mata yang hampir terpejam. Karena menahan kantuk, Anne menjawab telepon. Hallo, ujar Anne, setengah tertidur. Terdengar suara disebrang musik disco yang nyaring hingga membuat Anne berada di diskotik juga.

Anne langsung melihat layar ponsel, Stella. ''Stella, kamu dimana? Kamu di Batam kah?'' tanya Anne cemas.

''Iya lo kesini lah. Ditempat biasa ya. Ditempat biasa gue nongkrong,'' seru Stella berteriak untuk mengalahkan musik disko tersebut.

''Ya, sudah tunggu disitu. Jangan kemana-mana. Kamu pasti mabuk lagi,'' keluh Anne sambil menutup telepon dan bergegas mengambil baju yang ada didalam lemari.

''Kenapa lagi tuh anak,'' pikir Anne saat mengendari mobil menembus gelapnya malam menuju arah Jodoh.

***

Anne tiba di tempat biasa Stella nongkrong kalau berkunjung ke Batam. Menghabiskan malam dengan mabuk-mabukan kalau lagi punya masalah. Anne mengenal Stella, berawal dari Stella suka membeli baju dibutiknya dan pelanggan salon tetap. Disitulah mereka akrab. Anne yang mudah bergaul, gampang mendapatkan kawan dan orang yang jauh bisa menjadi dekat dengannya. Karena, Anne memiliki pribadi yang menyenangkan. Walaupun kadang ngeselin. Namanya juga manusia, tidak ada yang sempurna bukan?


Diremangnya lampu diskotik, musik yang berdentang keras. Anne mencari sosok kawannya itu. Anne melihat tubuh seksi berbalut baju putih tong top, sedang duduk di bar. Menengak beberapa minuman keras, layaknya air putih. Anne langsung mengampiri dan sedikit berteriak. ''Stel, pulang yuk. Lo, sudah minum banyak neh,'' teriak ku pas ditelinganya.

Stella yang sudah mabuk itu pun segera membalikkan badannya dan melihat pada ku. ''An, akhirnya kamu datang juga,'' ujarnya dengan mulut yang bau akhohol bercampur rokok. ''Nanti dulu lah, beberapa gelas lagi ya,'' pintanya.

Aku menggelengkan kepala dan menanyakan pada bartender berapa bill yang harus dibayarkan. Bartender itu menuturkan sudah dibayarkan langsung oleh Stella. Aku tarik tangan Stella, tubuh tinggi semampai itu semponyongan --yang jelas bukan karena tarikan Anne--

''Mas, tolong bantu antarkan ke mobil,'' pinta ku pada bartender agar menyuruh karyawan situ membantu ku membopong tubuh Stella yang sudah setengah tidak sadar.

''Ada apa dengan mu, Stella,'' tanya ku saat sudah berada di parkiran. Dibantu sekuriti setempat. ''Makasih ya pak,'' ujar ku sambil menyerahkan beberapa lembar uang.

''Jangan muntah dimobil ku ya,'' kata ku lebih pada angin malam. Karena Stella sudah tak sadarkan diri. Seperti sedang berada didunianya yang lain.

***

''Aduh'' rintih Stella dari balik kamar tamu.

''Makanya non, jangan suka minum akholol terlalu over. Neh, coklat panas diminum. Sama ada aspirin tuh di kotak obat,'' ujar ku mengantarkan minuman. ''Ada apa sebenarnya. Datang ke Batam ga bilang-bilang. Nelp diriku dalam keadaan mabuk,''

Stella menerima cangkir yang berisi coklat panas dan menegaknya. Matanya masih nanar. Dikarenakan sakit kapala yang --mungkin-- tak terhingga. Akibat dari pengaruh akholol yang diminumnya semalam. ''Makasih ya,'' ujarnya akhirnya. ''Kirain aku sudah mati,''

''Memangnya kamu mau bunuh diri,'' kata ku.

''Ngak juga seh,''

''Lalu. Ngapain lo minum sampai segitu banyaknya. Ada masalah apa seh,'' tanya ku akhirnya dengan tak sabaran.

''Aku . . . Aku tak tahu harus mulai dari mana,'' katanya akhirnya.

''Aku tahu kamu harus mulai darimana. Dari mandi dulu sana, badan mu dari tadi sudah bau, berbagai macam tahu baunya,'' ujar ku sambil melemparkan handuk bersih padanya. ''Aku tunggu di luar ya. Aku siapkan sarapan dulu,''

Stella beranjak dari kasur dan berjalan dengan sedikit sempoyongan menuju kamar mandi tamu. Anne pun bergegas keluar dan menyiapkan sarapan sereal dan roti bakar. Serta telur rebus setengah matang.

Stella keluar dari kamar dengan wajah yang agak segaran. Meskipun matanya masih sayu dan kepalanya masih sedikit nyeri akibat akholol tersebut. ''Wangi banget, aku jadi lapar,'' ujarnya sambil menarik kursi dan duduk didepan ku.

Anne berusaha menahan pertanyaan yang ada didalam benaknya. Anne berusaha menikmati sarapannya tanpa berkata-kata. Berusaha menekan rasa penasaran yang bisa membunuhnya. setelah sarapan, mereka memilih duduk bersantai di teras. Memandang jalan yang hanya dilalui beberapa orang saja. Taman yang kecil tetapi ditata begitu apik menambah pemandangan yang menarik.

Anne menghela nafas, mencoba menenangkan diri dari berbagai pertanyaan yang ingin diajukan pada sahbat dan sekaligus pelanggan salonnya. Dibukanya lembar demi lembar majalah, namun ia tak bisa konsen. Karena, tidak pernah ia melihat Stella begitu rapuh malam itu. Selama ia mengenalnya, Stella adalah sosok yang kuat dan tegar. Bahkan mandiri.

Sementara Anne masih berkutat pada pemikirannya, Stella sendiri merasa bingung, Apakah kejadian semalam patut diberi penjelasan, pikir Stella dalam hati. Mencoba membaca baris buku yang dipilihnya. Namun, ia sendiri berpikir dan bertentangan dengan kata hatinya untuk mengungkapkan apa yang sebaiknya diceritakan. Malu mengenai kejadian seharusnya tak perlu terjadi.

''Aku . . .,'' kata Anne dan Stella berbarengan dan tersenyum. Anne, ''Kamu duluan deh yang bicara''

''Sebenarnya aku gak perlu mabuk-mabukan seperti itu. Selama aku pindah ke Jakarta, aku bergaul dikalangan. . . Ya, kamu tahu sendiri. . Tiap malam kami clubbing dari satu cafe ke cafe lain. Tidak hanya di Jakarta, Bandung, Bali dan beberapa tempat menarik lainnya,'' ungkap Stella.

''Tidak hanya lokal, bahkan kami juga jalan-jalan ke Singapur, Malaysia, Thailand, Hongkong dan beberapa tempat lainnya hanya untuk menghambur-hamburkan uang untuk menikmati gaya hidup kelas atas. Bohong, kalau aku bilang tak menikmatinya dan aku mulai menyukai dunia ini. Dunia dimana, kami selalu bebas melakukan apa pun,''

Anne hanya tersenyum. ''Lalu, apa yang terjadi pada gaya hidup mu yang baru. Suami mu bagaimana?

''Awal mulanya, suami ku mendukung. Ia memberikan uang yang ku minta. Bahkan kadang kami pergi clubbing bareng bersama kelompok ku yang sudah ku kenal enam bulan,''

Suara Stella mulai bergetar dan menangis. Anne tak tahu harus bagaimana. Karena bingung apa yang sedang disesalinya dan mengapa dia menangis. Sebagai sahabat yang baik, Anne mengenggam erat tangan Stella. ''Sekarang persoalannya dimana,'' tanya Anne akhirnya, membunuh kebisuan yang terjadi diantara mereka.

Masih dengan mata sembab, Stella menceritakan, gaya hidupnya yang berubah drastis membuat keuangan keluarganya kacau balau. Bahkan terbilang bangkrut. Padahal, seharusnya ia dan bersama kelompoknya terbang ke negara fashion untuk menikmati hidup disana. Shopping, dugem dan berbagai hal yang menarik lainnya.

''Hidup ini tidak adil ya,'' katanya.

''Siapa bilang,'' tanya ku.

''Lihat saja aku, aku merasa hidup ini tidak adil. Apa yang ku impikan dan ku inginkan tak menjadi kenyataan. Keliling dunia, shopping barang-barang branded di Paris, Roma, Italia tak lagi bisa dilakukan,'' keluhnya.

Aku mencerna tiap perkatannya. Stella, wanita yang sukses, menikah juga dengan pria yang sukses. Sehingga sangat tidak mungkin, kebutuhannya tidak terpenuhi. ''Bukannya itu sering kamu lakukan,'' tanya ku akhirnya.

Ku lihat, Stella memainkan cincin nikahnya di jari manisnya. ''Sejak aku mengenal clubber ini. Keuangan suami ku mulai menipis. Hampir tiap malam, tidak hanya satu cafe yang kami datangi, hari ini ke Bandung, Jakarta, Surabaya. Tiap hari berbeda club kami datangi. Awalnya, suami tak melarang. Karena ia sanggup membiayai kehidupan ku,'' cerita Stella.

Stella berusaha agar air matanya tak jatuh keluar. Katanya, usaha suaminya hampir bangkrut, karena uangnya selalu dihabiskannya. Padahal, minggu depan, clubbernya hendak menghabiskan waktu di Paris dan Italia untuk dugem dan juga shopping.

''Masa aku ngak ikut, masa dia ga bisa memberikan keiginan ku itu,'' keluh Stella.

--Wow-- Aku hanya tersenyum. ''Stella, apa kamu menikmati hidup dugem mu. Apa kamu merasa enjoy dan sehat'' tanya ku

Stella terdiam dan merenung. Ia pun menjawab, ''Ya, aku enjoy dengan kehidupan dan teman ku sekarang. Walaupun, terkadang kalau bangun. Kepala ku suka sakit, itu biasa. Karena habis kebanyakan minum.

''Aku tak bisa memvonis kamu bersalah atau aku kasihan sama suami mu. Itu adalah urusan keluarga mu. Hanya saja, apakah itu memang yang terbaik bagi mu?'' tanya ku lagi.

''Bukannya aku mau menasehati mu, kadang kita selalu memandang keatas langit. Di langit masih ada langit, tapi bagaimana dengan di bawah langit. Tentunya, jarang diperhatikan. Hidup mu beruntung. Memiliki semua yang kamu inginkan, hingga akhirnya apa yang kamu inginkan lebih tak kesampaian lagi. Tapi, kamu pernah merasakannya,'' ungkap Anne.

Anne menuturkan, sekali-kali lihatlah ke bawah, bagaimana orang berjuang untuk mengumpulkan lembaran rupiah yang tak seberapa bagi mu, tapi sangat berharga baginya.

''Terus aku harus bagaimana?,'' tanya Stella. ''Tidak mungkin, aku tidak pergi dengan kawan-kawan ku.

''Kawan yang mana? Seharusnya, kamu lebih pandai dalam memilih kawan. Mana yang baik dan tidak baik. Itu bukan kawan namanya. Coba, kamu buktikan, telepon kawan mu dan minta dia membantu mu, apakah bersedia meminjamkan uang untuk dugem bersama mereka ke Paris,'' kata ku.

Stella diam saja dan tak bergeming dari tempat duduknya dan dalam hitungan menit. Air matanya meledek. Suara samar terdengar dari bibir tipisnya, ''pernah ada teman kami yang posisinya sama seperti ku. Hampir bangkrut, mereka menghindarinya dan seakan-akan tidak pernah mengenalnya,''

''See, mereka bukan teman yang baik. Teman yang baik itu siap disaat susah dan senang. Seharusnya, kamu juga bisa menjadi teman dan istri yang baik bagi suami mu,'' kata ku.

Stella memandangi ku kesal. ''Dia yang tak bisa mengelola uang dengan baik. Sehingga aku tak bisa bersenang-senang'' ujar Stella mempersalahkan suaminya.

''Lalu, uang darimana yang kamu dapat untuk menikmati hidup glamor mu. Aku dengar usaha mu pun sudah tak diurus dengan baik. Karena kehidupan malam mu. Suami mu kan yang membiayai semua kartu kredit dan hidup glamor mu,'' ujar ku dengan nada pelan.

Wajah Stella makin murung. ''Stel, bukan aku mau mempersalahkan kamu. Dalam kehidupan itu selalu ada yang namanya pasang surut, jadi biasa kali. Disaat seperti ini, kamu harus memandang kehidupan untuk memperbaiki kesalahan, bukan pelarian,'' ujar ku menambahkan.

''Aku tahu,'' katanya, akhirnya setelah diam membisu.

''Sebagai kawan, aku harap kamu melihat ke bawah. Jangan keatas terus, pasti leher mu sakit. Memandang ke bawah, maka kamu akan mensyukuri semua rahmat yang telah kamu terima,'' harap ku.

''Makasih, apa suami ku masih mau menerima aku. Sebelum aku ke Batam, kami bertengkar hebat,'' ujar Stella.

''Coba kamu hubungi, pasti dia masih memaafkan kamu dan kamu bisa memulai kehidupan baru dengan pemikiran baru,'' saran ku.

***

Seorang istri merupakan tonggak kesuksesan suami. Karena peran istri sangat penting dalam membantu peran suami untuk mensukseskan. Dibalik kesuksesan pria, pasti ada istri yang mendampingi. Namun, terkadang istri juga bisa menghancurkan kesuksesan suami. Semua itu harus seimbang untuk dijalani.

Semua orang merasa tak puas dengan apa yang sudah didapatkan dan ingin lebih dan lebih. Namun, hanya untuk mencari kesenangan dunia. Maka itu tak kan abadi. Namun, mencari dahulu kerajaan surga, semua akan dipenuhi, segala kebutuhan.

November 07, 2008

Menyingkapi Persoalan Rumah Tangga

Anne hanya tersenyum saja saat membaca surat-surat yang dikirimkan bagian redaksi majalah dwi mingguan, tempatnya sebagai kolomnis prihal curat para wanita. Banyak pembacanya yang mengeluhkan keterbatasan waktu dengan keluarga, jenuh terhadap rutinitas diperkotaan metropolitan. Tidak mempunyai biaya banyak untuk mengikuti gaya hidup kawannya yang high class dan masih banyak lagi keluhan lainnya yang sebenarnya bisa diatasi dan tidak rumit.

Ya, kehidupan yang sebenarnya menyenangkan jadi penuh dengan complecated. Karena sebagian orang hanya memandang dari sudut pandangnya. Anne terkadang berpikir di langit masih ada langit, sepertinya pepatah itu sangat tepat menggambarkan keluhan dari surat yan dibacanya saat ini.

Terkadang manusia hanya memandang keatas dan bukan ke bawah. Sehingga manusia beranggapan, kurang itu, kurang ini. Padahal, kalau memandang ke bawah, tentunya akan bersyukur dalam menghadapi kehidupan.

Saat Anne sedang merenung mencari ilham untuk menjawab beberapa pertanyaan yang sebagian besar hampir sama. Dimana jawabannya tidak harus mengurui, menghakimi dan memerintah. Jawaban yang bisa diterima oleh pemilik masalah dan pembaca.

Ting tong. . . Ting tong. . . Bell rumah Anne berbunyi dengan nada tidak sabaran. Berulang-ulang, tentunya pemencet bel yang tak sabaran. Bukan bellnya!!!. ''Ya, sebentar,'' teriak Anne dari dalam kamarnya. Sebelum melangkahkan kakinya kedepan. Anne sempat melirik kaca rias yang terletak disudut pintu. Rapi, pikir Anne sambil keluar dari kamar.

Suara bell pintu tidak berhenti, semakin cepat. Anne pun dengan sedikit mengerutu --dalam hati-- melihat tamu yang datang dan tidak tahu etika itu sudah membuatnya sedikit kehilangan kesabaran. Untunglah, Anne belajar mengendalikan emosi. Sebelum membuka pintu ruang depan. Anne manarik nafas dan mencoba memasang senyum terbaiknya.

Belum juga pintu terbuka, si tamu yang ternyata notabenya tetangga jauhnya itu lansung nyelonong masuk dan membuat Anne sedikit terkejut dan melogo. ''Wah ini, orang gak sopan amat,'' pikir Anne dan secepat kilat memperbaiki reaksi terkejut dan ketidaksukaan terhadap ulah tamu yang tak menyenangkan itu.

''Ada yang bisa dibantu'' ujar Anne sambil membuka pintu lebar-lebar.

''Aku gak suka banget, suami ku selingkuh. Bete ngak aku. Kenapa dia selingkuh padahal aku sudah berusaha sebaik mungkin jadi istri dan ibu bagi anak-anaknya,'' kata wanita itu terus sambil mengeluarkan unek-uneknya dan menghempaskan tubuh mungilnya di kursi sofa Anne.

Anne yang sama sekali tidak menyangka bakal kedatangan tamu, apalagi notaben tamunya tak begitu dikenalnya bingung. Kenapa, dia menceritakan prihal urusan rumahtangganya padanya. ''Kenapa, bisa berpikiran seperti itu,'' tanya Anne akhirnya. Mau tak mau harus melayani tamu yang datang.

''Jelas, aku tahu lah. Aku tahu dari beberapa kawan ku, dia selingkuh'' ujarnya dengan nada emosi.

''Tenang dulu ya mba,'' tutur Anne akhirnya. ''Kita lihat dulu persolannya seperti apa,''

''Kamu ini tidak tahu persoalannya, jangan sok tahu deh'' ujarnya ketus.

''Lalu, mba ke rumah saya tuk apa. Ada yang bisa saya bantu? Saya lagi banyak kerjaan lho mba,'' ujar Anne menekan suaranya agar tidak terkesan jengkel dengan kelakuan tamu yang ta diundang itu.

''Maaf, saya lagi kacau. Saya juga gak tahu mau ngapain kesini. Teman-teman saya sudah bosan mendengar keluhan saya. Entah, tau-tau ingat kamu. Saya kan sering langganan majalah itu. Makanya saya mau mencoba share dengan kamu, dek,'' tuturnya dengan nada lirih.

Uh, sabar-sabar, pikir Anne. ''Ya, sudah. Kalau memang mba tidak ada teman curhat. Ceritakan aja sekarang. Sapa tahu membantu meringankan,'' ungkap ku.

''Saya sudah menikah lebih dari enam tahun. Kelakuan suami saya berubah dratis belakangan ini. Kata-kata kawan-kawan, dia selingkuh dan sering jalan berduan dengan perempuan cantik'' katanya.

''mba sudah pernah menanyakan ke suami mba? Mengenai itu?,'' tanya ku.

Dia hanya mengangguk. ''Lalu, jawabannya apa?,''

''Suami ku bilang teman kantor. Kerjaan suami ku dilapangan. Jadi, habis ke tempat kline. Mereka makan diluar. Hubungan hanya sebatas kawan,'' ujarnya sambil tertunduk.

''Mba, terkadang apa yang dilihat dengan kasat mata belum tentu benar. Apa yang didengar samar-samar, belum tentu itu yang dimaksud,'' tuturnya. Anne menambahkan, ''Saya bukan mau mengajarin mba. Mungkin, bisa saja kelakuan suami mba mulai berubah. Karena pertanyaan menuduh dan sikap mba yang tidak welcome saat dia pulang,''

''Jadi aku harus bagaimana. Saya kesal mba, saya juga sudah berusaha membantu mencari uang untuk membayar cicilan rumah. Kalau mengandalkan gajinya saja, mana cuku,'' isak tangisnya pun keluar.

''Sikapi secara dewasa saja mba. Ingat masa-masa dahulu, sebelum menikah. Ingatkan kembali perjanjian dan tujuan hidup bersama. Mba juga harus menekan emosi. Jangan dia pulang, muka mba jutek dan menuduhnya macam-macam. Padahal, apa yang dikatakannya itu kemungkinan benar,'' kata ku.

''Mba, bisa saja dengan prilaku mba seperti itu. Ntar, jadi beneran lho. Sekali-kali, mba juga minta dikenalkan dengan rekan kerjanya atau mba undang dia ke rumah. Sapa tahu dia sudah punya pacar, bahkan suami,'' tambah ku.

Mendengar perkataan Anne, dia terkejut dan langsung terdiam. ''Kenapa aku harus berbuat seperti itu?,'' tanyanya.

''Ya, daripada mba berburuksangka terus. Ternyata tidak benar. Mungkin suami mba, malah menghargai sikap dewasa mba. Dibanding sikap kanak-kanakan yang akan berujung pada pertengkaran terus. Memangnya, mba mau rumah tangganya begini terus? Karena sikap mba yang cemburuan?,'' tanya ku balik.

''Aku coba sarannya ya. Mudahan benar. Aku gak tahu harus berbuat apa.Kalau dia sampai selingkuh,'' katanya.

''Ya, dicoba atau kalau tidak mempan. Coba mba dan dia sama-sama intropeksi diri sendiri ya. Saya tidak bisa membantu lebih jauh dan masuk dalam urusan pribadi mba dan suami,'' tandas ku.

****

Setelah pertemuan itu. Anne melanjutkan rutinitasnya seperti biasa. Belajar memasak, mengurus bisnis kecantikan dan butiknya. Serta mencari ide untuk menulis di kolom malajah dwi mingguan itu. Anne merasa hidupnya jadi lebih menyenangkan dan bersyukur tiap detik, menit dan jam. Saat jantungnya masih berdetak. Meskipun terkadang persoalan mengampiri, tetapi Anne berusaha untuk menghadapi dan bertindak dewasa. Walaupun terkadang juga bersikap childish.

Ting tong.. Suara bell rumah Anne berbunyi. Padahal, Anne baru saja pulang dari butiknya yang dari pagi hingga malam dijaganya.

''Sebentar,'' teriak Anne dari dalam. Ditaruhnya tas sekenanya. Lalu, dibukanya pintu. ''Pa kabar de,'' sapa tamu itu.

''Baik mba, ada yang bisa saya bantu,'' tanya Anne bingung.

''Ini saya de, yang tiga hari lalu datang kemari. Makasih ya nasehatnya. Manjur,'' ujar tamu itu.

''Eh, maaf mba. Silahkan masuk,'' ujar ku sambil membuka pintu lebar-lebar.

''Saya kesini mau ngucapin makasih dan mau ngantar ini cake. Kabarnya ade suka makan cake ya,'' katanya sambil tersenyum.

''Aduh mba, ngak usah repot-repot. Saya senang, urusan mba sudah beres,'' tutur ku tulus.

Wajah yang sebelumnya kusut itu, kini tampak berseri dan cantik. Menurutnya, saat mengungkapkan keinginannya untuk mengenal rekan kerjanya itu. Sempat terjadi polemik. Suaminya takut, kalau istrinya akan mengamuk dan mempermalukannya.

Setelah dijelaskan titik persoalannya. Suaminya nampak senang dan bahagia. Karena istrinya mau membuka pikirannya, daripada mengurusin gosip yang tidak benar. Ternyata omongan suaminya terbukti. Rekan kerjanya dalam waktu dekat juga akan menikah dengan pacarnya.

Terkadang, bila kita terus mengikuti omongan orang atau kawan yang tidak benar. Malah membuat hubungan yang seharusnya harmonis menjadi tak bahagia. Dengan sikap saling mencurigai, memusuhi malah akan membuat pertengkaran dan persoalan baru. Tetapi dalam menyikapi persoalan dengan lebih bijak dan dewasa akan menambah wawasan dan kebijaksaan baru. Walaupun, terkadang sulit untuk bersikap dewasa dan sabar. Tetapi, tidak ada salahnya kan dicoba.

--to be continue--

--Cerita ini hanya fiktif ya--

©By Citra Pandiangan

November 06, 2008

Jodoh Takan Kemana Bag II

Menemukan soulmate terkadang tidak pernah disangka. Hal itulah yang dialami pasangan Rudi dan Ratna yang menikah pada usia 40 tahun. Usia dimana kebanyakan orang berpikir tidak akan pernah menemukan pasangan jiwa. Ternyata, tepisan masyarakat yang menganggap Ratna tak akan pernah menikah itu pupus dengan sendirinya.

Ratna adalah wanita yang sangat cantik, baik hati, hanya saja dalam memilih pria idaman sangat berhati-hati, hingga orang beranggapan terlalu memilih. Keasyikan bekerja dan berbagai kegiatan,membuatnya lupa untuk mencari pasangan hidup. Padahal, manusia ditakdirkan hidup berpasang-pasangan. Sama seperti Adam dan Hawa, manusia pertama yang diciptakan Tuhan.

Tidak pernah putus asa, apalagi minder dengan ucapan orang yang membicarakannya di belakang --bergosip-- Hidupnya selalu easy going. Itu, membuatnya merasa lebih bahagia dan tenang. Omongan orang tak pernah didengar, apalagi dipedulikan. Bila itu tidak baik baginya, kecuali kritikan membangun yang selalu diperhatikan agar menjadi lebih baik.

Ratna percaya, jodoh ditangan Tuhan. Karena itu, dia tak kuatir mengenai prihal dirinya hingga mencapai usia 40 tahun belum juga menemukan jodoh. Dia berpikir, Tuhan belum mengirimkan pria yang tepat untuknya. Suatu ketika, Ratna harus menghadiri pertemuan di Bontang -Kalimantan Timur- Dikarenakan pertemuannya baru dua hari lagi, Ratna memutuskan naik kapal. Sekalian bersantai, pikirnya.

Memilih kelas I dan menikmati hidup diluar dari kebiasaan. Menurut orang, bisa mengusir jenuh dari rutinitas kantor dan aktivitas sehari-hari. Itu benar-benar dirasakan Ratna. Hidupnya semakin ringan, bisik-bisikan yang tak menyenangkan, yang terkadang sangat menganggu terlupakan.

Menghirup udara laut dari atas kapal. Duduk bersantai sambil meminum jus segar dan membaca buku yang baru dibeli, membuatnya menghargai tiap waktu istirahat dengan sebagai anugrah, bersyukur. Tak sekalipun ia menanyakan atau mempersoalkan kepada Tuhan mengenai pria yang pantas menjadi suami yang nantinya akan mengayomi dan melindunginya.

Bukan berarti, Ratna tak pernah berdoa. Tiap malam, Ratna berdoa agar Tuhan mengirimkan pria yang baik --terbaik-- untuk menjadi penampingnya seumur hidupnya. Bila ada pria yang baik, biarkanlah mendekat, tetapi bila pria itu tak baik sebaiknya biarkanlah pria itu pergi dan jangan mendekati dirinya.

Doa-doa itu selalu dijawabnya, setiap ada pria yang mendekat, yang berniat jahat. Selalu pergi jauh. Namun, pria yang terbaik untuknya juga belum pernah datang. Sabar menanti. Karena Ratna tahu akan ada yang terbaik untuknya kelak. Sehingga ia tak terburu-buru dalam menentukan pilihan yang berakibat banyaknya angka penceraian. Dikarenakan takut dianggap perawan tua atau tidak laku.

Dikapal itu, Ratna ketemu dengan soulmatenya dan langsung mau diajak menikah. Ratna sendiri bingung, koq bisa? Tapi, dia yakin bahwa itu, pria yang dikirimkan untuknya. Tak ada rasa takut dan tak ada rasa bimbang, saat pria bertubuh tinggi itu mengajak kenalan dan menjalin hubungan pertemanan selama dua minggu di Kota yang terkenal dengan sebutan kota minyak itu.

Disanalah, kepribadian, visi dan misi, serta tujuan hidup terungkap. Akhirnya, di usia 40 tahun mereka menikah dan hidup bahagia. Serta dikaruniai anak satu sebagai pelengkap kebahagian.

***

''Serius lo,'' tanya Ratih pada Anne, setelah mendengarkan kisah yang diceritakannya padanya.

''Bisa saja, bukan?'' tanya Anne balik. ''Karena tidak ada yang mustahil. Tentunya, sebagai manusia, dalam melakukan tindakan apa pun, seperti apa pun, apalagi prihal jodoh, harus berserah, berharap dan berusaha untuk mendapatkan yang terbaik.

''Aku setuju. Jadi, aku tidak perlu takut ya dalam menghadapi hidup ini. Karena semuanya pasti ada hikmah dan yang terbaik dalam kehidupan ini,'' katanya dengan mata berbinar.

Anne mengangguk. ''Ya, itulah hidup. Terkadang manusia suka melupakan Tuhan dalam mengambil keputusan dan jika keputusan salah, menyalahkanNya atas kehidupannya yang hancur.

© By Citra Pandiangan

Oktober 31, 2008

Jodoh Tak kan Kemana

Anne masih asyik membalik-balik buku yang baru dipinjamnya dari kawannya. Buku yang menarik untuk dibaca. Bila kamu masih merasa jomblo. Meskipun sudah memiliki pacar. Anne masih berasa sendiri. Jarak jauh membuatnya merasa masih memegang status single. Meskipun terkadang sang kekasih sering menelpon maupun bertandang ke rumahnya.

Buku membuat pria jatuh cinta membuatnya tersenyum saat membaca baris demi baris karangan Trancy Cabot. Review dibelakang buku itu, saat Anne ingin meminjamnya berisikan mengenai bagaimana menemukan cinta dalam hidup Anda; Menemukan cinta sesuai keinginan; Memenuhi kebutuhan cinta lahiriah dan batiniah; Membangun kepercayaan dan hubungan baik dalam sekejap; Melabuhkan kebahagian dengan sentuhan ajaib; Membuat kekasih mengatakan 'Ya' tanpa disadari, dan tanpa dipaksa; Mempertahankan cinta agar abadi.

Anne benar-benaran penasaran dengan isi buku tersebut. Karena Anne merasa yain bahwa menemukan cinta yang benar-benar sejati sangat susah. Apalagi menemukan cinta sesuai dengan keinginan, itu sama saja mencari jarum diantara hamparan pasir, yang pada kenyataan imposible --mustahil--. Ditambah membangun kepercayaan dan hubungan baik dalam sekejab. Itu tidak akan mungkin bisa. Karena Anne sangat tahu, banyak hubungan rumah tangga hancur. Lantaran tidak ada lagi saling percaya dalam hubungan tersebut.

Saat Anne sedang membaca lembar demi lembar buku yang bersampul berwarna pink itu. Telepon rumah Anne berdering. Anne enggan meninggalkan bangku empuk di ruang tamunya yang ditata seapik mungkin. Anne pun menyeretkan langkahnya.

''Hallo,'' ujar Anne pada orang disebrang sana.

suara isak tangis terdengar, ''Anne, lo lagi sibuk ya,'' tanya suara dari sebrang sana, dan Anne baru menyadari itu adalah Ratih --sabahat kawannya--

''Tidak jawab,'' jawab Anne. ''Aku hanya bersantai sambil membaca buku. ''Ada masalah,'' tanya Anne cemas.

''Aku bingung harus mengadu pada siapa. Boleh aku ke rumah mu sekarang. Semua kawan ku pada sibuk,'' pintanya.

''Tentu saja,'' jawab ku cepat. ''Aku tunggu ya,''

***

''Memangnya ada apa,'' tanya ku, saat Ratih sudah datang ke rumah. ''Sebentar ya, aku buatkan minum, sama cake. Kemarin, aku belajar masak kue.

Ratih hanya menggangguk pelan dan tersenyum hambar. Seperti sedang tidak berada di rumah Anne. Anne pun segera kembali membawa dua cangkir coklat panas dan dua potong cake, serta snack dalam toples yang berwana ungu. senada dengan gelas dan lepek yang dibawanya.

''Kalau kamu mau cerita, cerita aja. Sapa tahu aku bisa membantu kesusahan mu,'' ujar Anne sambil meletakan gelas dengan motif gambar anggrek di depan Ratih.

''Aku bingung,'' tuturnya lirih. ''Kamu tahu, usia ku sudah lebih dari tiga puluh tahun dan orangtua ku meminta aku segera menikah. Tetapi, sampai saat ini, aku belum bisa menemukan pria yang cocok dan mengerti keadaan ku.

Anne hanya mendengarkan prihatin, tanpa mau memotong pembicaraan Ratih yang sejujurnya lebih ditunjukan pada dirinya sendiri. Teman-teman ku,' lanjut Ratih, sudah pada menikah dan aku sendiri masih belum. Hubungan ku dengan mantan-mantan pacar ku, selalu putus sambung. Karena perbedaan prinsip dalam hidup.

''Kenapa masalah ini membuat kamu sebegitu merana,'' tanya ku.

Wajah Ratih semakin murung mendengar perkataan Anne. Katanya, kamu tidak tahu. Bagaimana orang-orang memandang ku. Bahkan orangtua ku mencoba menjodohkan aku dengan A, B, C. Padahal, mereka tahu. Aku masih ingin menikmati hidup ku.

''Aku juga ingin memiliki anak, tetapi tidak saat ini,'' kata Ratih lagi.

Anne tersenyum dan berujar, ''Aku juga ingin punya anak, suami, tetapi tidak saat ini. ''Sabar aja ya, mencari pria yang cocok dengan keinginan kita memang sulit. Tetapi, kamu tidak perlu mendengarkan apa tanggapan orang,'' ujar ku. ''Kita hidup untuk diri kita sendiri. Bukan untuk orang lain,'' kata ku bijak.

Ratih diam saja, ia hanya memainkan potongan cake tape yang ku berikan padanya. Mau mendengar cerita tak?'' tanya ku padanya.

Ratih memandang wajah ku lama dan dalam. Kemudian, wanita berambut panjang itu pun menganggukkan kepala. ''Cerita tentang apa?,'' tanyanya.

''Tentang kawan ku,'' jawab ku santai.
***

Anne bercerita mengenai kawannya yang baru menikah diusia 33 tahun keatas. Tidak sedikit kawannya yang menikah diusia kepala tiga. Kali ini kkisahnya mengenai, sebut saja namanya Evelyn --baca ivelin-- Evelyn berusia tiga puluh lebih. Bekerja disebuah penerbitan surat kabar lokal di kota XXX. Dia memiliki wajah yang menarik dan postur tubuh yang kecil.

Banyak pria yang menyukainya. Meskipun Evelyn tidak menyukainya, tetapi ia selalu bersikap ramah padanya. Pada pria yang menyukainya. Sehingga kaum pria selalu salah mengartikannya, hingga suatu ketika terjadi lah hal yang tidak diinginkan.

Waktu itu, Evelyn sedang berjalan dengan Sylvia --baca Silvia-- Memang sudah malam, jam menunjukan pukul 22.00 WIB setempat. Evelyn baru selesai mengerjakan pekerjaannya. Mereka berencana untuk karoke bersama. Disaat lelah dan suntuk dengan rutinitas sehari-hari, sylvia dan Evelyn selalu meluangkan waktu untuk berkaroke di salah satu KTV yang nyaman dan murah ataupun sekedar makan siang bareng or nonton bareng.

Persahabatan itu terbina tanpa disadarinya, mereka sama-sama merantau ke daerah entah brantah dan saling cocok satu dengan yang lain. Karena sifat mereka tidak suka membicarakan orang lain. Mereka lebih senang membicarakan diri mereka sendiri yang segudang dan tak pernah habis. Daripada bergosip. Apalagi, mereka berdua memang tidak pelit dan senang hunting berbagai makanan fastfood terutam pizza.. Em.. lezat tentunya. Sambil ngerumpi tentang pengalaman yang sudah dilalui, sambil bercanda gurau dan cuci mata, melihat pria-pria tampan dari kejauhan.

Nah, pada saat Evelyn dengan Sylvia hendak masuk ke dalam mobil sedan berwarna merah. Tangan Evelyn ditarik pria dengan kasar yang notabenya adalah rekan kerjanya. Tentu saja Evelyn marah. ''Kamu janji jalan sama aku malam ini,'' ujar pria itu kasar.

''Kapan?,'' tanya Evelyn ketus.

''Beberapa hari yang lalu,'' ujarnya masih tetap menarik tangan Evelyn.
Evelyn yang memang merasa tidak ada buat janji dengan itu pria jelas-jelas menunjukan penolakannya dan memasang wajah jutek dan marah. ''Aku sudah janji ma kawan ku untuk tidur di rumahnya dan kami mau makan malam bareng,'' tolak Evelyn.

''Tidak bisa,'' tutur pria itu bersikukuh. Pergelangan tangan Evelyn pun semakin sakit dipegang dan ditariknya. Everlypun hampir terjungkal. Sedangkan Sylvia hanya bisa memandang bingung harus berbuat apa. ''Dia kan ceweq, tidak mungkin kan dia ku biarkan pulang sendiri, apalagi jalanan sepi begini,'' tegas Evelyn. ''Kalau, kamu macam-macam lagi, aku teriak neh,'' ancam Evelyn.

Membuat nyali pria bertubuh besar dan gelap itu pun menciut. ''Siapa seh dia,'' tanya Sylvia, begitu pria itu langsung menyalakan motornya dan meninggalkan kami. Sylvia melihat Evelyn memegangin pergelangan tangannya yang masih sakit.

''Jadi kemana neh kita? Nonton or karoke,'' tanya Sylvia lagi pada Evelyn.

''Sepertinya enakkan karoke deh. Biar aku bisa teriak-teriak,'' ujar Evelyn.

Syvia pun menjalankan mobilnya dan berhenti di tempat yang sudah familiar bagi mereka berdua. Setelah memesan minuman dan kamar karoke pun, kedua sahabat itu pun langsung ke atas. Bernyanyi bergantian dan teriak-teriak mengusir bete dan suntuk, serta kekesalan sampai suara habis. Setelah itu pun mereka pulang.

''Dia sering memaksa aku untuk jalan dan dia ngajak aku untuk menikah. Tentu saja aku tolak,'' tutur Evelyn saat dalam perjalanan ke rumah ku.

Kata Evelyn, usia ku memang sudah tua, tetapi bukan berarti aku harus menikah dengan pria asal comot. Dia suka ma aku, aku langsung nikah ma dia.

''Inikan kehidupan yang panjang, jangka waktu panjang. Tidak bisa sembarangan. Biar saja, orangtua ku terus mendesak agar aku segera menikah. Tetap saja, aku pada pendirian ku,'' tegas Evelyn.

***

Sejak kejadian malam itu, gosip di kantornya pun beredar bahwa Evelyn lesbian dengan Sylvia. Hal tersebut tidak digubris Evelyn. Karena dia tahun dan yakin yang membuat gosip itu adalah rekan kerja yang meja kerjanya tidak jauh dari meja kerjanya.

Setiap orang tanya dengan santainya wanita berambut sebahu itu pun menjawab, kalau memang bener kenapa?

Ternyata gosip itu pun semakin kencang ditambah kondisi kantor yang sudah tidak kondusif membuat Evelyn mengambil keputusan meninggalkan kota XXX menuju kota YYY. Begitu, Evelyn meninggalkan kota XXX untuk kembali ke kota dimana ia dibesarkan dan keluarganya berada. Ia pun menemukan jodohnya.

''Sylvia,'' sapa Evelyn saat Sylvia mengangkat telepon.

''Evelyn ya, pa kabar. Kemana aja kamu. Mentang-mentang dah pindah lupa ma kawan,'' cerocos Sylvia.

''Aku mau kasih tau neh, bulan depan aku akan menikah kalau tak ada halangan,'' ujar Evelyn dengan nada suara riang.

''Serius, selamat ya. Sama siapa, jangan bilang sama pria itu,'' tutur ku turut senang.

''Ya, nggak sama kawan lama. Kami ngak sengaja temu dan tahu sendiri lah. Bagaimana jadinya,'' tuturnya bersemangat.

''Ditunggu undangannya ya,'' ujar Sylvia.

''Pasti, aku benar-benar bahagia. Terutama orangtua ku. Jadi, ngak perlu bingung bukan dalam menentukan pria idaman, mereka akan datang tanpa disadari. Asalkan berdoa dan berusaha,'' Everlyn memutuskan pembicaraan.

***

Masih banyak lagi kisah cinta bukan hanya kisah cinta Everlyn. Jadi tunggu kisahnya ya....

--cerita ini hanya fiktif lho--

By Citra Pandiangan

Oktober 29, 2008

Bukan Salah Wanita, Bag II

''Kan, kalian tahu, dari tadi telepon rumahnya ngak diangkat. sedangkan ponselnya ngak aktif,'' ujar ku sebel.

''Ya, sudah ke kostan kami aja dulu. Ntar, kita antar. Bagaimana? Kalau balik ke kostan mu terlalu jauh,'' tutur Roma mengingatkan.

''Aku naik taksi aja lah pulang,'' tolak ku.

''Bahaya lho anak gadis keluyuran malam-malam,'' Wandi mengingatkan. Wandi menyarankan agar aku ikut ke kostannya, cari makanan lalu berjanji akan mengantarkan aku ke rumah Ranie. Akhirnya aku setuju dengan berbagai pertimbangan. Aku tak tahu daerah itu.

Sesampainya di kost-an Wandi yang dibangun dalam tiga tingkat. ''Besar juga ya. Berapa orang disini,'' tanya ku sambil menuju lokasi kamar mereka yang berada di lantai kedua.

''Ada sekitar lima puluh kamar, yang nempati lebih dari tujuh puluh,'' jawab Wandi.

''Koq bisa,'' tanya ku bingung.

''Ya, bisa donk neng. Kan satu kamar ada yang bedua ataupun bertiga,'' jawab Andi sambil tertawa.
Begitu sampai kamar, Wandi membuka pintu lebar-lebar. ''Sebentar ya, aku mandi dulu,'' kata Wandi sambil meninggalkan ku di kamarnya. Sementara, Andi dan Roma kembali ke kamarnya. Selang lima menit, Wandi pun datang. ''Kamu ngak mandi?,'' tanyanya.

''Ngak, nanti saja di tempat kawan ku. Bener ya, aku diantar kesana,'' tanya ku balik.

''Iya, kita cari makan dulu yuk. Disana ada jual ayam goreng atau ayam bakar enak,'' ajaknya. Andi sudah menungu di luar. ''Jadi, kita cari makan?,'' tanya Andi. ''Jadi,'' jawab Wandi singkat.

Saat menuruni tangga. Andi berujar, baju mu seksi ya, San. ''Seksi,'' tanya ku bingung. Karena aku hanya mengenakan celana jeans dan t'shirt warna kuning, tidak terlalu press body. Karena aku memilih ukuran M bukan S. Pada saat itu, Wandi tidak mendengar percakapan kami. Lantaran, dia sudah menuruni tangga dulu.

''Body kamu bagus,'' ujar Andi membuat risih Santi. ''Apaan seh,'' kata Santi ketus. Santi pun langsung mempercepat menuruni tangga menyusul Wandi. ''Disini, ada wartel nggak. Aku mau mencoba menghubungi Ranie. Batre ponsel ku lowbat neh,'' ujar ku pada Wandi.

''Tuh, didepan situ. Yuk, ku antar kesana,'' kata Wandi sambil menuju wartel terdekat.

Ternyata ponsel Ranie tidak akif. Plus, telepon rumah tak diangkat. Santi mulai merasa cemas. Ia pun langsung memutar nomor sahabatnya, Yovie. Namun, sayang Yovie tak bisa menjemput Santi dari lokasi yang asing. ''Please, jemput aku ya,'' rengek Santi.

''Sorry, bukannya aku ngak mau. Tetapi aku lagi ada acara keluarga. Kamu ini, napa bisa sampai kesana seh,'' tanyanya balik.

''Ya, sudah lah. Kalau mank ga bisa,'' ujar ku kesal sambil menutup telepon. Sudah ngak mau, marah-marah lagi. Bete deh.

''Bagaimana, bisa dihubungi,'' tanya Wandi, saat melihat ku keluar. Aku hanya menggelengkan kepala. Ku lihat sudah jam 9 malam, membuat ku makin tak berdaya akan hidup ku. ''Aduh, bagaimana neh. di kost ku juga sudah ngak ada orang,'' keluh ku pada diri ku sendiri.

Kami pun pergi membeli makanan di warung yang menurut Wandi enak. ''Mau pesan apa,'' tanya Wandi pada ku. ''Terserah,''

''Ayam bakar tiga ya dan es jerman tiga,'' pesan Wandi pada penjual nasi. ''Beres,'' jawab penjual nasi itu. Pesanan kami pun siap dalam hitungan tiga puluh menit. Berarti jam sudah menunjukan ke arah jarum jam yang makin malam.

Tiba-tiba ponsel Wandi berbunyi dan raut wajahnya langsung berubah panik. ''Ada apa?,'' tanya ku saat ia menutup ponselnya.

''Mama ku, tiba-tiba jantungnya kumat. Aku disuruh pulang sekarang ke Bandung,'' katanya panik.

''Yang bener aja, terus aku bagaimana?,'' tanya ku bingung.

''Andi, aku titip Santi ya. Jagain dia baik-baik, kalau ada apa-apa San, telepon aku ya. Aku tinggal dulu,''ujarnya sambil membayar pesanan makanan itu.

Perut ku memang lapar, tetapi selera makan ku sudah hilang. Rasa panik melanda ku tiba-tiba. Apalagi kalau mengingat perkataan Andi waktu ditangga itu, membuat ku makin resah.

''Yuk, pulang,'' ujar Andi membuyarkan lamunan kalut ku.

''Ya Tuhan, tolong aku. Doa ku dalam hati,'' ... ''Ya,'' kata ku sambil mengikuti pulangnya.

''Kenal dimana sama Wandi,'' tanya Andi meluberkan suasana kaku yang tiba-tiba datang.

''Ngak, ingat,'' jawab ku asal-asalan. ''Aku diantar ke tempat Ranie ya. Kamu kan sudah janji sama Wandi,'' tutur ku cepat.

''Sudah malam neh, mau jam berapa keliling mencari rumah kawan mu. Mending kamu tidur aja di kamar Wandi kan kosong,''

''Yang bener aja, masa aku tidur di kamar cowoq,'' tolak ku.

''Terus mau bagaimana,'' katanya lagi.

Begitu sampai ke kost-an mereka. Kami pun naik ke lantai dua. Andi menyuruh ku naik duluan, aku pun menolak. Tapi, dia tetap tak bergeming dari tempatnya. Terpaksa aku melangkahkan kaki ku duluan menuju lantai dua. Perasaan ku, matanya terus memandang tubuh ku, membuat ku risih.

''Aku masuk ke dalam kamar dulu ya,'' kata ku cepat-cepat. Tiba-tiba tangan ku ditarik, nanti ajalah. ''Nonton dulu yuk,'' katanya sambil memegang tangan ku.

''NGak lah sudah malam,'' tolak ku sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan kanan ku.

Sia-sia. Terpaksa, aku pun masuk ke kamarnya. Saat kami tiba dikamarnya. Roma sudah tertidur lelap. Andi pun memulai pembicaraan dan ku jawab sesingkat-singkatnya. Sekitar sepuluh menit aku dan dia berbincangg-bincang tak karuan. Aku memutuskan balik ke kamar Wandi dengan alasan, tak enak menganggu Roma yang sudah tidur.

Selang beberapa lama, Andi pun datang ke kamar. Saat itu, pintu kamar Wandi belum ku tutup. Karena teman Wandi sedang mencari barangnya. ''Ke kamar ku yuk,'' ajak Andi. ''Filmnya bagus lho,'' katanya lagi.

''Ngak lah, aku disini aja,'' tolak ku. Tetapi itu orang tetap aja bersikeras mengajak ku ke kamarnya. ''Ayolah,'' katanya.

Aku tetap pada pendirian ku, tidak mau. Lalu ia berbisik ditelinga ku. Kalau aku tak mau, ia akan mengendong ku untuk membawa ku ke kamarnya. Terpaksa, dengan enggan aku mengikutinya. ''Kalau ngak digituin kamu ngak mau kan ikut aku,'' ujarnya sambil tertawa.

Kata Andi, ''aku terpaksa bilang begitu, ngak enak dengan teman Wandi. Dia lagi cari barang, kamu tungguin. Risihlah dia.

Aku hanya diam saja. Begitu aku masuk kamarnya. ''Mana Roma,'' tanya ku, saat melihat kasur Roma kosong.

''Lagi cari makan,'' ujar Andi sambil duduk. ''Duduk lah,'' ajaknya.

Aku memilih duduk berhadapan dengannya. Dibanding berada disebelahnya.

''Sudah punya pacarnya?,'' tanya Andi tiba-tiba.

''Memangnya, kenapa,'' tanya Santi balik.

''Sudah pernah ngapain aja,'' ujarnya tanpa menghiraukan pertanyaan Santi.

''Maksudnya apaan seh,'' tanya Santi dengan nada kesal.

''Pura-pura ngak tahu atau mank ga tahu,'' tuturnya sambil tersenyum memandang wajah Santi.

Hal tersebut membuat Santi sedikit muak. Memang dari awal pertemuan tersebut, Santi sudah tidak terlalu merespon tingkahlaku Andi yang tak sopan itu. '"Sudah lah, aku mau tidur. Sudah malam,'' ujar Santi sambil beranjak berdiri.

Spontan tangan Andi pun langsung meraih pergelangan tangan Santi dan membuatnya terjatuh. ''Apa-apaan seh,'' kata Santi melihat ulah Andi. Andi hanya diam saja.

''Lepasin ngak atau aku teriak,'' ancam Santi.

Ancaman itu tidak digubrisnya. Pergelangan tangan Santi dipegangnya lebih erat dan matanya terus menelusuri tubuh Santi.Gerakan mata tersebut membuat Santi makin direndung rasa ketakutan. Santi berusaha melepas cengraman lengannya dengan sekuat tenaga. Meskipun pergelangan tangannya sakit. Santi berusaha, akhirnya Andi melepaskan cengkramannya. Santi pun segera berdiri dan berlari menuju pintu keluar. Namun, Santi kalah cepat, Andi sudah lebih dulu berada di pintu, menutup dan mengkuncinya.

''Aku mau tidur,'' kata Santi agar Andi segera membukakan pintunya. ''ya, Tuhan, apa yang harus aku lakukan,'' pikirnya. ''Maafkan aku,''

''Masih jam berapa, nanti aja tidurnya. Sini aja dulu,'' ujarnya sambil melangkah mendekati Santi. Spontan Santi mundur ke belakang. ''Aku, sudah ngantuk, mana kuncinya?,'' pinta Santi sambil mengulurkan tangannya tetap menjaga jarak.

''Ini, ambil lah kalau mau,'' ucapnya tanpa melepas pandangan dari tubuh Santi.

''Taruh aja dikasur biar nanti aku ambil,'' ujar Santi.

Santi berharap agar Andi segera pergi jauh dari kunci yang diletakannya diata kasur. Namun, harapan Santi tinggal harapan. Santi pun mencoba meraih kunci kamar semaksimal mungkin agar bisa menjauh dari sosok Andi. Tetapi, usahanya sia-sia.

Begitu Santi mendekati kunci tersebut, tubuh Santi langsung ditariknya kedalam pelukannya. Reaksi yang tidak terduga itu membuat Santi terkejut dan berteriak tertahan antara ketakutan dan tanpa disadarinya suaranya pun langsung menghilang.

Kesempatan itu ternyata tak disia-siakan Andi. Andi pun mencoba memeluk Santi lebih erat, Santi menolak dengan mengerangkan sisa-sisa kekuatannya. Semakin Santi memberontak, pelukan yang didapatnya pun semakin kuat. setiap santi berusaha bergerak membuat Andi semakin bersemangat. Santi pun akhirnya kehabisan tenaga.

''Kamu mau ngapain seh, lepaskan nggak,'' ujar Santi dengan suara melemah. ''Aku kan tidak pernah membuat mu kesal,''

''Aku minta dikit aja, aku pengen merasakan bibir mu yang seksi,'' kata Andi dengan suara parau.

Dengan desahan nafasnya, ia mencoba mencumbu Santi yang masih berada dalam pelukannya. Santi pun menolak dan berusaha meronta. Andi yang sudah gelap mata itu pun langsung melemparkan tubuh Santi yang sudah lemah diatas kasur. Kesempatan itu pun langsung diraih Santi untuk bangun, tetapi kalah cepat. Tubuh santi pun ditindih. Santi sudah berusaha menyadarkan Andi untuk tidak membuatnya menderita.

''Ya, Tuhan tolong aku,'' doa Santi dalam hati. ''Lepaskan ngak, atau aku teriak,''

''Coba saja, kalau kamu berani,'' sehut Andi cepat dan dengan kecepatan yang sama mencoba mencium bibir santi. Santi mencoba mengelak dari bibir Andi yang membuat badannya merinding seketika. Bukannya menyerah, Andi malah mencoba mencumbu leher Santi.

Santi yang memang sudah tak bisa menggerakan badannya dan suaranya seperti terkunci mencoba melepaskan diri dari nafsu Andi yang sudah mengebu. Tangan Santi yang berhasil lepas dari tindihan Andi pun dicoba dengan sekuat tenaga untuk mendorong tubuh Andi dari atas tubuhnya. Lagi-lagi usaha Santi harus gagal.

Tangan Santi pun dipegang dan ditaruh disela-sela pahanya. Bibirnya pun terus menjelajahi lekuk leher Santi dan terasa basah. ''Tolong, jangan' rintih Santi, tetapi sia-sia saja. Andi sudah membabi buta mencoba menyatukan tubuh santi dengan tubuhnya agar Santi tidak bisa bergerak. Santi mencoba menutup bibirnya rapat-rapat agar bibir Andi yang kotor itu tidak bisa mencoba mencicipi bibir Santi.

Tak kalah akal, Andi pun terus menelurusuri leher Santi dengan bibirnya. Setelah itu, ia mencium telinga Santi dan membuat Santi semakin beronta dalam keadaan tubuh yang ditindih. Desahan nafas Andi membuat Santi muak, apalagi bekas bibir Andi menelusuri leher dan teliga Santi membuatnya menjadi basah dan terasa menjijikan.

Andi sudah tidak mempedulikan permohonan Santi itu pun mulai mengambil kesempatan pada tubuh yang sudah tidak berdaya itu. Andi semakin liar, tangannya pun mulai dimasukan ke dalam t'shirt kuning yang ia kenakan itu. Dengan sangat mudah, tangannya pun masuk ke dalam, Andi mencoba menelusuri perut Santi. Santi yang sudah tak berdaya hanya bisa menangis dan memohon.

''Ya, Tuhan, maafkan aku dan tolonglah aku,'' ujar Santi didalam hatinya. Wajah Santi yang sudah penuh dengan air mata dan mimik wajah ketakutan itu pun juga tidak menyadarkan Andi untuk berhenti. Tangan Andi dengan leluasa menelurusi lekuk tubuh Santi hingga bagian depan.

''Aku mohon jangan,'' pinta Santi pada Andi.

''Sebentar aja,'' ujar Andi tanpa melihat wajah Santi yang sudah pucat pasi itu. Tangannya pun terus bergerak dan menyentuh kulit Santi. Bahkan ia mencoba membuka celana jeans yang Santi kenakan. Santi pun mencoba mengumpulkan tenaga yang masih ada untuk meronta. Badannya pun terasa sakit. Tubuh Andi pun terasa makin berat menindih tubuhnya. Satu-satunya harapan adalah berteriak. Tetapi, suaranya tak kunjung bisa dikeluarkan. Entah kenapa, apa karena ketakutan atau karena panik. Sejujurnya, Santi pun bingung.

Entah kenapa juga, Andi pun tidak jadi melakukannya pada Santi dan Andi pun duduk sambil memandang tubuh Santi. Baju yang dikenakan Santi pun sudah berantakan, rambutnya kusut, matanya sembab dan masih ada sisa-sisa air mata.

''Terimakasih Tuhan,'' doa santi dalam hati.

''Rapikan tuh rambut ma baju mu,'' ujar Andi tanpa berkedip memandang Santi. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Santi dengan kecepatan penuh merapikan dirinya dan segera mengambil kunci dan keluar dari kamar itu secepat yang ia bisa.

Setelah keluar dari kamar itu, Santi pun segera masuk ke kamar kawannya dan mengunci kamar rapat-rapat. suara kedoran kamar dan memanggil namanya tidak digubrisnya. Santi ketakutan, sepanjang malam itu, Santi tak bisa tidur. Hingga akhirnya, santi baru bisa tertidur jam 3 dini hari dan terbangun jam lima. Santi pun keluar dari kamar itu pelan-pelan dan mencuci buka serta sikat gigi. Lalu, meninggalkan tempat itu menuju rumah kawannya yang sudah menunggunya dengan cemas.

***

''Apa salah ku,'' tanya Santi pada ku.

Aku yang tak tahu apa yang pernah menimpanya pun bertanya, ''Memangnya, kamu ada salah apa?,''

''Aku tak pernah mengoda pria, aku tak pernah pakai baju seksi yang mengundang pria untuk mendekati ku. Tetapi kenapa aku mau....,'' ujarnya terbata-bata.

''Mau apa?,'' tanya ku. Santi hanya diam saja. Aku mendesak Santi, ''bicaralah. Sapa tahu lebih ringan,'' ujar ku sambil menatapnya bingung.

''Diperkosa,'' bisiknya lirih.Suaranya memang pelan, tetapi seakan-akan guntur datang di siang bolong.

***

''Ann, jangan melamun, Kamu kan bawa mobil. Nah lampu hijau tuh,'' ujar Inne menyadarkan ku.

''Apa yang sedang kamu pikirkan,'' tanya Inne lagi.

''Perempuan,'' ujar ku sambil tetap berkonsentrasi pada jalanan didepan ku.

''Kenapa dengan perempuan,'' tanya Ranie penasaran.

''Lemah,'' jawab ku sekenanya. "Wanita selalu dijadikan simbol seks, wanita selalu dijadikan korban nafsu para pria. Memangnya, salah apa ya wanita itu pada mereka,''

''Kamu ini ada-ada aja,'' ujar Ranie. Ranie menambahkan, itulah kenyataan yang terkadang aku sendiri tak bisa menerimanya. ''Wanita hanya dijadikan pelengkap penderitaan dan selalu menjadi korban. Tetapi, banyak juga kan wanita yang kuat dan bertahan.

''Bertahan pada pernikahan yang sia-sia. Takut aib keluarga terbongkar, malu pada lingkungan. Itu semua selalu jadi bahan pembicaraan wanita. seakan-akan wanita itu tidak boleh memilih jalannya sendiri. Itu kan bukan salah wanita saja,'' urai Anne kesal bila membayangkan kawannya bakal menjadi korban pemerkosaan.

''kita sebagai wanita ya harus bersatu padu untuk mengatasi persoalan tersebut. Tanpa bersantu bakal percuma saja,'' timpal Inne.

Inne melanjutkan, terkadang wanita selalu dipersalahkan. Alasannya, wanita yang selalu mengoda pria.

''Padahalkan belum tentu benar,'' ujar Anne.

Ya, wanita memang selalu dipersalahkan dalam segala hal.... Padahal, belum tentu, wanita itu yang salah. Benerkan?
--cerita ini hanya fiktif saja ya--

@By Citra Pandiangan

Oktober 27, 2008

Itu Bukan salah Wanita!! Bag I

Suasana rumah Anne yang sederhana dan terletak jauh dari pusat keramaian berbeda dari hari biasanya. Karena beberapa kawan lama datang berkunjung untuk sekedar melepas kangen dan berbagi pengalaman yang tak pernah dilupakan, mulai dari pertemanan sekolah hingga kuliah. Tentunya merupakan hal yang jarang terjadi masih bisa saling berhubungan. Meskipun memiliki berbagai kesibukan masing-masing.

''Di lemari es mu ada apa aja Ann,'' tanya Ririn sambil membuka lemari es. Saat melihat isi kulkas, ''makanan apaan aja neh, dasar kamu nga berubah'',

''Ya, biasalah, ngak sempat belanja. Malas gue ke mall. Tapi banyak cemilannya kan, kalau tuk masak..,'' kata ku terhenti. Sebab, Lilis dan Inne langsung menyehut, ''No Way,''

''Kalau begini terus kapan lo married,'' tanya Inne sambil menjitak kepala ku.

''Aduh, sakit tahu. Memangnya pria menikah untuk cari pembantu apa, untuk memasak dan membersihkan rumah. Enak betul donk tuh pria. Kalau gitu, aku cari pria yang bisa masak dan bersihkan rumah, ada ngak ya,'' tanya ku sambil mengangkat dagu ku tinggi.

''Dasar lo,'' kata mereka sambil tertawa.

''Mall jauh ngak dari sini,'' tanya Ririn dengan mimik wajah serius.

''Ngak terlalu jauh ko. Untuk apa?,'' tanya ku balik.

''Ya, belanjalah. Kita bakar-bakar yuk,'' ajak Ririn yang memang gemar memasak.

''Malas ah, mending beli jadi aja ya. Ngak repot, cepat dan praktis lagi,'' tolak ku sambil nyegir.

''Ayolah, sekalian jalan-jalan. Kan beda masak dan beli sendiri. Ingat, kami besok dah harus balik lagi neh ke kampung masing-masing,'' ungkap Inne sambil tertawa lepas, ciri khasnya.

Disetujuin Lilis. Tiga lawan satu, ya tentu saja satu kalah. ''Ya sudah, yuk kita pergi,'' ajak ku akhirnya.

Sepanjang perjalanan ke Nagoya Hill untuk ke swalayan, kami terus saja bercanda dan tertawa hingga disimpang Jam, ada anak kecil menawarkan koran dan kami membelinya. Judulnya mengenai kasus pemerkosaan.

''Wah, sadis banget seh. Masa pacarnya diperkosa seperti itu,'' ucap Lilis sambil membaca baris tulisan yang ada di koran tersebut.

''Coba mana,'' rebut Inne. ''Tega banget seh, tuh cowoq,'' ujarnya setelah membaca koran itu.

Tiba-tiba Ririn yang selesai menerima telepon pun berkata, ''Kalian inget ngak ceritanya, kawan kita yang mau diperkosa. Untunglah tak jadi,''

''Makanya, kita harus hati-hati, meskipun sama orang yang kita kenal baik, belum tentu baik. Apalagi sama, orang yang baru dikenal,'' ujar Ririn tanpa henti.

Membuat ku tersentak, jadi ingat pengalaman Santi, teman kuliah dulu.

***

Waktu itu, liburan Idul Fitri, Santi yang enggan pulang kampung pun memutuskan untuk tetap berada di kos. Padahal, orangtuanya sudah mengajak untuk pulang. Namun, karena berbagai alasan, ia pun memilih tetap berada di Surbaya. Rencananya ia mau jalan-jalan ke Jogja, tetapi karena enggan ia pun lebih memilih berada di kos-kosan. Di kost-kostan masih ada beberapa kawan yang belum pulang ke rumahnya masing-masing.

Ponsel Santi pun berdering dan kawan satu kampungnya pun menelpon dan menyuruh santi nginap di rumah kontrakanya selama liburan yang lokasinya jauh dari tempat tinggal Santi. Santi memilih kost yang dekat dengan kampusnya. Kegiatannya hanya seputar kampus dan mall yang tak terlalu jauh jaraknya. Kalau disuruh ke daerah Surabaya utara atau lainnya, dijamin bakal nyasar.

''Kesini ya, nginap di tempat ku aja. Ramai-ramai koq, ada Susan juga,'' ujar Ranie.

''Ya, sudah mana alamatnya,'' tanya Santi sambil mencatat alamat yang diberikan Ranie. Begitu hubungan terputus, Santi pun bingung mau kesana. Ia pun mencoba menelpon beberapa kawannya, ternyata sudah pada pulang. ''Aduh, bagaimana ini,'' pikir Santi, mana beberapa kawannya juga sudah pada mau pulang, membuatnya makin panik. Apalagi kost-kostannya berjumlah 25 kamar, tingkat dengan bentuk bangunan U membuatnya makin merinding.

Ditambah, cerita beberapa kawan kostnya bahwa kostannya berhantu, membuatnya makin tak nyaman. Disaat itu, ponselnya berdering, ia pun mengangkatnya. ''Hello,'' sapa Santi dari ponselnya.

''Santi ya?,'' tanya pria disebrang sana.

''Benar, ini dengan siapa ya?,'' Santi balik bertanya.

''Ini dengan Wandi, masa lupa seh. Kita yang ketemu di mall waktu itu. Ingat ngak,'' tanya Wandi balik.

''Oh, iya,'' ucap Santi berbohong.

''Aku mau main ke rumah mu, bisa ngak?,'' ujar pria yang bernama Wandi itu.

''Aku mau pergi ke tempat kawan ku,'' tolak Santi halus.

''Bagaimana kalau aku antar, kamu mau ngak,'' ujar Wandi menawarkan bantuan.

''Ngak usah. Karena aku juga lagi nyari-nyari alamat rumahnya. Aku juga ngak tau. Ntar aku naik taksi aja,'' kata Santi.

''Sudah ngak perlu, biar aku antar ya. Mana alamat rumah mu, biar aku kesana,'' kata pria itu lagi.

Setelah berpikir beberapa saat, Santi pun menerima tawaran itu sambil memberikan alamat tempat tinggalnya. Selang satu jam, pria itu pun datang bersama dua teman prianya juga. Santi yang ragu-ragu untuk pergi pun berusaha menolak. Tetapi, pria itu berhasil menyakinkannya untuk pergi bersama dengannya aman. Santi yang sudah sendirian di kost-kostan itu pun menerimanya tanpa ada rasa was-was. Karena ia melihat pria itu baik.

Mereka pun berputar-putar mencari alamat rumah Ranie di Surabaya Utara. Dari mulai jam 3 sore hingga jam menunjukan pukul setegah tujuh malam. ''Aku capek neh, kita pulang dulu ya. Kost-kostan kami ngak terlalu jauh koq dari sini,'' kata Roma, teman Wandi.

''Aku, turun aja lah disini,'' kata Santi cepat.

''Ngak usah, ntar kita cari lagi. Kamu telepon aja kawan mu, kasih tau letaknya dimana,'' saran Andi.

--fiktif--
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Kota Cinta | Kita Bahagia | diary Citra